Jihan Kharisma gadis SMA yang tergila-gila dengan seorang pria berseragam. Lebih tepatnya dengan tentara, dia begitu mengidolakan seorang tentara untuk menjadi suaminya karena ia ingin seperti kakaknya yang perempuan yang menikah dengan tentara. Apalagi kakaknya yang laki-laki adalah seorang tentara sehingga menambah keinginannya yang begitu dalam untuk memiliki suami tentara.
Suatu ketika ia bertemu dengan seorang pria yang tanpa sengaja membantu Jihan saat gadis itu jatuh dari sepeda, pertemuan itu membuat jihan terpesona setengah mati berharap ingin bertemu kembali dan mentakdirkan mereka.
Apakah nanti Jihan akan bertemu kembali dengan pria itu, baca disini....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ansifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 33
"Sa..Saya.." ucap Bara ragu-ragu, karena dia bingung akan menjawab apa. Karena apa yang dikatakan Jihan memang benar dia bukan siapa-siapa gadis itu. Jadi tidak sepatutnya ia melarang.
"Sa..Saya mau ke kamar mandi, kamu tidurlah. Besok kamu harus sekolahkan" Bara langsung melangkah pergi meninggalkan Jihan yang heran dengan Bara yang seperti orang gugup.
Karena masih kesal, Jihan langsung pergi saja ke kamarnya. Bodo amat nanti kalau Bara masih ingin bicara dengannya ia tidak perduli.
Jihan langsung naik ke atas menuju kamarnya, ia membuka pintu kamarnya itu. Lalu merebahkan dirinya, rasanya kesal sekali.
Padahal kakaknya tidak di rumah, dia bisa bebas malah ada Bara sekarang yang mengatur-ngatur dirinya.
Pria itu sungguh aneh, kenapa coba tadi dia marah-marah, cuman gara-gara dirinya tidak mau pulang.
Oh benar Jihan jadi ingat, bukannya tadi ia tanya kenapa Bara melarang-larang dirinya untuk ke tempat karaoke. Pria itu malah mengalihkan pembicaraannya dia malah bilang ingin ke toilet, pokoknya ia harus tahu alasan Bara kenapa harus melarang dirinya.
Lebih baik ia tanyakan besok saja, kalau ia tanya sekarang nanti Bara marah lagi seperti tadi, sungguh itu sangat menakutkan. Benar-benar membuatnya takut tadi, apalagi gara-gara itu tangannya yang menjadi korban seperti ini.
Jihan mengangkat tangannya ke atas memperhatikan tangan itu yang masih ada bekas merah di sana. Akibat cengkraman Bara tadi yang terlalu kuat.
"Udah ah tidur aja gue" Jihan langsung menutupi tubuhnya dengan selimut dan ia mulai memejamkan matanya untuk tidur. Ini juga sudah terlalu malam, bisa-bisa kalau Bara tahu orang itu pasti mengamuk. Jihan sudah paham siapa Bara sekarang dia orangnya ternyata galak juga seperti kakaknya Banu.
………………
Bara sebenarnya tidak ingin pergi ke kamar mandi, dia tadi hanya beralasan saja agar tidak menjawab pertanyaan Jihan. Karena ia bingung apa yang harus ia jawab, dirinya saja bingung kenapa ia melarang-larang Jihan.
Tadi di pikirannya hanya tidak suka saja melihat Jihan ketempat itu, tempat tersebut pastinya banyak laki-laki tidak benar. Ia taku kalau Jihan di lihat oleh laki-laki yang ada di sana.
Bara kembali ke sofa ruang tamu, di sana sudah tidak ada Jihan sofa itu sudah kosong. Mungkin saja Jihan menuruti perkataannya untuk naik ke kamar gadis itu atau mungkin saja gadis tersebut marah padanya.
"Sudahlah Bara, sudah tidak usah di pikirkan" ucap Bara dalam hati, lalu ia duduk di sofa memperhatikan bekas es yang ia gunakan untuk menghilangkan kemerahan di tangan Jihan tadi. Lalu ia mengambil itu dan membawanya ke dapur. Baru setelah itu ia akan tidur.
Saat Bara sudah mengembalikan baskom es itu ke dapur, ia lalu kembali ke sofa saat dia sedang berjalan terdengar nada ponsel yang asing baginya.
"Suara Hp siapa itu?" tanyanya pada diri sendiri.
Lalu ia mencari-cari di sekitar sofa, saat ia mengambil bantal ada Hp disitu yang terus berdering di layar tertulis nama Perkutut.
Terdapat lipatan-lipatan kecil di dahinya, ia heran orang diberi nama seperti itu. Dan dia yang tadinya heran Hp siapa yang ia pegang sekarang langsung sadar Hp siapa lagi yang ia pegang kalau bukan Hp milik Jihan. Siapa lagi yang akan memberikan nama aneh kalau bukan gadis tersebut.
Karena panggilannya berbunyi lagi, terpaksa Bara mengangkatnya walaupun ia tidak mengetahui siapa orang itu.
"Hei pendek, lo kemana sih?Gue nyariin lo tahu nggak. Kata Wirda tadi lo dibawa paksa sama cowok, lo nggak pa-pakan" ucap seseorang di seberang sana.
"Kalau boleh tahu anda siapa?" dingin Bara semakin mendekatkan Hp milik Jihan di telinganya.
"Gue Ardan, ini siapa woy. Jihan lo apain" Ucap Ardan tampak khawatir saat mendengar itu bukan suara Jihan.
"Saya Bara, anda nggak perlu khawatir. Jihan aman sama saya" tegas Bara lalu mematikan panggilannya sepihak.
