Mutia Syakila
Seorang gadis desa yang berparas cantik dan di juluki kembang desa, ia berumur 20 tahun, mempunyai adik perempuan satu , namun orang tuanya bercerai saat ia masih SMA. sesuatu yang sangat mengharuskan jika anak perempuan pertama pasti menjadi tulang punggung keluarga, apalagi ayahnya memiliki sakit jantung.
Ia bekerja siang malam untuk menhidupi keluarga dan pengobatan ayahnya. Dan cobaannya tidak sampai disitu, karena ia bertemu dengan sorang lelaki Yaitu Rangga aditiya yang membawa cinta sekaligus luka bagi mutia
Bagaimanakah kelanjutannya, ???
#Tinggalkan jejak setelah membaca yaa para readers tercintah🤗❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekad
Rangga berkali-kali meneguk wine termahal yang sengaja ia pesan, ia ingin sejenak melupakan kesedihan yang melanda hatinya, ia sangat prustasi, ucapan mutia terus terngiang-ngiang di telinganya.
flasback on
"Cukup sampai di sini ngga, jangan pernah hubungi atau temui aku lagi" ucap mutia dengan tegas.
"Kenapa kau terus berbicara seperti itu,? apa kau tidak mencintaiku?" ucap rangga dengan wajah yang memelas dan suara yang bergetar
"Secinta apapun aku, tetap saja, kita tidak akan pernah bisa bersatu"
"Aku akan berusaha meyakinkan kakek, dan meminta restunya "
"Aku tidak mau. sekarang kau boleh pergi dari rumahku dan jangan pernah kembali lagi" ucap mutia dengan tegas tanpa melihat rangga.
Rangga masih terdiam di tempatnya, harapannya sudah runtuh, semua angannya hancur begitu saja,
"Apa kau yakin???"
"Aku yakin, bahkan sangat yakin. Pergilah. Anggap saja kita tidak pernah memulai sebuah hubungan"
Hati rangga semakin hancur.
"Kenapa kau tega padaku mutia. Aku sangat mencintaimu"
"Aku bilang pergiii!!! aku sudah tidak mau lagi denganmu. kakekmu sudah menghamcurkan semuanya.!!!"
Rangga hanya bisa pasrah
"Baiklah jika memang ini mau mu" rangga melangkahkan kaki nya dengan cepat. ia sungguh kcewa pada mutia.
flasback off
Mata rangga memerah iya memang payah dalam hal minum. malam ini terasa sunyi. rangga yang sudah mabuk berat langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang king size miliknya.
...🥀🥀🥀...
Keesokan harinya,
"Rangga ... sayang bangun"
Dengan kepala berat rangga mencoba membuka matanya. Dengan remang-remang ia seperti melihat mutia ada di sisinya sambil tersenyum.
"Mutiaaa?"
"Kau kah ini?" rangga memegang kedua sisian wajah mutia dan langsung memelukanya
"Mutia, aku mohon jangan tinggalkan aku, aku akan berusaha untuk membuat kakek merestui kita, dan menyingkirkan jeni, percayalah padaku, aku sangat mencintaimu"
Jeni yang mendengar itu langsung mengepalkan tangannya, tadinya jeni senang karena ia di peluk oleh rangga walaupun ia tau bahwa rangga mengira dirinya adalah mutia.
Jeni mendorong dada rangga.
"Dasar laki-laki bodoh.. apa kau masih berharap pada gadis kampung itu. yang jelas-jelas sudah tidak menghargai pengorbananmu? " ucap jeni kesal.
Rangga menyadari bahwa yang di depannya bukannlah mutia.
"Kenapa kau ada disini hah???"
"Dimana mutia??"
"Asataga.. sadarlah rangga.. ada aku disinii!!! jangan mencari wanita jalang itu lagii"
Plakkkkk
Rangga sangat bencii mendengar wanitanya di hina.
"Jaga bicaramu!!! kaulah wanita jalang. sekarang pergi dari sinii!!"
"Cepat pergii!!" usir rangga
Jeni segera pergi dari sana.
Kediaman Mutia.
"Kak.. aku berangkat dulu yah" ucap rasya sambil salim pada mutia dan ayahnya.
"Kamu gak sarapan dulu?"
"Nggak kak, nanti aja sarapannya di sekolah"
"Yasudah hati-hati yah"
"iya"
Hari ini mutia berniat akan pergi ke kosannya karena barang-barangnya berada disana. Dan ia kembali ingin mencari pekerjaan untuk membiayai sekolah rasya
"Ayah..."
"iyah nak, mutia ingin kembali ke kosan mutia, mutia ingin bekerja lagi"
Namun ayah mutia hanya diam.
"ayah?"
"Mutia.. sebenernya ayah tidak rela melihatmu bekerja lagi. Dan..."
"Sudahlah yah.. ayah jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Apa ayah lupa aku adalah wanita yang kuat?" ucap mutia dengan wajah yang sok imut. Dan itu membuat ayahnya langsung tersenyum
"Ayah bangga memiliki putri sepertimu nak" Sambil memeluk mutia.
"Maafkan ayah, ayah tidak bisa menjadi orang tua yang terbaik untukmu dan rasya"
"Ssstttt... ayah gak boleh ngomong gitu. ayah adalah ayah yang terbaik bagi kami"
Akhirnya dengan melewati perdebatan yang panjang, mutia di ijinkan untuk kembali ke apertemennya.
Saat mutia melangkahkan kakinya menjauh dari halaman rumahnya .
Tatapannya berubah menjadi tajam raut wajah yang tadinya ceria kini berubah drastis menjadi dingin sedingin es.
Ia kembali ke kosan bukan hanya untuk bekerja. melainkan untuk membalaskan dendamnya terhadap Diwara dan pengawalnya.