Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Malam semakin larut, tapi langkah kami justru terasa semakin ringan.
Lampu-lampu kecil di sepanjang pasar antik itu mulai satu per satu dipadamkan. Beberapa pedagang sudah bersiap menutup kiosnya, menggulung kain penutup, dan merapikan barang-barang mereka dengan hati-hati—seolah setiap benda di sana punya cerita yang harus dijaga.
Aku masih melihat gelang di pergelangan tanganku.
Entah sudah berapa kali aku menatapnya sejak tadi.
Sederhana.
Tapi… membuatku terus tersenyum tanpa sadar.
“Kamu suka sekali,” suara Adrian terdengar di sampingku.
Aku langsung sedikit kaget, lalu buru-buru menurunkan tangan.
“Enggak juga…”
Dia mengangkat alis sedikit.
“Sudah lima kali kamu lihat sejak keluar dari toko.”
Aku terdiam.
Tertangkap.
Aku akhirnya tertawa kecil, sedikit malu.
“Iya… aku suka,” akuku jujur kali ini.
Adrian tidak mengatakan apa-apa, tapi aku bisa melihat sudut bibirnya sedikit terangkat.
Kami terus berjalan sampai akhirnya keluar dari area pasar.
Udara malam terasa lebih dingin sekarang. Jalanan mulai sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang lewat sesekali.
Mobil sudah menunggu.
Tapi Adrian tidak langsung masuk.
Dia berhenti sejenak.
“Ada satu tempat lagi,” katanya.
Aku menoleh.
“Kita belum pulang?”
Dia menggeleng pelan.
Aku sempat ragu.
Tapi entah kenapa… aku tidak ingin menolak.
“Baiklah,” jawabku.
—
Mobil kembali melaju.
Kali ini lebih jauh.
Lebih sepi.
Lampu kota mulai berkurang, digantikan dengan jalanan yang lebih gelap dan tenang. Aku melihat keluar jendela, mencoba menebak ke mana kami pergi.
Sampai akhirnya—
Mobil berhenti di sebuah tempat yang cukup tinggi.
Aku turun perlahan.
Dan saat aku melihat ke depan—
Aku terdiam.
Pemandangan kota terbentang luas di bawah sana.
Lampu-lampu terlihat seperti bintang yang jatuh ke bumi.
Indah.
Sangat indah.
“Wow…” gumamku tanpa sadar.
Angin malam berhembus pelan, membuat rambutku sedikit berantakan.
Aku tidak peduli.
Mataku masih terpaku pada pemandangan itu.
“Aku dulu sering ke sini,” kata Adrian pelan.
Aku menoleh padanya.
“Kapan?”
“Saat ingin sendiri.”
Aku tidak langsung menjawab.
Ada sesuatu dalam nada suaranya… yang terasa sepi.
Aku perlahan berjalan mendekat, lalu berdiri di sampingnya.
“Sekarang?” tanyaku.
Dia menatap ke depan.
“Sekarang tidak sendiri.”
Deg.
Aku langsung diam.
Jantungku… lagi-lagi tidak bisa tenang.
Aku menggenggam ujung bajuku sendiri, mencoba menyembunyikan rasa gugup yang tiba-tiba datang.
Beberapa detik hanya diisi dengan suara angin.
Tenang.
Tapi… nyaman.
“Apa kamu masih memikirkan dia?” tanyaku tiba-tiba.
Aku bahkan tidak yakin kenapa aku menanyakan itu.
Tapi… nama itu terus ada di kepalaku.
Vanessa.
Adrian tidak langsung menjawab.
Dia hanya menatap ke arah kota.
Lama.
Lalu—
“Tidak seperti dulu.”
Jawaban itu… tidak sepenuhnya menghapus rasa tidak nyamanku.
Tapi cukup jujur untuk membuatku tidak bisa memaksa lebih jauh.
Aku mengangguk pelan.
“Aku juga tidak suka dia,” gumamku pelan.
Adrian sedikit menoleh.
“Kenapa?”
Aku menghela napas.
“Dia melihatku seperti… aku tidak pantas berada di sini.”
Aku menatap ke depan lagi.
“Seperti aku hanya orang yang kebetulan ada di hidupmu.”
Suasana kembali hening.
Aku pikir dia tidak akan menjawab.
Tapi—
“Kamu bukan kebetulan.”
Aku menoleh cepat.
Dia menatapku langsung sekarang.
Tatapannya serius.
Tidak ada ragu.
