Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33
Sinta datang membawa mukena putih dan wajah seorang ibu yang sedang bersiap disakiti.
Itu senjata lamanya.
Alya melihatnya dari kamera depan rumah Arga. Di samping Sinta berdiri seorang perempuan tua berkacamata, Bu Ningsih, pengurus pengajian elite yang sering muncul di acara amal Ratna. Di belakang mereka ada dua mobil dan beberapa ibu-ibu yang berpakaian rapi.
Lilis menoleh gugup. "Mbak, mereka bilang mau menjenguk Mas Arga dan mengadakan doa bersama."
Alya meletakkan pulpen.
Di meja ruang kerja, daftar obat Arga, dokumen Laksana, dan catatan Bu Saras masih terbuka. Arga duduk di kursi seberang dengan selimut tipis di paha.
"Mau aku turun?" tanyanya.
"Tidak dulu."
"Itu ibumu."
"Ibu angkat."
Arga diam.
Alya berdiri. "Dan hari ini dia datang bukan sebagai ibu."
Di teras, Sinta langsung membuka lengan begitu melihat Alya.
"Nak."
Alya berhenti dua langkah di depannya.
"Bu Sinta."
Panggilan itu membuat wajah Sinta berubah.
Bu Ningsih cepat tersenyum. "Alya, kami datang dengan niat baik. Akhir-akhir ini banyak berita tidak enak tentang kamu dan keluarga Pradipta. Kami pikir lebih baik ada doa bersama, supaya rumah ini adem."
Alya melihat tasbih di tangan Sinta.
"Doa bersama biasanya dikabarkan lebih dulu, Bu."
Sinta menghela napas. "Kalau dikabari, kamu pasti menolak. Mama tahu kamu sedang keras kepala."
"Saya sedang bekerja."
"Bekerja melawan keluarga suamimu?"
Beberapa ibu di belakang berbisik.
Itu tujuannya.
Membuat Alya terlihat tidak sopan di depan perempuan-perempuan yang hidup dari kata pantas dan tidak pantas.
Bu Ningsih melangkah maju. "Anak muda kadang lupa, rumah tangga tidak bisa hanya pakai hukum dan bukti. Ada adab. Ada restu orang tua."
Alya menatapnya. "Restu orang tua tidak bisa dipakai untuk menyembunyikan obat berbahaya."
Sinta langsung memegang dadanya. "Ya Allah, kamu bicara apa di depan orang-orang?"
"Kebenaran yang Ibu bawa ke depan orang-orang."
"Mama datang karena khawatir. Kamu menikah belum lama, tapi sudah membuat keluarga Pradipta ribut, membuat Nabila menangis, membuat Rafi melawan istrinya sendiri."
Alya hampir tersenyum.
Jadi ini jalurnya.
Rafi.
"Nabila menangis karena Rafi mulai membaca dokumen sebelum tanda tangan?"
Sinta tersentak. "Kamu memutarbalikkan."
"Tidak. Saya memperpendek."
Bu Ningsih mengerutkan kening. "Alya, jangan kurang ajar pada ibumu."
Alya membuka pintu lebih lebar. "Silakan masuk kalau benar ingin menjenguk Mas Arga. Tapi tidak ada doa bersama dadakan, tidak ada kamera, tidak ada orang yang naik ke lantai dua, dan semua ponsel disimpan di meja depan."
Beberapa ibu langsung saling pandang.
Sinta berkata lirih, "Kamu takut direkam?"
"Saya melindungi pasien."
"Pasien itu suamimu. Bukan tahananmu."
Suara langkah terdengar dari belakang.
Alya menoleh.
Arga berdiri di ujung lorong dengan Satria di sampingnya. Wajahnya pucat, tetapi matanya jernih.
"Saya bukan tahanan," katanya.
Semua orang terdiam.
Sinta segera memasang senyum. "Mas Arga, maaf. Tante hanya khawatir Alya terlalu tegang. Dia dari kecil memang kalau punya kemauan--"
"Tante Sinta."
Panggilan itu sopan, tetapi memotong.
"Ya, Nak?"
"Saya yang meminta ponsel tamu disimpan."
Sinta tidak siap.
Bu Ningsih tersenyum kaku. "Mas Arga, tentu kami menghormati. Tapi doa bersama--"
"Saya juga yang menolak acara dadakan."
"Kenapa, Mas?"
Arga menatap ibu-ibu di teras. "Karena terakhir kali banyak orang masuk rumah saya tanpa izin, obat saya juga masuk tanpa saya mengerti."
Hening.
Kata obat membuat semua wajah berubah.
Sinta cepat berkata, "Itu urusan keluarga Pradipta. Tidak perlu dibuka di sini."
Alya menatapnya. "Tadi Ibu membawa saksi untuk menilai rumah tangga saya. Sekarang kenapa takut urusan rumah dibuka?"
Sinta menggigit bibir. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Mama salah apa sampai kamu memperlakukan Mama seperti musuh?"
Alya sudah menunggu kalimat itu.
Ia melangkah turun satu anak tangga.
"Ibu tidak salah karena datang. Ibu salah karena datang bersama orang-orang yang terhubung dengan Bu Ratna, membawa alasan doa, lalu menyalahkan saya di depan pintu rumah suami saya."
Bu Ningsih tersinggung. "Hati-hati bicara, Nak. Saya bukan orang suruhan."
