NovelToon NovelToon
Asmara, Dibalik Kokpit

Asmara, Dibalik Kokpit

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Percintaan Konglomerat
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Ini adalah kisah tentang Asmara, seorang pramugari berusia 25 tahun yang meniti karirnya di atas awan, tiga tahun Asmara menjalin hubungan dengan Devanka, staf bandara yang karirnya menjejak bumi. Cinta mereka yang awalnya bagai melodi indah di terminal kedatangan kini hancur oleh perbedaan keyakinan dan restu orang tua Devanka yang tak kunjung datang. dan ketika Devanka lebih memilih dengan keputusan orangtuanya, Asmara harus merelakannya, dua tahun ia berjuang melupakan seorang Devanka, melepaskannya demi kedamaian hatinya, sampai pada akhirnya seseorang muncul sebagai pilot yang baru saja bergabung. Ryan Pratama seorang pilot muda tampan tapi berwajah dingin tak bersahabat.
banyak momen tak sengaja yang membuat Ryan menatap Asmara lebih lama..dan untuk pertama kali dalam hidupnya setelah sembuh dari rasa trauma, Ryan menaruh hati pada Asmara..tapi tak semudah itu untuk Ryan mendapatkan Asmara, akankan pada akhirnya mereka akan jatuh cinta ?

selamat membaca...semoga kalian suka yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 33

Asmara tertidur begitu saja di kursi penumpang, kepala miring ke arah jendela, napasnya halus dan teratur. Hujan tipis-tipis mulai turun, membuat kaca mobil dipenuhi titik-titik bening yang memecah pantulan cahaya kota.

Ryan sempat melirik ke arah gadis itu.

Pikirannya penuh.

Ia mengajak asmara ke Bandung… tanpa menjelaskan apa pun.

Tanpa menjelaskan alasan ia ingin menunjukkan tempat masa kecilnya.

Tanpa menjelaskan kenapa bagian hidupnya yang paling personal tiba-tiba ingin ia buka untuk seseorang.

Seseorang bernama Asmara.

Ryan menghela napas pelan, menurunkan kecepatan mobil.

Ada rasa hangat yang merayap, sekaligus takut.

Takut kalau asmara salah mengerti.

Takut kalau asmara… menolaknya lagi.

Tangan Ryan terulur, membenarkan selimut tipis yang ia ambil dari bangku belakang agar menutupi tubuh asmara. Gerakannya hati-hati, seolah takut membangunkannya.

“Kalau kamu tahu mau aku ajak ke mana… kamu pasti bakal nanya seribu kali,” gumam Ryan lirih, seolah berbicara pada angin.

Ia menatap wajah asmara yang tertidur tenang.

“Dan aku… belum siap jawabannya.”

Mobil melaju menembus jalanan panjang, meninggalkan Jakarta perlahan-lahan.

Jalan tol mulai lengang, lampu jalan memantul pada aspal basah.

Ryan memegang kemudi lebih erat.

Di dadanya, ada rasa asing.

Rasa yang sejak beberapa hari terakhir tak mau hilang.

“Aku cuma ingin kamu lihat,” katanya pelan, hampir berbisik, “tempat yang dulu bikin aku bertahan. Tempat pertama kali aku belajar mimpi… dan tempat aku berharap…”

Ia terhenti.

Ia menoleh lagi pada asmara yang masih terlelap, wajahnya damai.

“…tempat aku berharap menemukan sesuatu yang baru. Sama kamu.”

Namun asmara tidak mendengarnya.

Dan mungkin… itu lebih baik untuk saat ini.

Mobil terus melaju menuju Bandung.

Dan Ryan hanya bisa berharap, ketika asmara bangun nanti, dia tidak membencinya karena semua hal yang belum ia berani ungkapkan.

Setelah perjalanan hampir empat jam.

Ryan mematikan mesin mobil begitu memasuki halaman sebuah rumah tua yang masih tampak kokoh dan terawat. Lampu teras menyala redup, menerangi bangunan bergaya kolonial yang sederhana namun hangat, rumah masa kecilnya.

Hujan sudah berhenti, menyisakan udara Bandung yang lembap dan dingin menusuk kulit.

Ryan menoleh ke samping.

