Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Jalan yang Terbagi Dua
Setelah meninggalkan Danau Dua Wajah, perjalanan Cepot dan Dawala membawa mereka menuju wilayah perbatasan yang dipenuhi hutan lebat. Semakin jauh mereka melangkah, semakin jarang terlihat tanda kehidupan manusia, namun udara terasa bersih dan segar. Hingga suatu sore, mereka tiba di sebuah persimpangan jalan yang sangat aneh: di hadapan mereka terbentang dua jalan yang tampak sama persis, keduanya rata, bersih, dan dikelilingi pepohonan yang serupa. Tidak ada tanda penunjuk arah, tidak ada bedanya sedikit pun.
“Kang, mana yang harus kita ambil?” tanya Dawala sambil menatap kedua jalan itu bergantian. “Keduanya terlihat sama baiknya, sama amannya. Bagaimana kita bisa tahu mana jalan yang benar?”
Cepot mengerutkan dahi, lalu menyentuh tanah di kedua sisi dengan telapak tangan. “Secara lahiriah memang sama. Tapi setiap jalan memiliki tujuan yang berbeda. Ada jalan yang terlihat mudah namun menuntun pada kemudahan sesaat yang menjerumuskan, dan ada jalan yang terlihat biasa saja namun membawa pada tempat yang seharusnya kita tuju.”
Belum sempat mereka memutuskan, muncullah seorang lelaki tua yang berjalan perlahan dari arah sebaliknya. Ia memikul beban kayu bakar di punggungnya, namun wajahnya tampak bingung dan lelah.
“Kalian juga bingung memilih jalan?” tanyanya sambil berhenti beristirahat. “Aku sudah dua kali salah ambil jalan. Jalan di kanan terasa lebih ringan, seolah bebanku menjadi lebih enteng saat melangkah ke sana, tapi ujungnya hanya berputar kembali ke tempat ini. Sedangkan jalan di kiri terasa lebih berat, membuat kakiku cepat lelah, tapi aku belum sampai ke ujungnya.”
“Siapakah yang membuat persimpangan seperti ini?” tanya Cepot.
“Ini adalah Jalan Pilihan,” jawab lelaki tua itu. “Dahulu tidak seperti ini. Namun setahun lalu datanglah Ki Pilih. Ia berkata bahwa orang seharusnya bisa memilih jalan yang paling menyenangkan tanpa perlu bersusah payah. Ia membagi jalan ini menjadi dua: satu jalan yang memudahkan segala hal, dan satu jalan yang tetap seperti aslinya. Sejak itu, banyak orang yang terjebak berputar-putar karena memilih jalan yang terasa ringan namun tidak memiliki tujuan sejati.”
Mendengar penjelasan itu, Cepot dan Dawala pun berjalan perlahan menyusuri tepi masing-masing jalan. Mereka tidak melihat perbedaan fisik, namun mereka merasakan aliran energi yang berbeda. Jalan sebelah kanan terasa menarik hati untuk memilihnya, menjanjikan kemudahan tanpa usaha; sedangkan jalan sebelah kiri tenang, menuntut ketekunan, namun terasa memiliki arah yang jelas.
Tiba-tiba, dari celah dahan pohon muncul sosok lelaki yang mengenakan pakaian berwarna-warni yang berkilauan. Ia tersenyum ramah namun matanya menyembunyikan sesuatu.
“Selamat datang, pengembara,” sapanya. “Aku adalah Ki Pilih. Mengapa harus bersusah payah jika bisa berjalan dengan ringan? Pilihlah jalan kanan: di sana tidak ada tanjakan curam, tidak ada beban berat, tidak ada halangan yang menyulitkan. Semuanya akan terasa mudah bagimu.”
“Kemana jalan ini menuju?” tanya Cepot tenang.
“Ke mana saja yang kau inginkan! Atau lebih tepatnya, ia akan membawa ke tempat yang paling kau sukai saat ini,” jawab Ki Pilih santai.
“Bukan tempat yang aku sukai sesaat, tapi tempat yang memang harus kutuju,” jawab Cepot tegas. “Kemudahan yang tidak membawa pada tujuan sejati bukanlah bantuan, melainkan penyesatan. Jalan yang benar mungkin terasa berat, karena di situlah kita belajar, tumbuh, dan sampai ke tempat yang sesungguhnya.”
Ki Pilih tertawa kecil. “Kau kaku sekali! Bukankah tujuan hidup adalah agar hidup senang dan tidak susah?”
“Kesenangan sesaat tidak berharga jika kita tersesat jauh dari jalan yang benar,” potong Dawala. “Seringkali kesulitan itulah yang membuat kita kuat, bijaksana, dan sampai pada makna yang sebenarnya. Kemudahan yang terlalu dini seringkali membuat kita lupa berusaha dan lupa arah.”
Mendengar kata-kata itu, senyum Ki Pilih perlahan memudar. Ia menyadari bahwa apa yang ia anggap sebagai kebaikan justru telah memanjakan dan menyesatkan banyak orang. Ia tidak bermaksud jahat, ia hanya ingin orang lain tidak merasakan kesusahan seperti yang pernah ia rasakan dulu — namun ia lupa bahwa kesulitan adalah bagian dari proses untuk menjadi dewasa dan kuat.
“Jadi… aku yang telah membuat jalan ini menjadi jebakan?” gumamnya pelan.
“Kau ingin membantu, tapi caranya salah,” kata Cepot lembut. “Pilihan yang benar bukan memilih yang paling mudah, tapi memilih yang paling tepat, meskipun berat. Dan tidak seharusnya ada dua jalan yang membingungkan seperti ini; biarkan jalan itu satu, agar setiap orang yang melaluinya tahu bahwa ia harus berusaha sekuat tenaga untuk sampai ke tujuan.”
Cepot lalu mengangkat Golek Pancasona. Cahaya lembut memancar, menyelimuti kedua jalan itu. Perlahan, jalan yang terbagi dua itu menyatu kembali menjadi satu jalan lurus yang lebar, yang kadang menanjak, kadang menurun, namun jelas arahnya. Tidak ada lagi ilusi kemudahan palsu yang membingungkan hati.
Ki Pilih menundukkan kepalanya penuh rasa syukur. “Terima kasih telah membukakan mataku. Aku akan menjadi penunjuk jalan yang sesungguhnya, mengingatkan setiap orang bahwa setiap langkah yang diambil dengan niat benar, meskipun berat, adalah jalan yang paling ringan di hati.”
Lelaki tua pemikul kayu bakar itu pun tersenyum lega. Ia kini tahu harus melangkah dengan yakin tanpa ragu lagi.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menyusuri jalan yang telah menyatu, membawa pelajaran berharga: dalam hidup, seringkali kita dihadapkan pada pilihan antara kemudahan sesaat dan perjuangan yang bermakna. Dan jalan yang benar, meskipun terasa berat di awal, akan selalu membawa kita pada tempat yang paling tepat.