NovelToon NovelToon
Istri Kedua

Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:1.4M
Nilai: 5
Nama Author: gustinara

Kini aku sudah resmi menjadi istri dari Anggara Putra Gibson. Namun, aku menjadi istri kedua. Aku yang masih duduk di perkuliahan semester delapan, menyusun skripsi sembari menata hidup baru bersama lelaki yang sudah mempunyai istri itu, dan dia adalah suamiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gustinara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#33 BERITA

Udah bisa di liat ya guys😘

***

Masih dengan suasana yang sama, Anggara masih marah pada Luna karena perihal tadi di pesta. Sedangkan Luna masih menekukkan wajahnya karena perkataan Anggara yang tak langsung mengatainya murahan.

Mereka masuk ke hotel dalam diam. Anggara duduk di sofa sedangkan Luna langsung masuk kekamar. Mereka langsung saja merebahkan tubuh masing-masing.

Ponsel Anggara mengeluarkan notifikasi. Langsung saja dirinya merogoh ponselnya di saku celana.

Wife is calling..

"Hallo sayang" Anggara langsung menuju ke arah balkon agar suaranya tak terdengar oleh Luna.

"..."

"Besok pagi aku take off yah"

"..."

"Iya kamu juga, udah gak sering pusing kan?"

"..."

"Apa mungkin hamil?" Ucap Anggara berbinar.

"..."

"Coba cek dulu aja gih, siapa tahu kan-"

"..."

"Uff iyaiya. Yaudah istirahat aja kamu dirumah jangan kemana-mana ya"

"..."

Sedikit kecewa memang. Bila setiap Anggara membahas tentang kehamilan, Silvi selalu menyangkal.

Ponsel Luna juga berdering didalam kamar sana. Langsung saja sang empunya ponsel mengangkat panggilan tersebut.

Pak Fadlan is calling..

"Hallo Lun?"

"Iya pak?"

"Kamu beneran gak akan pulang bareng saya?"

"Ohiya.. jamberapa kita take off nya pak?"

"Jam dua pagi. Ini masih jam sebelas malam, mumpung masih ada waktu. Memang acaranya selesai jam berapa?"

"Selesai jam tiga sih pak"

"Yaudah kalau gitu, selamat menikmati pestanya ya.. hati-hati"

"Eh tunggu pak." Luna berfikir ia akan pulang saja bebarengan dengan Fadlan. Ia juga bisa berhemat kan sayang ada akomodasi dari kantor tetapi tak dipakai.

Juga menghadapi Anggara yang sedang emosian begini membuatnya tak karuan. Apalagi harus menerima omelan setiap saat.

"Iya gimana Lun?"

Saat Luna akan membuka suaranya lagi, pintu kamar terbuka dan Anggara langsung masuk dan merebahkan diri diatas ranjang, memejamkan matanya walaupun masih dengan baju batik lengkap.

"Umm saya mau bilang dulu sama mas Anggara. Kalau dibolehkan, saya pulang bareng bapak ya" ucap Luna pelan.

"Oh oke oke. Kalau mau keputusan jangan lewat dari jam 12 ya. Biar gak terburu-buru juga"

"Baik pa" ucap Luna dan langsung mengakhiri panggilan.

"Mau pulang bareng mereka?" Tanya Anggara tanpa menoleh pada Luna.

"Iya, boleh?" Tanya Luna namun dengan nada yang sangat dingin. Rupanya Luna kali ini yang marah pada suaminya. Anggara terlihat berdecak kesal.

"Kamu ini plinplan ya! Kalau mau pulang kenapa pengen ikut kesini?" Ucap Anggara yang masih enggan untuk membuka mata.

Luna tak bisa menahan emosinya lagi. Ia menurunkan bibirnya dan matanya membendung air mata.

"Kan mas yang ajak juga. Katanya gaenak kalau gak bawa aku" ucap Luna pelan. Ia masih bisa menjaga suaranya agar terdengar biasa saja.

"Ya tapi kamu bisa ada alesan yang lain. Kerjaan kek apa kek! Sama aja memang sama Silvi, dibawa ke acara keluarga selalu aja bikin pusing" ucap Anggara yang langsung membalikan badannya memunggungi Luna.

Luna semakin menundukkan kepalanya guna menutupi wajahnya yang sudah memerah karena menahan tangis. Tercekat tenggorokannya sakit karena menahan isak. Ia tak bisa berbicara apa-apa lagi. Tak mampu membela diri.

