Mengidap Endometriosis, bagai vonis mimpi buruk bagi wanita mana pun hingga terpaksa melakukan operasi dan proses bayi tabung, namun perceraian justru harus terjadi.
Berjuang sebagai orang tua tunggal dengan kehadiran kedua buah hati yang terlahir fraternal, membuat hari-hari Irene tidak terduga hingga pertemuan tak terduga kembali terjadi dengan Hendrik, menyisakan pertanyaan yang tanpa diketahui ada bahaya mengancam di saat kebenaran mulai terungkap.
Di saat pertemuan dan genggaman tangan itu menarikmu, apa kau akan berbalik untuk bersama atau justru meninggalkan kembali?
Ikuti kisah Irene & Hendrik selanjutnya, tak lupa Xander & Xavia yang menggemaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fidia K.R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan 3
Terlupa akan perasaan sebenarnya, jika dapat berkata ingin sekali berlari mengatakan permohonan maaf yang begitu menyesakkan. Tersadar sejak awal akan penyesalan, tentu derai tangis pun tidak diperlukan. Menatap sendu pada kedua buah hati yang begitu terisak tangis pilu, sungguh membuat tangan bergetar begitu tak terkendali.
"Apa sebenarnya yang Mama lakukan?! Untuk apa mengunjungi Xander dan Xavia ke sekolah?!" ucap kesal Hendrik melalui panggilan telephone pada ibunya, selepas mendapat kabar dari Giselle.
"Nak, bagaimana jika kita lakukan tes DNA sekarang pada Xander?" tanya Mia tanpa dosa.
"Apa? Mama, apa Mama sadar arah pembicaraan saat ini?! Masalah apa lagi yang Mama timbulkan sekarang!" Hendrik menutup panggilan telephone dengan begitu kesal.
Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Sebuah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kondisi Hendrik saat ini yabg sedang mencoba membangun kembali hubungan dengan Irene yang semakin menjauh. Hanya karena kesalahan kecil yang nampak tiada artinya seluruh persoalan menjadi kacau dan berantakan, yang bahkan kesalahan itu bukan dilakukan oleh dirinya sendiri.
Kepenatan Hendrik kian menjadi tatkala masalah datang silih berganti, dengan penyelesaian yang masih belum mendapatkan titik cerah. Pihak jasa kontraktor yang ternyata masih belum dapat dihubungi, kini berujung menjadi gugatan dari pengadilan yang ditujukan pada Irene. Bukan hanya para dewan direksi, bahkan dengan mudahnya Luke melimpahkan kuasanya bagai lepas tangan pada Irene yang begitu berjasa bagi perusahaannya.
William yang masih belum begitu mengenal kota Dallas sehingga kesulitan untuk menghubungi jasa konstruksi lainnya, ternyata terselubung rencana busuk di mana Sarah meminta Mr. JK untuk menyadap bahkan meretas saluran panggilan William dan Bastian selama beberapa hari, hingga akhinya membuat Bastian kesulitan untuk bertindak menyelesaikan masalah.
Dengan banyaknya waktu yang terbuang percuma, Anna mengambil alih dengan meyakinkan para dewan direksi untuk mengajukan gugatan di pengadilan karena menganggap ada pelanggaran pidana dan perdata yang dilakukan Irene, hingga membuatnya tersudutkan dan kebingungan. Semua lembar berkas pengadilan pun rampung sudah, dengan Irene yang kini hanya dapat terdiam menerima kenyataan pahit dalam hidupnya yang tak kunjung bahagia.
"Mommy ... kenapa masih belum tidur?" tanya Xander yang terbangun dari tidurnya karena ingin pergi ke toilet pada tengah malam.
"Tumpukan kertas apa itu, Mommy? Kenapa banyak sekali?" tanya Xander kembali saat melihat tumpukan surat berkas dari pengadilan serta laporan perusahaan yang dikirimkan pada Irene.