Asmara masih terlelap, tubuhnya sedikit meringkuk di bawah selimut tipis yang Ryan pasangkan tadi.

Perlahan, Ryan menyentuh bahunya.

“Mara…” suaranya lembut, hati-hati, “bangun dulu, kita sudah sampai.”

Asmara mengerjap pelan, matanya buram karena baru bangun.

“Hmm… udah sampai? Ini di mana…?” tanyanya setengah mengantuk.

Ryan membuka seatbelt-nya, lalu membantu membuka seatbelt asmara.

“Di Bandung,” jawabnya singkat. “Rumah… tempat aku dulu tinggal.”

Asmara langsung tersadar sepenuhnya. Ia duduk tegak, menatap rumah besar itu dengan bingung.

“Rumah siapa ?” Ia mengerutkan kening. “Kenapa kita ke sini ? Kenapa kamu nggak bilang dulu?”

Ryan hanya menatapnya dengan tenang, tapi ada sesuatu yang ia sembunyikan.

Cahaya matahari memantul di mata hitamnya yang terlihat lebih lembut dari biasanya.

“Aku mau kamu lihat sesuatu,” katanya akhirnya. “Ayo kita turun dulu.”

Asmara menggigit bibirnya. Ada rasa ragu. Bingung.

Sejak awal hubungan pura-pura mereka, ini pertama kalinya Ryan bertindak begitu… personal.

Ryan membuka pintu mobilnya lalu bergegas ke pintu asmara, membukanya sambil mengulurkan tangan.

“Ayo, Mara.”

Suara itu tak memaksa, tapi sulit ditolak.

Asmara menatap tangannya beberapa detik sebelum akhirnya menyambut. Tangan mereka bersentuhan, dingin asmara bertemu hangatnya telapak tangan Ryan.

Mereka berjalan menuju teras.

Angin Bandung berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan kenangan yang belum asmara mengerti.

Sesampainya di depan pintu, Ryan berhenti.

Ia menatap rumah itu, lalu menghela napas panjang.

“Ini…” ucap Ryan pelan, “Kamu masih ingat rumah ini ?”

Asmara menoleh, menatap Ryan yang hari itu terlihat jauh lebih rapuh daripada biasanya.

Asmara berdiri di depan rumah itu dengan perasaan campur aduk. Udara Bandung yang lembap setelah hujan membuat suasana semakin hening, seolah waktu ikut berhenti.

“Kita… beneran di lingkungan rumah kamu waktu kecil, tapi seperti nggak asing buat aku?” tanya asmara pelan, matanya menatap sekitar. Rumah-rumah tua yang familiar, jalan kecil yang dulu sering ia lewati… semuanya seperti memunculkan bayangan masa lalunya sendiri.

Ryan mengangguk. “Iya. tempat kni emang harusnya nggak asing buat kamu.”

Asmara menoleh cepat.

“Apa maksudnya?”

Ryan tidak langsung menjawab. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, ia mengeluarkan sebuah benda kecil yang tampak sudah tua namun terawat.

Gantungan kunci berbentuk pesawat berwarna silver yang sudah memudar, tapi bentuknya masih jelas. Beserta kertas kecil dengan tulisan tangan kecil, sedikit miring, khas anak-anak.

Asmara menatap benda itu, darahnya seperti berhenti mengalir.

Dia mengenali tulisan itu.

Astaga.

Itu tulisan dirinya.

“…Ry…” suaranya gemetar. “Ini… dari mana kamu dapat ini?”

Ryan mendekat satu langkah, membalik gantungan kunci itu dan menunjukkannya lebih jelas.

“Kamu yang kasih ini ke aku,” ucapnya pelan. “Dua puluh tahun yang lalu. Di halaman rumah sebelah sana.”

Asmara membeku.

Gambaran masa kecilnya berputar cepat:

dirinya yang kecil duduk di ayunan tua sambil menangis

seorang anak laki-laki yang selalu menghampirinya

yang diam-diam membawakan permen sambil menghiburnya

yang selalu bilang padanya kalau jangan takut lagi

yang diam-diam jadi satu-satunya teman saat ibu tirinya bersikap jahat

Asmara menutup mulutnya dengan tangan.

