Cahaya tidak menerangi hidup seorang wanita yang terjebak dalam gelapnya kehidupan. Mati rasa mendeskripsikan kisah hidupnya.
Cahaya Jelita Jaharah harus hidup dipenuhi masalah demi masalah. Perjodohannya dengan putra bungsu keluarga Reynold menjadi satu-satunya jalan untuk mengungkapkan kematian sang ayah.
Berhari-hari ia harus hidup bersama jenazah ayahnya yang perlahan membusuk, memberikan bau menyengat.
"Ah~ inilah bau kematian." Itulah ucapan terakhir kali saat melihat ayahnya berada di dunia.
Sang ibu yang berselingkuh dengan tetua Raynold semakin menambah beban pada kehidupan Cahaya.
Zaydan Reynold seorang direktur di perusahaan Reynold adalah pria yang menjadi suaminya.
Mereka hidup bersama tanpa ada perasaan apa-apa, sampai kebenaran terungkap.
Keberadaan Fiona Ganezha yang merupakan tunangan Zaydan pun menjadi pelengkap cerita keduanya.
Bagaimana Cahaya mengungkapkan semuanya? Bisakah mereka jatuh cinta dan menghilangkan mati rasa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 34
Perasaan pedih menyakitkan kini tengah berkeliaran dalam angan. Segala gejolak rasa merenggut kesadaran semakin menipis. Kesyahduan kian menari indah dalam angan, mencoba memberikan perubahan lain pada kehidupan seseorang.
Entah apa yang ada dalam pikiran keduanya, mereka hanya membiarkan keinginan mengambil alih. Fakta mencengangkan seolah hilang dalam sekejap mata, bagaikan tidak pernah terjadi.
Alunan kebahagiaan terus berkeliaran mengikis rasa sakit yang semakin datang menerjang. Aroma pengharapan merengsek pada bayang semu. Ilusi tentang kehidupan lebih baik mengambil alih dunia nyata.
Penyatuan yang tengah terjadi melenakan perasaan. Layaknya ada cinta bergelora dalam dada, pasangan suami istri itu menyatu.
Bagaikan ada ladang bunga bermekaran di sanubari masing-masing. Kegelisahan, kekecewaan, dan rasa sakit berganti kehangatan yang tidak pernah dialami sebelumnya.
Emosi bercampur hasrat tinggi terus membuat pasangan suami istri itu seolah berada di dunianya sendiri. Di ruangan kedap suara, Cahaya dan Zaydan masih bergelayut mesra mengenai keinginan masing-masing.
Gerakan demi gerakan impulsif berkeliaran ke sekujur tubuh satu sama lain.
Di tengah permainan, jari jemari lentik Cahaya mengusap puncak kepala bersurai lembut sang pasangan hidup hingga ke pangkal leher. Tidak lama, pergerakannya terhenti seketika, ia tercengang dan tanpa sadar mencengkram kuat rantai liontin tersebut.
Kenyataan kembali mengambil alih jika ada tujuan yang harus dirinya lakukan di sana. Kesadaran pun hadir lagi membuatnya terpaku.
Zaydan yang merasakan pegangan sang istri turut tersadar. Ia menghentikan permainan dan saling menjauhkan wajah masing-masing.
Seketika itu juga pemandangan teramat indah tertangkap retina, di mana kedua pipi masing-masing merah padam. Sorot mata dipenuhi keinginan terdalam masih berkeliaran, deru napas mereka berhembus menyapu wajah. Dada Zaydan dan Cahaya naik turun, seolah baru saja melakukan maraton.
Bola mata bergulir ke sana kemari menatap lembut sang pasangan.
"Apa yang kamu-"
"Kenapa kamu melakukan semua ini?" tanya Cahaya menyerobot perkataan Zaydan.
Sang pria terdiam, masih menatap lekat wajah cantik nan rupawan pendamping hidup. Entah sadar atau tidak tangan kanan terangkat mengusap pelan sebelah pipi Cahaya.
Amarah yang sempat merundung diri, perlahan-lahan menguap ke permukaan dan hilang seperti asap. Lengkungan bulan sabit hadir menambah ketampanan sang tuan muda.
"Karena.... karena aku tidak suka kamu berhubungan dengan pria lain."
Penjelasan keluar dari mulut sang suami seketika membuat Cahaya terpaku. Lidahnya tiba-tiba saja kelu, tidak bisa mengatakan sepatah kata. Ditambah dengan nada lembut yang terucap menembus sanubari terdalam.
Degup jantung Cahaya bergemuruh hebat dengan pikiran buntu seketika. Tanpa ada ekspresi, wajah wanita itu datar kembali.
Keheningan mengambil alih, Cahaya maupun Zaydan masih saling memandangi iris satu sama lain, bagaikan semua dunianya ada di sana.
Hingga sedetik kemudian, seringaian hadir di celah bibir semerah cherry Cahaya, sadar pada tujuan awal.
"Kenapa? Apa kamu menyukaiku?"
Pertanyaan yang baru saja dilayangkan oleh sang istri membekukan diri. Zaydan tidak bisa membalas sepatah kata, seolah semuanya buntu detik itu juga.
Apa yang Cahaya ajukan tadi seolah pertanyaan amat sangat sulit diberikan jawaban. Mulutnya tiba-tiba saja mengunci rapat layaknya tidak bisa digunakan sama sekali.
Kembali, Cahaya menyeringai tajam saat tidak mendengar jawaban apa pun dari suaminya. Ia sudah tahu apa yang tengah Zaydan pikirkan sekarang.
