Takdir membawanya menikah dengan pengusaha dingin, berawal menjadi pacar bohongan akhirnya harus menikah di usia 18 tahun.
Cobaan menerpa rumah tangganya,saat melihat langsung apa yang di lakukan suami dengan sekretarisnya. "Apa yang mereka lakukan? kenapa rasanya sesakit ini? apa Mas Alek benar-benar selingkuh, Astagfirullah bagaimana ini, di saat ada nyawa lain di rahimku."
Happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aa zigant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 33
Di kediaman Alek.
“Sayang ayo bangun sudah pagi, nanti terlambat,” kata Khansa sambil berteriak dari ruang makan.
Alek yang mendengar teriakan istrinya hanya mendengus kesal, tapi tak lama Alek bangun, langsung membersihkan diri di kamar mandi.
Setelah siap Alek langsung mencari istrinya.
“Sayang dimana sih?” Alek mencari istrinya di setiap ruangan tapi tidak juga ditemukan.
Khansa yang mendengar suara Alek langsung masuk ke dalam rumah dengan buru-buru.
“Ada apa si Mas? Kok teriak-teriak sudah seperti di hutan saja!” jawab Khansa kesal.
Alek terkekeh melihat istrinya yang menurutnya sekarang jadi sering marah-marah.
“Yank tadi kamu juga teriakin aku juga, kenapa si sekarang jadi sering marah-marah lagi pms ya?” goda Alek ke istrinya.
Khansa terdiam memikirkan sesuatu? Tak mungkin kan aku hamil, aku juga lupa kapan terakhir dapat, Batin Khansa.
“Mas aku lupa kapan terakhir aku datang bulan, tapi kalau hamil harusnya kan aku mual dan pusing tapi ini aku tidak merasakan apa-apa?” Keluh Khansa merasa kecewa.
Alek sebenarnya juga kecewa karena setelah dua bulan pernikahannya, Khansa belum juga hamil, Alek tidak ingin istrinya tau kalau sebenarnya dia kecewa juga.
“Sayang jangan sedih dong kita bisa bikin lagi terus berusaha, lagian kita baru sekitar dua bulan lebih menikah yank, harus lebih sabar, banyak juga di luar sana menikah bertahun-tahun belum mendapatkannya.” Kata Alek sambil memeluk istrinya dengan sayang.
“Terimakasih ya Mas mau bersabar denganku,” Ungkap Khansa dengan membalas pelukan Alek.
“Ia yank jangan marah-marah lagi ya, aku to sedih kalau kamu marah-marah sama aku,” Kata Alek sambil menarik hidung Khansa gemes.
“Maaf ya sudah bikin mas kesel,” kata Khansa dengan manja. Setelah itu Alek dan Khansa berjalan ke arah meja makan untuk sarapan bersama.
“Yank kok tidak ikut sarapan?” Alek merasa heran melihat istrinya hanya minum kopi hitam.
“Aku ingin banget kopi hitam dari tadi.” Khansa tersenyum menatap Alek. Alek menautkan alisnya, sejak kapan istrinya minum kopi hitam biasanya hanya minum the hijau.
“Yank kamu kok agak aneh sih, sejak kapan suka kopi hitam?” Alek menatap istrinya.
“Mas kenapa si cerewet sekali ,” kata Khansa dengan kesal lalu beranjak dari meja makan berjalan menuju kamar dan menutup pintu dengan kasar.
“Astagfirullah,” Kata Alek dengan terkejut.
Alek yang merasa ada yang tidak beres langsung berjalan ke arah kamar, Alek membuka pintu kamar pelan-pelan di lihatnya istrinya duduk dilantai membenamkan kepalanya di lutut sambil terisak.
Ya Allah kok malah menangis bakalan terlambat lagi ini ngantornya, batin Alek.
Alek berlahan mendekati Khansa dan duduk disamping istrinya.
“Yank kenapa? Maaf kalau mas banyak tanya tadi.” Kata Alek mencoba menenangkan istrinya.
Khansa makin terisak tangisnya, saat merasakan badannya di peluk Alek.
“Mas kenapa si? Khansa hanya ambil kopi hitam Mas dikit aja sudah marah-marah banyak bertanya lagi,” kata Khansa sambil menatap Alek dengan sinis. Alek langsung membulatkan matanya mendengar kata-kata Khansa.
