Sejak kecil, Lolitta telah melewati begitu banyak penderitaan hidup. Berbagai masalah bahkan menyeretnya hingga ke penjara, menempa dirinya menjadi seorang gadis yang tangguh dan mandiri. Ia selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Meski bertunangan dengan pria kaya dan tampan, Lolitta tak pernah menjadi manja atau bergantung pada tunangannya.Di
balik ketegarannya, ia menyimpan luka yang hanya bisa ia tangisi dalam diam.
Dev Zhang, seorang konglomerat berpengaruh, menerima pertunangan itu hanya demi memenuhi permintaan sang kakek. Ia tak pernah menyadari bahwa gadis yang berdiri di sisinya telah mencintainya selama sepuluh tahun. Kedekatan Dev dengan cinta pertamanya membuat Lolitta memilih menjauh dan selalu menjaga jarak, mengubur perasaannya dalam diam.
Akankah Lolitta akhirnya berani mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam pada Dev Zhang?
Dan di antara Lolitta dan cinta pertamanya, siapakah yang benar-benar dicintai Dev?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Di sisi lain, Carmen berdiri di tepi pantai. Angin malam berhembus kencang, membuat rambutnya berkibar tidak beraturan.
Langkah kaki terdengar dari belakang.
Seorang pria mendekat dengan raut wajah tegang.
"Nona, rencana kita gagal. Dev Zhang tiba-tiba saja muncul, dan orang itu juga hilang begitu saja. Nomornya tidak bisa dihubungi sama sekali," lapornya hati-hati.
Carmen mengepalkan tangannya.
"Hanya menculik seorang wanita saja tidak becus," desisnya dingin tanpa menoleh.
Pria itu menunduk, tidak berani membalas.
Carmen akhirnya berbalik, wajahnya terlihat gelap oleh bayangan malam.
"Kau tahu betapa pentingnya rencana ini?" lanjutnya tajam. "Selama Lolitta masih ada, posisiku tidak akan pernah aman."
"Tapi Nona… Dev Zhang sudah mulai curiga. Kalau kita terus bergerak, bisa-bisa—"
"Cukup!" potong Carmen dengan suara tinggi.
Ia melangkah mendekat, menatap pria itu dengan dingin.
"Aku tidak peduli siapa Dev Zhang," ucapnya pelan namun penuh tekanan. "Selama dia masih memiliki perasaan padaku, dia tidak akan benar-benar menyakitiku."
Pria itu tampak ragu.
"Dan Lolitta?" tanyanya hati-hati.
Senyum tipis terukir di bibir Carmen—senyum yang penuh kelicikan.
"Kalau tidak bisa diculik, maka gunakan saja cara lain"
Malam hari.
Restoran
Ruang Vip itu tampak elegan dengan pencahayaan hangat dan suasana tenang. Lolitta duduk berhadapan dengan seorang pria yang baru saja menjalin kerja sama bisnis dengannya.
"Nona Fang, mengenai harga dan produk, saya sangat puas," ucap pria itu dengan senyum lebar. "Produk perusahaan kalian benar-benar tidak perlu diragukan lagi. Anda juga seorang manajer yang luar biasa."
Lolitta membalas dengan senyum profesional.
"Sebagai manajer, ini memang tanggung jawab saya untuk memberikan jaminan kepada Anda. Terima kasih karena telah datang," jawabnya tenang.
Mereka mengangkat gelas, bersulang ringan sebelum meneguk minuman hingga habis.
Beberapa saat kemudian, pria itu berdiri.
"Kalau begitu, saya pamit dulu. Masih ada urusan lain. Sampai jumpa di lain waktu!" ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Lolitta menjabat tangannya dengan sopan.
"Sampai jumpa."
Pria itu pun pergi, meninggalkan Lolitta sendirian di meja.
Namun baru saja ia hendak berdiri ... tubuhnya tiba-tiba terasa lemas.
Pandangan di depannya mulai berputar,"Ada apa denganku?" gumamnya pelan.
Kakinya kehilangan tenaga.
Bruk!
Tubuhnya ambruk ke lantai.
Lolitta berusaha mengangkat tubuhnya, namun tangannya gemetar. Nafasnya mulai tidak teratur, pandangannya semakin buram.
