Kisah Vino Alvaro dan Aina Olivia yang hidup di rumah kontrakan mereka.
Kesederhanaan membuat mereka rukun dan damai, namun ternyata ada banyak badai dan cobaan di hidup pernikahan mereka, mampukah mereka melewati semua badai itu?
Mampukan Vino mewujudkan impiannya dan berdiri menantang badai itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetangga Baru
Perlahan Aina membuka pintu rumahnya itu, di hadapannya nampak seorang wanita yang sudah familiar. Dia adalah Bu Siska, atasan Vino.
"Vino nya ada?" Tanya Bu Siska tanpa basa basi.
"Ada...oya, ibu ada keperluan apa ya mencari Vino?" Aina balik bertanya.
"Hmm....Apakah tamu tidak dipersilahkan masuk dulu? Aku ini atasan Vino...wajar kalau mengunjunginya untuk membicarakan masalah pekerjaan..." Jelas Bu Siska.
"Ya sudah...masuklah Bu...aku panggil Vino dulu di belakang..." Kemudian Aina segera berjalan menuju belakang rumahnya. Vino duduk di kursi di dekat dapur. Dia bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek.
"Vino...ada Bu Siska di depan mencarimu...cepat pakai bajumu...atau dia makin bernafsu melihatmu begini...!" Seru Aina dengan wajah agak kesal.
Kemudian Vino segera menyambar kaosnya dan segera memakainya. Kemudian dia segera kedepan menemui Bu Siska.
"Eh...Bu Siska...tau saja rumah baru saya..." Kata Vino yang sudah berdiri di hadapan Bu Siska.
"Kamu kok pindah rumah tidak bilang-bilang saya??" Tanya Bu Siska.
"Oh...memang harus ya Bu pindah rumah laporan ke ibu...ini kan urusan pribadi saya..." Sanggah Vino.
"Kamu sudah berani menjawab saya...apapun yang menjadi urusanmu itu adalah urusanku..." Tambah Bu Siska.
"Jadi sekarang apa keperluan ibu datang ke rumah saya?" Tanya Vino.
"Vino...saya akan berikan rumah yang lebih besar...tapi waktu itu kamu tolak...sekarang ini uang untuk kamu membayar kontrakan rumah ini selama dua tahun..." Bu Siska mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dari dalam tasnya.
"Jangan Bu..." Cegah Vino.
"Ambil saja...kau membutuhkannya kan?" Bu Siska meletakan amplop itu di atas meja.
"Yah...ibu...oke deh...terimakasih Bu..." Ujar Vino akhirnya.
"Baik...aku pulang dulu....sampai bertemu besok Vino..." Kata Bu Siska sambil menowel dagu Vino kemudian bergegas pergi meninggalkan rumah itu.
Vino masih termangu di tempatnya, sedangkan Aina kini sudah berdiri di dekatnya dan menepuk bahunya keras, sehingga Vino terperanjat.
"Duh...yang habis di towel dagunya..." Ledek Aina.
"Diam kau...ini Bu Siska memberi kita uang buat bayar sewa rumah...jadi gimana nih...?" Tanya Vino.
"Uang? Baik betul dia..."
"Iya... jangan-jangan ada udang di balik batu..." Gumam Vino.
"Sudah lah Vin...uangnya kan sudah ada di depan mata kita...ya kita pakai saja...begitu saja kok repot..." Jawab Aina.
"Huh...kamu mata duitan juga!" Sungut Vino.
"Dari pada uangnya kita buang....kan sayang..." Ujar Aina yang langsung mengambil amplop itu dari atas meja.
"Ainaa....jangan di ambil uangnya...itu uang haram!!" Cegah Vino. Aina membalikan tubuhnya dan memandang Vino dengan tatapan heran.
"Apa? Uang haram...kenapa kamu bisa bilang ini uang haram? Ini uang hasil korupsi atau merampok??" Tanya Aina.
"Uang haram karena yang memberi tidak ikhlas dan tulus..."
"Tau dari mana kamu kalau pemberian ini tidak ikhlas dan tulus??"
"Dia memberi karena ada maksud menggodaku...kau sadarlah Ai....Masa kau rela suamimu di goda orang lain..." Aina terdiam, lalu sekilas melihat kearah amplop di tangannya.
"Vin...tapi kan dia juga tidak mau kita mengembalikan ini...kamu bisa membayarnya dengan kinerja kamu di kantor...prestasi yang bagus..." Jelas Aina.
"Ah sudahlah Ai....capek ngomong sama kamu...aku mau tidur!!" Tukas Vino yang langsung beranjak masuk ke kamarnya.
Tok...tok....tok...