“Kamu memilih untuk bertahan,” lanjutnya pelan. “Dan itu… bukan sesuatu yang bisa dilakukan semua orang.”
Aku terdiam.
Kata-katanya… terasa berat.
Tapi juga hangat.
Aku tersenyum kecil.
“Kalau begitu… kamu juga harus bertahan,” kataku pelan.
“Untuk berjalan lagi.”
Dia sedikit terdiam.
Tangannya bergerak pelan di sandaran kursi rodanya.
Aku tahu…
Ini bukan hal yang mudah.
“Tadi…” aku ragu sejenak, lalu melanjutkan, “di pesta… aku melihat sesuatu.”
Dia langsung menegang sedikit.
Aku menggigit bibir.
“Aku melihat kamu berdiri.”
Hening.
Angin malam terasa lebih dingin sekarang.
Aku takut.
Takut dia marah.
Atau… menyangkal.
Tapi—
Dia tidak melakukan keduanya.
Dia hanya menutup mata sejenak.
Seolah… menerima kenyataan itu akhirnya terungkap.
“Kamu tidak salah lihat,” katanya pelan.
Aku menahan napas.
Jadi itu benar.
Bukan ilusi.
Bukan harapan kosong.
“Itu karena…” aku menatap kakinya, “pijatan?”
Dia membuka mata.
Menatapku.
“Sebagian.”
Aku sedikit membeku.
Sebagian?
“Dan sebagian lagi…” dia berhenti sejenak.
Tatapannya berubah.
Lebih dalam.
“Karena kamu.”
Deg.
Aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa sekarang.
Jantungku terasa seperti akan keluar.
Aku mengalihkan pandangan, tidak berani menatapnya terlalu lama.
“Jangan bilang begitu…” gumamku pelan.
“Kenapa?”
“Karena…” aku menarik napas, “aku jadi berharap terlalu banyak.”
Hening lagi.
Tapi kali ini… bukan hening yang canggung.
Lebih seperti…
Sesuatu yang sedang tumbuh.
Pelan.
Tanpa dipaksa.
“Apa itu buruk?” tanya Adrian.
Aku tersenyum kecil.
“Tidak.”
Aku menatap gelang di tanganku lagi.
Lalu ke arah kota.
“Selama kita tidak berhenti di tengah jalan.”
Adrian tidak langsung menjawab.
Tapi untuk pertama kalinya—
Aku melihat sesuatu di matanya.
Bukan hanya ketenangan.
Bukan hanya dingin.
Tapi…
Harapan.
Dan malam itu—
Di tempat yang jauh dari keramaian, jauh dari orang-orang yang ingin menjatuhkan kami—
Aku merasa…
Mungkin…
Kami benar-benar sedang berjalan ke arah yang sama.
Pelan.
Tapi pasti.
Angin malam masih berhembus lembut di tempat itu, membawa suasana yang sulit dijelaskan—tenang, tapi penuh sesuatu yang menggantung di antara kami.
Aku berdiri di samping Adrian, memandangi kota yang berkilauan di bawah sana. Tapi kali ini… pikiranku tidak lagi ke pemandangan itu.
Melainkan… ke kata-katanya barusan.
“Dan sebagian lagi… karena kamu.”
Kalimat itu terus terulang di kepalaku.
Aku menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri.
“Kalau begitu…” aku membuka suara pelan, “kita harus lebih serius.”
Adrian sedikit menoleh.
“Maksudmu?”
Aku berjongkok perlahan di depannya.
Tanganku menyentuh lututnya dengan hati-hati.
“Kakinya sudah mulai merespons… itu artinya kita tidak boleh setengah-setengah lagi.”
Tatapanku naik ke wajahnya.
“Boleh?”
Dia tidak langsung menjawab.
Hanya menatapku.
Dalam.
Seolah mencoba membaca sesuatu dariku.
Lalu—
Dia mengangguk pelan.
Aku tersenyum kecil.
“Sekarang?”
Dia mengangkat alis sedikit.
“Di sini?”
Aku ikut tersenyum.
“Kenapa tidak?”
Aku menggeser sedikit posisinya agar lebih nyaman, lalu mulai memijat perlahan seperti biasanya.
Gerakanku otomatis.
Terbiasa.
Setiap tekanan, setiap titik… seperti sudah terekam di tanganku.
Awalnya tidak ada reaksi.
Seperti biasa.
Tapi aku tidak berhenti.
Beberapa menit berlalu.
Angin malam, suara jauh kendaraan, dan… keheningan di antara kami menjadi latar dari momen itu.
“Alina.”
Aku menoleh.
