Sebelum membaca jangan lupa di Favoritin ❤️ dulu ya kakak.
"Maaf aku hanya mampu menjadi pengagum rahasia mu dan seseorang yang senantiasa melangitkan namamu" Ryeana.
Ryeana Allura Clarabelle adalah remaja SMA yang sangat mencintai sahabat laki-lakinya sejak SMP. Ryeana adalah tipe gadis yang sangat sulit dimengerti, dia akan terlihat dingin dan cuek didepan orang baru. Dan akan terlihat hangat di depan orang terdekatnya.
Ryeana bukanlah tipe gadis yang mau menunjukkan perasaannya secara frontal, gadis itu lebih memilih memendam dan menyalurkan rasa cinta dan sukanya lewat cara rahasia dia sendiri.
Jadi, mungkinkah bagi seorang gadis remaja seperti Ryeana berhasil mendapatkan cinta yang sangat diinginkannya dari sahabat laki-lakinya itu ?
Ikuti dan baca terus novel "Cinta Ryeana" dan jangan lupa kasih komentar mu di setiap Bab.
Happy Reading 🌻
Follow Instagram : @nona_rie
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hertati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ryeana-33
...Jangan lupa Like dan Komen ya frenns...
...🐸🐸🐸...
Hari ketiga sesuai kesepakatan Nicholas dan Devan tiba. Nicholas tidak tahu darimana Devan bisa mendapatkan nomor Wa miliknya, yang jelas ketika dia menerima sebuah chat dari Devan, pikirannya langsung dibuat kacau. Nicholas belum berhasil juga membujuk Ryeana, gadis itu sangat keras dengan pendiriannya.
Nicholas berjalan seperti setrikaan di atas balkon kamarnya. Sambil menggigit jarinya dia terus berpikir cara apa yang harus ia lakukan lagi, agar sahabatnya itu bisa menerima Devan.
Langkah Nicholas terhenti ketika dia mengingat sesuatu. Sontak saja dia beranjak dari balkon kamarnya lalu menarik paksa jaket yang terletak di pinggir bawah kasurnya itu. Dengan langkah cepat Nicholas keluar dari kamarnya.
Nicholas mendorong sepeda motornya keluar melewati pintu gerbang. Setelah berada diluar Nicholas kembali berbalik menutup pintu gerbang itu, kemudian dia naik ke atas motornya, namun saat menutup kaca helmnya, matanya tak sengaja menoleh ke arah teras rumah Anita, disana ada dua orang gadis yang sedang tertawa bersamaan, Nicholas mengenal suara tawa itu. Nicholas menghidupkan motornya lalu menuntun ke teras rumah tetangganya itu.
Tin tin tin
Nicholas mengklakson motornya dari luar pagar rumah Anita, membuat kedua gadis itu menoleh padanya.
"MASUK AJA!" teriak Anita keras sambil menaikkan kepalanya lebih tinggi agar tamu yang tak di undang itu bisa mendengar.
Nicholas yang masih menggunakan helm samar-samar ia mendengar suara teriakan tetangga dajjal-nya itu. Nicholas turun dari motornya membuka sendiri pagar yang tak digembok itu, lalu naik kembali ke motornya membawa masuk ke teras rumah Anita.
"Mau ngapain?" tanya Anita jahil melirik tetangganya yang sudah di depan matanya.
Nicholas menunjuk gadis yang disebelah Anita dengan dagunya.
"Mau ngapain?" tanya Anita lagi usil membuat Nicholas berdecak.
"Ri ikut aku yuk. " ajak Nicholas pada gadis yang tak lain adalah Ryeana. Dia mengabaikan pertanyaan Anita.
Ryeana yang sejak tadi diam menunduk sambil memainkan ponselnya, langsung mengangkat kepalanya ketika Nicholas menyebut namanya. Sejak tadi ia sudah menahan kepalanya agar tak menoleh pada laki-laki itu. Dari bentuk suara motornya saja Ryeana sudah bisa hapal itu milik siapa. Apalagi suaranya.
