Menikah adalah impian setiap wanita, tak terkecuali Tiyah Citanin, seorang wanita dewasa berbadan gemuk. Umurnya telah 28 tahun, ia tak memiliki tambatan hati, jadi belum ada yang melamar hingga sekarang.
Dilamar oleh seorang pria yang pertama kali ia lihat, pemuda tampan dengan mobil keren. Tak terlalu berpikir panjang, ia meneruskan kesalahpahaman keluarganya dengan menerima lamaran pria itu.
Pria yang ia nikahi terlalu misterius baginya, ataukah ... ia yang terlalu sering salah paham? Pernikahan mereka dibumbui dengan kesalahpahaman satu sama lain.
Hingga sebuah kenangan dimasa kecil muncul di kepala Tiyah. Janji untuk selamanya bersama.
Apakah pernikahannya akan berlangsung lama? Atau ia mencari pria di masa kecilnya?
Mari simak cerita ini! Karya orisinil Rozh! Hanya ada di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Juga Mencintaimu
Gibran memegang pipi Tiyah dengan kedua tangannya, menatap wajah istrinya itu dalam. Ia menggendong tubuh pendek Tiyah nan montok masuk kedalam rumah minimalis yang cantik itu.
Diruang tamu, ia mendudukkan Tiyah di atas sofa. Membuka peniti yang melekat dikepala belakang dan dagu Tiyah, serta membuka semua aksesoris yang melekat dihijab Istrinya itu. Sekarang terbuka semua yang menutupi kepala Tiyah. Gibran juga membuka ikat rambut Tiyah, dan membiarkan rambut panjang Tiyah terurai.
Gibran terus menatap Tiyah, membuat ia salah tingkah dan gugup, kemudian ia mencium kedua pipi Tiyah, mengecup bibirnya.
“Sayang, apakah kamu belum mencintaiku?” Sebuah pertanyaan melayang, membuat Tiyah tersentak, ia menatap Gibran dengan mata menyalang.
Gibran menatap Tiyah, menunggu jawaban. Sedangkan Tiyah membatu dengan pertanyaan itu. “Apakah kamu belum mencintaiku, Istriku?” Gibran bertanya kembali menatap kedua bola mata istrinya itu.
Jantung Tiyah berpacu tak menentu sekarang, dekat dengan suami yang ia cintai dan laki-laki itu sedang mempertanyakan perasaannya. Jawaban apa yang harus ia jawab?
Apa yang harus aku jawab? Seharusnya aku jawab cinta kan? Yang pertama karena aku memang mencintainya, yang kedua aku harus mencintainya karena dia suamiku. Tiyah bermonolog dengan hatinya.
“Baiklah sayang, bila kau belum siap.” ucap Gibran lirih.
Jadi, selama ini dia belum mencintaiku? Apa yang harus aku lakukan, agar kau bisa mencintaiku? batin Gibran.
“Ah? Aku... Aku mencintaimu, Suamiku.” jawab Tiyah sambil menggigit bibirnya. Wajahnya terasa panas, karena malu.
“Mengungkapkan cinta kepada orang yang kita cintai, butuh keberanian exstra dan bermuka tebal demi ketenangan hati.” Tiyah bermonolog dengan hatinya.
“Benarkah?” Gibran mendekatkan wajahnya dengan Tiyah. Sampai ia bisa merasakan hembusan nafas suaminya itu. Ia langsung mengecup bibir Tiyah, menciumnya lama dan dalam.
“Aku juga mencintaimu, Sayang.” Gibran mengecup kembali bibir Tiyah.
Deg! Deg! Deg! jantung Tiyah berpacu dengan kuat, mendengar kata cinta dari suami yang sangat ia cintai. Apakah ini mimpi?
Ia mulai menciumi bibir Tiyah rakus, menelusupkan lidahnya kedalam mulut Tiyah, kemudian membelitnya. Istrinya telah cepat belajar, cuma dipraktekkan satu kali ia telah mampu mengimbangi ciuman dari Gibran.
Gibran mengambil sudut miring, agar Tiyah bisa bernafas. Sekali-kali ia melepaskan ciuman yang telah bertaut itu agar memperoleh oksigen segar untuk mereka berdua. Ciuman semakin panas, mulai menelusuri leher dan memberi tanda merah disana.
