Apakah kalian tahu sumber kebahagian sesungguhnya?,,,Kebahagiaan bukanlah bersumber dari uang, jabatan, atau wanita.
Sumber kebahagian adalah berasal dari hati yang murni. Setiap kita menolong sesama maka kebahagian akan menghampiri kita dengan sendirinya.
Mulai dari sekarang mari kita lakukan kebaikan paling tidak sehari satu kali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon G aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Disangka menjadi penculik
Terimakasih sudah mampir. Semoga kita semua selalu sehat dan bahagia. Selamat membaca.....
Masyitoh memandang anaknya yang sedang membereskan 30 paket nasi kuning. Ada tiga kantong plastik besar yang setiap kantongnya dia masukkan 10 box nasi kuning.
"Dede pesanan itu buat siapa?" tanya Masitoh. Dia sebenarnya heran kapan Dede membuat semua nasi kuning itu. Masitoh tidak tahu bahwa saat ini Dede bisa dengan mudah membuat nasi kuning hanya dalam hitungan detik lewat bantuan sistem.
"Oh ini Bu ada pesanan dari pak Gilang katanya sore ini dia pesan 30 box nasi kuning spesial" Dede menatap ibunya yang terlihat kebingungan.
"Berarti beras yang tadi kamu pesan itu sudah datang dong?" tanya Masitoh.
"Iya Bu benar berasnya sudah datang dari tadi" jawab Dede sambil menunjuk ke arah karung beras yang berada di pojok dapur.
"Terus siapa yang bayaran beras itu?" Masyitoh mengerutkan keningnya.
"Kebetulan aku punya uang 230.000 lagi hasil dari penjualan ular dan jasa membuat sate dari ko Chang min" kata Dede menjelaskan.
"Kalau begitu ibu akan mengganti uangnya ya" kata Masitoh sambil mengambil uang dari kantong bajunya.
"Tidak usah Bu, Ibu pegang saja uang itu. Nanti juga Dede akan mendapatkan uang lagi dari hasil penjualan nasi kuning ini" katanya sambil menepuk
pelan ke-30 paket nasi kuning yang sudah siap untuk diantar.
"Tapi nanti Ibu dan istri harus bantuin Dede mengirimkan paket nasi ini kepada keluarga pak Gilang" Dede memandang ibunya.
"Tentu saja nak masa Ibu dan Isti akan membiarkanmu mengantarkan paket sebanyak itu sendirian'' kata Bu Masitoh memandang bangga kepada anak bungsunya.
Tidak terasa waktu berlalu begitu saja, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 17.00 kurang 15 menit waktu Indonesia bagian barat.
"Isti Ayo sekarang kita bantuin Dede membawa paket nasi ini ke rumah keluarga pak Gilang" ajak Masyitoh kepada Isti yang sedang menyisir rambutnya.
"Baik bu Isti ganti baju dulu" katanya lalu bergegas ke dalam kamar. Tidak lupa Dede mengirimkan satu poin kekuatan kepada istri supaya dia menjadi kuat seperti ibu dan dirinya.
Kemudian mereka bertiga pun berangkat masing-masing membawa 10 paket nasi kuning memakai kantong plastik besar. Isti merasa sedikit merasa aneh dengan tubuhnya saat ini, dia merasakan badannya terasa ringan dan penuh kekuatan.
"Kak Isti jangan kaget dengan perubahan tubuhmu karena barusan aku sudah mengirimkan poin kekuatan kepada kakak. Dalam satu bulan ke depan tubuh kakak akan menjadi kuat seperti Superman." kata Dede menjelaskan.
"Oh pantas saja kalau begitu Kakak ucapkan terima kasih ya Adikku sayang" Isti memandang Dede dengan senyuman dan mengedipkan satu matanya.
Di perjalanan banyak para tetangga yang yang berpapasan dengan mereka bertiga. hampir semuanya menanyakan tentang apa yang mereka bertiga bawa.
Tentu saja Masitoh menjelaskan seadanya, "Bu Masitoh kalian membawa apa?" tanya seorang ibu.
"Ini pesanan nasi kuning pak Gilang, kami bertiga sedang mengantarkan ke rumahnya" jawab Masitoh seadanya.
"Oh kalau begitu saya juga mau pesan dong Bu" kata ibu itu yang sudah merasakan nikmatnya nasi kuning buatan Dede.
''Boleh saja Bu besok saya akan mulai berjualan nasi kuning di depan rumah, jadi ibu kalau mau besok bisa membelinya secara langsung ke rumah saya" Bu Masitoh menjelaskan.
"Baiklah Bu saya akan membeli nasi kuning besok ke rumah ibu" balasnya sambil berlalu pergi. Begitupun dengan orang-orang yang lainnya. Dalam sekejap nasi kuning buatan Dede menjadi viral di daerah itu.
