Cinta memang gila, bahkan aku berani menikahi seorang wanita yang dianggap sebagai malaikat maut bagi setiap lelaki yang menikahinya, aku tak peduli karena aku percaya jika maut ada di tangan Tuhan. Menurut kalian apa aku akan mati setelah menikahi Marni sama seperti suami Marni sebelumnya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. De Javu
Flashback
Marni menangis tersedu-sedu saat melihat Aryo terbujur kaku di lantai. Tak ada luka apapun di tubuhnya hanya saja kulitnya berubah membiru seperti terkena bisa.
Ajeng menghamparinya dengan sinis. Sambil menahan tangis Ajeng memaki Marni.
"Sekarang kamu tahu kan kenapa semua orang menjauhi mu, kamu itu iblis, siapapun yang dekat denganmu pasti akan mati. Ibu, bapak, dan sekarang suamimu, besok siapa lagi.... Aku!" pekik Ajeng melotot kearahnya.
Marni hanya tertunduk. Ia terus menangis tersedu-sedu disamping jenazah Aryo. Sementara Ajeng terus menyalahkannya.
Para warga yang melayat begitu terkejut saat mengetahui kondisi mayat Aryo. Mereka mulai menggunjingkan tentang Marni, dan mengaitkannya dengan kematian ayah dan ibunya yang memiliki ciri-ciri yang sama. Provokasi dari Ajeng membuat para warga pun sepakat untuk mengusir perempuan itu karena dianggap sebagai pembawa petaka.
Bila biasanya Ajeng selalu membelanya tapi tidak kali ini. Rasa dendamnya membuat ia membiarkan sang adik pergi meninggalkannya pergi meninggalkannya.
Marni berjalan gontai meninggalkan kampung halamannya. Tak ada tempat tujuan kecuali kediaman sang nenek. Hujan mulai turun membasahi bumi yang gersang karena musim kemarau. Angin berhembus kencang disertai petir yang menyambar.
Marni berdiri termangu di depan pintu. Purwani berlari keluar menghampirinya.
"Yo opo ko udan-udanan koyo ngene nduk,"
(Kenapa kamu hujan-hujanan seperti ini Nak)
Purwani segera menarik Marni masuk kedalam. Ia segera mengambil handuk untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
"Sebaiknya kamu ganti baju dulu, aku takut kamu masuk angin?"
"Kenapa Mas Aryo harus mati?" tanya Marni dengan tatapan kosong
"Karena lelaki jahat memang harus mati, dia tak pantas menjadi suamimu, dia tidak pernah mencintaimu. Aryo hanya memanfaatkan mu," jawab Purwani
"Tetap saja aku tidak mau dia mati!" seru Marni kemudian terisak
"Siapapun yang tidak memiliki niat yang tulus padamu pada akhirnya akan mati. Hanya mereka yang benar-benar tulus mencintaimu yang akan selamat," jawab Purwani
"Lalu untuk apa aku memakai susuk jika aku tidak bisa hidup bahagia dengan pria yang aku cintai. Bukankah lebih baik aku tidak usah memakai susuk agar tidak ada lelaki yang jadi korban tanda lahirku,"
Purwani menatap lekat wajah perempuan muda yang sudah ia anggap sebagai cucunya itu.
"Itu bukan sembarang susuk sayang, kau tahu kan hidupmu tidak mudah. Kau mengalami banyak penolakan dan Bullyan. Tidak ada yang akan menerima manusia pembawa petaka seperti mu. Untuk itulah kamu perlu susuk itu untuk melindungi dirimu dan juga agar kamu bisa di terima dengan suatu tempat. Itu bukan sekedar susuk pemikat nduk, kamu bisa melepaskannya kapan saja jika kamu tidak suka. Tapi ingat kamu akan di kucilkan, di usir dan di jauhi tanpa susuk itu," jawab Purwani.
Flashback off
"Marni???" Amar Begitu terkejut saat melihat bayangan hitam itu berubah menjadi sosok Marni
Namun tiba-tiba semuanya berubah gelap hingga ia tak bisa melihat apapun.
*Bruughhh!!
Aroma wangi makanan membuat Amar membuka matanya. Ia segera turun dari ranjangnya dan bergegas keluar. Ia melihat ayah dan ibunya sedang menikmati secangkir teh dengan gorengan.
Mereka tampak baik-baik saja seolah tak ada yang terjadi. Padahal seingatnya ia baru saja di gigit seekor ular dan pingsan di bantaran kali. Amar melirik kearah kakinya.
Ia terkejut saat tak melihat bekas gigitan ular di telapak kakinya. Padahal jelas-jelas semalam ia di gigit.