“Iya?”
“Ada sensasi.”
Tanganku langsung berhenti.
Jantungku langsung berdegup kencang.
“Apa?”
Dia mengerutkan sedikit keningnya.
“Seperti… ditarik.”
Aku langsung kembali memijat, kali ini lebih fokus.
“Di bagian mana?”
Dia menunjuk pelan.
Aku mengikuti arah itu.
Menekan lebih dalam.
Dan—
Aku melihatnya.
Sangat kecil.
Tapi nyata.
Ototnya… bergerak.
Aku langsung menahan napas.
“Adrian… itu bergerak…”
Suaraku hampir bergetar.
Dia juga terlihat sedikit terkejut.
Untuk pertama kalinya—
Bukan hanya aku yang berharap.
Tapi dia juga melihatnya.
“Kamu lihat?” tanyanya pelan.
Aku langsung mengangguk cepat.
“Iya… iya aku lihat!”
Aku hampir tidak bisa menahan senyumku.
Rasanya seperti…
Semua usaha ini tidak sia-sia.
Aku melanjutkan pijatan dengan lebih hati-hati, lebih penuh perhatian.
“Coba… sedikit angkat,” kataku pelan.
Dia mencoba.
Butuh beberapa detik.
Terlihat sulit.
Sangat sulit.
Tapi—
Sedikit.
Sangat sedikit.
Kakinya… terangkat.
Aku langsung menutup mulutku dengan tangan.
Mataku terasa panas.
“Adrian…”
Dia terdiam.
Menatap kakinya sendiri.
Seolah tidak percaya.
Lalu perlahan—
Dia tertawa kecil.
Bukan tawa keras.
Tapi cukup untuk membuatku ikut tersenyum.
“Sudah lama… aku tidak merasakan ini.”
Aku menunduk.
Melanjutkan pijatan.
Tapi kali ini… tanganku sedikit gemetar.
Bukan karena lelah.
Tapi karena haru.
“Kita rahasiakan dulu ya,” kataku pelan.
Dia menoleh.
“Kenapa?”
“Aku tidak ingin… orang lain tahu sebelum benar-benar stabil.”
Aku menatapnya.
“Terutama mereka.”
Kami sama-sama tahu siapa yang kumaksud.
Vanessa.
Celine.
Orang-orang yang hanya menunggu celah.
Adrian mengangguk pelan.
“Baik.”
Aku tersenyum lega.
Aku berdiri kembali, lalu berjalan sedikit ke sampingnya.
“Kalau mereka tahu sekarang… mereka akan mencari cara untuk menjatuhkanmu lagi.”
Dia menatap ke depan.
“Dan kamu?”
Aku menoleh.
“Aku?”
“Kamu akan tetap di sini?”
Pertanyaan itu… sederhana.
Tapi entah kenapa terasa berat.
Aku tersenyum kecil.
“Bukannya aku sudah di sini dari awal?”
Dia terdiam.
Lalu menghela napas pelan.
“Benar.”
Suasana kembali tenang.
Tapi kali ini berbeda.
Lebih hangat.
Lebih… nyata.
Aku duduk di batu kecil di dekatnya.
Melihat ke arah langit.
“Adrian.”
“Hm?”
“Kamu takut?”
Dia tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu.
“Aku takut… berharap terlalu tinggi.”
Aku mengangguk pelan.
“Wajar.”
Aku menunduk melihat gelang di tanganku.
“Kita sama.”
Dia sedikit menoleh.
“Tapi…” aku tersenyum kecil, “lebih baik berharap… daripada tidak mencoba sama sekali.”
Angin malam berhembus lagi.
Membawa suasana yang terasa… baru.
Tidak lagi berat.
Tidak lagi penuh bayangan masa lalu.
Melainkan…
Langkah kecil menuju sesuatu yang lebih besar.
Adrian memandang ke arah kota.
Lalu—
“Kita mulai besok.”
Aku menoleh.
“Mulai?”
“Latihan lebih serius.”
Aku langsung tersenyum lebar.
“Deal.”
Untuk pertama kalinya—
Kami tidak hanya berjalan berdampingan.
Tapi… benar-benar menuju tujuan yang sama.
Dan malam itu—
Di bawah langit yang luas, dengan lampu kota sebagai saksi—
Kami membuat langkah kecil yang mungkin akan mengubah segalanya.
Tanpa sadar—
Aku menggenggam gelang di tanganku sedikit lebih erat.
Dan di dalam hati…
Aku tahu.
Perjalanan ini—
Baru saja dimulai.