Luna akhirnya menghela nafas dan mencoba tenang. Ia benar-benar harus sabar. Ini baru permulaan, sifat Anggara mungkin memang seperti ini.

"Yaudah aku pulang besok aja sama mas" ucap Luna. Anggara bergeming tak membuka suara lagi.

Diambilnya ponsel dan ia mengetikan sesuatu di room chat Fadlan. Memberitahu bahwa Luna akan pulang bersama Anggara besok pagi.

Luna juga harus mengganti baju dan mandi. Karena tubuhnya sangat lengket dan make up nya belum sempat ia hapus. Langsung saja dirinya mencari baju ganti di koper dan membawanya masuk kedalam kamar mandi.

Anggara membuka matanya kala mendengar suara pintu kamar mandi tertutup. Ia lantas menghela nafasnya dan membuangnya kasar.

Saat keluar dari kamar mandi, Luna merasa segar dan sedikit tenang. Melihat Anggara pun ia sudah tak terlalu emosi ingin mencabik mukanya.

"Kamu mandi air dingin jam segini?" Tanya Anggara lagi.

"Iya mas" ucapnya lesu. Ia menebak pasti Anggara akan mengomelinya lagi.

"Lain kali kalau malam-malam mandinya pake air panas! Mau rematik kamu?" Ucap Anggara kesal dan langsung memasuki kamar mandi.

Bohong deh. Aku masih pengen acak-acak muka suamiku sendiri. Batin Luna.

Luna menatap pintu kamar mandi yang tertutup. Ia menghela nafasnya kasar. Ternyata begini sifat Anggara, tempramental.

Setelah memakai skincare, Luna langsung merebahkan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut. Terekam lagi ucapan-ucapan Anggara.

Murah, plinplan. Batin Luna.

Teringat lagi bentakan dan sikap Anggara yang membandingkannya dengan Silvi. Bagaimana ini? Apa dirinya akan bertahan?

Jantungnya berpacu cepat dan hatinya merasa sedih kala mengingat foto sang suami dengan istri pertamanya menjadi wallpaper.

Aku ini hanya penghalang dan benalu. Sampai hal yang aku lakukan saja salah dimata mas Anggara. Gumam Luna.

Ia langsung menangis dalam diam. Tanpa sadar Anggara sudah ada di sampingnya menatap heran kepada punggung Luna yang bergetar.

"Lun? Kamu gak apa-apa?" Tanya Anggara mendekati tubuh Luna dan memegangi pundaknya.

Lunda yang dipegang sangat terkejut dan langsung saja menutup mata da menkatupkan bibirnya rapat-rapat. Anggara sedikit melihat pada wajahnya Luna yang merasa pura-pura tidur.

Dengan tenaga yang cukup kuat, Anggara mampu membalikkan badan Luna menghadap padanya. Luna terkejut tapi masih enggan untuk membuka mata.

"Ada apa? Saya tau kamu belum tidur" ucap Anggara yang jaraknya sangat dekat sekali dengan Luna.

Anggara menopangkan kepalanya di tangan kirinya. Ia terus menatap Luna yang mencoba membuka matanya pelan-pelan. Guna memperlihatkan kealamian orang yang baru bangun tidur.

Luna langsung mendongak dan berharap semoga matanya tidak merah. Ia takut Anggara bertanya-tanya.

"Kamu kenapa? Ko nangis?" Tanya Anggara khawatir. Ternyata ketakutan Luna terjadi. Luna hanya menggeleng dan memejamkan matanya kembali.

"Lun?" Ucap Anggara. Luna tak mau membuka matanya. Pokoknya ia harus tidur. Ia tak mau menjawab pertanyaan atau omelan Anggara lagi.

Namun hal yang tak diduga-duga. Anggara malah mencium bibir Luna dengan lembut. Sontak saja Luna membuka matanya lebar dan mendorong tubuh Anggara.

"Wow.. " ucap Anggara samar.

"Kamu marah hm?" Tanya Anggara lembut. Luna menaikan selimutnya seolah-olah menutupi tubuhnya.

"Apaan sih mas! Kenapa cium cium gitu!" Ucap Luna dengan wajah yang sudah matang. Anggara tersenyum dibuatnya. Seolah gemas pada istri keduanya ini.

