Ahimsa Radeya Sanjaya adalah kandidat Presdir dari kerajaan bisnis milik kakeknya. Salah satu syarat yang harus dia penuhi sebelum menjadi seorang Presdir pilihan adalah menikahi perempuan pilihan kakeknya. Sevim Zehra Mahveen adalah perempuan yang harus dia nikahi.
Awalnya Ahimsa menyetujui syarat tersebut hanya untuk mendapatkan posisi sebagai Presdir. Namun, akhirnya dia jatuh cinta kepada Sevim. Sayangnya, meskipun saling mencintai, tapi mereka seringkali dibuat salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pp_poethree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sengaja
"Aa'.. kita nggak apa-apa pindah sekarang? mami sama Na aja masih di rumah sakit..",
"Nggak apa-apa.., kita kan cuma pindah aja. Besok bisa tetep jenguk mami sama Na...",
"Sevim nggak enak Aa'..",
"Nurut sama Aa'..",
"Iya nurut..",
"Seharusnya besok kita pergi honeymoon.., tapi nggak jadi karena Mami sama Na lagi sakit...",
"Nggak perlu honeymoon.., di Apartment juga bisa..",gumam Sevim.
"Apa?", tanya Himsa.
"Iya nggak perlu honeymoon.."
"Lanjutannya, apa tadi?",
"Apa Aa'..? Sevim cuma bilang gitu aja kok.."
"Nggak..nggak.., tadi ada lanjutannya.."
"Di Apartement aja..",
"Oh.., kamu mau tempat beda gitu?",
"Apanya?"
"Pura-pura nggak tau..",
"Aa'.., bantuin dong..berat kopernya..",
Memutuskan secepat mungkin untuk pergi dari kediaman orang tuanya. Suasana sedang tidak kondusif, sudah pasti akan ada ketegangan antara papi dan maminya. Belum lagi, Hyana. Jika Hyana tahu kalau sebenarnya Harsa adalah putra kandung dari papinya, bagaimana reaksinya.
Sevim yang baru pertama kali masuk ke dalam Apartement Himsa, tampak melihat-lihat satu demi satu barang-barang yang ada disana. Sebuah Apartement bergaya klasik modern yang mampu membuat matanya takjub. Ahimsa ternyata mempunyai jiwa seni yang cukup kuat. Terlihat dari pemilihan barang-barang unik dan terlihat sangat indah.
"Kalo ada barang yang nggak kamu suka, simpan aja, kalo perlu buang...",
"Nggak.., Sevim suka kok Aa'..",
"Kamu mau pake maid nggak?",
"Maid? buat apa?",
"Nyiapin semua kebutuhan kita..,kayak di rumah papi mami..",
"Apartment kan nggak seluas rumah Aa'.., Sevim bisa kok bersihin sendiri...",
"Pake Maid aja ya? ",
"Nggak perlu...",
"Aa' tau kamu nggak terbiasa masak, nyuci, bersih-bersih..., iya kan? sebelum punya suami, kamu dijadiin ratu sama papa mama kamu, masa iya sekarang udah nikah malah disuruh bersih-bersih..?",
" Nggak perlu Aa'.., Sevim bisa kok..",
"Gini aja.., maidnya datang kalo pagi, terus sorenya pulang, jadi nggak ada yang nginep sini.., oke? sip...deal...",
"Hehe apaan sih, orang Sevim belum setuju, main deal gitu aja..",
"Nurut sama suami..",
"Iya nurut...",
Nengokin mami sama Na yok..?",
"Nggak perlu.., besok aja. Sekarang istirahat..",
"Belum ngantuk Aa'..",
"Ya udah, beresin pakaian yang ada di dalam koper, masukin ke lemari..",
"Bantuin...",
"Ternyata kamu manja ya, kirain cuma jutek aja..",
"Sevim nggak akan jutek kalo Aa' nggak bikin kesel..",
"Mana pernah sih Aa' bikin kesel..",
"Nggak nyadar...",
"Nggak pernah Se..",
"Iya..iya..nggak pernah..",
"Kok jutek...? jadi tambah cantik..",
"Hmm.., ngerayu..", ucap Sevim dengan tersenyum sipu.
"Aa' mau ngasih sesuatu buat kamu.., tunggu..",
Ahimsa beranjak dari posisi awal ya yang duduk di samping Sevim. Ahimsa membuka kopernya lalu mengambil tas kecil miliknya.
"Se.., buat kamu..", ucapnya dengan menyodorkan benda kecil tipis berbentuk persegi panjang.
"Kartu? buat Sevim? buat apa?",
"Buat kamu.., uang bulanan dari Aa'.., buat kebutuhan kita sehari-hari.., buat beli skincare,body care, perawatan, beli barang-barang yang kamu suka...",
Sevim tersenyum, sekilas tersirat keharuan yang terlihat dari matanya.
