Penantian selama dua tahun gadis itu akhirnya terwujud. Dia berhasil menikah dengan sang pujaan hati.
Tapi pernikahan mereka harus diuji oleh sesuatu yang sangat krusial. Bukan orang ketiga, bukan juga soal financial.
" Laaah kok nggak bisa berdiri sih kak?" kata si gadis.
" Ya mana ku tahu kalau dia lemes gitu," jawab si pria kebingungan juga.
Malam pertama yang diharapkan terpaksa ditunda atau lebih tepatnya gagal karena sang pria tidak mampu membuat miliknya bertugas sebagaimana mestinya.
" Bagaimana cara membuat itu berdiri," pikir si gadis.
" Apa aku harus melepaskannya karena ketidakmampuanku?" batin si pria.
Bagaimana dua anak manusia ini mengarungi pernikahannya? Akankah mereka berhasil mengatasi ujian berat itu?
Atau menyerah dan memilih saling melepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suamiku Impoten 34
Hari berikutnya, Akhza mengajak Airin ikut serta saat menemui Faizal. Tapi sesampainya di rumah Faizal, Airin tidak ikut berbicara. Ia memilih mengobrol dengan ibunya Faizal.
" Jadi gimana," tanya Faizal to the poin.
" Aman, alhamdulillah bisa. Udah nggak kayak yang aku ceritain kemarin. Sepulang dari sini, aku bisa ngelakuin itu sama Airin."
Faizal tersenyum senang. Tapi dia tetap bertanya apa yang membuat Akhza bisa melakukannya. Dan cerita Akhza mengalir begitu saja.
" Aku paham Za. Kamu tuh cuma takut. Kamu nggak pede sama dirimu sendiri. Kamu takut nggak bisa membahagiakan Airin. Dan itu memengaruhi kemampuan seksual mu. Ada tekanan yang kamu buat sendiri, dan kamu bisa lepas karena kamu udah meyakinkan bahwa kamu memang sungguh-sungguh dengan cinta dan keluargamu."
Akhza mengangguk kecil. Hipotesis yang diucapkan oleh Faizal itu setelah ia cermati memang benar adanya. Dia hanya takut, takut jika ketika bersamanya Airin tidak bahagia. Ia hanya khawatir bahwa dirinya tidak bisa memberikan yang terbaik terhadap istrinya itu.
" Terimakasih Zal. Aku udah ngerti semuanya."
" So, liburannya jadi nih tetepan?"
" Jadi lah, biar Abra sibuk dulu. Aku mau ambil cuti agak lamaan. Honeymoon yang telat kudu dibayar lunas dan tuntas."
Tawa lepas keluar dari bibir mereka berdua. Pembicaraan selanjutnya hanyalah obrolan santai antara teman, dan sudah tidak lagi membahas mengenai apa yang terjadi pada Akhza.
Ternyata semuanya lebih sederhana dari apa yang Akhza dan mungkin juga orang lain pikirkan. Akhza hanya butuh tempat bicara, ia hanya butuh mengeluarkan isi hati yang selama ini ia pendam sendiri. Bukan tidak memercayai keluarganya, tapi ia menganggap bahwa semuanya adalah hal yang harus ia selesaikan sendiri.
Krisis kepercayaan diri yang timbul karena terlalu mencintai Airin, berakibat rasa takut yang berkembang dan membuatnya tidak mampu melakukan hubungan.
" Jadi apa liburannya tetep akan kita lakuin By?" tanya Airin, saat ini mereka sudah berada di dalam kamar. Keduanya saling memeluk dalam keadaan belum berpakaian. Ya, Akhza dan Airin kembali menikmati indahnya surga dunia yang baru saja mereka dapatkan. Rengkuhan yang keduanya inginkan itu menjadi candu yang selalu ingin mereka nikmati jika berdua.
" O ho .... jadi dong. Aku udah beli tiketnya. Besok kita berangkat. Aku juga udah bilang ke papa kok. Dan beliau oke-oke saja," jelas Akhza. Bukan karena dia sudah berhasil melakukan itu, tapi semenjak punya keinginan liburan, Akhza sudah mempersiapkan tiket untuk mereka pergi.
" Ah iya By, apakah akan cerita soal ini?"
" Belum, nanti saja. Kita pergi aja dulu. Nanti pulang dari liburan baru kita cerita ke keluarga. Sekarang ... bolehkah lagi?"
Akhza memang belum ingin bercerita soal apa yang mereka alami ini. Ia ingin sejenak merahasiakannya. Sekaligus menunggu kasus Anita yang tinggal menunggu putusan sidang pengadilan.
Dari kasus itu, kuasa hukum perusahaan juga meminta konfirmasi Anita perihal foto-foto hoax yang dibuat oleh Anita. Ini merupakan pembersihan nama tanpa Akhza turun tangan secara langsung.
Dan untuk Pram, Akhza punya rencana tersendiri. Jika Pram masih berusaha mengganggu kehidupan rumah tangganya, maka ia pun tidak akan tinggal diam.
" By ..., " suara merdu Airin yang berada di bawah kungkungan Akhza membuat hasrat Akhza semakin menggebu. Ini sesuatu yang begitu ia tunggu.
" Kamu mau punya anak berapa Ai?" tanya Akhza di sela-sela kegiatannya. Peluh mereka saling menempel satu sama lain.
" Berapapun itu, aku akan suka By."
" Aku mencintaimu Ai."
" Aku juga mencintaimu, By."
Suara desahhan dan eranggan menghiasi kamar itu. Suara yang sudah dari lama mereka ingin keluarkan dan sekarang suara itu menjadi keindahan tersendiri diantara keduanya.
TBC
terimakasih untuk tulisan indah mu thor