Entah berapa lama dan berapa kali mereka menautkan bibir. Kini Gibran merapikan anak rambut Tiyah, menyelipkan rambut itu di daun telinganya. “Sayang, bersediakah kamu memiliki anak bersamaku?”
Tiyah tidak mampu menjawab pertanyaan Gibran, bibirnya gemetar saking terkejutnya.
“Aku ingin memiliki anak bersamamu, dan menua bersamamu, menghabiskan seluruh waktuku hanya untuk mu dan anak-anak kita nanti. Bersediakah engkau, Istriku?” Gibran bertanya kembali.
Tiyah menunduk malu. “Jika diam, berarti setuju ya?” goda Gibran sambil mengangkat dagu Tiyah agar menghadapnya.
Ia mengecup kembali bibir Istri yang ia cintai itu. Dengan senyum nakal, ia langsung menggendong Tiyah kedalam kamar.
Terjadilah sesuatu yang diinginkan dengan lembut dan mesra di dalam kamar itu, melakukannya dengan rasa suka sama suka, penuh keikhlasan tanpa paksaan.
Sore hari.
Setelah bercinta seharian dengan istrinya, Tiyah. Wajah Gibran dipenuhi dengan senyuman. Bahkan tadi, saat mandi ia masih menggerayangi tubuh istrinya.
Kini, mereka sedang berjalan santai di atas pasir ditepi pantai. Gibran menjinjing sepatunya dan sepatu istrinya dengan satu tangannya, sedangkan tangan satunya lagi, tidak lepas-lepasnya memegangi tangan istrinya. Seolah takut istrinya akan hilang atau dicuri orang lain.
Mereka menikmati senja yang berwarna jingga, mereka berhenti sejenak setelah mendengar azan magrib, dan mereka berdua sholat berjamaah disana. Setelah sholat, mereka pergi ke pasar malam.
Di pasar malam, mereka menikmati macam-macam kuliner. Hingga kepiting pedas yang Tiyah inginkan sejak pagi. Kebahagiaan begitu terpancar diwajah mereka berdua, rasanya baru kemarin mereka menikah.
Setelah puas bermain di pasar malam, mereka kembali kerumah minimalis tadi. Mereka duduk di kursi di halaman rumah itu memandangi langit yang indah ditemani bintang-bintang. Gibran memeluk tubuh istrinya dan entah berapa kali sejak tadi ia menciumi wajah istrinya itu.
Jika wajah Tiyah adalah kue tar, mungkin kuenya sudah rusak, lecet, atau sudah habis sedari tadi. Tiyah melayang malam ini, hatinya begitu berbunga-bunga. “Benar saja kata orang! Jatuh cinta kepada orang yang mencintai kita memang sangat lah indah, rasanya dunia milik kita berdua.”
Tiyah tersenyum berkata dalam hati, lalu bersandar di dada Gibran dan memeluk nya.
Cukup lama mereka disana, berbincang tentang perencanaan berapa orang anak mereka nanti, rumah impian seperti apa yang diinginkan Tiyah. Namun, Tiyah masih belum berani bertanya tentang Aya malam ini. Ia tidak ingin merusak malam indah ini.
“Mungkin, beberapa hari lagi aku akan bertanya tentang Aya, 2 hari ini adalah hari bahagiaku bersamanya, aku tidak akan merusaknya.” gumam Tiyah dalam hati.
“Sayang.” Gibran berbisik. Tiyah mendongakkan wajahnya menghadap Gibran.
Cup! Satu kecupan di bibir Tiyah mendarat. “Sayang, kangen.” ucap Gibran manja.
“Kangen?” Tiyah bertanya dengan mengernyitkan keningnya, kedua alisnya bertaut. “Kan kita lagi berdua gini, masa kangen?” sambung Tiyah kembali.
Gibran tersenyum, matanya terlihat nakal bahkan mengarah ke dada Tiyah. Wajah Tiyah memerah karena malu. Ia benar-benar lupa dengan maksud 'Kangen' yang diungkapkan suaminya.
“Bukannya tadi kita sudah melakukannya berkali-kali?”
“Tapi, masih kangen.” ucap Gibran manja.
Ia langsung menggendong Tiyah masuk kedalam rumah. Tiyah membuka dan menutup pintu rumah dalam gendongan Gibran.