"Mau kemana?" tanya Anita lagi.
"Nita please deh ahh gue ngomong ke Ryeana bukan ke elo" ucap Nicholas kesal yang akhirnya membuat Anita terkekeh.
"Ri, tuh di ajakin Nicho tuh. " ucap Anita sambil menyenggol lengan sahabat SMP nya itu.
"Kemana?" tanya Ryeana akhirnya membuka suara.
"Adalah" ucap Nicholas sambil menarik tangan Ryeana.
"Tarik ulur terosss!!!" ucap Anita ngegas menyindir Nicholas.
***
Ryeana POV.
Entah kemana Nicholas akan membawa, aku tidak tahu. Perjalanan kami dilingkupi kesunyian. Aku tak berniat untuk membuka suara ku. Aku masih kesal dengannya, yang bersikap sesuka hati menuntut keinginannya. Tapi tak kala aku juga merindukannya, yang selalu membuatku kesal. Rumit sekali perasaan ini epribadehhh.
Tadi sepulang sekolah, aku tidak sengaja bertemu dengan Anita, teman dekat ku di SMP. Dia mengajakku untuk mampir ke rumahnya, aku tidak enak dengan Andira, Andira dan Anita tidak terlalu dekat, untuk itu aku memutuskan pulang ke rumah dulu baru nanti mampir ke rumahnya. Sesampainya di rumah Anita, aku menyimpan rasa gugup ku rapat-rapat, agar Anita tidak tahu kalau aku gugup jika bertemu dengan Nicholas nanti. Dan aku juga tahu mereka tetanggaan.
Tapi siapa sangka yang ku takuti terjadi. Mendengar suara motornya yang sudah begitu ku hapal mati mendekat, jantungku berdegup kencang. Aku bingung harus bersikap bagaimana nantinya saat melihat Nicholas. Untuk itu aku menahan rasa penasaran ku, dengan bersikap santai sambil memainkan ponselku saat langkahnya mendekati.
Sudah sejam lebih aku dirumah Anita, kami sibuk bercerita tentang pengalaman semenjak masuk SMA. Sambil sesekali membandingkan dengan kenangan kami saat di SMP. Aku tak heran lagi, ketika Anita bercerita sudah mendapatkan pacar baru di SMA, karena sejak dulu dia memang yang ter-hits diantara geng kami. Dia selalu menjadi gadis yang menonjol dalam segala hal, kecuali pelajaran. Ya Anita sama dengan ku, tidak terlalu ingin terlihat menonjol, yang penting ketika guru bertanya maka jawab, dan ketika ujian, isi dengan maksimal tanpa menoleh kanan dan kiri.
Sesekali percakapan kami menyimpang tentang Nicholas, Anita tahu aku memiliki perasaan untuk laki-laki itu. Anita bercerita pernah mendapati Nicholas sedang memikirkan ku waktu aku sempat menjaga jarak dengan dia.
Aku ingin Fly, tapi aku sadar semesta telah memukul ku untuk mundur. Mundur dari kenyataan bahwa aku tak memiliki kesempatan untuk menjadi bagian terpenting dalam kisah laki-laki itu.
Aku memberi tahu Anita tentang aku yang tak bisa ditemukan karena aku sedang masuk rumah sakit saat itu. Aku tak bercerita bahwa aku pernah menjauh karena sedang menyembunyikan rasa kecewa dan cemburuku. Anita sedikit terkejut mendengar aku yang sempat masuk rumah sakit itu.
Anita juga bercerita pada Nicholas tentang aku dan Noni dulu, jujur aku ingin marah pada Anita, karena sudah bercerita yang tidak seharusnya. Biarkan saja berlalu toh sudah masa lalu juga, pikirku.
