Hidup mati setiap Manusia sudah digariskan oleh sang pencipta, meskipun kita tahu kapan kita mati namun kita tidak akan pernah bisa menghindar darinya.
Apakah salah mencintai seseorang yang berbeda dengan kita. Meskipun nyawa taruhannya, semuanya akan ku lakukan demi mendapatkan cintamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
"Garra!!" Tiwi segera berlari menghampiri lelaki di depannya, akan tetapi sebuah bayangan hitam melesat dan menarik tubuhnya.
"Lepaskan dia Ratu Iblis!" seru Garra dengan matanya yang berubah memerah
"Senang bertemu dengan mu putraku, tapi maaf gadis ini adalah milikku dan aku tidak akan melepaskannya," sahut Ratu Iblis menyeringai
"Baiklah jika kau tidak mau melepaskannya, jangan salahkan aku jika aku harus menghabisi nyawa mu," ujar Garra
Ratu Iblis hanya tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan pemuda itu.
"Silakkan saja kalau kau bisa!" jawab Ratu Iblis
Ratu Iblis kemudian terbang membawa Tiwi, pergi. Ketika Garra akan menyusul mereka, tiba-tiba beberapa mahluk besar dan berbulu menghadangnya.
"Minggir atau kalian semua akan mati!" hardik Garra
Semua mahluk itu tidak bergeming mendengar ancaman Garra, justru mereka semakin banyak dan mendekat kearahnya.
Garra segera menyerang mereka hingga satu persatu berguguran.
Sementara itu Ratu Iblis menyeret Tiwi dan mendorongnya hingga gadis kecil itu terjungkal ke tanah.
"Maafkan aku gadis kecil, aku terpaksa harus membunuhmu untuk mengambil benda pusaka milikku yang ada di dalam tubuhmu," ucap Sang Ratu Iblis
Wanita itu kemudian menggerakkan tangannya seperti hendak menarik sesuatu, dan mengitari Tiwi yang masih terkapar di lantai.
Gadis itu berusaha untuk bangun dan berdiri, akan tetapi sebuah kekuatan besar seakan menghalanginya dan terus mendorongnya hingga ia tetap terkulai di lantai.
"Arrrgghh!!" gadis itu mulai memekik kesakitan Ketika sang Ratu Iblis mulai menari-nari di depannya.
Kenapa sakit sekali, sepertinya ada seseorang yang sedang menarik sesuatu dalam tubuhku,
Tiwi terus berguling-guling menahan nyeri yang begitu menyiksanya. Ia terus memegangi dadanya yang terasa begitu nyeri karena sesuatu yang terus menusuknya.
"Aku tidak tahan lagi," tiba-tiba darah segar menyembur dari mulutnya, membuat gadis itu langsung tidak sadarkan diri.
"Kenapa susah sekali mengeluarkan tongkat itu!" seru Ratu Iblis kesal
"Apa kau sudah menemukan pemilik barumu, sehingga kau enggan kembali kepadaku tongkat saktiku. Baiklah jalau cara ini tidak berhasil membawamu kembali padaku, berarti aku harus menggunakan cara lain untuk mengeluarkan dirimu. Maafkan aku jika kali ini caraku sedikit ekstrim dan bisa membuat pemilik mu harus kehilangan nyawanya , hahaha," Ratu Iblis menarik tubuh gadis itu mendekat kearahnya.
Ia kemudian mengambil sebuah belati kecil dan ia pun menunduk dan duduk di samping gadis itu.
Ia kemudian mengarahkan belati itu ke jantung Tiwi, namun belum sampai belati itu mengenai tubuh gadis itu tiba-tiba sebuah cahaya putih terpancar dari tubuhnya hingga membuat Ratu Iblis terpental menjauh darinya.
"Dasar brengsek, siapa yang mencoba menggagalkan rencana ku!" seru Ratu Iblis
Wanita itu tersenyum kecut ketika melihat puluhan kunang-kunang memasuki tempat itu dan mengerubuti tubuh Tiwi.
"Kenapa kau selalu ikut campur dalam urusan ku Barra!" seru Ratu Iblis
"Kau sudah tidak punya kekuatan lagi untuk melawanku Barra jadi pergilah dari sini atau aku akan menghancurkan sukma mu!" hardik Ratu Iblis
Wanita itu segera melepaskan kilatan hitam kearah kunang-kunang itu, akan tetapi serangan itu kembali berbalik menyerangnya membuat wanita itu semakin kesal.
"Siapa lagi yang ikut campur dalam urusan ku!" seru Ratu Iblis semakin geram
"Kau tidak boleh melukai mahluk lain yang tidak berdosa Nyai, dan lawan mu yang sebenarnya akan segera datang,"
"Siapa kau, berani ikut campur dalam urusan ku!" tukas Ratu Iblis
"Aku bukan siapa-siapa dan aku juga tidak mau ikut campur dalam urusan kalian!" sahut wanita itu
Ratu Iblis yang geram dengan ucapan wanita itu langsung melesatkan kilatan hitam kearahnya namun serangannya justru berbalik menyerangnya.