"Minumannya…" bisiknya lemah.
"Ada yang salah…"
Dengan sisa tenaga yang ada, ia merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel. Jarinya bergetar saat menekan tombol darurat nomor dua.
Layar menyala.
Panggilan terhubung.
"Hallo, Nona!" suara Ken terdengar dari seberang, terdengar waspada.
Lolitta berusaha menahan kesadarannya yang semakin menurun.
"Segera… datang…" suaranya melemah. "Minumanku… dicampur obat…"
Tangannya mencengkeram tepi meja, mencoba bangkit meski tubuhnya hampir tak bisa digerakkan lagi.
Suara pintu terbuka pelan, lalu kembali tertutup rapat.
Dua pria masuk ke dalam ruangan, tatapan mereka langsung tertuju pada Lolitta yang masih berusaha bertahan dengan tubuh lemas.
Lolitta menatap mereka dengan waspada, meski pandangannya mulai buram.
"Siapa kalian?" tanyanya, suaranya masih berusaha tegas.
Kedua pria itu saling melirik, lalu tersenyum licik.
"Lolitta Fang… hari ini kau harus patuh dan memuaskan kami," ucap salah satu dari mereka dengan nada menjijikkan.
"Sini adalah restoran," balas Lolitta dingin meski napasnya mulai berat. "Kalian berani menyentuhku… sama saja mencari mati."
Ia mencoba berdiri, tangannya bertumpu pada meja.
Namun tubuhnya tidak lagi mendukung.
Kedua pria itu langsung mendekat, salah satunya menarik lengannya dengan kasar.
"Tidak perlu bersikap sombong" katanya meremehkan. "Di sini tidak ada yang bisa membantumu. Di luar, teman kami sudah berjaga."
Cengkeraman itu semakin kuat.
"Siapa yang mengirim kalian?" tanya Lolitta, berusaha melepaskan diri.
Ia menepis tangan pria itu, namun tenaganya hampir habis.
Pria itu tertawa pelan.
"Siapa pun dia… tidak perlu kau tahu sekarang," katanya. "Setelah kami puas, baru kami beri tahu."
Ia semakin mendekat, napasnya terasa di wajah Lolitta.
"Jangan melawan lagi. Kalau kau patuh, kami bisa bermain dengan lembut."
Senyumnya semakin lebar.
"Minuman yang kau minum… sudah dicampur obat pelemah otot."
Salah satu pria langsung memeluk tubuh Lolitta dari belakang, menahannya.
Pria di depannya mendekat, berusaha mencium bibirnya.
Namun—
Lolitta memalingkan wajahnya dengan sisa tenaga yang ada.
Tangannya yang gemetar meraba meja—menemukan gelas kaca.
Tanpa ragu—
PRANG!
Ia menghantamkan gelas itu ke kepala pria di depannya.
Meski tubuhnya hampir tak bertenaga, Lolitta masih berusaha melawan.
Pria yang kepalanya terkena hantaman gelas mundur beberapa langkah sambil mengumpat kasar, tangannya menekan pelipis yang mulai berdarah.
"Brengsek! Kau cari mati!" bentaknya.
Sementara itu, pria lain masih mencengkeram tubuh Lolitta dari belakang. Meski tubuhnya lemas akibat obat, Lolitta tetap berusaha memberontak.
"LEPASKAN!" teriaknya, suaranya serak namun penuh perlawanan.
Ia menggerakkan kakinya, menendang tanpa arah, berusaha mengenai tubuh pria itu.
Salah satu tendangannya berhasil mengenai kaki pria tersebut.
"Ck!" pria itu meringis kesal.
Namun detik berikutnya—
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Lolitta.
Kepalanya terlempar ke samping. Pandangannya semakin berkunang-kunang, tubuhnya hampir tak mampu berdiri.
"Diam dan patuh saja!" bentak pria itu kasar. "Jangan membuat kami kesal!"
Lolitta terengah, napasnya tidak teratur. Bibirnya sedikit berdarah, namun matanya masih menyala penuh perlawanan.
Dengan sisa tenaga—ia kembali mendorong pria di depannya.
Meski lemah, ia tidak menyerah.
Sayangnya tubuhnya semakin kehilangan kendali.
Kakinya goyah dan hampir jatuh.
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