"Ryeana. Ryeana. Turun ayok" suara Nicholas membuyarkan semua lamunanku. Aku tersentak karena lenganku digoyangkan beberapa kali. Pada akhirnya aku turun dengan canggung. Nicholas mengajak ku ke sebuah cafe sederhana yang berada di tengah lapangan pusat kota. Cafe yang terbuat dari bambu yang di cat coklat dan dilapisi dengan cat pernis hingga mengkilap saat lampu menyala.
Kami memilih meja yang berada di sudut dan pinggir, agar bisa melihat ramainya jalan yang berlalu lalang itu.
"Mau pesan apa Ri?"
"Samain aja Dok."
Nicholas mengangguk lalu pergi memesankan makanan untuk kami berdua, entah apa yang akan dipesannya aku terima, toh selera kami tidak jauh berbeda.
Aku menatap punggung itu dengan nanar. Andai saja Nicholas tak berpacaran dan tidak memaksa ku untuk menerima Devan, ku pastikan malam ini akan menjadi malam yang indah untuk kesekian kalinya kami keluar bersama.
Nicholas menoleh sambil tersenyum tipis, aku yang kepergok sedang memandanginya, langsung membuang arah pandanganku kesembarang arah.
Setelah memesan, Nicholas datang dengan dua gelas jus buah naga, dan pelayan di sebelahnya membawa nampan yang berisi burger sedang.
Aku tersenyum tipis saat Nicholas menawarkan minuman dan makanan itu untukku. Sambil menunggu Nicholas berbicara aku menerima jus buah naga dan menyedotnya sedikit untuk membuang rasa gugup yang menggerayangi tubuhku.
"Ri tumben main tadi ke tempat Anita." ucap Nicholas membuka suara.
"Iya tadi tidak sengaja ketemu di bus. Jadinya mampir" balasku canggung.
"Kita masih sahabatan kan?"
Aku mengerutkan kening ku, Kenapa Nicholas bertanya seperti itu?
"Kamu terlihat canggung, gak kayak biasanya. " ucap Nicholas tersenyum tipis.
"Eh, gak kok Dok. Perasaan kali" ucapku diselingi tawa kecil untuk mencairkan suasana. Aku memakan burger berukuran sedang itu tanpa jaim sedikitpun, dan dari ujung mata ku, aku bisa melihatnya sedang menatapku dengan hazel indahnya itu, membuat ku kembali gugup.
"Ri apapun yang terjadi jangan jauhi aku ya." Ucapnya sambil mengusap sudut bibirku kemudian menjilat jarinya yang terkena saos bercampur mayonaise bekas dari bibirku, aku yang sedang mengunyah dengan mulut yang penuh tiba-tiba membisu. Aku menatapnya dalam dan mengangguk kaku walau sedikit bingung apa maksudnya.
"Kamu masih ingatkan, tentang game taruhan kita yang lalu waktu di pasar malam itu" aku kembali mengangguk dengan mulut penuh.
"Dari 3 permintaan ku, baru satu yang aku minta, sekarang aku mau menagih satunya lagi" lanjutnya menggantung, mungkin ingin meminta pendapat ku.
"Hmm, a-faa ?" tanyaku penasaran sambil melanjutkan mengunyah makananku.
"Pertama, aku meminta kamu menjauhi Dino kakel kita, awalnya kamu turuti, tapi lama-lama kamu justru semakin dekat dengannya belakangan ini kan" ucapnya sedikit sinis menatap ku. Aku sontak kaget, dari mana Nicholas tahu sedangkan aku dan kak Dino bertemu itu tanpa sengaja dan itu pun tidak ada Nicholas disana.
"Kedua, aku mau minta kamu jadi pacar Devan. Aku tahu kamu gak suka sama dia. Tapi gak ada salahnya juga kan mencoba mengenal dia Ri. Kalo nanti kamu juga belum bisa suka sama dia. Kamu bisa tinggalin dia. Tidak ada penolakan ya Ri. " lanjutnya lagi tegas.