Satria tiba-tiba mengangkat ponsel. "Bu, nama Ibu ada di daftar panitia gala yayasan Bu Ratna minggu lalu. Foto Ibu juga ada di akun resmi."
Bu Ningsih menoleh tajam. "Anak muda, tidak sopan."
"Saya memang jarang dipuji sopan."
Arga hampir batuk karena menahan senyum.
Sinta melihat situasi mulai lepas. Ia mencoba mendekati Alya.
"Nak, Mama cuma mau kamu pulang sebentar. Pak Hadi juga khawatir. Keluarga Wiratama malu kalau kamu terus muncul di berita sebagai istri yang menguasai suami."
Kata malu itu akhirnya keluar.
Alya menatap ibu angkatnya.
"Kalau Pak Hadi ingin bicara, beliau tahu nomor saya. Kalau Ibu datang untuk menjaga nama Wiratama, sampaikan ini: mulai hari ini, tidak ada orang di keluarga Wiratama yang boleh memberi pernyataan atas nama saya."
Sinta membeku.
"Apa maksudmu?"
"Kalau ada yang memakai nama saya untuk menekan media, yayasan, keluarga Pradipta, atau Rafi, Karina akan mengirim somasi."
Bu Ningsih menutup mulut.
Sinta menatap Alya seperti ditampar. "Kamu mengancam Mama pakai pengacara?"
"Saya menjaga diri pakai pengacara."
"Setelah semua yang keluarga ini beri?"
"Keluarga ini juga pernah mengambil banyak."
Suara Alya tidak naik. Justru itu yang membuat Sinta kehilangan tempat berteriak.
Arga berjalan pelan mendekat. "Tante Sinta, saya berterima kasih karena datang. Tapi istri saya sudah jelas. Rumah ini tidak menerima acara tanpa izin."
Sinta memandang Arga. Untuk sesaat ia ingin membantah, tetapi status Arga menahannya.
Ia menatap Alya kembali.
"Kamu akan menyesal kalau memutus keluarga sendiri."
Alya membuka pintu pagar otomatis.
"Saya lebih menyesal kalau membiarkan keluarga menjual saya lagi."
Mobil-mobil itu pergi satu per satu.
Ketika pagar tertutup, Arga menarik napas berat.
"Kamu baik-baik saja?"
Alya tidak langsung menjawab.
Di ponselnya, pesan dari Karina masuk.
`Akun gosip baru saja mengunggah foto ibumu di depan rumah. Caption-nya: menantu durhaka menolak doa keluarga.`
Alya menunjukkan layar itu pada Arga.
Arga menatapnya. "Mereka merekam dari luar."
"Iya."
"Kamu tahu akan begini?"
"Aku berharap mereka sebodoh ini."
Satria mengusap wajah. "Kenapa aku merasa kita akan membuat Bu Ningsih terkenal malam ini?"
Alya mengirim satu file video dari kamera rumah ke Karina.
"Karena orang yang datang membawa doa untuk kamera, harus siap ketika kamera lain ikut berdoa."
Karina mengunggah video lengkap itu bukan dari akun pribadi Alya, melainkan lewat pernyataan hukum singkat.
`Rumah Mas Arga Pradipta adalah ruang pemulihan pasien. Semua kunjungan tanpa izin yang membawa tekanan sosial, rekaman tersembunyi, atau narasi fitnah akan ditindak.`
Tidak ada kata durhaka.
Tidak ada air mata.
Justru itu yang membuat komentar publik berubah cepat.
`Kalau memang doa, kenapa bawa rombongan dan kamera?`
`Pasien punya hak privasi. Jangan pakai agama buat masuk rumah orang.`
`Ini sama polanya dengan ibu-ibu elite yang merasa semua bisa diatur lewat malu.`
Sinta mencoba menelepon Alya tiga kali.
Alya tidak mengangkat.
Arga melihat layar ponselnya menyala terus di meja.
"Sakit?"
Alya mengerti maksudnya.
"Tidak sesakit dulu."
"Dulu kamu akan angkat?"
"Dulu aku akan minta maaf untuk sesuatu yang bukan salahku."
Arga menatapnya. "Sekarang?"
Alya mematikan suara ponsel.
"Sekarang aku membiarkan pengacara bicara kalau ibu mulai membawa penonton."
Arga mengangguk pelan.
Di luar, gerbang rumah kembali tenang.
Namun di layar ponsel, nama Sinta Wiratama mulai naik bersama potongan video lengkap.
Kali ini, bukan Alya yang dipaksa berdiri di tengah rasa malu.
Malamnya, Sinta mengirim satu pesan panjang.
`Mama memang salah membawa orang. Tapi kamu juga jangan lupa, tanpa keluarga Wiratama, kamu tidak akan punya nama.`
Alya membaca pesan itu sampai selesai.
Tidak ada permintaan maaf.
Hanya tagihan yang dibungkus penyesalan.
Ia tidak membalas.
Arga melihat layar yang kembali gelap.
"Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?"
"Ingin."
"Kenapa tidak?"
"Karena ada kalimat yang hanya akan dipakai orang lain untuk membuka pintu berikutnya."
Arga mengangguk pelan. "Kalau begitu simpan kalimat itu untuk orang yang tidak menjadikannya kunci."
Alya menatapnya sebentar.
Ia tidak menjawab, tetapi ponselnya tetap diletakkan terbalik.