Merasa tidak ingin membuat Xander khawatir, Irene dengan segera membereskan kertas–kertas itu dan menaruhnya ke atas rak lemari buku agar Xander tidak dapat membacanya. Mencoba bersikap tegar dan tersenyum bahagia layaknya seorang ibu pada umumnya, Irene berjalan melangkah dan menghampiri Xander yang begitu terlihat khawatir.
"Hunny ... Mommy, ada sedikit masalah di kantor dan sedang mencoba untul menyelesaikannya. Jika masalah Mommy selesai, bagaimana jika kita menghabiskan waktu dengan pergi berlibur?" tanya Irene sembari membelai lembut kepala Xander yang tengah menatap penuh kecurigaan.
"Mommy, apa Mommy sedih karena Xander dan Via pergi bermain dengan paman?" tanya Xander.
"No ... bukan karena itu. Kenapa bertanya seperti itu? Apa saat kalian bermain bersama paman, kalian tidak senang?" Irene menarik Xander untuk duduk bersamanya di atas sofa ruangan tengah.
"Happy ... paman juga ikut main ... tapi ...."
"Tapi apa, Hunny?"
"Xander senang sama paman, tapi Xander benci wanita tua itu! Xander tidak suka! Mommy, siapa dia? Kenapa marah–marah Mommy?"
Merasa masih tidak tahu apa yang harus dijelaskan pada anaknya, Irene memeluk Xander dengan eratnya bahkan dengan tangisan yang tak bersuara. Mencoba untuk bersikap tegar, sungguh kejadian menyesakkan ini entah sampai kapan harus Irene terima dan rasakan dengan tidak ada perlindungan orang terkasih disampingnya.
Seorang diri. Hujan badai tak menghentikan kabut tebal. Matahari tak bercahaya, semua gelap pekat memenuhi ruang hampa yang kembali harus Irene rasakan untuk berjuang hidup. Kali ini, tidak ada nenek Emma atau sosok kehadiran sang kakak, Irene bagai berada dihamparan ranjau peledak yang jika sedikit salah dalam menginjak lahan mesiu berbau pekat belerang, arang, atau besi berkarat yang siap menghancurkannya tepat waktu.
...***...
...–Mension kediaman keluarga Kessler di Houston–...
Mendapati kabar dari Bastian bahwa jaringan telekomunikasi mereka tersadap karena ada pihak yang meretas komunikasi mereka, melalui sebuah alat khusus yang diberikan oleh Jacob, sang agen FBI, Hendrik dapat mengetahui perkembangan apa yang terjadi di Dallas saat ini. Para dewan direksi yang masih saja ingin menuntut penyelesaian melalui jalur pengadilan, sungguh membuat Hendrik hilang akal hingga sudah lagi tidak memperdulikan posisinya sebagai CEO.
Hari terakhir yang Hendrik adakan pada acara pertemuan rapat penting bersama pemegang saham atau dewan direksi lainnya, sebagai pemegang empat puluh persen laba keuntungan saham PT. Etheral, Hendrik terpaksa mengeluarkan kartu merahnya untuk menyelesaikan masalah di Houston agar ia dapat langsung menuju Dallas dan membantu Irene.
"Apa maksudmu? Hendrik melakukan apa?" tanya Mr. JK melalui panggilan video pada Anna.
"Keuntungan produk yang baru kami keluarkan di putar hingga deviden tetap aman namun tidak sedikit pun ada kerugian! Aku tidak tahu apa yang Hendrik lakukan, tapi hanya 5% kerugian?? Sungguh menyebalkan sekali anak muda itu!" ucap kesal Anna pada Mr. JK.
"AHAHAHAA ... sudah kuduga akan jadi seperti ini. Sudah kubilang, jangan remehkan Hendrik," balas Mr. JK begitu puasnya menertawakan Anna yang terlihat begitu kesal dengan rusaknya rencana yang baru dia pikirkan.
"Kini aku hanya berharap Sarah dan Luke melakukan pekerjaannya dengan baik! Karena jika tidak, maka semua akan hancur berantakan!" Anna berpaling berjalan memutari meja kerjanya dengan penuh kekhawatiran.