....
Tibalah mereka bertiga didepan rumah keluarga pak Gilang. Di halaman rumahnya terlihat ada empat anak kecil yang sedang bermain riang gembira. jadi bisa menebak mereka itu adalah semua saudara Yuna.
Beberapa mobil dan motor pun berjajar rapi di halaman yang cukup luas itu. Anak-anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran langsung terhenti mendadak saat melihat ada tiga orang asing yang mendekati mereka.
Mereka sekitar sepantaran anak TK.
"Eh mereka itu siapa?" bisik salah satunya pada anak yang disampingnya dengan pandangan tetap menatap Masitoh dan kedua anaknya.
"Jangan-jangan? Mereka culik" celetuk anak laki-laki berbadan gemuk.
"Iya lihat saja mereka bertiga membawa kantong plastik hitam besar. Pasti isinya anak kecil yang akan dijual," gumam anak laki-laki yang satunya.
"Iiih aku jadi takut Kak." bising anak perempuan sambil memegang erat ujung baju temannya.
"Ayo sebaiknya kita kabur aja" salah seorang dari mereka berempat mengambil langkah seribu diikuti ketiga lainnya.
Masitoh dan Isti mengerutkan keningnya melihat keempat anak itu malah berlari menjauhi mereka bertiga. sedangkan Dede hanya tersenyum lucu dia mendengar semua perkataan anak anak kecil itu walau pun jaraknya berada jauh dari dia.
Tidak lama kemudian para anak itu kembali keluar dengan menyeret salah satu pria dewasa bersama mereka.
"Anak-anak jangan takut mereka itu bukan penculik" kata Gilang sambil melambaikan satu tangannya ke arah Masitoh dan kedua anaknya yang semakin mendekat ke arah rumahnya.
"Selamat sore pak ini kami mengantarkan nasi kuning pesanan bapak", kata Masyitoh ramah sambil tersenyum menatap pak Gilang.
"Bibi pasti kalian penculiknya kok bawa keresek hitam gede?", celetuk anak yang menarik Gilang tadi.
Sontak Gilang menepuk pundak anak itu pelan dan berkata "Ridho mereka itu tamu Om, bukannya penculik seperti yang kalian pikirkan". Gilang menatap keempat keponakannya yang masih terlihat takut.
"Tapi Om mereka bertiga membawa kantong plastik besar berwarna hitam pasti isinya anak-anak" jawab anak yang bernama ridho.
"Bukan mereka hanya mengantarkan makanan pesanan Om", kata Gilang meyakinkan mereka berempat.
"Bu Masitoh terimakasih ya kalian telah mau mengantarkan pesanan saya sampai ke rumah", pak Gilang menatap Masitoh dan kedua anaknya bergantian.
"Sama-sama pak kami juga sangat senang bapak telah memesan nasi kuning dari kami", jawab Masitoh sambil menyimpan kantong kresek besar itu di depan pak Gilang. Diikuti oleh kedua anaknya.
"Jadi berapa semua harga yang harus saya bayar Bu Masitoh?" tanya pak Gilang sambil mengeluarkan dompet dari saku celananya.
"Karena sedang promo kami menghargai satu kotak nasi kuning ini 15.000. jadi Om Gilang hanya membayar rp 450.000 saja", jawab Dede.
"Baiklah ini bayaran dari saya" kata pak Gilang sambil menyodorkan uang 500.000. Masitoh menerima uang itu, kemudian menghitung semua jumlah uang yang ada di tangannya.
"Pak ini uangnya 500.000 jadi kembaliannya akan Dede antarkan nanti. Kami tidak membawa uang sepeser pun saat ini", kata Masitoh.
"Tidak usah Bu itu sebagai ongkos kirim buat kalian", balas bilang sambil tersenyum sopan.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen, hadiah dan vote. Serta pencet tombol favoritnya biar tidak ketinggalan up date selanjutnya. Sampai jumpa lagi bos ku :)
lebih Mudah untuk dipahami... dan tidak bikin pusing kepala...💆💆💆
dan aku Salut sama Author yang tetap konsisten dengan Ceritanya yang dari Awal udah banyak yang tidak sesuai harapan jadi Teruuuu...sss....Gaaaaa....ssspooolll🙏💪💪💪 bikin cerita Hallunya sungguh diluar Nurul
17-19th Terus Isti yang Jadi Adiknya misal usia Isti 13-15th Mungkin itu lebih pas dengan Alur Ceritanya... Dan tentang Cerita Ayahnya Dede sebelumnya Tolong di revisi karena tidak Masuk akal apalagi penyebab kematian Ayahnya Dede dan Isti...🤦💆💆💆
lanjutkan thor