Kejadian ini terulang lagi, aku dibuatnya seperti bermimpi, gumamnya
"Kamu sudah bangun le?" tanya Surti tersenyum menatapnya
"Eh iya," jawab Amar menyembunyikan rasa kagetnya
"Mau ngeteh juga mas?" tanya Marni tiba-tiba menghamparinya
"Ah tidak usah, aku bangun kesiangan, jadi aku harus segera mandi dan berangkat ke kantor," jawab Amar
Marni hanya mengangguk kemudian masuk kembali ke dapur.
Saat kembali ke kamar, ia melihat ada yang aneh dengan kamarnya. Ia tak melihat lagi buntelan daun sirih yang di gantung di atas jendela.
Kenapa ia melepasnya, sebenarnya apa yang terjadi??.
Namun Amar tak mau ambil pusing. Ia buru-buru mandi agar tidak terlambat kerja. Karena tak sempat sarapan di rumah Marni pun membawakan bekal untuk sarapannya.
Setibanya di kantor Amar langsung menemui Damar dan menceritakan apa yang terjadi padanya semalam. Damar kemudian memeriksa telapak kaki Amar.
"Yang semalam menggigit mu itu bukan ular sungguhan, mereka itu jin," ucap Damar
"Marni datang menolong ku, mungkin jika tidak ada dia aku sudah mati," jawab Amar
"Hm, tapi kamu harus waspada malam ini," Damar mengambil kalender meja dan memperlihatkannya kepada Amar
"Malam ini Jum'at Kliwon, siluman itu akan keluar dari tubuh Marni dan mungkin akan membunuhmu jika kau bersamanya,"
Amar mengeluarkan keris kecil pemberian Ustadz Rasyid.
"Aku akan melawannya, dan aku berjanji tidak akan gagal malam ini," jawab Amar
"Apa kamu yakin???"
"Tentu saja, aku sudah pernah gagal sekali dan aku tidak boleh gagal lagi kali ini??" jawabnya antusias
Mereka terpaksa menghentikan pembicaraan saat atasan mereka menghampirinya.
Amar segera mengikuti atasnya untuk melakukan rapat koordinasi, sedangkan Damar dan Ruri pergi menuju ke lapangan.
Rapat sudah dimulai, Amar tampak khusuk mencatat jalannya rapat.
Ia mencatat setiap kejadian yang berlangsung di ruang rapat. Namun ada yang ganjal dengan yang dibicarakan oleh pimpinan perusahaan. Bukannya membicarakan tentang launching produk baru, pimpinan perusahaan justru membahas tentang malam jumat dan apa yang akan terjadi dengan Marni.
Amar pun mulai menyadari jika ada yang tak beres dengan rapat pagi itu. Semua orang terlihat pucat dengan tatapan kosong, termasuk pimpinan perusahaan yang memberikan presentasi.
Hanya Ajeng yang terlihat normal. Wanita itu bahkan hanya senyum-senyum melihat wajah panik Amar.
Asu, sepertinya ada yang berusaha mengerjai ku,
Saat Amar hendak pergi meninggalkan ruang rapat, tiba-tiba pintu terkunci. Ia berusaha untuk membukanya namun sayangnya ia justru kesulitan membuka pintu ruangan yang terkunci.
"Asu, asu, kenapa tanganku tiba-tiba mati rasa !" pekik Amar saat tangannya tidak bisa digerakkan
Ajeng tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah panik Amar.
Amar tak tunggal diam, ia pun berusaha mendobrak pintu ruangan tersebut. Sayangnya sekuat apapun ia berusaha mendobarak pintu itu, tetap saja pintu itu tak terbuka.
Ajeng yang gemas melihat sikap konyol Amar pun mendekatinya.
Ia kemudian mengeluarkan sebuah buntelan berwarna putih dan memberikan kepada Amar.
"Pakai keris itu untuk membunuh siluman itu," ucap Ajeng
Amar menerima pemberian wanita itu.
#Brakkk!!
Tiba-tiba pintu terbuka membuat Amar dan Ajeng begitu terkejut. Angin besar berhembus menghempaskan siapapun yang ada di ruangan itu.
"Asu, tunjukan siapa dirimu, jangan hanya bisanya menghilang!" hardik Ajeng
marni, km hrs ada semangat u/ menyembuhkan dirimu sendri
apa itu sejenis pesugihan ya
alur ceritanya itu bagus banget, lain dari yang lain, apalagi ini genre horor (mungkin). Ada beberapa yang mungkin untuk diperbaiki dari tanda baca. Kalimat2 narasi yang menurut aku kurang dijelaskan dengan apik, jadinya terkesan dipaksa/ kurang tepat untuk dibacanya. .
Dan juga, ada beberapa typo.
Terimakasih dan Semangat untuk cerita Marni ini.