Perhatian : Banyak adegan 21 + dan kekerasan.
Harap bijak dalam memilih cerita
(Masih dalam tahap revisi, tetapi masih bisa dinikmati alur ceritanya. Abaikan tanda baca dan penggunaan huruf besar juga kosa kata yang tidak sesuai dengan KBBI)
Salwa Humaira adalah putri sulung dari empat bersaudara, ia dibesarkan dengan kondisi ekonomi yang sulit. Dengan berat hati ia meninggalkan keluarganya untuk mencoba peruntungan dengan bekerja sebagai TKW di negeri orang. Sampailah ia bertemu dengan dua orang bos mafia yang saling bermusuhan. Hidupnya seketika berubah setelah dua orang tersebut menaruh perhatian kepadanya.
Bagaimana keseruan jika seseorang yang bermusuhan menyukai gadis yang sama. Dan siapakah yang akan dipilih oleh Salwa Humaira sebagai pendamping masa depannya?
Dipenuhi aksi heroik dan romantis, siapkan hati, jantung dan pikiran beserta camilan yang lezat untuk menikmati alur cerita ini.
IG . aleena_anonymous
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon reesha swee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sadarlah ( Part I)
"TIDAAAAKKK" teriaknya putus asa. Perawat laki-laki mendorong tubuh Salwa untuk di pindahkan ke kamar jenazah.
"Lepaskan... apa kau mau mati" Sean marah kepada petugas itu, namun tetap tidak bergeming sambil mendorong ranjang Salwa. Sean berteriak dan terus memaki perawat laki-laki itu. Senyum jahatnya keluar sekilas ia melihat perawat laki-laki itu mirip dengan Yang Pou Han.
"Yang Pou Han, berhenti.. tidak akan aku biarkan kau mengambilnya" wajah Yang Pou Han makin terlihat sinis kepada Sean, namun Sean tidak bisa berbuat apa-apa.
"Aku akan membunuhmu. Berhenti!!" Nafas Sean mulai tersenggal-senggal tak teratur.
"Bos tenanglah,bos... bos" Leon berbicara sambil menepuk-nepuk punggung Sean. Suara Leon dan tepukannya menerobos ke dalam alam bawah sadarnya sehingga Sean bisa terbangun. Sean mengucek matanya, dia melihat sekeliling, pikirannya masih belum sinkron antara mimpi dan kenyataan, akan tetapi ia akhirnya bisa menguasai kesadarannya. Salwa masih ada di tempat, layar monitor menunjukkan grafik detak jantung yang normal. Syukurlah, batinnya.
"Kau mimpi buruk?"sambil menyerahkan beberapa berkas untuk ditanda tangani Sean.
"Hemmm" menandatangani berkas-berkas lalu menyerahkan kembali kepada Leon.
"Apa perlu aku carikan pengganti untuk menjaganya"ucapnya membujuk Sean agar beristirahat. Sejak mendonorkan darahnya Sean belum pulang ke rumah. Ia tetap menjaga Salwa dan tidak mau beranjak dari kursi yang berada di samping tempat tidur.
"Pergilah.. urus pekerjaanmu"jawab Sean datar. Leon tersenyum kecut. Ya bosnya satu ini memang keras kepala.
Leon pergi meninggalkan Sean karena masih banyak pekerjaan hang harus ia laksanakan.
"Hey... kapan kamu bangun, , apa kau mau tidur terus seperti ini?" Mengusap-usap kelapa Salwa. Menatap lekat wajah gadis itu yang masih tak sadarkan diri dengan rona yang masih memucat tanpa warna seolah sedang menahan beban sakit yang teramat sangat dalam dirinya. Sean berpikir seandainya saja ia mempunyai banyak waktu sebelumnya dengan perempuan ini, mungkin ia akan bersikap lebih lembut dari sebelumnya. Jika ia tahu bahwa dirinya akan membawa perempuan ini kepada nasib yang tidak baik, mungkin sebaiknya dulu ia tidak mengambilnya untuk menjadi pelayannya. Andai saja waktu dapat terulang kembali mungkin kejadian-kejadian buruk yang menimpa Salwa tidak akan pernah di alaminya.