Bara lalu menaruh pelan Hp Jihan di meja, pikirannya kembali melayang memikirkan ada hubungan apa sebenarnya Jihan dengan pria yang bernama Ardan itu.
Ternyata Jihan tadi juga bersama orang itu di tempat karaoke.
°°°°°
Pagi telah menyingsing, suara khas pagi hari telah menyapa burung-burung di pepohonan berkicau riang saling bersahutan. Bara sudah bangun dan kini ia sedang menikmati tehnya di meja makan rumah Jihan, teh yang di buatkan Bik nah tadi untuknya.
Dia juga sudah memakai Baju PDH nya lengkap dengan sepatu pantofel nya. Dia sudah siap untuk berangkat dinas sambil menunggu Jihan yang belum juga turun kebawah.
Padahal tadi dia pulang ke rumah dulu untuk mengambil seragam PDH lalu balik lagi ke rumah Jihan. Tapi anak itu kata Bik nah belum juga turun kebawah.
Apa ia harus ke atas, untuk menyuruh gadis itu untuk turun.
Baru saja Bara akan melakukan niatannya itu, ada seorang yang baru saja menuruni tangga.
"Halo Bik nah selamat pagi," ucap Jihan melihat Bara sekilas ia berjalan mengambil segelas susu yang ada di samping Bara. Ia hanya mendiami Bara saja tanpa berminat untuk menyapa.
Bara tahu itu, pasti Jihan saat ini bermaksud untuk mendiaminya.
Jihan beberapa kali curi-curi pandang kearah Bara, sebenarnya tadi ia merasa terpesona dengan Bara pagi ini. Pria itu tampak gagah dengan baju PDH nya yang pres di badan sehingga tubuh bagus nan atletis Bara begitu nampak membuat Jihan seakan tidak bisa berkedip melihat. Tapi apalah daya ia harus pura-pura cuek dengan Bara karena ia kesal karena semalam.
"Ini Hp kamu" Bara menyodorkan Hp milik Jihan di meja makan mengarahkan ke gadis itu.
"Kok ada di mas Bara?" Jihan yang tadinya ingin mencueki Bara terpaksa harus mengeluarkan suaranya. Pantas saja sedari tadi ia mencari Hpnya dikamar tidak ada ternyata Hpnya itu ada pada Bara.
"Kemarin kamu tinggalkan di sofa" ucap Bara lalu menyeruput tehnya sambil melihat sekilas Jihan yang memukul kecil kepalanya.
"Kamu sudah belum minum susunya, kalau sudah ayok saya antar kan ke sekolah. Saya juga mau berangkat dinas" Bara sudah berdiri sambil melihat Jihan yang menatapnya.
"Ya..Ayok" ucap Jihan cemberut lalu menggendong tasnya berjalan pergi mendahului Bara.
………………
"Kamu nanti malam, sama besok tidur di rumah saya" ucap Bara yang sedang menyetir mobil.
Sontak saja Jihan langsung melihat kearah Bara saat ini.
"Kenapa aku tidur di rumah mas Bara?nggak mau aku tidur di rumahku aja" ucap Jihan menolak apa yang di perintahkan Bara.
"Saya nanti malam piket jaga, terus saja juga besok piket lagi. Gantiin temen saya Jaga, karena jatah dia cuti waktu itu saya pakek" jelas Bara melihat kearah Jihan sekilas.
"Aku nggak mau mas, aku mau tidur di rumahku aja"
"Di rumahmu tidak ada orang Jihan, orang tuamu juga masih seminggu lagi pulangnya. Bang Banu juga belum boleh cuti"
"Aku nggak pa-pa kok di rumah sendiri, kan ada Bik nah" kekeh Jihan tetap tidak mau tinggal di rumah Bara.
"Pokonya kamu harus tinggal di rumah saya, daripada kamu sendiri di rumah mending di rumah saya. Rumah saya ada Mama sama papa saya dan juga adik saya jadinya kamu tidak sendiri. Pokonya kamu tinggal di rumah saya titik" tegas Bara tetap memaksa Jihan untuk tinggal dirumahnya selama ia piket jaga.
"Kenapa sih mas Bara maksa terus, kemarin maksa aku buat pulang dari tempat karaoke, ngelarang aku nggak boleh kesitu lagi, sekarang maksa aku buat tinggal di rumah Mas Bara. Mas Bara nggak ada hak ya buat ngatur-ngatur aku, lagian juga kenapa sih mas Bara ngatur-ngatur aku, mas Bara bukan siapa-siapa aku ya! apa alasan mas Bara ngelakuin itu,?" Jihan diam sebentar melihat Bara yang seperti tidak terpengaruh dengan ucapannya.
" Kecuali kalau mas Bara udah jatuh cinta sama aku?" ucap Jihan membuat Bara langsung mengerem mobilnya mendadak. Lalu ia melihat kearah Jihan.
"Iya kan?Mas Bara udah jatuh cinta sama aku?" ucap Jihan mantap menatap manik mata Bara yang sedikit berkedut.
"Ngg..nggak saya nggak jatuh cinta sama kamu, saya hanya khawatir sama kamu. Saya sudah janji sama Bang Banu buat jagain kamu selama orang tua kamu di Sulawesi, hanya itu. Saya tidak jatuh cinta sama kamu, dan itu tidak akan mungkin. Kamu sudah saya anggap adik saya sendiri" ucap Bara mantap, melihat mimik wajah Jihan yang sekarang terlihat sendu menahan bulir air mata.
"Bohong," lirih Jihan lalu mengalihkan pandangannya dari Bara, melihat keluar Jendela.
Menyembunyikan air matanya dari Bara, lagi ia meneteskan air matanya lagi karena seorang Pria bernama Galbara.
°°°
T.B.C
muncul