Siap, ini deskripsi singkat yang diambil dari naskah yang kamu kirim (lebih sesuai dengan konflik, karakter, dan tensinya):
Dalam sebuah perjanjian yang tak bisa dihindari, Talia harus menerima takdirnya untuk menikah dengan Etnan—pria dingin, penuh kuasa, dan menyimpan banyak sisi yang tak terduga.
Di balik hubungan yang terlihat formal, terselip ketegangan, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap. Kehadiran Sophia yang obsesif, serta perasaan tersembunyi dari orang-orang di sekitar mereka, membuat hubungan itu semakin rumit.
Namun di antara sindiran, sentuhan yang tak diinginkan, dan emosi yang saling ditahan—perlahan tumbuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kewajiban.
Cinta yang seharusnya tidak ada… justru mulai mengikat mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 : HONEY MOON
Matahari kian meninggi, namun kehangatan di ruang tengah mansion masih enggan beranjak. Talia duduk di atas sofa beludru sambil menyesap teh hangatnya, sementara Ethan duduk di sampingnya, sibuk dengan tablet kerjanya.
Namun, kali ini ada yang berbeda. Tidak ada lagi ketegangan sedingin es. Setiap beberapa menit sekali, lengan kekar Ethan akan bergerak posesif, merengkuh bahu Talia agar gadis itu tetap merapat di sisinya.
"Ethan, kau bilang kau tidak akan mengurus pekerjaan hari ini," tegur Talia pelan, melirik layar tablet suaminya yang menampilkan barisan grafik dan kode penerbangan.
Ethan tidak langsung menjawab. Ia meletakkan tabletnya di atas meja marmer, lalu memutar tubuhnya hingga menghadap Talia sepenuhnya. Sepasang mata kelam sang ketua mafia menatap lekat paras cantik istrinya, memancarkan binar lembut yang hanya ia tunjukkan pada wanita itu.
"Aku memang tidak sedang mengurus Taylor Group atau dunia bawah, Natalia," ujar Ethan, suaranya bariton, rendah, dan sarat akan kepastian. Pria itu merogoh saku kemeja putihnya, mengeluarkan selembar amplop beludru berwarna hitam dengan cap segel emas bergambar inisial nama mereka.
Talia menerima amplop itu dengan dahi mengernyit. Ketika jemari lentiknya membuka segel lilin tersebut, matanya seketika membelalak tidak percaya. Di dalam sana, terdapat dua lembar tiket penerbangan first class menuju Maladewa (Maldives), lengkap dengan dokumen reservasi sebuah resor mewah privat di atas air yang seluruh areanya telah disewa atas nama Ethan Noah Taylor.
"Ini... bulan madu?" tanya Talia, suaranya sedikit bergetar, menatap Ethan dengan pandangan tak percaya.
"Bulan madu kita yang tertunda, Sayang," balas Ethan serak. Ia memajukan wajahnya, mengikis jarak hingga aroma mint dari napasnya menerpa permukaan kulit wajah Talia. "enam bulan lalu, aku terlalu bodoh karena membiarkan ego dan keangkuhanku menguasai pernikahan ini. Aku mengurungmu dalam kedinginan rumah ini, padahal seharusnya aku membawamu melihat dunia sebagai ratuku."
Talia merasakan dadanya berdenyut hangat, air mata haru menyengat pelupuk matanya.
"Kau serius, Ethan? Bagaimana dengan urusan Taylor Group dan... duniamu yang lain?"
Ethan tersenyum tipis, sebuah seringai penuh arti yang mematikan. Ia meraih tangan Talia, mengecup punggung tangan istrinya dengan lembut.
"Persetan dengan bisnis dan musuh-musuh di luar sana. Marco sudah mengatur segalanya. Selama dua minggu ke depan, duniaku hanya akan berputar di sekitarmu, Natalia Ethan Taylor. Kemasi pakaianmu, kita berangkat besok subuh."
...***...
Kabar tentang keberangkatan bulan madu mendadak antara Ethan dan Talia berembus cepat, memicu kedatangan tiga perisai pelindung keluarga Smith ke mansion sore itu juga.
Reymond Smith, Alex Barack Johnson, dan Elex Barack Johnson berdiri berjejer di ruang tamu dengan ekspresi menyelidik yang sangat pekat. Sebagai kakak dan sepupu yang selama dua bulan ini menyaksikan Talia diabaikan, mereka tidak bisa begitu saja percaya pada perubahan sikap mendadak sang ketua mafia.
"Membawa adikku ke pulau terpencil di tengah samudra? Apa kau sedang merencanakan sesuatu untuk mengisolasinya, Taylor?" tanya Reymond, suaranya berat dan penuh tuntutan, matanya menatap tajam ke arah Ethan yang berdiri tegap di depan tangga.
Ethan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kain hitamnya, menatap balik Reymond dengan ketenangan seorang penguasa tertinggi. Aura intimidasi dunia gelapnya menguar halus, membuat atmosfer ruang tamu mendadak terasa mencekam.
