Lanjutan dari ZARA, Aku Mencintaimu. Kisah anak dari Juna dan Zara.
Menceritakan masa remaja Queen Nara yang biasa di panggil Nara. Dengan gayanya yang tomboy jago karate juga karena sahabat-sahabatnya semua laki-laki.
Di pertemukan dengan Raja Prasaja Putra kakak kelasnya di bangku SMA yang juga jago karate tapi begitu dingin cuek dan keras kepala seperti es batu. Tapi ternyata Raja adalah teman masa kecil Nara yang dulu pergi tanpa pamit pada Nara.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
Bisakah si es batu mencair?
Apakah Nara akan tahu kalau Raja adalah Suga teman masa kecilnya?
Happy reading 🥰🥰
Hanya kisah fiktif jauh dari kenyataan ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nara ke rumah Raja
Waktu pulang sudah tiba. Raja menunggu Nara di parkiran karena kelas Nara bubar terlambat. Di parkiran juga Er dan Alki sedang menunggu Nara.
Raja menghampiri Er dan Alki. "Kalian belum pulang?"
"Kita masih menunggu Nara," jawab Er.
"Bagaimana Ar? aku dengar tadi dia pingsan," tanya Raja.
"Ar sudah baik-baik saja tadi mamaku membawanya ke rumah sakit tetapi sekarang sudah pulang ke rumah lagi," jelas Er.
"Oh begitu. Semoga Ar segera pulih ya," doa Raja.
Tidak lama kemudian Nara dan Fika menuju parkiran. "Itu mereka!" tunjuk Alki.
"Haiii kalian ... maaf lama tadi ada sedikit tambahan," ucap Nara.
"Ayo kita pulang Nara." Er masuk ke mobilnya lebih dulu di ikuti Alki.
"Nara ada rapat ekskul karate dulu," cetus Raja.
"Tapi kak--"
"Rapatnya dadakan untuk kejuaraan 2 bulan lagi," ucap Raja.
"Oh yaudah kalau gitu! apa perlu aku jemput nanti setelah kamu selesai?" tanya Er.
"Biar aku antar saja!" jawab Raja.
"Baiklah! makasih ya kak sebelumnya," ujar Er.
"Eh Er tunggu gimana keadaan Ar?" tanya Nara.
Nara masih saja mengkhawatirkan Ar ternyata. Hati Raja.
"Ar baik-baik saja, sekarang juga udah di rumah kok jangan khawatir. Aku pulang ya!" Er pergi melajukan mobilnya.
"Aku juga pamit ya duluan. Bye ..." Fika juga pulang dengan motornya.
"Hati-hati Fik ..." teriak Nara.
"Ayo pakailah helmnya." Raja menyodorkan helm pada Nara.
"Kenapa pakai helm? bukannya kita ada rapat? emang rapatnya dimana?" tanya Nara heran.
"Tadi hanya sedikit berbohong!" jawab Raja santai.
"Ya ampun kenapa harus bohong segala sih?" ucap Nara.
"Katamu sendiri gak ingin ada orang yang tahu." Raja menaiki motornya.
"Oke baiklah! tapi kita akan kemana? aku harus izin dulu pada mamaku!" ucap Nara.
"Ke rumahku?" ucap Raja.
"Ngapain?"
"Pacaran!" jawab Raja.
"Ngapain harus ke rumah kak Raja? kan bisa nonton atau nongkrong gitu di mall," keluh Nara.
"Sebentar saja. Ada sesuatu untukmu!" ucap Raja.
"Tapi aku telpon mamaku dulu ya. Takutnya kalau gak izin nanti malah nanyain sama yang lain." Nara merogoh ponselnya di dalam saku.
("Ma aku pergi dulu sama kak Raja ya sebentar aja kok!")
("Jangan pulang terlalu sore!")
("Oke thank you Ma")
Nara naik ke motor Raja. "Ayo berangkat mamaku sudah izinin aku pergi bersama kak Raja."
Raja melajukan motornya menuju rumah Raja. Nara tidak sungkan dan berpegangan memeluk Raja. Raja merasa senang dan hanya tersenyum.
Ah seneng sekali sih punya pacar. Boncengan berdua emang paling sweet. Hati Nara.
Raja menghentikan motornya dan sudah sampai di rumah Raja. "Turunlah kita sudah sampai."
Nara turun dari motor Raja dan Raja melepaskan helm Nara juga. "Makasih Kak!"
"Ayo masuklah!" Raja menarik tangan Nara.
Mewah juga rumah kak Raja. Batin Nara.
Nara masuk ke dalam rumah dan terasa dingin dan sangat sepi. "Kemana semua orang?"
"Tidak ada!"
"Maksudmu?" tanya Nara.
"Ya aku hanya tinggal dengan mbok aja disini tidak dengan orangtuanku," jawab Raja.
Mbok Sum menghampiri Nara dan Raja. "Eh Aden udah pulang. Pasti ini non Queen ya?"
"Si Mbok tahu aku Queen?" bisik Nara.
"Iya si Mbok tahu semuanya!" jawab Raja.
"Panggil aja aku Nara Mbok!" senyum Nara.