Aku semakin melebarkan mataku, bagaimana bisa Nicholas menganggap sebuah hubungan seperti permainan begitu. Aku tidak menyangka dia sebegitu egoisnya. Aku jadi curiga dengan Nicholas kenapa dia begitu kekeh menjodohkan ku dengan Devan. Apa ada udang dibalik batu ?
"Hei kodok kasih aku satu alasan dulu, kenapa aku harus terima Devan jadi pacarku?" tanyaku serius.
Bisa ku tebak wajahnya syok sesaat, namun langsung dibuat normal. Semakin membuat ku curiga.
"Ya, itu karena aku pikir dia orang yang tepat buat kamu. Dia mengagumi kamu Ri. Dia sering bertanya tentang kamu sama aku, dan setelah ku pikir-pikir dia memang sesuka itu sama kamu Ri. Aku yakin dia pasti bisa jagain kamu Ri. Aku kasihan lihat kamu di gangguin terus sama teman-teman Monika. " ucap Nicholas dengan membuang arah pandangannya. Dia tak berani menatapku. Aneh sekali, biasanya dia selalu berbicara sambil menatapku. Baiklah, sepertinya aku harus mengikuti maunya dia. Nanti pasti akan ketahuan apa yang sedang disembunyikan oleh Nicholas.
Ryeana POV end.
***
Surya bersinar begitu terik, membuat para siswa yang baru saja selesai olahraga berkeringat penuh. Seluruh siswa mengikuti jam olahraga tanpa terkecuali. Sebelum jam olahraga berakhir siswa kelas X-1 diberi sisa waktu 10 menit untuk beristirahat.
Ryeana duduk di tepi lapangan sambil mengarahkan kipas angin kecil milik Dara yang dipinjam oleh gadis itu. Ryeana merasa gerah dengan tubuhnya, tadi gadis itu habis bermain bola kaki dengan siswa laki-laki di kelasnya. Hanya gadis itu sendiri yang berbaur dengan mereka, karena hanya bola kaki yang menarik perhatiannya. Para siswi yang lainnya bermain voli, Ryeana tak pandai bermain voli karena memiliki trauma saat SMP dulu. Dulu di SMP gadis itu pernah ikut bermain olahraga voli karena diwajibkan seluruh siswa-siswi harus berolahraga dan tidak boleh ada yang bersantai ria. Karena terlalu antusias ingin bermain bola voli membuat gadis itu terpekik kesakitan karena urat yang berada di punggung tangannya terjepit. Membuat tangan gadis itu melemah beberapa Minggu. Beruntung saat itu tangannya yang sebelah kiri cedera sehingga Ryeana tak kesulitan untuk menulis. Sejak hari itu setiap kali olahraga Ryeana pasti ikut anak cowok bermain bola kaki, membuatnya semakin menyukai jenis olahraga itu apalagi futsal, disana dia akan sering bertemu dengan Kodoknya.
Di SMP Ryeana dan Nicholas selalu satu kelas dari kelas 7 hingga kelas 9. Membuat jarak diantara mereka semakin dekat. Mengingat itu membuat gadis itu tersipu malu sendiri.
"Hai Ryeana" ucap seseorang yang duduk disebelahnya. Orang itu adalah Devan. Dia menaruh sebotol air mineral dingin di atas kaki Ryeana yang diluruskan ke depan.
Ryeana menoleh pada Devan. Lama memandang wajah laki-laki itu menelisik setiap sudut wajah Devan dari jarak dekat, laki-laki itu cukup tampan memang, wajahnya terpahat begitu kokoh, hidungnya mancung, manik matanya bewarna cokelat, alisnya tebal, bibirnya merah muda cerah dan sedikit tebal dibagian bawahnya, tak ada satupun jerawat yang tumbuh diwajahnya. Ditambah lagi dagu Devan yang terdapat belahannya membuat kesempurnaan wajah itu benar-benar tampan.