Tidak mungkin.

Tidak mungkin…

“…Jadi… kamu… anak laki-laki itu?” suaranya patah-patah.

Ryan menatapnya dengan mata yang lembut namun penuh emosi.

“Yes.”

Ia mengangguk kecil.

“Aku Ryan… anak laki-laki yang dulu kamu panggil ian karena kamu nggak bisa nyebut nama ‘Ryan’ dengan benar.”

Air mata asmara langsung jatuh, bukan karena sedih, tapi karena terlalu banyak kenangan yang menabrak hatinya sekaligus.

Ryan mengambil napas dalam, suaranya bergetar sedikit.

“Kamu pikir aku cuma nemuin kamu begitu aja di hidup aku sekarang? Mara… dari dulu aku nyari kamu. Aku nggak pernah lupa sama kamu. Bahkan gantungan kunci ini… aku simpan sampai sekarang.”

Asmara menggeleng tak percaya.

“Kenapa kamu nggak bilang dari dulu…”

Ryan menunduk sedikit, lalu menatapnya lagi.

“Karena kamu selalu terlihat takut, selalu ragu. Aku nggak mau kamu merasa terbebani sama masa lalu. Aku cuma… pengen kamu merasa aman dulu.”

Ia melangkah mendekat, menggenggam tangan asmara.

“Tapi malam ini… aku nggak bisa lagi pura-pura seolah hubungan kita cuma pura-pura.”

Suaranya rendah, dalam.

“Karena dari dulu… sampai sekarang… cuma kamu, di hati aku.”

Asmara menahan napas, hatinya berdetak keras, antara terkejut, tersentuh, dan tak percaya semua ini nyata.

Ryan memegang gantungan kunci itu di antara mereka.

“Ini… bukti kecil kalau Tuhan udah pertemukan kita dua kali. Dan aku nggak mau kehilangan kesempatan yang kedua.”

Asmara tidak mampu berkata apa-apa.

Air mata terus mengalir.

Namun kali ini, ia tidak menarik tangannya dari Ryan.

Dia hanya berdiri… membiarkan kebenaran masa lalu, dan perasaan yang selama ini ia tolak, akhirnya menemukan tempatnya.

Beberapa saat kemudian,

Asmara perlahan melepaskan pelukan Ryan. Dadanya masih sesak oleh emosi, namun kakinya bergerak sendiri… seperti ditarik oleh sesuatu dari masa kecil yang selama ini ia kubur.

“Aku… mau lihat sesuatu,” ucapnya pelan.

Ryan hanya mengangguk, membiarkannya berjalan pergi, sementara ia mengikuti dari belakang.

Asmara melangkah menuju sisi samping rumah, tempat yang dulu selalu menjadi pelariannya, ketika ia takut, sedih, dengan perlakuan ibu tirinya. Setiap langkah terasa seperti menembus waktu dua puluh tahun lalu.

Rumput di halaman samping itu sedikit tinggi, tapi taman masih terawat. Pohon besar tempat ayunan dulu tergantung pun masih berdiri kokoh.

Ketika asmara sampai di sana…

ia terdiam.

Ayunannya masih ada.

Sudah berkarat, tali tambangnya sudah diganti dengan yang baru beberapa tahun lalu, namun bentuk kayunya masih sama. Bekas goresan kecil yang dulu ia buat dengan batu masih terlihat samar.

Asmara menutup mulutnya.

Matanya berkaca-kaca lagi.

“Ya Tuhan…” bisiknya hampir tak terdengar.

Ia menyentuh ayunan itu dengan gemetar, seolah takut kalau benda itu hanya bayangan.

Begitu tangannya menyentuh kayu dingin itu, seketika kenangan menghantam:

— dirinya waktu kecil, menangis pelan supaya tidak terdengar oleh siapa pun

— suara ibu tirinya membentak dari dalam rumah

— dirinya berusaha menahan isak di ayunan itu

— dan seorang anak laki-laki datang dari halaman sebelah, membawa boneka kecil berbentuk pilot yang ia buat dari kain

Asmara memejamkan mata keras-keras.

Tiba-tiba Ryan berdiri di belakangnya, memeluk tubuhnya dengan pelan, suaranya berbisik lembut.

