Harya Aditya Mura, seorang pemuda yang hidup dalam kesederhanaan di desa ternyata bukan sekedar pemuda desa biasa.
Satu persatu orang datang padanya dan menyuruh nya untuk pulang ke rumah. tetapi bukannya rumah nya di Desa?
Rahasia apa yang selama ini disembunyikan darinya? tidak, rahasia apa yang tidak diketahuinya selama ini.
Kisah perjalanan seorang pemuda Desa yang ingin mencari tahu siapa dirinya setelah ditimpa kemalangan saat masih kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloud_white, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Sang mentari kini dengan berani menampakkan cahaya nya hingga menembus jendela kamar Harya, udara pagi yang sejuk dan dingin mulai merayap masuk kedalam kamar Harya.
"Harya Dear, ayo bangun...tidak ada hari libur lagi loh" ucap sebuah suara memanggil dirinya
"Bu, Harya sudah bangun dari jam 4 tadi" jawab nya dan membuka pintu kamar nya
"Yang benar?! wah rajin sekali, Hanfi saja jika tidak dibangunkan nanti malah bangun jam 8" ucap Wanita itu tertawa pelan
"Iya iya, Ibu sama Ayah sudah mau sarapan kah? bagaimana kalau sarapan bersama" ucap Harya dan diangguki oleh Nyonya Grisha
"Eits, sebelum sarapan cium pipi Mom dulu"
"Harus?"
"Udah tradisi dari Zaman Dahulu kala"
"Hanfi juga begitu?"
"Dia yang paling menderita"
Harya tak mau mengacau mood nya yang bagus pagi ini, ia hanya menempelkan pipi nya di pipi Nyonya Grisha menurutnya itu sudah cukup.
"Baiklah anak Mom yang ganteng, ayo kita sarapan" ucap Nyonya Grisha menarik tangan Harya untuk turun kebawah
"Ibu sangat aneh pagi ini, apa yang membuat dirinya sangat bahagia?" pikir Harya
Di meja makan sudah ada Tuan Harma dan Hanfi yang menikmati makanan mereka, Harya menarik kursi disamping Hanfi dan duduk disana.
Para Pelayan langsung menghidangkan makanan Harya tetapi Harya berkata kalau dia bisa sendiri.
"Mom, kenapa senyum-senyum terus?" tanya Hanfi yang masih mengunyah selada di mulutnya
"Fufu memang nya menurut Sweetie kenapa? kenapa Mom bisa bahagia ya~" jawab Nyonya Grisha yang malah semakin membingungkan
"Mom mu ini dari tadi pagi sudah begini, mungkin dapat suami baru" ucap Tuan Harma acuh tapi sebenarnya cemburu
"Fufu mana ada lah sayang, mana mungkin ada lelaki yang seperti kamu yang ada di hatiku ini"
Ucapan Nyonya Grisha malah berhasil membuat Tuan Harma merona malu-malu dan sampai menyembunyikan wajah nya dibalik selembar Tissue.
"Hahaha, pagi ini indah sekali ya hahaha" tawa Harya yang menarik perhatian, "Ah..maaf karna sudah ketawa"
"Harya Dear, ketawa lagi dong sayang...biar Mom rekam"
"HAH?!"
Harya berangkat ke Kampus bersama Hanfi dengan menaiki Mobil Lamborghini berwarna Putih Susu nya, ia dan Hanfi mencium punggung tangan kedua Orang tua mereka dan pamit pergi.
Diperjalanan, Hanfi tak berhenti-henti mengoceh tidak jelas dari yang membahas tragis nya kehidupan setelah Harya hilang, wanita yang Populer di Kampus, gibah Keluarga orang, semua ia ceritakan.
"Fi, menurut mu kenapa Ibu bahagia banget pagi ini" tanya Harya menatap keluar jendela
Hanfi terdiam sebentar, "Mungkin kita bakal punya adek baru"
Harya terdiam dan menatap Hanfi, wajah Hanfi menghitam, "Kau...baik-baik saja?"
"Jujur aku tak mau, kita ini sudah besar dan punya banyak jalan yang berat untuk dilewati...jika kita punya Adik mungkin dia akan ikut menderita" ucap Hanfi jelas sambil menatap kedepan
Harya kagum akan pemikiran Hanfi, ia mengulurkan tangannya untuk mengelus pucuk kepala Hanfi, "Kau sudah dewasa ya"
"Andaikan saat itu kau tidak hilang dan jadi seperti sekarang kak, mungkin aku tidak akan seperti ini" jawab Hanfi
Tiba-tiba saja Mobil itu berhenti di depan Warung makan dekat Kampus, Harya keheranan sedangkan Hanfi ia hanya menatap Harya.
"Turun"
"Kakak tidak diantar sampai Kampus?"
