Merasa menjadi tumbal kehidupan yang keras membuat Alina menjadi pekerja malam yang dikorbankan oleh tantenya sendiri.
Akankah hidup Alina berubah setelah bertemu dengan Tuan Muda bernama Leon Hansen Wijaya?
Kepoin kisahnya di novel ini yah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini Jayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33# Akad Nikah
Blue House yang biasanya tenang nampak sedikit riuh, dikarenakan para assisten rumah tangg sedang sibuk mempersiapkan acara akad nikah antara Alina da Leon. Tidak banyak yang diundang, hanya beberapa sesepuh sebagai saksi dari warga itupun yang sering shalat berjamaah di masjid.
Dari pihak keluarga Leon tak ada satupun hadir, hanya AK yang didaulat sebagai saksi nikah. Dan semua assisten rumah tangga kecuali hanya beberapa bodyguard berjaga-jaga di depan, hanya memastikan tidak akan terjadi sesuatu.
Kini Alina sudah bersanding di samping Leon dengan mengenakan gamis putih dan pasmina putih yang dipakai untuk menutupi rambutnya saja.
Alina menitikan air matanya perlahan, mengingat Ayah dan Adiknya yang sudah berpulang terlebih dahulu.
Harusnya kalian menghadiri pernikahanku, bagaimana kalian bisa pergi begitu saja.
Pria di sampingnya sedang mengucapkan kalimat Ijab Qobul dengan suara lantang, tegas dan hanya satu tarikan nafas.
"SAH,, SAH,," suara dari para saksi sebagai tandabahwa kini Leon sudah resmi mempersunting Alina secara agama dan Sah di mata Tuhan. Penghulu mempersilahkan kedua pengantin untuk bertukar cincin, diakhiri Alina mencium tangan Leon sebagai rasa hormatnya pada suami.
Sebagai rasa syukur dan terimakasih Leon sudah mempersiapkan sajian perasmanan di ruang samping sebagai ruang serbaguna untuk menjamu para tamu yang hadir malam ini.
Terlebih Lusy sudah bisa bernafas lega, setelah sibuk mempersiapkan kotak nasi untuk tahlilan, ia di daulat mendadak mempersiapkan catering pernikahan majikannya.
Alina tersenyum tipis pada suaminya kini yang sedang menatap haru dirinya. Wajah polosnya yang biasa tidak bermake up, kini dipoles sedikit riasan make up minimalis agar terkesan natural.
Tak lupa untuk mengabadikan momen sakral tersebut, AK secara khusus memanggil fotografer profesional.
Setelah acara foto selesai, Alina dan Leon ikut membaur bersama para tamu yang hadir.
Satu hari sebelumnya, tepatnya Empat setelah kematian Doni.
Leon sedang berbincang serius dengan AK di taman belakang rumah. Pagi hari biasanya Leon sangat suka menikmati teh hangat bersama kue kering sebagai cemilannya. Duduklah AK di sampingnya, mereka terlibat perbincangan serius. Tiba-tiba Leon mengemukakan ingin menikahi Alina saat itu juga, entah apa yang merasuki dirinya.
Leon sudah merasa dirinya terlampau jauh melibatkan Alina dalam masalahnya dan Leon berpikiran untuk melindungi Alina, maka ia harus menjadikan Alina istrinya, Setidaknya tidak ada yang akan berani menyentuhnya apalagi membuatnya celaka.
Leon turun sendiri mendatangi rumah ketua RW di tempatnya, meminta pendapat apakah bisa menghubungi penghulu saat itu juga untuk bisa menikahkan dirinya. Kebetulan penghulunya, selain anggota KUA juga merangkap sebagai ketua DKM masjid di sekitar Blue House. Tanpa sungkan Leon mengemukakan keinginannya dan semua permasalahan yang tengah dihadapinya saat ini, Leon merasa dirinya terlanjur sudah jauh meninggalkan Tuhannya dan ingin kembali mendekatkan diri dan memperbaiki diri di sisa umurnya sekarang.
Keinginan Leon disambut hangat oleh penghulunya, Ustadz Thoriq. Dan Leon berniat akan akan menjadi donatur tetap untuk pembangunan masjid dan juga donatur bagi pesantren yang terletak tidak jauh dari wilayahnya.