"Kau!!" serunya kesal
Wanita itu hanya terkekeh ketika melihat Ratu Iblis terjungkal dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Ia segera menghilang ketika melihat kedatangan Garra di tempat itu.
"Tiwi!" seru Garra menghampirinya gadis itu
Ia mengguncang tubuh gadis itu namun Tiwi belum juga membuka matanya, membuat Garra begitu sedih melihatnya.
Ia kemudian meletakkan kembali tubuh gadis itu dan berjalan menghampiri Ratu Iblis yang menatapnya sinis.
"Kenapa kau masih peduli dengan manusia yang akan membunuhmu Garra," ujar Ratu Iblis
"Tutup mulutmu dan jangan pernah ikut campur dalam urusan ku," sahut Garra
"Justru aku ingin menyelamatkan dirimu dengan mengambil tongkat sakti milikku yang ada dalam tubuh gadis itu. Asal kau tahu tongkat saktiku itulah yang akan di gunakan gadis itu untuk membunuhmu. Jadi seharusnya kau membantuku mengeluarkan benda pusaka itu," ucap Ratu Iblis
"Jika aku berhasil mengeluarkan tongkat itu maka itu berarti kau juga membunuh Tiwi bukan, jangan kau pikir aku tidak tahu," sahut Garra
"Bukankah lebih baik dia yang mati agar kau bisa tetap hidup sayang," tutur Ratu Iblis lagi
"Lebih baik aku yang mati agar ia bisa tetap hidup,"
"Oh so sweat sekali Garra, kau mengingatkan aku kepada seseorang yang sangat mirip dengan mu. Alexa dia adalah seorang gadis keturunan Iblis seperti dirimu bahkan ia juga memiliki darah iblis yang begitu dominan seperti mu. Tapi sayangnya karena cintanya kepada manusia ia harus mengorbankan nyawanya hanya untuk menyelamatkan lelaki itu. Tapi pengorbanannya sia-sia karena lelaki yang di cintai ya tidak mencintainya, sungguh kisah cinta yang tragis. Dan aku tidak mau itu terjadi juga padamu, kau tidak boleh mengorbankan nyawa mu hanya demi cinta yang hanya akan membuat dirimu menderita, jadi menyingkirlah dari hadapanku!" ucap Ratu Iblis
"Langkahi dulu mayat ku jika ingin mengambil benda pusaka itu dari tubuhnya," sahut Garra
"Baiklah kalau begitu Garra!" seru Ratu Iblis melesatkan serangannya kearah Garra.
Sementara itu di tempat berbeda, Rangga membuka matanya ketika ia merasakan kehadiran mahluk tak kasat mata di kediamannya.
Lelaki itu mengambil tongkat kayunya dan berjalan keluar kamarnya.
Sesosok lelaki mengenakan baju serba putih berdiri tepat di depan rumahnya.
"Siapa kau?" tanya Rangga
Lelaki itu kemudian membalikkan badannya dan tersenyum kearahnya.
"Vito!"
Lelaki itu hanya tersenyum tanpa berkata apapun.
"Kenapa kau datang menemui ku Vito, apa yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya Rangga
"Tolong putriku Ran," ucap lelaki itu kemudian menghilang dari pandangannya.
"Tiwi... apa yang terjadi dengannya?" Rangga segera masuk kedalam rumahnya dan bersemedi mencaritahu keberadaan Tiwi.
Tidak lama kemudian ia membuka kembali matanya, dan berjalan menemui Lingga.
"Bangunlah nak," ucapnya lirih
"Ada apa Dad?" tanya Lingga
"Kau harus menolong Tiwi sekarang, bawa tongkat sakti ini dan bawalah Tiwi kembali dengan selamat," ucap Rangga
"Ok, Btw aku mau aja menolong Tiwi tapi dia ada dimana?" tanya Lingga
"Cepat bersihkan wajah mu dan ambilah air wudhu," ucap Rangga
Lingga segera melakukan apa yang diperintahkan oleh ayahnya.
"Ok, aku siap," sahut pemuda itu
"Sekarang ikutilah kunang-kunang itu, mereka akan menuntunku menemui Tiwi," ujar Rangga
Tiba-tiba segerombolan kunang-kunang datang seakan menjadi lampu penerang dan membawa Lingga pergi ke suatu tempat.
"Aku akan membantunya dari sini putraku," ucap Rangga kemudian duduk bersemedi dan memejamkan matanya.
*Bruuugghhh!!!!
Garra terguling-guling setelah terkena pukulan Ratu Iblis.
"Sampai kapanpun kau tidak akan bisa mengalahkan ku Garra, sekarang tamatlah riwayat mu!" Ratu Iblis langsung melompat dan menebaskan pedangnya kearah Garra.
*Jrasshh!!!
Tiba-tiba sebuah cahaya putih terpancar dari tubuh Tiwi ketika gadis itu berusaha menyelematkan Garra dengan memeluknya.
Ratu Iblis terpental ke tanah dan memegangi dadanya yang terasa nyeri.
"Untuk saja dukun ganteng sejagat Raya datang tepat waktu," ucap Lingga dengan gayanya yang cool.