"Tidak, kau belum di perkenalkan pada publik jadi nanti bakal jadi masalah, cepat turun"
"Oh..baiklah"
Harya turun dari Mobil dan menatap Hanfi dari jendela, "Kakak pulang nya bareng kau kan?"
"Tidak, jalan kaki saja sendiri"
Setelah mengatakan itu Hanfi melaju meninggalkan Harya yang terdiam layaknya patung, banyak hal yang berputar-putar ria didalam otaknya.
"Apakah ini yang dinamakan Mood yang cepat berubah?" gumam nya seorang diri
Harya berjalan dan sesekali menyapa para pekerja yang menyapu jalanan di pagi hari, mereka semua membalas Harya dengan senyuman yang bahagia.
Saat hendak memasuki wilayah Kampus, ada sebuah Mobil yang sengaja hendak menyerepet Harya tetapi Harya menyadari Hal itu dan ia selamat.
Jendela terbuka dan menampilkan seorang pemuda dengan rokok di tangannya, ia menatap Harya seakan merendahkannya.
"Jadi kau yang dari Desa ya, hmm..sama saja seperti lumpur yang kotor...cih tidak ada bagus-bagus nya" ucapnya dan kembali menacapkan gas memasuki halaman
Harya mencoba mengingat nama pemuda tersebut, "hmm kalau tidak salah namanya Kimberly Algan bukan ya? yang dipanggil Tuan Muda Kim itu"
Ia hanya mengangkat bahu nya dan terus berjalan maju, "Teman Hanfi ini...tidak betul semua ya"
Harya berkata layaknya seorang kakak yang menilai teman dekat adik nya, berkata bahwa mereka tak betul padahal temannya sendiri lebih parah.
Harya memasuki pintu kelas dan mendapati Rama yang duduk tersungkur dihadapan seorang gadis dengan Hijab merah, Cardigan berwarna coklat Coffee dan tak lupa sepatu Hak nya yang berwarna merah senada.
"Ada apa ini, kalian kenapa malah tengkar urusan rumah tangga di Kampus" ucapnya mengagetkan sepasang Pasutri itu
"Harya! pahlawan kesiangan ku! tolong bantu aku!" rengek Rama dan berlari menghindari Jessi menuju Harya
"Hah?"
"Harya kau harus membantu ku, si Rama ini padahal kami sudah tunangan tetapi ia malah menggoda wanita lain di Instagram bahkan sampai mengajak nya makan siang!" ucap Jessi memberi penjelasan
Harya menatap jijik Rama, "Benarkah begitu? berarti anak ini harus kita buang ke laut"
"T-tunggu dulu, k-kau memihak siapa woi Harya" ucap Rama ketakutan
"Aku NETRAL, tetapi aku akan menghukum mu sekarang juga...kau suka laut yang mana? bagaimana kalau kau kubuang ke Palung dengan kaki disemen?"
"T-tunggu"
"Ide bagus itu, biar aku beli semen nya hehe"
BRAK!
"RAMA TOLO*!"
Arsyi yang baru datang dengan sebuket bunga langsung berlari kearah Rama dan menghajar nya denga buket bunga berwarna ungu Lavender itu.
"Oi! Kenapa kau tiba-tiba-"
Harya dan Jessi hanya memandangi mereka saja dalam diam, sesekali mereka bermain gunting batu kertas dan kembali menonton lagi.
"Mulut mantan preman berulah" batin Harya
"Berani nya kau menggoda gadis yang aku sukai bahkan sampai mengajak nya makan siang! kita teman bukan?!" teriak nya sambil terus menghajar Rama
"Siapa yang kau maksud?! aku tidak menggoda gadis yang kau sukai!" jawab Rama memberikan perlawanan
"Bohong! dia menolak ku tadi dan berkata bahwa dia sudah di lamar oleh ARAMA ARSHAD! nama siapa itu? nama siapa itu? kayak nya aku pernah dengar" ucap Asryi menarik kerah baju Rama dan memandangi nya dengan tatapan sebal
"Memang nya siapa yang bilang begitu-"
"Tunggu, jangan bilang gadis yang kau taksir...Albiana Ananda?"
"Lalu kenapa? Hah? kenapa" ucap Arsyi yang masih mencengkram kerah baju Rama dengan wajah sebal yang aneh
"Kau mau tau, gara-gara kau aku dianggap Mesum gila yang tiba-tiba bawa bunga ke Kampus, ada juga yang bilang kalau aku Pangeran kesiangan, SALAH SIAPA ITU?!" Amarah Arsyi semakin membara membuat Rama berkeringat
"Maaf...aku tidak tahu kawan"
"KAWAN?!"
"Hei diamlah, apa kalian pikir Universitas ini dibeli oleh Ayah kalian...Pemimpin kami terganggu apa kau tau" ucap seseorang dengan nada yang menjengkelkan
...----------------...
udah baca dari awal endingya kaya taaaai anjiiing..
Emang Noveltoon anjiiiing