Bagaimana jika kita bangun tidur sudah ada uang di sebelah kita dan bukan hanya uang, terkadang barang yang kita perlukan juga bisa tersedia. Memang sekilas terdengar enak dan mudah, tapi hampir setiap hari kita mimpi buruk dan berpetualang di dunia yang berkebalikan dari dunia nyata, jika di dunia nyata ada manusia, di dunia mimpi ada zombie yang merepresentasikan sifat sifat manusia di dunia nyata.
Kisah ini adalah kisah seorang pemuda dan adiknya yang sedang menghadapi masalah berat, mulai dari di minta cuti paksa karena belum membayar biaya kuliah sampai kekasihnya hamil oleh sahabatnya sendiri. Dia tidak sengaja "menemukan" sistem ini dan memulai petualangannya di dunia mimpi buruk untuk merubah dunia nyata di sekitarnya dan mengatasi masalah besar yang menimpa dirinya dan adiknya.
Genre : Fiksi, drama, comedy, fantasi, sistem, sedikit horor.
Mohon tinggalkan jejak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mobs Jinsei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Sementara itu, sore hari di kampus, Rudi yang baru selesai mengikuti kelas berjalan di koridor untuk menuju keluar dari kampus dan berjalan kaki pulang, dia melihat layar statusnya sambil berjalan keluar,
***********************************************
Job level : 3 (Exp : 7.000 / 17.000)
Quest done : 21.
Total reward : 61.500.000 IDR.
***********************************************
“Gila susah juga ya naikin levelnya kalau cuman jalanin tugas harian, padahal gue ingin cepet cepet beres nih,” ujar Rudi dalam kepalanya.
[Satu level lagi kamu bisa menggunakan skin killer clown kamu untuk menjalankan tugas terus menerus secara otomatis (idle) jadi berjuanglah.]
“Wah begitu ya, jadi walau gue dalam keadaan sadar dan sedang kuliah, si badut itu jalan terus ?” tanya Rudi.
[Benar, selain itu, Nara juga bisa membantu dengan memberinya tugas, yang seluruh EXP nya masuk ke dalam dirimu, namun kekurangannya kamu tidak mendapatkan uang.]
“Hmm tapi kalau malam, gue tetap bertugas dan dapat uang kan ?” tanya Rudi.
[Ya, tugas harian yang sudah biasa kamu lakukan, ketika kamu bertugas, skin itu akan bersamamu secara otomatis dan kamu bisa memerintahnya.]
“Nice, masalah uang biar gue cari sendiri kalo tugas, yang penting gue pengen cepet dapet skin baru buat beresin masalah si om sebelum Rina sadar,” ujar Rudi.
[Affirmative.]
“Beb...beb,” terdengar suara Farah memanggil di belakang.
Rudi berhenti dan berbalik, dia melihat Farah, Santi, Lisna dan Rahman sedang berdiri di belakang dirinya.
“Eh kamu beb, ada apa ?” tanya Rudi.
“Kamu kenapa sih beb, dari tadi di panggilin ga nengok nengok, lagi asik apa sih ? apa lagi bengong ?” tanya Farah.
“Ah sori beb lagi banyak pikiran, soal pelajaran sih kebanyakan,” jawab Rudi.
“Dasar, kalau ada yang ga ngerti tanya aku aja, sekarang kamu mau kemana ?” tanya Farah sambil memegang tangan Rudi.
“Rencana ku sih mau pulang, memang kalian mau kemana ?” tanya Rudi sambil melihat semua di belakangnya.
“Gini, Lisna mau ngobrol ama gue dan Farah, lo ikut aja ya, ke resto ayam cepat saji di depan kok, ga jauh,” jawab Santi membujuk.
“Iya Rud, ikut ya, temenin gue,” tambah Rahman.
“Iya beb, ikut aja, temenin aku dan Santi,” tambah Farah merayu.
“Lah si Lisna baru mau ngomong ama mereka, udah tiga hari dia cerita ama gue kan, baru sekarang ? duh sebenernya males nih gue, masih banyak yang mau gue urusin,” ujar Rudi di kepalanya.
[Tidak ada salahnya kamu ikut, lagipula di kos kosan mu sedang ada teman teman Rina.]
“Oh gitu, si Rina bawa temen ke kosan, ok deh gue ikut,” balas Rudi di kepalanya.
Rudi melihat ke arah Farah di depannya, kemudian dia melihat Santi, Lisna dan Rahman yang berada di belakang Farah. Dia kembali melihat wajah Farah.
“Ya udah, aku ikut, yuk,” ajak Rudi.
Mereka akhirnya menuju ke restoran cepat saji dengan menu khas ayam goreng di depan kampus mereka. Setelah di dalam dan selesai mengantri di counter untuk membeli makanan juga minuman, mereka naik ke lantai dua yang sepi. Lisna langsung minta maaf kepada Farah dan Santi, dia juga menceritakan kejadian yang dia alami dari awal sampai akhir.
