Bagaimana bisa, Lucas yang memiliki fobia haphephobia bisa meniduri seorang wanita yang tidak dia kenal?
yuk simak kisahnya, seorang dokter yang memiliki fobia langka, di mana dia merasa takut untuk bersentuhan secara skin to skin dengan orang lain, tetapi dia adalah seorang dokter hebat dan juga pemimpin rumah sakit yang terkenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rira Syaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33.
Nia sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur, setelah drama pemaksaan solat isya oleh sang suami.
Ah, hidupnya benar-benar tidak merasa nyaman. Segala sesuatu yang ingin dia lakukan, selalu di atur oleh sang suami.
"Bagus sih, ngajakin solat. Tapi ya gak pas ngantuk begini lah," cibir Nia sambil menarik selimut.
Nia mendengar suara Lucas berdehem pelan, membuat wanita itu langsung memejamkan matanya rapat-rapat.
"Apa kamu sudah tidur?" tanya Lucas.
Nia diam, enggan rasanya untuk menjawab pertanyaan Lucas. Lagi pula, dirinya sudah terasa sangat ngantuk sekali.
"Hei, apa kamu sudah tidur?" tanya Lucas sambil menggoyangkan tubuh Nia, dengan menggunakan kakinya.
Ya, sekurang ajar itu memang Lucas.
Tak melihat pergerakan dari Nia, Lucas pun perlahan mendekat. Memastikan jika Nia sudah benar-benar tidur atau belum.
"Hmm, aku tahu kamu belum tidur," ujar Lucas.
Ya, Lucas tahu jika Nia belum tidur, karena bulu mata wanita itu masih terlihat bergerak-gerak. Dan juga, napasnya masih memburu, tidak teratur dan tenang.
"Mulai malam ini, kita akan tinggal di sini. Jadi, besok aku akan menyu---"
"Apa?" Nia langsung bangkit dari tidurnya, membuat Lucas sedikit terkejut.
"Kamu bilang apa?" ulang Nia.
"Dugaanku benar, jika kamu hanya berpura-pura tidur!"
"Itu tidak penting," kesal Nia. "Tadi apa kamu bilang? Kita akan tinggal di sini?"
Lucas memandang lekat wajah Nia yang tidak terima.
"Waah, kamu itu emang sungguh luar biasa ya. Pertama, kamu tinggalin aku di hari pertama pernikahan kita. Kedua, kamu atur-atur jadwal aku, hingga untuk bernapas pun aku sulit, ketiga, kamu tidak memberitahu aku kalau kita akan berkumpul bersama keluarga kamu hari ini. Dan yang keempat, kamu memutuskan untuk tinggal di sini, tanpa meminta pendapatku?" kesal Nia.
"Waah, sungguh luar biasa banget kamu memang." Nia bertepuk tangan, seolah memberikan apresiasi kepada Lucas.
"Memangnya kamu pikir, aku ini patung? Boneka? Seenak jidat kamu saja mengatur-ngatur hidupku? Dan mengambil keputusan di dalam hidupku?" bentak Nia.
"Dengar ya, kita ini menikah bukan karena saling cinta. Pernikahan ini hanya sebuah formalitas saja. Jadi, jangan pernah mencoba untuk mengatur hidupku?"
Nia menatap tajam ke arah Lucas, wanita itu pun bangkit dari tempat tidur dan berlaku melewati sang suami. Mengambil tas dan ponselnya, kemudian memakainya asal. Nia tidak peduli, jika saya ini tubuhnya terbalut oleh piyama tidur. Nia pun melangkahkan kakinya menuju pintu kamar.
Sraaap ...
Lucas mencekal pergelangan tangan Nia, membuat wanita itu menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah sang suami.
"Apa?" bentaknya.
"Tetaplah di sini."
Lucas menarik pelan tangan Nia, agar sang istri mengikutinya dan duduk di sofa yang ada di atas kamar.
Satu hal yang tidak Lucas sadari saat ini, yaitu tangannya tidak merasa jijik, di saat menggenggam pergelangan tangan Nia.
Lucas menyuruh Nia duduk di sofa, sedangkan dia duduk berhadapan dengan sang istri.
"Tolong, dengarkan aku. Aku akan lakukan apapun yang kamu minta, jika kamu setuju untuk tinggal di rumah ini," pinta Lucas.
Nia menaikkan alisnya sebelah. sepertinya ini adalah kesempatan emas yang dia miliki.
Ya, Nia akan meminta bercerai dengan Lucas, jika terbukti jika dirinya tidak hamil.
Lucas pun menjelaskan, apa alasannya untuk tinggal di rumah Oma Laura. Nia sedikit tersentuh, saat mendengar alasan Lucas, tapi dia tidak akan membawa perasaan.
Alasan Lucas tinggal di rumah ini yaitu karena ingin menjaga Oma Laura, itu yang utama. Dan yang kedua, karena Lucas ingin menepati janjinya kepada almarhum sang kakek, jika dirinya akan membawa sang istri untuk tinggal di rumah besar itu.
Hanya alasan simple yang Lucas berikan, tapi cukup membuat Nia terharu.
"Baiklah, aku setuju untuk tinggal di sini. Tapi, bisakah kita pisah kamar?" pinta Nia.
"Kita akan pisah kamar, sesuai dengan permintaan kamu. Tapi, tetap dalam rencanaku," jawab Lucas.
Rencana Lucas yaitu membuat satu dua kamar menjadi satu kamar. Di mana dari kamar utama, akan di buat pintu rahasia ke kamar sebelahnya. Pastinya hal itu akan menjadi rahasia antara Nia, Lucas, pelayan yang membersihkan kamar Lucas, dan tukang yang akan membuat pintu menuju ke kamar sebelah.
Ya, semuanya sudah Lucas susun dengan rapi.
"Baiklah, karena aku sudah setuju dengan permintaan kamu, jadi kamu harus menepati janji. Kamu harus menyetujui permintaan aku," ujar Nia.
Lucas mengerjapkan matanya sekali. Entah mengapa dia bisa melupakan niatan Nia untuk berpisah dengannya.
"Aku akan memberikan rinciannya besok. Sekarang, aku ngantuk dan ingin tidur." Nia pun berdiri dari tempat duduknya, dia berjalan menuju ke tempat tidur dan langsung merebahkan dirinya di atas kasur.
"Ah ya, karena kamu tidak suka tidur satu ranjang denganku, kamu bisa tidur di sofa. Atau, kamu bisa tidur di kamar mana pun kamu suka. Toh, ini rumah kamu 'kan?" ujar Nia sambil tersenyum miring.
"Selamat malam, dokter Lucas!"
semakin seru, mak crazy up dong