“Ya ampun yank siapa yang marah? Mas enggak papa kalau istri mas ini ingin minum kopi, mas hanya heran saja tadi makanya Mas tanya?
Jangan nangis lagi ya atau mau ikut Mas ke kantor biar tidak bosan." ucap Alek, Khansa menatap Alek sambil tersenyum.
“Boleh ya Mas Khansa ikut?” ungkap Khansa dengan senang. Alek menatap istrinya dan mencium kening Khansa .
“Ia boleh sayang, biar Mas makin semangat kerjanya,” Jawab Alek sambil mengacak rambut Khansa.
Alek menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan pelan-pelan, kenapa istrinya sekarang sensitif dan mudah marah-marah.
Setelah Khansa selesai bersiap langsung pergi ikut suaminya ke kantor. Setelah tiga puluh menit mobil yang di ke mudikan Alek sampai kantor, setelah parkir Alek langsung keluar dari mobil begitu juga Khansa. Alek menggenggam tangan Khansa, jalan beriringan memasuki kantor langsung menuju ke ruang kerja Alek.
“Yank nanti aku ada meeting, kamu tunggu di sini saja ya?” kata Alek sambil menghidupkan komputer di mejanya.
“Ia Mas.” Jawab Khansa sambil menjatuhkan badannya di sofa ruangan Alek.
Tak lama terdengar ketukan pintu.
Tok…. Tok….. tok…. ( anggap saja bunyi pintu yang diketok ya)
“Masuk.” Alek menatap siapa yang datang sambil mengerutkan dahinya.
“Pagi ….sombong amat!!!! Sekarang Mas bro,” tanpa di suruh langsung duduk di sofa depan Khansa.
“Hai…. Cantik,” Godanya ke Khansa.
Khansa menjadi risi karena ditatap menggoda seperti itu, Alek yang baru ingat siapa yang datang langsung berdiri dari kursi kebesarannya berjalan ke arah sofa dan duduk disamping Khansa.
“Mau ngapain lo kemari?” tanya Alek kepada pria yang baru datang tadi.
“Rileks brother, gue baru datang bukannya disambut malah di jutekin!” ungkapnya kesal.
Yang baru datang adalah Raka abang nya Reno yang sama-sama play boy. Alek yang tau betul sipak terjang dari Raka seorang pengusaha Garment dari kota Surabaya.
“Tumben lo datang tidak kasih kabar?” kata Alek sambil menatap Raka.
“Ia maaf brother, gue lupa,” Jawab Raka sambil terkekeh, tapi matanya tetap fokus ke arah Khansa. Alek yang baru menyadari kalau Raka menatap istrinya sedari tadi.
“Mau gue colok mata lo!!!” dengus Alek sambil menatap tajam ke Raka. Raka yang melihat Alek geram hanya tertawa.
“Siapa dia brother?” tanya Raka sambil mengedipkan matanya ke Khansa.
Khansa makin risi hanya menunduk enggan menatap pria yang duduk di depannya.
Alek makin kesal langsung melempar bantal sofa ke arah Raka, Raka langsung menangkap bantal sofa sebelum mengenai mukanya.
“Kenalkan ini Khansa bini gue.” Jawab Alek sambil tersenyum menatap istrinya.
“What? Serius lo bro! bukannya lo sama Sarah?” tanya Raka sambil terkejut.
“Gue sudah putus sama Sarah,” jawab Alek menatap Raka dengan jengah. Raka heran bukankah dulu Alek sanggat mencintai Sarah.
“Sepertinya gue banyak ketinggalan berita .” ucap Raka sambil menatap Alek sambil geleng-geleng kepala.
“Lo kan sibuk, jarang kemari.” Jawab Alek.
“Reno juga enggak pernah cerita selama ini ke gue, jadi sekarang Sarah sendiri bro, bisa tebar pesona gue ke Sarah.” Kata Raka sambil senyum-senyum membayangkan Sarah.
“Yakin lo? Sarah sudah menikah sama Gio.” Kata Alek
“Wah Gio cepat juga Geraknya, kenapa lo putus nggak kasih tau gue bro? tega lo sama gue!” jawab Raka menatap kesal kepada Alek.
Alek mulai kesal juga mendengar Raka menyalahkan dirinya. Khansa hanya senyum melihat suaminya yang berdebat dengan Raka.
“Mas, Aku ingin makan bakso mercon, Boleh ya?” Khansa menatap suaminya sambil menangkupkan kedua tangan di dada. Alek menatap istrinya heran, tidak seperti biasanya Khansa minta makan bakso.