"Emangnya kenapa? Kan saya suami kamu"

"Ko nanya kenapa? Mas tau batasan dong!" Protes Luna lagi.

"Batasan? Kamu ini sebegitu gak tahunya batasan suami istri?" Tanya Anggara. Luna tak tahu harus berbicara apa lagi.

"Mas- mas kalo perkosa istri sendiri juga kena pidana tahu!" Elak Luna. Kini Anggara tertawa lebar.

"RUU itu lagi ditunda istriku. Lagi pula kamu ke geer an banget sih aku mau..." ucap Anggara. Luna menenggelamkan setengah wajahnya pada selimut.

"Gak sabar ya kepengen punya anak? Kata bule Lia kan tadi gitu" goda Anggara. Kini Luna tuntas menenggelamkan seluruh wajahnya. Anggara semakin tertawa dengan keras.

"Apanya yang lucu sih" ucap Luna dari balik selimut.

"Kamu mau punya anak ga? Kalau mau bukan gitu caranya! Bukan diem dibalik selimut.. eh tapi bisa juga didalem selimut" goda Anggara.

"Ihh kenapa malah nyambung kesitu sih, dasar om om" ucap Luna yang pasti kalimat terakhur hanya ia sebutkan dalam hati.

"Kan tadi kamu bilang tahu batasan. Ya... kita gak ada batasannya" goda Anggara.

Berfikir sebentar, Luna harus berani pada suaminya ini. Apa apaan dulu Anggara tak suka dengan semua yang ada pada tubuhnya. Sekarang menggodai dirinya.

"Ka-mu pernah bilang kan aku tuh bukan perempuan yang pas buat kamu mas!" Ucap Luna kini sudah menatap Anggara.

"Kalau kamu dandanannya kayak tadi, semua orang juga bakal mau. Termasuk saya. Saya juga laki-laki. Inget waktu tadi pagi saya jemput kamu? Saya sebagai laki-laki normal juga terpancing kalau dandanan kamu begitu Luna" ucap Anggara. Luna langsung menundukkan wajahnya tak mau menatap Anggara.

"Yaudah terus mas mau bilang apa? Aku murahan? Aku plinplan? Apa lagi? Aku bocah?" Tanya Luna sembari air matanya mengalir tak tertahankan.

"Jadi kamu nangis gara-gara itu ya?"

"Iya! Aku kesel! Kalau yang dilakukan aku salah semua, kenapa gak suruh aku pulang aja! Kenapa mas malah bawa aku kesini! Kan aku juga masih ada jatah checkin di hotel sebelumnya. Penerbangan pulang juga belum telat ko." Ucap Luna dalam isak. Anggara langsung merasa bersalah dan mencoba mendekatkan tubuhnya. Lalu menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.

"Saya nyebelin ya?"

"Iya! Kalau mas gak suka kenapa pengen mulai jadi suami istri beneran sama saya yang begini! Sampe saya dibanding-bandingin sama bu Silvi." Ucap Luna dengan kesal. Anggara tersenyum.

Akhirnya saya tahu sedikit tentang kamu. Batinnya.

"Maaf.." ucap Anggara. Aneh sekali bila Anggara yang meminta maaf kepada Luna. Luna langsung menggeleng.

"Enggak. Itu salah saya juga mas, maaf."

"Sstt.. lain kali saya kalau mau protes, bakalan sambil enggak marah-marah ya" ucap Anggara. Luna akhirnya mengangguk.

"Boleh peluk gak?"

"Gak boleh!" Ucap Luna yang menjauh. Anggara tersenyum geli melihatnya.

"Kan kita lagi pdkt. Peluk doang ko aku janji"

"Gamau"

"Yaudah pegangan tangan aja" ucap Anggara sembari membuka telapak tangan kirinya. Akhirnya Luna menggenggam jemari tersebut.

Namun yang tadinya enggan dekat, Luna malah tanpa sadar dalam tidurnya mendekati sang suami yang masih terjaga asik menatap wajahnya.

"Katanya gak boleh, tapi sendirinya malah peluk duluan" gumam Anggara yang mencoba menggerakkan badannya mencari posisi nyaman tanpa membuat Luna terusik.

Saat terbangun, Luna sangat terkejut dirinya berada dalam rangkulan tubuh Anggara. Ia mendongak dan menatap rahang tegas milik suaminya. Pemandangan yang indah baginya dipagi hari.