"Hey, hey ... tenang saja, aku belum mengeluarkan kartu merah. Tenang saja, kita pasti akan mendapatkan apa yang sudah kita rencanakan sejak awal," balas Mr. JK dengan langsung menutup panggilan video.
Tidak ingin membuang waktu percuma, Anna segera menghubungi Sarah yang kini tengah dilanda kebingungan dan juga bingung harus melakukan apa karena kehadiran William yang mengambil alih masalah. Tersampaikan sebuah rencana lainnya, Sarah melengkungkan senyum penuh kelicikan yang kembali mendapat keberanian untuk menambahkan aksi liciknya.
Terbangun pada pagi hari dengan masih belum tersadar sepenuhnya, Irene mendapati beberapa pria tengah berdiri di depan pintu apartmentnya. Begitu terkejut, Irene tidak menyangka bahwa yang datang saat ini adalah pria yang bekerja di pihak jasa konstruksi yang kini tengah menjadi incaran polisi karena laporan dari Hendrik yang berhasil melakukan banding di pengadilan.
Dengan kekuasaan dan kepintarannya, Hendrik dapat dengan mudah membalikkan keadaan yang sudah direncanakan oleh Anna, Luke, dan Sarah sejak awal. Namun ternyata hal itu tidak menjadi penghalang bagi Anna dan Mr. JK untuk memanfaatkan kesempatan lain dari para pekerja lepas yang menuntut hak pembayaran karena dianggap lalai serta penyudutan pengadilan yang sebenarnya tidak mereka lakukan.
(DHAAKKK DHAAKKK DHHAAAKKK) "BUKA PINTU INI!!" ucap salah satu pria bertubuh besar menendang keras pintu, karena ingin memaksa masuk ke dalam apartment Irene.
(BHAAKK BHHAAKK BHAAAKK) "AKU HITUNG SAMPAI LIMA, JIKA TIDAK KAMI AKAN MEMBUAT KERIBUTAN DI SINI!!" hentakan pada pintu disertai kemarahan yang dilakukan pria lainnya.
Irene terpojokkan dengan teriakan menggema yang akan mencuri perhatian yang tidak diperlukan. Menarik sedikit rambutnya ke arah belakang dengan kesal, jika dapat berkata Irene pun merasa ketakutan mengingat ke tiga pria bertubuh besar yang kembali mengingatkannya akan kejadian sebelumnya ketika ia dan keluarganya harus berpindah–pindah kota hanya untuk bertahan hidup.
(DHHAAKKK DHHAAKKK DHHAAKKK) "KAU MASIH TIDAK AKAN MEMBUKA PINTU INI?! BAIKLAH!!" teriak pria itu kembali semakin meninggikan suaranya dengan menendang pintu.
"Tidak, tidak tunggu ... kumohon berhentilah berteriak, kita bicarakan secara baik–baik," ucap Irene memohon saat terpaksa membuka pintu.
Ketiga pria bertubuh besar dan kekar itu pun masuk dengan paksa dan langsung menutup pintu dengan hentakan kasar. Tatapan mereka menelisik seluruh ruangan apartment Irene dan mendapati bahwa Irene saat ini hidup seorang diri dengan tidak ada pria atau sosok yang pelindung yang berada di sampingnya.
Niat hati mereka yang ingin menuntut keadilan pun berubah menjadi malapetaka lainnya tatkala melihat Irene masih terbalut dengan gaun tidur panjangnya yang indah. Dengan wajah dan tubuhnya yang tidak terlihat seperti sudah memiliki dua orang anak, sifat gelap terdalam pun muncul dengan senyuman menyeringai di wajah mereka.
Seorang pria dengan sigap berdiri di belakang Irene dan ke dua pria lainnya berdiri tepat di samping kanan dan kiri Irene. Menatap pada Irene yang mencoba untuk bersikap tegar, senyuman menyeringai mereka bagai hawa dingin yang menusuk.
"Nona, ternyata kau tinggal seorang diri ... bagaimana jika, kita bersenang–senang terlebih dahulu?"