Pantas saja banyak yang menyukai lelaki itu. Terkecuali Ryeana. Cintanya sudah terpatri disebuah naungan benua Kodok alias Nicholas.
"Ekhemm" Devan berdehem tertahan karena dipandangi tanpa berkedip oleh gadis yang selalu membuatnya penasaran.
Ryeana tersadar dari pikirannya yang liar, tanpa sadar gadis itu tersenyum tipis sambil membuang arah pandangnya lurus ke depan.
"Lo semakin cantik kalo senyum gitu. Apalagi waktu main bola tadi. Cantik Lo makin bertambah berkali lipat" Ucap Devan memuji tulus namun bagi Ryeana itu hanya sebuah gombalan buaya.
"Udah tahu dari dulu." Balas Ryeana sombong membuat Devan terkekeh.
"Selain cuek ternyata tingkat percaya diri Lo tinggi juga ya. Btw, pin kemarin kok belum Lo invite? "
Pin? Yang mana? Ryeana mencoba menyimak maksud kalimat Devan. Tanpa mengalihkan pandangannya, Ryeana terus mencoba mengingat, kapan Devan memberinya sebuah pin.
"Gue kemarin letakkin di meja Lo" ucap Devan lagi, seakan tahu kalau Ryeana tak mengerti maksudnya.
Ryeana ber-oh ria saat sudah mengingat kejadian dimana dia menemukan secarik kertas yang berisikan sebuah pin BBM dari pengagum rahasianya. Tak sadar Ryeana kembali tersenyum tipis.
"Jadi Lo pengagum rahasia gue itu ya?" Ucapnya sambil menoleh ke arah Devan yang mengangguk.
"Iya, gue pengagum rahasia Lo yang ingin jadi pacar beneran Lo. Boleh?" tanya Devan
"Kasih gue satu alasan kenapa Lo bisa jadi pengagum rahasia gue?" ucap Ryeana menyelidik
"Memangnya kalo Lo suka sama seseorang harus butuh alasan? Gue suka sama Lo karena Lo tuh unik, Lo cewek pertama yang gak terpengaruh sama ketampanan gue ini" ucapnya dengan percaya diri diselingi tawa kecil. Ryeana ikut terkekeh, menurutnya Devan ini terlalu percaya diri sekali.
"Pede" ledeknya.
***
Terlihat dari lorong atas lantai 2 sepasang mata menatap kedua sepasang manusia yang sedang mengobrol asik dipinggir lapangan. Kedua tangannya refleks terkepal begitu saja, entah apa yang sedang terlintas dibenaknya, yang jelas dia tak begitu menyukai pemandangan itu.
"Niat hati mau nolongin, malah jadi menjerumuskan. Sial. Gue gak terima sahabat gue di pacarin sama playboy kayak dia " batin Nicholas menatap tajam sosok Devan yang terlihat senang di bawah sana.
" Kalau cinta ya bilang cinta, kalau sayang bilang sayang " Alex bernyanyi dengan suara cemprengnya sambil memeluk gagang sapu dan memainkan seperti gitar.
"Jangan ditunda-tunda nanti diambil orang" Zidan ikut menyambung lagu Alex sambil memukul botol minum yang kosong seperti gendang.
"Kalau cinta ya bilang cinta, kalau sayang ya bilang bilang sayang" sambung Rio dengan suara bass-nya sambil mengayunkan kedua tangannya layaknya seorang song leader.
"Jangan berpura-pura nanti kau kesepiannnnn" sambung ketiganya kompak layaknya paduan suara diakhir nada panjang yang dirubah-rubah oleh Alex demi meledek sahabat mereka yang sedang berdiri di pembatas pagar itu.
Nicholas mengumpat ketiga temannya sambil mengejar satu persatu lalu menjitaknya dengan bergantian.
fokusnya ttep ryeana & nicho
trs kok alex nyalahin ryeana?
emosi sih emosi tpi g mesti nyalahin orang lain kan..