Luna mulai mencoba menyibakkan lengan besar yang menguncinya. Tetapi sangat susah karena sangat berat. Apalagi tubuh Anggara sedikit bertumpu padanya.

Ia teringat tentang kain yang kemarin ia beli. Berniat membuatkan baju untuk Anggara, tetapi dirinya terlalu malu untuk mengukur langsung tubuh Anggara.

Luna mulai mengukur dengan tangannya perjengkal. Lengan Anggara, pinggang Anggara dan dada Anggara. Ia lakukan dengan sembunyi-sembunyi. Padahal Anggara sudah terbangun dan enggan untuk mengganggu aktivitas Luna.

***

Senin pagi seperti biasa Anggara maupun Luna sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Hari ini juga sangat padat bagi Anggara karena banyak pekerjaan dan dokumen-dokumen yang harus ia periksa.

Silvi sedikit keberatan dengan keputusan Anggara yang meminta izin untuk berbagi waktu dengan madunya seperti semula. Tak mau sebenarnya ia memberitahu tentang kehamilannya dalam waktu dekat karena Silvi masih belum siap.

Namun karena wanita yang berprofesi sebagai dosen itu tak rela bila waktu suaminya terbagi, maka dari itu malam ini dirinya akan membuat kejutan pada Anggara.

Luna yang sedang bergelut dengan laptopnya membuat power point untuk presentasinya besok, terjeda karena panggilan dari Nida. Langsung saja Luna mengangkat panggilan tersebut.

"Hallo bunda" ucap Luna.

"Luna, besok kerja sampai jamberapa?"

"Besok aku ada jumpa klien bun. Ada apa mengapa bunda?"

"Yah.. bunda pengen minta bantuin bikin dessert buat lusa bunda arisan tadinya. Tapi yowiss bunda minta resepnya saja kalo gitu" Luna tersenyum mendengar nada bicara sang mertua.

"Kalau kliennya gak ribet, rapatnya cepet kok. Nanti Luna usahain kesana ya bun" ucap Luna. Di seberang sana langsung kegirangan.

"Yaudah, semangat kerjanya ya sayang"

"Siap bundaku." Ucap Luna sembari menutup panggilannya. Teringat juga dirinya belum membawa oleh-oleh kemarin pada mertuanya. Kalau oleh-oleh untuk keluarganya di jogja, Luna sudah mengirimnya kemarin lewat jasa pengiriman.

Untung saja Luna pulang tepat waktu. Dirinya ingin langsung pergi ke toko peralatan jahit untuk berbelanja alat-alat jahit. Terfikir juga untuk membeli mesin jahit, tapi ia takut nantinya hanya menjadi pajangan saja karena itu bukan pasion nya.

Namun bila soal mendesain, Luna sudah hatam untuk menggambar. Dan kebetulan juga sang kakak selalu mengajarinya menjahit dari smp.

Setelah berbelanja, Luna langsung menjalankan mobilnya pulang. Anggara sudah mengirimkan pesan teks kepadanya bahwa suaminya itu akan lembur dan pulang pada Silvi lagi.

Ada rasa kecewa dalam diri, tetapi Anggara bertanggung jawab dengan kata pengertian. Selain perhatian mengingatkan makan, Luna pun diperingati untuk selalu berada di situasi aman pada saat sendirian.

Malam ini Luna akan sedikit-sedikit membuat pakaian couple impiannya dengan kain songket yang ia beli di Palembang tempo hari.

***

Seperti biasa bila hari senin terlebih Anggara dengan pekerjaan yang menumpuk, lelaki bertubuh tinggi tegap itu akan pulang larut malam. Bahkan bisa sampai tidak pulang.

Namun dengan sedikit kesal Anggara harus memaksakan diri untuk pulang dan membiarkan pekerjaannya sementara di tumpuk kembali karena permintaan istri.

Silvi menyambutnya dengan hangat. Berbeda dengan Anggara yang wajahnya sangat menekuk. Mood Silvi menjadi turun melihat suaminya tak antusias.

"Ang, udah makan?"

"Udah.. tau kan aku gak suka makan lebih dari jam delapan malam" ucap Anggara malas sembari merebahkan tubuhnya di sofa. Silvi langsung memajukan bibirnya cemberut karena sikap dingin suaminya.

"Kok kamu gitu sih Ang" rajuk Silvi.