"Selamat siang" perawat masuk bersamaan dengan dokter untuk mengecek kondisi tubuh Salwa. Sean yang sedari tadi bertikai dengan pikirannya sendiri segera beranjak dari duduknya berdiri menghampiri dokter yang berpakaian putih dengan stethoschope melingkar di lehernya. Dokter tersebut mengecek kondisi Salwa dengan seksama tanpa meninggalkan bagian yang terlewat dari tubuh perempuan itu yang terluka. Sean yang sedari tadi hanya memperhatikan dokter tersebut memeriksa sekaligus memberikan arahan kepada perawat tentang pelayanan medis apa yang harus dilaksanakan ke depannya seolah tidak sabar menunggu untuk mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi berkecamuk fi pikirannya.
"Kenapa dia tidak bangun juga dok?" kalimat itu akhirnya meluncur mulus dari mulut Sean. Dokter itu mengalihkan perhatiannya dan menatap Sean dengan pandangan iba. Sebagai seorang dokter ia harus bersikap tenang untuk membuat situasi pasien maupun keluarganya tidak terlalu panik, akan tetapi kejujuran mengungkapkan kondisi pasien dengan sebenar-benarnya harus tetap ia utarakan dengan cara yang lugas, tegas dan terperinci.
"Tuan, seperti yang saya beri tahu sebelumnya meskipun peluru sudah berhasil kami keluarkan tapi pasien masih dalam kondisi kritis, jika hari ini belum sadar juga mungkin kondisinya bisa lebih buruk. Jadi tuan lebih baik banyak berdoa untuk kesembuhan istri tuan" tutur dokter itu memberi penjelasan dengan hati-hati.
"Apa... kapan kau mengatakan hal itu, apa kau mau main-main denganku?" Berdiri sambil mencekal leher dokter itu. Sean seolah tidak terima dengan ucapan dokter itu yang seolah menganggap nyawa Salwa hanya sebuah mainan yang tidak berharga. Dokter itu mencoba tenang meskipun ia mulai gugup dengan suasana mencekam ditambah dengan aura tatapan Sean yang menggelap seolah mengintimidasi dokter tersebut untuk mengatakan bahwa kau sama sekali tidak berguna.
"Tuan, ini rumah sakit" beberapa perawat mencoba menenangkan Sean. Mereka memegang pergelangan tangan Sean supaya mengendorkan cengkraman Sean dari leher dokter itu. Sean seolah tidak mempedulikan tatapan mengiba para perawat yang ketakutan yang berdiri di sampingnya.
"Kalau sampai terjadi apa -apa dengannya kalian akan tahu akibatnya" Sean mulai mengancam sambil menunjuk-nunjuk dengan jari di depan wajah dokter itu. Dokter tersebut mengerutkan kedua alisnya.
Hey.. kenapa itu jadi salah kami, bukannya anda membawa istri anda ke sini sudah dalam kondisi buruk, batin dokter itu.
"Apa yang kau pikirkan, apa kau mau mati" bentak Sean. Dokter itu tersenyum kecut sambil menelan salivanya. Dia tahu siapa yang sedang di hadapinya. Siapa yang tidak mengenal Sean Arthur presedir dari Arthur Global Group yang perusahaannya sudah menguasai banyak bidang. Namun mereka baru mengetahui bahwa presedir tersebut sudah mempunyai istri. Karena rumornya masih lajang sehingga diincar banyak wanita sosialita.
"Maaf tuan, kami harus memeriksa pasien yang lain" dokter itupun berusaha menghindari amarah Sean. Lebih cepat keluar dari ruangan itu lebih baik. Sean tidak menjawab ataupun menoleh, perhatiannya masih tertuju kepada Salwa yang masih berbaring lemah tak berdaya.