Gibran meletakkan tubuh pendek Tiyah yang montok itu diranjang. Ia menindih tubuh Tiyah, ia mengunci tubuh Tiyah dalam pelukannya. “Suamiku, apakah tidak berat terus-menerus menggendongku seperti tadi?”
“Seluruh tenagaku hanya untukmu, malahan dengan menggendong mu aku bertambah kuat, Istriku.” jawab Gibran, lalu mengecup bibir Tiyah mesra.
“Jika aku memintamu menggendongku setiap malam, dirumah kita nanti... Apakah kamu mau, Suamiku?”
“Tentu saja sayangku.” Ia mendaratkan kecupan di kening Tiyah.
Malam yang panjang nan indah pun mereka mulai dan lalui, untuk mewujudkan semua harapan keluarga dan tentunya harapan mereka berdua juga, untuk memiliki buah hati.
Mereka menikmati malam yang indah itu hingga terlelap dengan nyenyak.
Pagi hari.
Handphone Gibran berdering, Tiyah terbangun dan meraba handphone suaminya.
“Hallo.” ucap seorang wanita dari handphone suaminya.
Iya, berbicara dengan siapa ya? Ada pesan?
Aku Raya, aku sudah didepan nich. Buka pintunya!
Tiyah langsung berwajah masam, memberikan handphone Gibran, meletakkan ditelinga suaminya yang memeluk tubuhnya. Ia melepaskan pelukan Gibran, dengan tergesa-gesa masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah mandi, ia tidak melihat Gibran di dalam kamar. Ia mengintip keluar, dan benar saja. Raya dan Gibran sedang berada di ruang tamu.
“Kamu sudah selesai mandi? Aku mandi dulu ya.” Gibran bertanya, saat Tiyah berjalan mendekatinya.
Gibran segera buru-buru masuk kedalam kamar mandi, untuk mandi bersih dari kegiatan olahraganya semalam.
Terimakasih banyak telah membaca cerita saya, semoga suka... Jangan lupa tinggalkan Like, rate bintang lima (5⭐), vote, dan komentar positif. Semoga kita semua, sehat selalu
BAGUS TU KHALIL DINIKAHIN, BIAR GK PLAYBOY LGI..
BARU TAU LO DICKY KLO SUAMI TIYAH LVLNYA DI ATAS LO.. DN TU GIBRAN SUDH MNCINTAI TIYAH SEDARI KECIL, KRN TIYAH ALAMI SUATU MASALH SAAT BNCANA BANJIR HINGGA LUPA GIBRAN, LUPA DIMAS, HINGGA TIYAH BNYK MNTAN COWOK TRMASUK SI DICKY YG PRMAINKNNYA..
MSKI TIYAH MNOLAK DICKY MNTAH2, TPI TIYAH TTP SALAH KLUAR BRTEMU DICKY TNPA IZIN.. DN SI DICKY KIRA SI KHALIL SUAMI NYA TIYAH, PNTAS SI DICKY BLANG KLO KHALIL BKN LKI2 BAIK2 KRN KHALIL PLAYBOY.. JDI DICKY BLG SUAMI TIYAH BKN LKI2 BAIK..
TPI LO YG DEKATI DN RAYU ISTRI ORG DN INGIN JDI PEBINOR APA LKI2 BAIK, DN LO DLU JUGA JDIKN TIYAH CWEK TARUHAN
APA KIRA2 JAWABN GIBRAN..
TPI SBAGAI ISTRI. DN SBAGAI WANITA BRSUAMI, TK PANTAS BRJALAN DGN LAKI2 YG BUKAN MAHRAMNYA, BHKAN TNPA DITEMANI, DN TNPA IZIN SUAMI.. APAPUN ALASAN NYA APA YG DILAKUKN TIYAH TTP SALAH... KRN MMBERIKAN CELAH PEBINOR DLM RMH TANGGA NYA
DN GIBRAN, KNP GK DICKY YG LO HAJAR, LO SAMPERIN TU KPRUASAHAANNYA..
INI KHALIL & DIMAS YG LO HAJAR..
DN LO JELASIN JUGA TU K TIYAH SIAPA TU RAYA..
TRUS KNP GIBRAN GK PEKA DGN TIYAH,, NTAR TIYAH BLAS SAMA DICKY, MKIN RUNYAM..