"Gitu gimana? Kamu yang begini, udah tahu kerjaan aku lagi numpuk" nada suara Anggara sedikit meninggi. Dan Silvi paham suaminya ini sedang kesal apalagi dirinya adalah seorang workholic.

"Kitakan baru ketemu dan bisa ngobrol sekarang.. Kemarin kamu pulangpun langsung meeting terus pulang malem. Tadi pagi aku ngajar dan kamu kerja."

"Ya ngerti aja dong yang, aku kan baru pulang luar kota. Udah biasa aku lembur" ucap Anggara mengayun.

"Apa jangan-jangan Luna udah buat kamu berubah ya?" Ucap Silvi dengan nada pelan.

Kenapa jadi Luna? Aku jadi penasaran apa pekerjaannya hari ini lancar? Batin Anggara.

"Tuhkan bener" ucap Silvi yang langsung berdiri dan menjauh dari sofa yang diduduki Anggara karena melihat Anggara yang tak menjawab.

"Eh- kok gitu sih mikir nya?" Ucap Anggara yang ikutan berdiri.

Padahal aku lelah. Ingin dibuatkan minum, ditawari mandi dan disiapkan baju. Sayangnya aku sedang berada di istri pertamaku. Dalam hati Anggara kembali bergumam.

Silvi melemparkan sesuatu benda ketubuh Anggara. Benda itu terjatuh setelah menyentuh bagian perut Anggara yang dibalut dengan kemeja berwarna navy tersebut.

Dipungutnya benda asing itu dan sontak Anggara membulatkan matanya tak percaya. Silvi langsung terisak dan lari menuju kamar. Anggara langsung mengejarnya.

"Sayang ini beneran?" Ucap Anggara.

"Bohong!"

"Hey- dari kapan? Ko aku baru tahu?" Ucap Anggara yang kini duduk disamping Silvi dan merangkul bahunya.

Deg. Silvi sedikit kelimpungan untuk mencari kata-kata yang pas untuk alibinya.

"Kamu terlalu sibuk sendiri dan sering mengabaikan aku! Tiap pulang pasti kamu langsung tidur atau ga serius sama mesin kopi kamu itu! Atau gak sibuk lagi sama laptop sialan kamu itu!"

"Sstt.. im sorry." Ucap Anggara sembari memeluk Silvi. Tangisan Silvi pecah dan air matanya sudah membasahi kemeja bagian depan Anggara.

"Makasih sayang.. aku janji akan berubah dan lebih peduli lagi. Maafin aku ya" ucap Anggara lembu dan berkali-kali mencium pucuk kepala Silvi.

"Ohiya besok jadwal kamu sampe jam berapa?"

"Jam tiga. Kenapa?" Ucap Silvi parau.

"Ke rumah bunda yuk. Pasti bunda bakal seneng. Please jangan nolak"

Sedikit lama berfikir akhirnya Silvi mengangguk dan kembali memeluk Anggara erat.

Dikira akan sangat bahagia bila suatu saat Anggara menerima berita kehamilan istri tercintanya. Namun tak seperti yang dibayangkan, Anggara tidak terlalu senang dan tidak terlalu biasa saja.

Ditatapnya wajah Sulvi yang sudah pulas dihadapannya. Teringat lagi tentang kasus istrinya yang berselingkuh. Dengan dugaan-dugaan yang memungkinkan, Anggara langsung menepis fikiran itu jauh-jauh.

"Apasih lo Ang. Jelas lah ini istri lo dan kalau dia hamil pun pasti anak lo sendiri" gumam Anggara.

***

Anggara menjemput Silvi di kampus. Sore ini Anggara sengaja pulang cepat karena tidak sabar untuk memberitahu sang bunda. Richard sudah tahu duluan saat dikantor dan tentu saja Anggara bisa pulang lebih awal karena izin darinya.

Anak sulung dari pasangan Richard dan Nida itu sengaja membawa makanan siap saji dari luar untuk dibawa kerumah besar. Nida sontak terkejut melihat kehadiran anak sulungnya itu dirumah. Ia menebak bila Anggara datang bersama Luna. Tapi ternyata tidak.

Demi menjaga perasaan menantu kesayangan, Nida mengirim pesan singkat untuk Luna agar tidak harus pergi kerumah besar.

Nida, Anggara dan Silvi sudah berada di meja makan. Obrolan ringan menjadi pembuka walaupun tak jauh dari pekerjaan mereka satu sama lain sembari menunggu makanan yang menjadi buah tangan disiapkan oleh Lala.