Farah dan Santi kaget mendengarnya, mereka tidak menyangka kalau Lisna sampai terpuruk begitu dalam karena di ancam oleh Eko, Rudi dan Rahman yang sudah tahu ceritanya diam saja menikmati makanan mereka. Akhirnya Farah, Santi dan Lisna saling berpelukan sambil menangis di depan Rudi dan Rahman yang sedang makan.
“Huu...huu...huu gue terharu Rud,” ujar Rahman sambil menempelkan pundaknya ke Rudi.
“Mau minggir ga lo, sikut nih,” balas Rudi yang sedikit ngeri dengan Rahman.
“Ih lo galak amat sih lo ama gue,” ujar Rahman.
“Abisnya gue serem ama elo,” ujar Rudi.
“Tapi ajaib ya Rud, semua bisa balik lagi kayak semula,” ujar Rahman.
“Iya, ajaib,” balas Rudi sekenanya.
“Gue kaget waktu Lisna bangunin gue trus kasih liat semuanya sama gue, rasanya gue pengen nangis liatnya, langsung aja gue peluk dia, kita bedua langsung nangis nangisan karena bersyukur banget,” ujar Rahman cerita.
Rudi sedikit melongo karena mendengar ada yang tidak beres di perkataan Rahman barusan, dia langsung bertanya,
“Tungguuuu....Lisna kasih liat lo maksudnya apa ? trus lo liat semuanya ?” tanya Rudi.
“Iya, dia kasih liat semuanya, mang kenapa ? gue udah biasa kale,” balas Rahman.
“Hah...si Lisna ga risih gitu ?” tanya Rudi.
“Kagak tuh, biasa aja dia, lagian gue juga ga terpengaruh,” jawab Rahman santai.
“Jriit, jauh jauh lo, positif geli gue ama elo,” ujar Rudi menjauh.
“Apaan sih lo ah, parah banget deh, tenang aja kale, gue tahu kok lo punya Farah,” balas Rahman sambil menepuk pundak Rudi.
“Apalagi maksud lo coba,” balas Rudi.
Setelah Lisna, Santi dan Farah tenang sambil saling bercerita pengalaman masing masing, mereka mulai membahas soal lain,
“Nih liat Far, Lis, si Bambang ngirim pesen ke gue,” ujar Santi sambil memperlihatkan smartphonenya kepada Farah dan Lisna.
Isi pesannya mengatakan kalau Bambang minta maaf sebesar besarnya kepada Santi dan sekarang dia pindah ke kotanya untuk di rawat di sana juga meneruskan usaha orang tuanya. Dia juga mengatakan kalau dia tidak akan menghubungi Santi lagi karena malu dan menyesal,
“Trus lo maafin San ?” tanya Lisna.
“Ya mau gimana lagi, gue sih kaga bales apa apa ke dia, tapi ya gue udah ga mempermasalahkan lagi karena udah gue anggep ga terjadi,” jawab Santi.
“Sekarang ya move on San, lupain aja Bambang,” ujar Farah.
“Iye, tenang aja, gue udah move on kok,” balas Santi.
“Wuiih berarti udah dapet cowo lagi dong lo San ?” tanya Rahman nimbrung.
“Belom lah kalau itu, gue rasanya masih belom bisa kalau ke arah itu, tapi sekaran gue ga sendirian di apartemen, ada temennya,” ujar Santi.
“Loh lo pindah ke apartemen ?” tanya Rudi.
“Iya, dua hari lalu, gue sekarang tinggal bareng ama sepupu gue, dia dateng ke jakarta buat nerusin sekolah di sini trus kuliah juga di sini, sekarang dia masih sma,” jawab Santi.
“Oh bocah toh, cowo apa cewe ?” balas Rudi bertanya.
“Enak aja lo, dia seumuran ade lo tau, sekolahnya juga bareng, dia cowo,” balas Santi.
“Loh jangan jangan sepupu lo yang doyan basket itu ya, temen Arya ? yang bareng bolak balik ke jakarta cuman buat latian, trus pulang pulang bonyok ?” tanya Farah.
“Iya bener, yang itu, lo kenal kan Far, lo juga harusnya kenal kan Lis,” jawab Santi.
“Oh yang dulu suka bareng lo naek motor ya waktu lo sma ?” tanya Lisna.
“Iya yang itu, dia kan bawa motor waktu kelas 1, jadi sering ngaterin gue pulang,” jawab Santi.
Ketiganya langsung menoleh melihat Rudi yang duduk di depan mereka, Rahman yang melihat ketiga gadis di depannya menoleh melihat Rudi juga langsung menoleh melihat Rudi,
“Lah ada apa ?” tanya Rudi bingung.
“Hehe ga apa apa beb,” jawab Farah.
“Hehe dia dapet kembaran,” tambah Lisna.
“Ho oh bener, mirip tapi beda lah, si Rudi masih lebih tinggi dikit, walau sama gantengnya,” balas Santi.
“Ini ngomongin apa sih ?” tanya Rudi.
“Sama, gue juga ga ngerti tapi kayaknya seru,” tambah Rahman.
“Hehe ada aja,” jawab Farah, Santi dan Lisna bersama sama.
Mereka meneruskan obrolan mereka dengan santai dan tidak menyadari ada yang mengawasi mereka dari balik tiang.