Sejak menjalankan misi dari SKAK, kehidupan Fabian Bara Akalanka mulai membaik. Bahkan, dia bisa membalas dendam kepada mantan kekasihnya—Adara Sandria.
Namun, belum sempat Fabian menuntaskan semua misi, system tersebut mendadak rusak. Lantas, dia dihadapkan pada rahasia besar yang ada di balik SKAK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kompensasi Besar
Perasaan Fabian sangat tidak nyaman, menatap empat orang pria yang mendatanginya dini hari, sudah pasti ada hal besar yang terjadi. Bisa saja itu berkaitan dengan kompensasi atas gagalnya misi.
"Anda gagal menyelesaikan misi, kami selaku tim SKAK akan mencabut sistem yang sebelumnya sudah terhubung dengan ponsel Anda."
Fabian gelagapan. Meski dari tadi sudah menebak hal itu, tetapi masih syok juga. Jujur, rasanya masih tak ikhlas melepas SKAK, walaupun harta dia dapat sudah banyak. Sebagai manusia biasa, ambisinya untuk lebih tinggi cukup besar, termasuk ambisi menggeser posisi Morgan Smith.
"Setelah ini misi harian akan berhenti, dan Anda tidak berhak lagi menerima hadiah."
Mendengar penuturan itu, Fabian menghela napas panjang. Lantas mengangguk dan mengiakan dengan berat.
"Kalau begitu, silakan Anda siapkan semuanya! Kami akan menunggu di sini."
Kali ini Fabian mengernyit heran. Apa maksudnya?
Melihat ekspresi Fabian yang sangat keheranan, salah seorang dari pria itu memberikan penjelasan yang lebih rinci.
"Anda tidak berhak mendapatkannya hadiah, artinya ... Anda harus mengembalikan semua hadiah yang pernah Anda terima. Mulai dari motor Harley sampai jet pribadi, juga tabungan di rekening yang belum Anda gunakan. Sedangkan uang yang sudah Anda pakai, tidak terhitung hutang. Kami menganggap itu uang ganti atas usaha Anda menyelesaikan misi yang sudah-sudah."
Fabian syok seketika. Matanya melotot, bibirnya menganga, dan tubuhnya lemas tak berdaya. Dia akan kembali miskin? Oh, tidak! Mimpi yang sangat buruk itu.
"Tuan Fabian, silakan Anda siapkan semuanya. Kami menunggu di sini!"
Karena ego yang terlalu tinggi, Fabian tidak mau menerima keputusan SKAK. Hadiah yang sudah diterima, akan tetap menjadi miliknya. Begitulah pikir Fabian.
"Tuan___"
"Tidak!" Fabian memungkas dengan cepat. "Hadiah sudah kuterima, aku tidak mau mengembalikannya!" sambungnya dengan nada yang lebih tinggi.
"Ini sudah menjadi peraturan sistem."
"Tidak! Jika kompensasinya sebesar ini, seharusnya Anda semua menjelaskannya dari awal. Apa karena sengaja ingin menjebak saya, begitu?" Fabian masih saja membentak-bentak.
Salah satu pria menarik napas panjang, "Ini bukan jebakan seperti yang Anda tuduhkan. Kompensasi dari sistem bermacam-macam, jadi kami tidak bisa menjelaskan dengan rinci. Tapi satu yang pasti, semua peserta harus mematuhi aturan itu."
"Terserah apa kata kalian! Harta yang sudah kuterima, selamanya akan menjadi milikku. Sedikit pun aku tidak akan menyerahkannya pada kalian. Sekarang lebih baik kalian pergi! Katakan pada atasan kalian, jika membuat aturan yang lebih masuk akal. Jangan mempermainkan orang seperti ini!" Mata Fabian sampai melotot tajam ketika melontarkan kata-kata itu. Semua yang ia lakukan semata-mata untuk melindungi hartanya.
Pria yang sejak tadi bicara, kini melangkah mundur. Berganti pria lain yang tubuhnya lebih kekar. Dengan wajah garangnya, dia mendekati Fabian sembari melayangkan tatapan tajam.
"Tidak masalah Anda tidak mau mengembalikannya, Tuan Fabian. Kami bisa mengambilnya secara paksa. Semua harta Anda, baik itu tabungan di rekening maupun surat tanah dan kendaraan, tim kamilah yang mengurus. Jadi, bukan hal sulit bagi kami untuk memblokir itu semua. Jika misalnya Anda tidak mau pergi dari vila ini, terserah, tapi siap-siap saja berurusan dengan hukum. Saya harap Anda tidak lupa tentang ... siapa kami dan siapa Anda."
Penuturan panjang lebar dan syarat akan penekanan, sontak membuat Fabian mati langkah. Apa yang bisa dia lakukan sekarang? Sama sekali tidak ada. SKAK lebih punya uang, lebih berkuasa, dan lagi lebih cerdik darinya. Ibaratnya, satu kali sentil saja keadaan akan berubah dan dirinya akan hancur, sehancur-hancurnya.
"Tolong ... beri saya kesempatan satu kali lagi. Saya akan menyelesaikan misi dengan baik. Saya akan lebih berhati-hati, kegagalan ini tidak akan terjadi lagi. Ini tadi saya dicelakai orang, makanya gagal," pinta Fabian setelah cukup lama diam. Dia berusaha menahan langkah empat orang pria yang siap masuk ke vilanya.
"Dicelakai juga termasuk dalam tantangan misi, bagaimana Anda mengatasi kesulitan yang datang mendadak."
"Tapi___"
"Tidak ada kesempatan untuk peserta yang gagal. Anggap ini pelajaran agar ke depannya tidak menganggap remeh suatu hal." Pria dari SKAK memotong cepat ucapan Fabian.
Detik berikutnya, Fabian tak bisa berkata-kata lagi. Empat pria itu sudah masuk ke vila dan mencari surat-surat penting yang berkaitan dengan kepemilikan mansion, vila, dan beberapa kendaraan. Sedangkan Fabian, sekadar bersandar di daun pintu. Menatap kosong pada mereka yang akan membuatnya jatuh miskin dalam sekejap.
Bersambung...