"Boleh beli yang mahal-mahal?", tanyanya menggoda.
"Boleh.., semau kamu...",
"Ini saldonya ada berapa?",
"Kamu matre ya ternyata Se..",
"Loh..iya.., Aa' kira Sevim mau nikah sama Aa' karena apa? ya karena money..", ucapnya dengan tertawa.
"Aa' nggak inget isinya berapa.., tapi banyak Se.., ini juga kamu pegang aja..",
Ahimsa memberikan sebuah credit card platinum miliknya pada Sevim.
"Nggak usah Aa'.., ini udah cukup kok.., nanti kalo habis, isi lagi ya..",
"Iya..., keluar yok? kalo di dalam kamar, Aa' bawaannya pengen eksekusi kamu terus..",
Sevim melotot. Secepat kilat dia langsung berdiri, dan menyimpan kartu yang diberikan kepadanya ke dalam tas miliknya.
"Heh.., tunggu Aa'...",
Tidak sedikitpun menoleh, Sevim keluar kamar meninggalkan suaminya yang tampak gemas dengan tingkahnya.
"Aa' mau makan apa?",
"Apa aja.., kamu mau masak? kan nggak ada bahan makanan.., belanjanya besok aja ya? Aa' temenin..",
"Mau pesan delivery order aja Aa'..",
"Oke..",
"Kok oke..? Aa' mau makan apa? biar Sevim pesenin..",
"Hmmm.., apa aja terserah kamu..",
"Beneran ya.., Sevim pesenin, tapi nanti harus dimakan..",
"Iya..pasti dimakan..",
Sevim sibuk dengan layar ponselnya, memesankan makan malam untuk dirinya dan suaminya.
"Se..",
"Hmmmm..", jawabnya tanpa melihat ke arah suaminya bicara.
"Itu kaos nya Aa' kan yang kamu pake?",
"Hehe iya.., maaf nggak minta izin. Abisnya lucu gambarnya..",
"Lucu gimana, gambar tengkorak gitu dibilang lucu..",
"Hehe lucu lah, masa ada tengkorak pake lipstik..",
"Iya sih bener juga..",
"Kenapa? Aa' nggak suka kaosnya dipake sama Sevim..?"
"Suka.., tapi lebih suka kalo kamu nggak pake apa-apa..",
"Halah...",
"Aa' baru kali ini liat kamu pake kaos.., celana pendek kayak gini.., kalo di rumah nggak pernah..",
"Kalo di rumah kan ada papi, ada bang Harsa.., ada maid juga.., masa iya pake ginian..",
"Jadi yang boleh liat cuma Aa ya Se..",
"Bisa dibilang gitu..",
"Makasih...",
Bel Apartement berbunyi, padahal baru 10 menit yang lalu Sevim memesan makanan yang katanya akan diantar 30 menit kemudian.
"Kok cepet banget ya Aa'...",
"Biar Aa' yang kedepan..",
"Makasih.., udah Sevim bayar Aa'.., tinggal ambil aja. Sevim siapin piring dulu ya..",
Ahimsa ke depan berniat mengambil makanan menu makan malam mereka. Bukannya mas atau bapak kurir yang datang, tapi ternyata si ulet bulu.
"Halo Beb..., long time no see..",
"Ros.., kok tau aku ada di sini..",
"Tadi aku ke rumah.., katanya kamu udah pindah disini..",
"Ros.., mending kamu pulang deh..",
"Kenapa sih beb..., hmmm..padahal aku kesini mau ngasih kado buat pernikahan kalian..",
"Aa'..., kok lama? ada a-apa ssih..",
Sevim menurunkan volumenya bicara ketika melihat Rosy.
"Halo.., wah..yang udah resmi jadi istri pacar aku..",
"Ros.., jaga mulut kamu..",
"Beb.., aku tamu loh disini.., niat aku baik..",
Rosy nyelonong masuk ke dalam, meskipun tidak dipersilahkan.
"Ros...",
"Udah Aa' biarin aja..",
Dasar tamu tidak tahu diri. Belum juga dipersilahkan tapi dengan santainya dia langsung duduk di Sofa.
"Nama kamu siapa? hmmm.., Se...Vim. Oh iya Sevim.., nih aku punya hadiah buat kamu..",
"Makasih..", ucap Sevim dengan menerima kado yang diberikan Rosy untuknya.
"Kamu nggak penasaran, isinya apa?",
"Penasaran sih, berat banget. Isinya emas berapa kilo?", tanya Sevim sarkas.
"Buka aja..",
"Boleh emangnya?",
"Boleh dong ayo buka..",
Dengan tidak sabaran, Sevim membuka kado yang diberikan oleh Rosy, tanpa bantuan gunting atau sejenisnya. Sevim mengandalkan kekuatan tangannya.