***
Alina melihat pria berkoko putih itu sedang tertidur pulas, posisi tubuhnya miring ke kanan dan kepalanya di topang oleh tangannya. Sejuk tak kala menatapnya sekaligus aneh karena pria yang telah sah menjadi suaminya itu mendadak terlihat seperti orang soleh, beda jauh dengan Leon yang dikenalnya dulu.
Waktu sudah menunjukan pukul 5 subuh, Alina sudah selesai menjalankan kewajibannya. Sementara suaminya masih tertidur pulas, Leon memang kembali tidur setelah shalat tadi. Alina bersyukur, ia kini bisa menjalankan ibadanya secara khusyu tanpa ada rasa khawatir berlebihan.
Alina awalnya berpikir, untuk apa ia beribadah toh ia terus-terusan melakukan dosa terlarang. Dirinya kotor dan tak pantas mengenakan mukena putih bersih, mencerminkan kesucian.
Kini ia niat bertaubat untuk memperbaiki diri dan mensyukuri setiap nikmat yang diberikan padanya.
"Alhamdulillah atas kesempatan yang diberikan padaku." Tutupnya dan melipat mukenanya, disimpan rapi kembali ke dalam lemari.
Alina dan Leon tidur dalam satu kamar yang sama, mereka sepakat memilih kamar Leon, dengan alasan kamarnya lebih luas dibandingkan kamar Alina.
Memang Alina lebih menukai kamar suaminya, karena ada balkon yang langsung menatap hamparan pemandangan lapangan golf di belakang.
Tiba-tiba suara ponsel Leon berdering nyaring, Alina melihat ada nama AK tertera di sana.
Kemarin malam AK memang telah melakukan perjalanan ke Surabaya setelah acara pernikahan selesai.
"Siapa sayang?" tanya Leon mengagetkan Alina.
"EK,"
"Berikan." Leon mengambil ponselnya yang disodorkan Alina.
"Apa? Kenapa bisa? Kamu tahu kan EK apa yang harus dilakukan!"
"Pokonya aku tidak mau tahu, semuanya harus selesai saat kamu kembali!" sentak Leon pada pria yang sedang menghubunginya.
Alina menghela nafas panjang.
Aku kira dia sudah berubah jadi orang alim, ternyata masih sama saja!
Keluh Alina pada dirinya sendiri
"Kenapa? Kamu sedang mengutukku? Karena berbicara seperti itu?" Tanya Leon beringsut dari tempat tidur, kini ia berjongkok di depan Alina yang sedang duduk ditepian tempat tidur.
"Tidak, hanya perasaanmu saja," sanggah Alina.
Dia punya indera ke enam, selalu tahu apa yang kupikirkan.
"Aku merasa aneh sama kamu, kalau sama EK kamu bisa bersikap baik dan manis tanpa ada rasa kaku, beda denganku. Kamu bahkan sering menatapku dengan penuh takut, Apa aku menakutkan bagimu?"
"Hei, sejak kapan jadi cemburu?" hampir saja Alina tertawa lepas.
"Ya, katakan saja aku memang cemburu. Asal kamu ingat ya Alina, yang berhak atas dirimu dan perasaanmu hanyalah aku seorang." Ujar Leon penuh tekanan, bola matanya menatap tajam manik mata Alina. Hingga wanita itu salah tingkah dibuatnya.
"Iya Tuan Muda, saya akan menuruti perintah Tuan Muda," ucap Alina, mengulang kembali panggilannya selama ini pada sosok yang menatapnya dengan wajah datar.
"Cup."
Leon mengecup lembut bibir Alina, seketika nyawa Alina melayang. Apa yang berbeda dengan ciumannya dulu?
Ini ciuman pertamanya sebagai seorang Nyonya Leon Hansen Wijaya.
"Berdiri! Siapkan air hangat untukku dan semua pakaian kerjaku sekarang juga!"
Kalimat Leon menarik kembali nyawa Alina yang tadi sudah terbang tinggi.
Perlahan Alina turun beranjak dari tempatnya dengan raut wajah kesal dan menuruti semua perintah Leon barusan.
Jiwa-jiwa menyebalkannya masih saja ada!
***
Tbc...