“Kamu masih ingat tempat ini?”

Asmara mengangguk perlahan, tanpa menoleh.

“Di sini…” suaranya serak, “di sini aku sering sembunyi waktu aku kecil. Di sini aku menangis… karena aku nggak punya siapa-siapa.”

Ryan semakin merekatkan pelukannya.

“Kamu nggak pernah sendirian,” ucap Ryan pelan. “Bahkan dulu… aku selalu ada di sini.”

Asmara membuka mata, menatap ayunan itu, lalu perlahan duduk di atasnya, seperti bertemu dirinya sendiri yang dulu.

Ayunan sedikit berderit.

Ryan menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca, antara sayang, sedih, dan marah pada masa lalu asmara.

Asmara menatap tanah, suaranya lirih.

“Aku pikir… semua ini cuma masa lalu yang nggak akan pernah balik.”

Ia menarik napas panjang.

“Tapi sekarang aku bingung, Ry… kenapa kamu bawa aku ke sini? Apa kamu mau aku ingat semuanya?”

Ryan menghela napas, mendekat perlahan dan berlutut di depannya, menatap asmara yang duduk di ayunan.

“Aku nggak mau kamu ingat masa sedihnya,” katanya.

“Aku cuma mau kamu ingat… kalau kamu pernah punya seseorang di masa lalu yang sayang sama kamu. Dan ternyata orang itu masih ada sampai sekarang.”

Asmara menatap Ryan, tak mampu berkata apa-apa.

Angin Bandung bertiup pelan, menggerakkan ayunan itu sedikit… seolah masa lalu dan masa kini bertemu di satu titik yang sama.

Bersambung....

1
Siti Naimah
Clarissa betul2 perempuan stress 🤣
Ika Yeni
kak ceritaa nya bagusss, + bonus visual jugaa , semangat up nyaa kak😍
Yenova Kudus
karyamu bagus kak ..lanjut ya.....
Priyatin
👍
mamah fitri
jalan ceritanya mudah dimengerti dan feel good aja membaca karya ini
mamah fitri
maafkan baca ini pake nabung bab.. tp krn baru tau judulnya dan ternyata isinya sebagus itu .. semangat terus author 😍😍😍
Marini Suhendar
Ekhem.....
Siti Naimah
semoga lancar hubungan Ryan dan asmara
Siti Naimah
mantab banget visual nya.sesuai dengan isi cerita nya 😄
Siti Naimah
asmara..kamu jangan terlalu keras kepala deh.ingat keselamatanmu itu Ter ancam banyak yg ngincar dan gak suka denganmu.walopun sebenarnya kamu gak salah apa2...ingat juga orang tuamu juga gak peduli sama kamu gitu lho ..
Siti Naimah
oh ternyata asmara dulunya teman masa kecil Ryan ta?wah kenangannya masih ada Ryan simpan.jika kayak gini keadaan nya masihkah asmara tidak mau menerima Ryan?🤣
Siti Naimah
devanka betul2 telah kehilangan akal sehat.dia lupa namanya area bandara jelas lengkap alat keamanan nya.misal cctv...
Siti Naimah
walah...kok jadi pada gak suka ya sama hubungan Ryan dan asmara?
kan sama2 masih singgel?moga2 aja yg pada ngiri akan dapat balesan
Siti Naimah
mula2 hanya pura2...semoga berkembang jadi betulan 😄
Siti Naimah
gak kebayang..betapa tersiksanya hati Ryan menghadapi situasi seperti itu..
Siti Naimah
kenapa sih Ryan kok mau menjadikan asmara pacar pura2...mbok betulan gitu lho🤭
Siti Naimah
pikirkan baik2 Asmara.. kesempatan gak datang duakali
Siti Naimah
jadi ruwet gitu ya...perkara yang dihadapi asmara? padahal dia gak salah apa2...ini semua ulah devanka
mantan kekasihnya yg masih Ter obsesi sama Asmara
Siti Naimah
bagus..asmara punya prinsip hidup yg kuat.berusaha untuk tidak mengulang kepahitan yang sama
Siti Naimah
menyimak dulu...kelihatannya bakal seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!