"Tet tetet tetet....., Tara..., seperangkat alat masak...",ucap Rosy dengan antusias.
Entah apa maksud Rosy memberinya kado seperti ini.
"Kalo istri Ahimsa aku.., udah pasti aku nggak perlu masak.., Himsa pasti bakal memperlakukan aku kayak ratu.., tapi berhubung istrinya itu kamu, ya..pasti kamu tiap hari harus repot-repot masak.., nyapu, nyuci, ngepel.., iya kan?",
"Kok kamu tau? padahal besok aku rencananya mau belanja sama Aa', beli peralatan masak, dapur .., semuanya. Tapi, karena udah dikasih sama kamu, ya mending uangnya aku buat perawatan aja.., biar wajah aku glowing, kulitnya mulus, jadi Aa' tambah betah sama istrinya. Iya kan Aa'?",
"Iya cantik...",
"Oh iya..kamu kan tamu ya.., aku buatin minum dulu. Ini kadonya aku bawa ke belakang sekalian ya Ros..",pamit Sevim.
Wajah Ahimsa sudah memerah menahan amarahnya ketika Rosy mencoba mempermainkan Sevim. Untungnya, Sevim tidak menganggap serius ucapan Rosy barusan.
"Kamu pikir Sevim itu pembantu? ngepel, nyuci, nyetrika? maksud kamu gitu ya..?",
"Beb..udah ngapain aja sama dia..",
"Harus aku ceritain..?",
"Kalian udah M*L..?",
"Udah.., kenapa? ",
"Beb.., kamu tega ya..",
"Kamu cuma mau ngasih kado aja kan? sekarang pergi dari sini..",
"Nggak..!!!",
"Sekali lagi kami ngomong macam-macam sama Sevim, tanggung sendiri akibatnya..",
Sevim kembali ke depan, membawa sebuah nampan dengan dua buah cangkir di atasnya. Satunya di letakkan di depan Rosy, dan yang satu dia letakkan di depan Ahimsa.
"Silahkan, minumnya..",
Sesaat setelah meletakkannya, Sevim dengan santainya duduk di samping Rosy. Meraih remote TV lalu menyalakannya. Ahimsa memandang istrinya dengan wajah datar sekaligus bertanya-tanya. Apa yang ada dipikiran Sevim saat ini?
"Ros.., silahkan diminum...",
"Boleh nggak aku tukeran minuman sama Himsa?",
"Kamu takut aku naruh racun di dalam situ? tenang aja nggak..., itu Aa' minum kopi..,kamu mau?",
"Hmmm...nggak...",
"Ya udah.., minum aja teh yang aku buatin..",
"Makasih..",
"Kamu udah baik ngasih aku kado loh, ini tehnya sebagai ucapan terima kasih buat kamu..",
"Nggak makasih..",
"Kamu takut aku ngasih racun? iya? ya udah aku minum nih...",
Sevim meniup teh hangat yang sebenarnya dia buat untuk Rosy. Tapi, untuk membuktikan teh yang dibuatnya tidak mengandung racun seperti yang Rosy takutkan. Akhirnya, Sevim meminumnya.
Bbbbbbbbyuuuuurrrrrrrr.....
Sevim menyemprotkan teh yang diminumnya tepat ke arah sampingnya, mengenai wajah Rosy.
"Aaaaaaaaaaa...........",Rosy berteriak histeris, karena mukanya basah oleh semburan Sevim.
"Maaf-maaf...",
"Kamu sengaja ya...",
"Nggak kok..nggak ..", ucap Sevim dengan menahan tawanya. Dia menyodorkan sekotak tissue pada Rosy.
"Kamu Mbah dukun? nyembur orang seenaknya aja...",
"Nggak..., aku manusia biasa...",
"Tuh kan..aku basah....",
"Aku nggak punya baju yang ukurannya mini kayak yang kamu pake.., mending kamu pulang deh...",
"Sengaja ya kamu..",
"Enggak kok..enggak...",
Sevim tertawa puas melihat rivalnya kalah. Sebenarnya ingin mengalah dan tidak mau meladeni Rosy, tapi otaknya tadi spontan mempunyai ide untuk memberi pelajaran pada Rosy.
"Biar tau rasa....!!!",
"Emang sengaja?",
"Iya. , teh yang aku minum tuh asin banget.., makanya aku semburin...",
"Kamu belum bisa bedain gula sama garam...?",
"Bisa..emang Sevim sengaja..,
Sevim mau tidur.., Aa' makan sendiri aja makanannya..",
"Kamu ngambek?",
"Nggak...",
Sevim masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu keras.
semoga ad kelanjutan season 2nya
Selamat ya Sevim untuk kelahiran baby girl