"Baik non Mbok ambilin minum dulu ya sama cemilan." Mbok Sum berlalu ke dapur.
"Ikutlah ke kamarku!" ajak Raja.
Nara melepaskan tangannya. "Heh mau ngapain ngajak ke kamar? jangan macem-macem ya!"
"Apaan sih Nara? aku ingin memberikan sesuatu!" Raja menarik tangan Nara.
Nara berjalan mengikuti Raja. "Awas ya jangan macam-macam!"
"Biarin aja kita udah pacaran, kan?" goda Raja.
"Heh!"
Raja hanya tersenyum melihat tingkah polos Nara yang begitu menggemaskan. Mereka menaiki tangga menuju kamar Raja.
Trek! pintu kamar Raja terbuka.
"Waw rapih juga kamar kak Raja," ucap Nara. "Wah ternyata ada foto kita saat kecil juga disini. Iih aku culun sekali dan lihat kak Raja masih gemuk."
"Ini untukmu!" Raja memberikan sebuah kotak.
"Apa ini?" Nara mengambilnya.
"Itu hanya sebuah jepitan rambut yang ingin aku berikan 6 tahun lalu padamu!" ucap Raja.
"Ini? serius? wah lucu juga." Nara bercermin dan memakainya.
Nara berbalik dan tersenyum. "Aku cantik, kan?"
Raja mendekatkan dirinya pada Nara dan Nara mundur perlahan sehingga terduduk di meja belajar Raja. "Cantik sekali apalagi dekat seperti ini!"
"Apa ini tidak terlalu dekat Kak?" lirih Nara.
"Tidak!"
"Mundurlah Kak!" ucap Nara dan sedikit mendorong tubuh Raja.
Raja tidak bergeming dan malah lebih mendekatkan wajahnya pada wajah Nara.
Apa kak Raja akan menciumku? hah kenapa aku jadi deg-degan begini dan kenapa kak Raja begitu tampan kalau dekat begini? Batin Nara.
Nara malah memejamkan matanya.
"Muuaaachhh ..." Raja mengecup kening Nara dan mundur lalu duduk di tempat tidurnya.
"Apa kau mengharapkan lebih?" Raja hanya tersenyum.
Nara membuka matanya dan kaget. "A-apa maksudmu?"
"Tidak ada!"
Nara menjadi salting. Ya ampun pikiranku kotor sekali sih! batin Nara.
Nara berkeliling di kamar Raja. "Kak Raja kenapa tinggal sendirian?"
"Lebih nyaman sendiri!" jawab Raja.
"Ini mama Kak Raja? cantik sekali!" puji Nara.
"Iya! mamaku sudah meninggal saat aku masih berusia 1,5 tahun. Selama ini aku di besarkan oleh Mbok Sum karena papaku sibuk kerja," jelas Raja.
"Emmmh aku turut berduka! pasti mama Kak Raja akan senang melihat Kak Raja sekarang. Pintar, tampan dan sudah punya pacar juga," ucap Nara.
"Bisa aja sih!"
"Emmmh maaf mama Kak Raja meninggal kenapa?" tanya Nara.
Raut wajah Raja langsung berubah menjadi sedih.
"Ah maaf Kak aku lancang menanyakan hal itu. Jangan di jawab sudah jangan di pikirkan." Nara merasa bersalah.
"Tidak apa-apa!" Raja beranjak dari duduknya dan menatap foto mamanya.
"Kata papa waktu itu kita belum sesukses sekarang. Papaku masih pegawai kantoran biasa, dan mamaku punya bisnis kue untuk tambahan tabungan. Saat pulang mengantar pesanan mamaku mengalami kecelakaan di tabrak oleh pengendara mobil. Waktu itu mamaku pakai motor dan masuk ke dalam jurang karena telat di tolong makanya mamaku meninggal," jelas Raja matanya berkaca-kaca.
"Emmmh kenapa sampai telat di selamatkan?" Nara penasaran.
"Ya karena mamaku masuk ke jurang sama motornya. Pas warga sekitar nemuin, mamaku terluka parah dan sudah tidak bernyawa," tambah Raja.
"Kak Raja yang sabar ya. Pasti mama Kak Raja sudah bahagia di surga dan melihat Kak Raja dari surga," hibur Nara.
"Aku dan papaku hanya heran kenapa saat itu hanya orang yang dalam mobil yang selamat tidak dengan mamaku!" ucap Raja.
"Apa Kak Raja dan paman tahu siapa orang yang menabrak Mama kak Raja?" tanya Nara.
"Papa sepertinya tahu. Tapi tidak pernah memberitahukanku sama sekali!" jelas Raja.
Nara memeluk Raja dari belakang. "Apa itu yang membuat Kak Raja menjadi pendiam dan tidak banyak bergaul?" tanya Nara.
"Ya karena dari kecil aku memang hidup sendiri dan memang lebih nyaman sendiri!" Raja berbalik dan membalas pelukan Nara.
"Aku disini sekarang bersama Kak Raja! akan menemani Kak Raja dan tidak akan membuat Kak Raja kesepian lagi." Nara mengeratkan pelukannya.
⬇️⬇️
hadir ni thoor
semangat berkarya yaaa😚😚