"Kenapa kau bisa jadi seperti ini, apa yang sebenarnya terjadi padamu selama ini" gumamnya lirih.
○○○○○○○○○○●●●●●●○○○○○○
PRAAANGGG...
Bunyi barang-barang yang sudah dihancurkan ke sekian kalinya oleh Yang Pou Han.
"BODOH... APA SAJA KERJA KALIAN, MENCARI SATU ORANG SAJA TIDAK BECUS" Bentak Yang Pou Han kepada pengawalnya. Ia sedikit frustasi mencari keberadaan Michella, ia ingin tahu gadisnya itu masih hidup atau sudah mati. Sean Arthur sudah membuatnya seperti orang gila karena pencariannya tidak berhasil.
"Tuan, ada satu rumah sakit yang belum kami selidiki, tapi tempatnya sangat kecil. Apa mungkin Sean Arthur bersembunyi di rumah sakit itu" Salah seorang dari anak buahnya memberi sedikit informasi kepada majikannya untuk mempertimbangkan pencarian Sean Arthur di tempat yang mungkin bisa menjadi alternatif persembunyiannya.
"Apa kau sudah gila, apa yang kau maksud rumah sakit di pinggir kota, huh... itu rumah sakit yang paling buruk pelayanannya.. menginjakkan kaki ke tempat itu saja sepertinya dia enggan"
"Tapi tuan, rumah sakit itu adalah rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian, bisa saja......"
"BERHENTI BICARA, SEBAIKNYA KAU LEBIH BERPIKIR RASIONAL SEBELUM MENGUTARAKAN PENDAPATMU KEPADAKU" Yang Pou Han semakin kesal dengan cara berfikir pengawalnya itu. Bagaimana mungkin Sean Arthur yang kaya raya, seorang konglomerat dengan harta yang melimpah ruah harus mengobati luka-lukanya yang tidak seberapa itu di rumah sakit yang terlihat kumuh seperti itu, apalagi fasilitasnya sangat jauh dari standart internasional. Sepertinya rumah sakit itu memang didirikan hanya menangani pasien dari kalangan menengah ke bawah dengan fasilitas seminimal mungkin namun harganya ringan di kantong. Yang Pou Han semakin frustasi, memikirkan kemungkinan terburuk kehilangan wanita yang akan ia nikahi. Bayang-bayang Michella saat bersamanya menari-nari dipikirannya. Pelukan terakhirnya, apa memang itu adalah kesempatan terakhirnya bertemu dengan gadis itu, ia sempat melihat Michella menitikkan air mata saat ia memeluknya untuk terakhir kalinya. Apa itu petanda dia akan meninggalkanku..."AAAAARRGGHHH...." Teriak yang Pou Han dengan pikiran yang kacau.
"Kenapa aku harus mengirimmu ke tempat itu, harusnya kau mendengarkanku dan ikut saja ke pestaku, kenapa kau harus melakukan hal yang membahayakan dirimu sendiri" Yang Pou Han mulai menyalahkan dirinya sendiri karena telah menjadikan Michella pionnya, dia sama saja menyambut maut bagi perempuan itu dengan mengirimkan kepada musuhnya yang tidak tahu belas kasihan itu.
"Tuan, bukannya anda memang menyiapkan nona Michella untuk membunuh Sean Arthur"ucap seorang laki-laki dari arah belakang. Yang Pou Han menoleh ke arah sumber suara.
"Kau.. kenapa kau masih di sini... KELUAR" Bentaknya sekali lagi kepada pengawalnya yang ternyata masih berada di sampingnya.
"Baik tuan, kami keluar"ucap pengawal itu sambil mengajak anggotanya untuk mengikutinya.
♡♡♡♡♡
lanjut marathon yg kedua..