“Yank tapi ini masih pagi,” Alek membelai kepala Khansa yang tertutupi jilbab.
Tak lama Khansa menunduk diam tidak menjawab apa-apa, Alek melihat istrinya terdiam jadi terkejut saat terdengar isak tangas Khansa.
Raka juga menatap sepasang suami istri yang menurutnya Aneh,
“Ya ampun kok jadi nangis si bro bini lo?” kata Raka saat melihat air mata jatuh ke tangan Khansa.
Alek duduk bersimpuh di depan Khansa di angkatnya dagu Khansa, ditatap nya mata Khansa dengan penuh sayang.
“Yank kok jadi nangis, nanti sore ya pulang dari kantor baru makan baksonya?” Alek mencoba bersabar menanggapi istrinya yang sekarang sanggat sensitif. Khansa makin terisak tangisnya seperti anak umur lima tahun yang minta dibelikan mainan.
“Aku mau sekarang mas..hue….hue….hue…hue…” Tangis Khansa langsung pecah. Alek langsung panik lihat istrinya baru sekali ini seperti ini.
“cup…cup….cup… yank jangan nangis dong, ia makan baksonya sekarang ya.” Jawab Alek sangat frustasi melihat istrinya.
Alek langsung mengambil ponselnya dan menelpon Reno, tak lama Reno datang tanpa ketok pintu langsung masuk, Reno terkejut melihat ada Raka di dalam ruangan Alek, apa lagi lihat Khansa masih menangis.
“Ada bisa saya bantu Pak?” kata Reno tetap profesional kalau masalah kerjaan walau Alek adalah sahabatnya. Alek menatap istrinya yang masih sesenggukan akibat menangis tadi.
“Ren lo pimpin Rapat hari ini, gue mau antar bini gue cari bakso mercon,” Ungkap Alek menjelaskan kepada Reno selaku Asistennya.
Reno menaikkan alisnya menatap Alek, Alek yang tau kalau asistennya itu merasa ke beratan memimpin rapat hari ini, karena ini rapat bulanan sesama pemegang saham.
“Gue minta tolong bro,” kata Alek.
“Sa lo serius mau makan bakso? Ini masih pagi sa nanti lo sakit perut,” Reno menatap Khansa yang masih terisak.
“Kak tapi Khansa maunya sekarang,” jawab Khansa memelas.
“Lo ngidam sa?” tanya Reno penasaran.
Alek terkejut mendengar pertanyaan Reno ke Khansa, kenapa Alek tidak terpikir olehnya, bukannya semalam Khansa bilang lupa kapan terakhir datang bulan. Khansa menatap Reno, Alek bergantian.
“Enggak tau kak, tapi Khansa enggak mual,” Jawab Khansa polos. Alek tersenyum menatap istrinya yang menjawab pertanyaan Reno dengan polosnya.
“Ya sudah yank ayo kita cari bakso, tapi siap makan bakso kita ke rumah sakit ya cek up,” Alek menarik tangan Khansa dengan lembut supaya berdiri mengikutinya.
Setelah kepergian Alek dan Khansa, Reno menatap abang nya yang juga menatap dirinya.
“Adik durhaka lo! Bukannya tanya kabar gue malah melototin gue.” Raka mendengus kesal melihat adiknya hanya menatapnya.
“Kenapa enggak kasih kabar kalau mau ke sini?” jawab Reno sambil duduk di sofa depan Raka.
Raka menatap Adiknya yang selalu menghindari bila ditelpon mamanya.
“Lo kenapa enggak pernah angkat telpon Mama?” tanya Raka ke adiknya.
“Mama selalu suruh gue pulang, lo tau kan gue malas kerja di perusahan Papa,” Jawab Reno
Raka berdiri mendatangi Reno dan duduk disamping Adiknya yang sanggat di rindukan Mamanya itu, gue harap lo pulang.
kalau lo masih menganggap Mama ada, setelah mengatakan itu Raka keluar dari ruangan Alek.
Reno masih diam mematung mendengar kata-kata Raka, Ada rasa nyeri di hatinya kalau mengingat bagaimana dulu Mamanya yang lebih mengutamakan Raka abangnya dari segi pendidikan dan lainnya.
Bersambung ya…
karna lama enggak up as kasih bonus sampai 1500 karakter lebih ya 😘😘😘😘