"Aku membawa istriku untuk menebus waktuku Reymond. Lagipula Aku tidak perlu izin dari siapa pun untuk membahagiakan wanitaku."
"Kami hanya memastikan kau tidak akan menyakitinya lagi," sela Elex Barack Johnson, menyilangkan tangan di dada dengan pandangan sedingin es.
"Jika seujung kuku Tata terluka di sana, jarak antara Maladewa dan markas Johnson tidak akan cukup jauh untuk menyembunyikanmu."
Talia yang baru saja turun dari lantai atas dengan gaun kasualnya langsung memotong ketegangan para pria itu.
"Kak Rey, Kak Alex, Kak Elex... sudahlah. Ini adalah keputusan kami berdua. Ethan sudah berubah, dan aku ingin memberikan kesempatan bagi pernikahan kami."
Melihat binar bahagia dan rona merah alami yang kembali menghiasi wajah polos adiknya, runtuhlah sudah seluruh ketegasan Reymond. Ia menghela napas panjang, melangkah mendekat, lalu memeluk Talia dengan erat.
"Jaga dirimu baik-baik di sana, Tata. Jika bajingan ini berulah, telepon Kakak detik itu juga."
"Iya, Kak Rey," jawab Talia manis, membalas pelukan kakaknya.
Dari sudut ruangan, Ethan menatap interaksi itu dengan rahang yang sedikit mengetat. Ada rasa cemburu dan posesif yang bergejolak di dalam dadanya melihat Talia dipeluk oleh pria lain—meskipun itu adalah kakak kandungnya sendiri.
Begitu pelukan terlepas, Ethan langsung menarik pinggang Talia masuk kembali ke dalam dekapannya, mengunci pergerakan sang istri di hadapan ketiga pemuda Smith-Johnson tersebut sebagai penegas hak kepemilikan mutlaknya.
...***...
Dua puluh empat jam kemudian, raungan mesin jet pribadi Taylor Group akhirnya meredup, berganti dengan suara deburan ombak laut yang jernih dan desauan angin tropis Maladewa yang hangat. Sebuah kapal pesiar kecil (yacht) privat membawa sepasang pengantin baru itu menuju sebuah pulau karang terisolasi yang hanya dihuni oleh satu resor mewah bintang lima.
Talia berdiri di dek kapal, membiarkan rambut panjangnya terurai bebas menari ditiup angin laut. Ia mengenakan gaun pantai putih tipis yang melambaikan keanggunan fisiknya. Pemandangan air laut yang berwarna biru zamrud transparan hingga memperlihatkan terumbu karang di bawahnya benar-benar menyihir indra kesadarannya.
Dari arah belakang, sebuah kehangatan yang teramat kokoh kembali merengkuh tubuhnya. Ethan memeluk pinggang Talia dari belakang, menumpukan dagunya di pundak terbuka sang istri. Pria itu telah menanggalkan setelan jas formalnya, kini hanya mengenakan kemeja linen tipis berwarna krem yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan dada bidangnya yang berotot.
"Kau menyukainya, Natalia?" bisik Ethan serak, embusan napas hangat beraroma mint-nya menggelitik leher jenjang Talia.
"Ini sangat indah, Ethan... aku merasa seperti sedang bermimpi," jawab Talia, menyandarkan punggungnya pasrah pada dada bidang suaminya.
"Ini bukan mimpi, Sayang. Mulai hari ini, setiap keindahan di dunia ini adalah milikmu," balas Ethan penuh damba.
Kapal akhirnya bersandar di dermaga kayu resor privat mereka. Begitu kaki Talia menapak di lantai kayu pondok di atas air (overwater villa), pintu besar tertutup rapat, mengunci mereka berdua dari dunia luar. Di dalam ruangan mewah yang langsung menghadap ke cakrawala samudra luas tanpa batas, ketegangan romantis yang membara paska malam pertama mereka kembali meledak di udara.
Ethan tidak membuang waktu lagi. Ia memutar tubuh Talia, mengurung wanita itu di antara kedua lengan kekarnya di dinding pintu kayu ek. Sepasang manik mata kelamnya meredup, menggelap penuh kabut gairah tertahan yang kian liar akibat wangi vanila dari tubuh istrinya yang memabukkan di bawah suhu tropis pulau ini.
"Masa pengasingan kita sudah berakhir, Talia," desis Ethan serak, jemari tangannya yang kekar naik membingkai rahang istrinya yang lembut. "Di pulau ini, tidak ada media, tidak ada kakakmu, dan tidak ada hukum buyut. Hanya ada aku... dan kau sebagai istriku seutuhnya."
Tanpa memberikan ruang bagi Talia untuk membalas, Ethan menundukkan kepalanya, langsung melumat bibir ranum Talia dengan penuh penekanan dan dominasi mutlak yang membara, memulai babak baru bulan madu mereka yang tertunda di bawah naungan surga tropis yang sakral.
...----------------...