Dari awal pernikahan memang Silvi tidak dekat dengan mertuanya, maka dari itu suasana canggung selalu tercipta bila mereka bertemu. Melihat sikap istri yang tak nyaman, Anggara akan langsung keintinya saja.

"Bunda, ada sesuatu yang mau Anggara omongin"

Semoga bukan hal buruk. Batin Nida sembari menstabilkan nafasnya.

"Ada apa mas?"

"Silvi.. lagi hamil" ucap Anggara semangat. Silvi langsung tersenyum dan wajah Nida langsung sumringah.

Hanya ada satu orang yang merasa sedikit tidak bahagia. Yaitu Luna yang sudah mendengarkan berita menyakitkan itu yang langsung keluar dari mulut suaminya sendiri.

***

Sebel ya Silvi playing victim gitu dec😌

Yah cobaan pernikahan memang selalu ada ada saja. Ayo Luna kita balas pendusta itu!

Eh eh Luna kan wanita baik...

Maaf ya Lun, author gak mau menciptakan Luna yang menye menye he he..

Yuk baca novelku yang berjudul "COMING BACK AS WE ARE" 😍

Sorry for typo.

Tbc-

1
Amilawati
cerita versi pelakor ini,,,pelakor ttp pelakor yg menjijikan TDK ad pelakor baik, cerita ini hanya hayalan seorang pelakor
Siska Siswanto
kapan ni up-nya?
🐧 Pororo 🐧
please, jangan stop lagi yah kak 🙏
Zenecka
ah happy bgt novelnya lanjut lg... sehat selalu kaaaa /Kiss/
Yovita Sintadewi
ya selalu aku lihatin, tidak ada kelanjutannya, dah hampir 1 thn thor
Tiwik Firdaus
emang udah diurus surst cerai terus udah diserahkan kembali kepada kefua orang tuanya dan menjelaskan semuanya bahwa anak yang dikandung silvi bukan anaknya
Tiwik Firdaus
ceraikan saja silvi udah selingkuhan kamu aja katanya diselidiki kok ngak ketauan2 sekingkuh to silvi kapan terbongkarnya masak nunggu sampai lahir baru ketsuan
Tiwik Firdaus
kebanyakan mikur anggara jadi bodoh sekarang
Tiwik Firdaus
makanya jadi laki jangan diam saja seperti kambing congek selidiki yang serius mana ada wanita hamil diantar kedokteran suaminya ngak mau masuk akal ngak hadi oria bodoh banget kamu katanya pinter jadi ceo kok bodoh jadi suami
Tiwik Firdaus
jangan percaya anggara kalau kamu udah lama ngak berhubungan badan sama dia kan twrus katanya kamu mengawasi silvi tau dong kalau silvi sering ketemuan sama mantan pacarnya
Tiwik Firdaus
biasa ngak ada tampan2nya sama sekali
Qorie Izraini
karena terlalu cinta kang Angga jd begi dan labil

kasihan mbak luna yg jd korban.
tapi y sdh lah, takdir kehidupan terus berlanjut, dengan jln ny masing2
Qorie Izraini
si jalang kena karma 😀😀😀
Mugi yg bosan dengan usaha ny tuk tanggung jawab pergi.
raasain lo dilvi nikmati hasil yg kau tanam
Qorie Izraini
lah udah taumlm pertama ny sama silvi jln tol, msh saja cinta setengah mati, gsk bisa mov on lg.
pantes aja si silvi ngelunjak.
Anggara ny yg bego
Qorie Izraini
dasar jd suami kok bego amat
udah di selinguhi, masih ja mau baikan.
stukurin ..bakalan ngebesarin anak orang yg nitip benih ny ke rahim silvi
Qorie Izraini
dasar istri jalang...
tapi takut di cerai kan 😀😀😀
takit gsk dapatateri dari kamg Anggara 😁😁😁
Qorie Izraini
sombong banget kang anggara, bikang gak tertarik.ntar bucin baru tau rasa.atau....
gak bisa mov on dari istri tercinta ny yg terang2 an selingkuh di belakang ny.
nino
thor ini upnya 2 tahun lagi ya
amalia
keren bgtt cerita nyaaa👏👏👏👏👏
amalia
apa suami nya nadine.selingkuh sm silvi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!