"Jika memang sulit menjawabnya, kenapa kamu melakukan itu padaku? Cemburu? Apa kamu layak untuk itu? Tanyakan pada dirimu sendiri... apa kamu menyukaiku atau membenciku? Kamu berhak untuk memutuskan."
Setelah mengatakan itu, sekilas Cahaya memandangi liontin yang bertengger di leher Zaydan dan sedetik kemudian melangkahkan kaki dari hadapannya.
Sepeninggalan sang istri kedua kaki Zaydan lemas seketika. Tubuhnya limbung ke belakang, punggung kekarnya beradu dengan tembok sedikit menyadarkan.
"Apa yang sebenarnya aku pikirkan? Kenapa... kenapa aku malah mencium Cahaya? Juga, bukankah dia menikmatinya? Apa di sini aku saja yang salah?"
"Tunggu! Apa aku... menyukainya?"
Pandangan sepasang onyx kelam itu jatuh ke bawah dan menyelami pikiran sendiri atas apa yang terjadi. Ia dilanda kegelisahan hebat dan tidak mengerti apa yang sebenarnya dirasakan.
Tangan kanan terangkat, mengusap pelan permukaan bibir dan kembali merasakan kelembutan benda kenyal yang beberapa detik lalu dirasakan. Seketika jantungnya kembali berdegup kencang tak karuan.
"Kenapa... kenapa jantungku berdetak kencang sekali? Saat aku bersama Fiona, tidak pernah seperti ini. Apa yang sebenarnya aku rasakan?"
"Suka?"
Zaydan terus saja me-racau seorang diri memikirkan kejadian yang baru saja dirinya alami. Ingatan itu terus saja berkeliaran membuat ia tidak berdaya dan tidak karuan. Antara Cahaya dan Fiona, kedua wanita itu mengusik ketenangan.
...***...
Cahaya melarikan diri dari ruangan yang menjadi saksi bagaimana penyatuan itu terjadi. Kedua kakinya terus saja melangkah cepat seolah tengah diburu-buru oleh seseorang.
Napasnya tersengal-sengal sambil memegang bibir yang masih terasa bekas adegan singkat tadi.
Tidak lama berselang, Cahaya tiba di sebuah kolam air mancur dan mendudukkan diri di tepinya. Pandangan kedua manik jelaga itu jatuh sepenuhnya ke rerumputan.
Dadanya masih bergemuruh dengan perasaan kian tak beraturan.
"Apa yang baru saja terjadi? Kenapa... kenapa aku malah membalasnya? Bodoh-bodoh." Cahaya memukul kepala berhijabnya berkali-kali mencoba mengenyahkan ingatan tadi.
Ia menghela napas berat dan mendongak melihat langit indah malam ini. Bintang bertaburan dengan bulan bersinar terang.
"Indah sekali. Bisakah aku melihat langit malam seindah ini lagi? Entah kapan terakhir aku melihatnya... tiga tahun lalu? Lima tahun lalu? Aku sudah melupakan semuanya, bahkan... aku lupa pernah merasakan apa itu namanya bahagia," celoteh Cahaya lalu menyeringai lebar.
"Sekarang yang aku rasakan adalah kegelapan semata. Kebahagiaan? Sangat jauh, tidak bisa aku gapai," lanjutnya.
Pesta masih berlangsung, Fiona berada di sana seorang diri hanya ditemani segelas minuman. Maniknya berkeliaran, memandangi orang-orang di sana.
Ia terlihat kesal, kala sang kekasih pergi tanpa suara. Emosi kian memuncak saat melihat bayangan wanita berhijab itu lagi.
"Siapa dia sebenarnya? Apa mungkin dia keluarga Reynold yang belum pernah aku lihat? Tidak... wanita itu tidak memiliki auranya sama sekali," gumam Fiona melihat Cahaya yang kembali ke aula, lalu meneguk minumannya cepat.
"Kamu pasti kesal Zaydan pergi begitu saja, kan? Atau kamu penasaran dengan wanita itu?"
Seseorang mengejutkan, Fiona menoleh ke belakang dan mendapati kakak kedua pujaan hatinya.
"Mas Zayyan?" Panggilnya. "Apa maksud Mas Zayyan?" tanya Fiona kemudian.
Zayyan tersenyum lebar, penuh makna.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Kamu tahu? Beberapa minggu lalu, saat aku memposting wanita itu di media sosial, sebenarnya... aku memang sengaja. Karena-"
"Karena Mas Zayyan memang tidak pernah menyukaiku sama sekali," potong Fiona, tahu.
Zayyan terkekeh pelan sambil menggoyang-goyangkan gelas di genggamannya. Kaki jenjang itu perlahan mendekat dan mencondongkan tubuh ke samping telinga Fiona.
"Aku memang tidak pernah suka wanita licik seperti mu. Adikku itu memang bodoh, tidak pernah membuka mata, mana wanita yang baik dan tidak!" tegas Zayyan tepat mengenai sasaran.
Manik berlensa hitam legamnya membola sempurna. Pegangan tangan pada gelas semakin menguat
Ia menoleh dan seketika keduanya saling berpandangan.
"Aku tidak peduli, asalkan mas Zaydan tetap mencintaiku," balas Fiona acuh tak acuh.
"Kamu masih percaya diri? Apa kamu tidak penasaran siapa wanita berhijab itu di sana? Kalau kamu tahu-" Zayyan menjeda kalimatnya lalu melakukan gesture seolah mengusir keberadaan Fiona dalam kehidupan Zaydan.
"Kamu bisa habis," lanjutnya.
Setelah mengatakan itu Zayyan melangkahkan kaki dan berbaur dengan para tamu menyisakan kekesalan dalam diri Fiona begitu kuat.
lanjut thor /Ok//Ok//Good//Good/