Kembali suara ketukan pintu terdengar, Aina segera beranjak keruang tamu untuk membukakan pintu rumahnya. Di depan rumah sudah ada Desi, tetangga sebelah sudah berdiri dengan membawa. sebuah nampan.
"Eh...mbak Desi...masuk mbak..." Kata Aina yang langsung membuka lebar pintu rumahnya dan mempersilahkan Desi untuk duduk.
"Ini aku bikin kue bolu...icip-icip ya..." Kata Dedi sambil menyodorkan nampan itu ke arah Aina.
"Wih...mbak Desi pake repot-repot nih bawain kue..." Sahut Aina sambil mengambil nampan itu dan segera kebelakang untuk mengganti piringnya.
"Aduh mbak Desi maaf....piringnya jadi kembali dengan kosong deh...masih berantakan di belakang Mbak...dari pada nanti tercecer...."
"Tidak apa-apa kok...oya, ada yang mau aku tawarkan nih...kalo bisa sih suaminya di ajak mbak...ngobrol sebentar..." Kata Desi.
"Oh.. apaan tuh mbak...sebentar deh...ku panggil suamiku dulu..." Aina segera beranjak menuju ke kamar, lalu ia mengguncang tubuh suaminya yang sedang tidur itu.
"Vin...bangun Vin....bangun....itu ada mbak Desi di depan..." Vino menggeliat kemudian tidur lagi. Aina makin keras mengguncang tubuh suaminya itu.
"Vin...bangun....kalau tidak aku siram nih...itu mbak Desi ada di depan..." Vino membuka matanya lalu dengan malas bangun dari tidurnya.
"Kalau Mbak Desi ada di depan kenapa? Apa urusannya denganku??" Sungut Vino.
"Ada yang mau mbak Desi omongin katanya...lalu kamu juga harus ikut..."
"Hah...apaan sih! Kayak penting aja..."
"Sudah ah...ayo...!" Aina menarik tangan Vino keluar dari kamarnya, sementara Desi masih duduk menunggu mereka.
"Ehm...maaf Mbak Desi...suamiku baru bangun... " Kata Aina. Lalu mereka segera duduk.
"Maaf nih mas Vino....menggangu waktunya...sebentar lagi kan bayi kalian lahir ya.. pasti sudah terbayang kan... wajahnya seperti apa...namanya siapa...sekolahnya di mana..." Ucap Desi.
"Iya...lalu kenapa mbak...?" Tanya Vino agak jutek.
"Begini lho mas...mbak....saya hanya mau menawarkan proteksi pendidikan untuk calon bayi kalian...saya ini agen asuransi Asiap, mau menawarkan perlindungan diri dan jaminan pendidikan untuk calon anak kalian..." Jelas Desi.
"Oooo.....jadi mbak Desi ini agen asuransi to....mau prospek kita....bilang dari tadi kek mbak...tapi maaf nih ya...kami sudah ada proteksi dari kantor....untuk perlindungan seluruh keluarga...jadi kami belum bisa join di asuransinya mbak ya..." Kata Vino langsung memberi keputusan.
"Oh iya Mas....tidak apa-apa...saya hanya menawarkan...barangkali berminat, karena ini bagus dan bermanfaat untuk keluarga anda kedepannya...." Jawab Desi.
"Maaf ya Mbak Desi...suami saya memang suka ceplas-ceplos, coba nanti saya pelajari dulu ya...kita ngobrolin dulu..." Ujar Aina yang merasa tidak enak atas sikap suaminya itu.
"Tidak apa-apa lho Mbak Ai....ini kan memang tidak bisa dengan cepat di putuskan...perlu pertimbangan yang matang..." Sahut Desi.
"Sudah ada keputusannya kok, kami tidak mau ambil asuransi dari mbak...jelas kan..." Timpal Vino.
"Vino....kok gitu ngomongnya....kita kan bisa pelajari dulu..." Sergah Aina.
"Apa yang harus dipelajari? Semua asuransi sama saja...hanya buang-buang waktu untuk mempelajarinya...." Cetus Vino.
"Baiklah ...saya pamit dulu ya mas...mbak..." Ujar Desi akhirnya.
"Maaf ya Mbak Desi ...atas ketidak nyamanan nya..." Ucap Aina.
"Oh...tidak apa-apa mbak....santai aja..." Desi kemudian berlalu dari tempat itu.
"Vinooooo.....kenapa kamu jutek sama mbak Desi??? Dia sudah kasih kita kue bolu tau...!!!" Teriak Aina gemas.
"Masa?" Jawab Vino dengan cueknya.
*********
cus kesini....
Ttp semangat, Thor!!!!!!
trima kasih thor cerita bagus👍👍
good