Aliya yang terjebak hubungan bersama sang atasan berakhir pernikahan siri tapi tanpa Aliya ketahui kalau dirinya adalah istri kedua dari sang suami.
Di saat manis nya pernikahan Aliya mengetahui kalau dirinya hanya istri kedua.
Akan kah Alya terus bertahan dengan pernikahan ini? atau Aliya justru memilih mengalah dengan meninggalkan Dikta sang suami?
Apa alasan Dikta berbohong pada nya?
Bagaimana kisah hidup selanjutnya yuuk mampir di cerita terbaru ku yang cukup menguras emosi DUA RASA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaro zian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mulai mencair
"Mas sarapan dulu" ujar Nasya saat Dikta keluar dari kamar mereka.
"Papa ayo kita makan sama-sama,papa harus coba masakan terbaru nya mama pa, pasti papa suka" ucap Vania menarik kursi untuk sang papa
"Tapi papa tidak lapar Van"
"Sedikit saja Pa,papa harus coba dulu" bujuk Vania,Nasya sedikit tersenyum kecil melihat Vania yang berusaha membujuk sang ayah beruntung Nasya memiliki anak seperti Vania yang selalu mengerti keadaan orang tua nya itu.
Dikta duduk di sebelah Vania dan Nasya langsung mengambil kan nasi untuk sang suami.
"Cukup" ucap Dikta saat Nasya menuangkan nasi goreng di piring nya.
"Mas mau udang goreng?" tawar Nasya dan diangguki Dikta pelan
"Pa, Minggu ini sekolah Vania mengadakan liburan keluarga di dufan Vania ingin papa dan mama yang menemani Vania,mau ya pa"pinta Vania memohon.
"Papa sibuk sayang"potong Nasya cepat karena seperti biasa pasti suaminya akan menolak jika pergi bersama-sama.
"Papa tau semua teman-teman kelas Vania akan pergi bersama mama dan papa nya ke sana hanya Vania yang tidak pernah pergi bersama keluarga" cerita anak itu dengan wajah sedih.
"Nanti mama saja ya yang temani Vania tapi tunggu oma sembuh dulu ya,hari ini kita lihat oma"bujuk Nasya
"Pa" panggil Vania berharap sang papa memberikan jawaban.
"Kita pergi bersama" jawab Dikta
"Benar pa?"
"Iya kita akan pergi bersama" jawab Dikta lagi
"Hore....!! Terimakasih pa" seru Vania membuat Nasya menarik sudut bibirnya kecil, akhirnya sedikit-sedikit Dikta mulai mencair.
****
"Kring...." terdengar bunyi telpon membuat Aliya segera mengangkat nya.
"Hallo"
"Al,aku mau pulang kamu mau makan apa?" tanya Farel
"Mas ini belum siang loh kok udah mau pulang aja"
"Kerjaan nya sudah selesai,kamu mau makan apa?" tanya Farel lagi
"Apa ya? Nasi padang aja kaya' nya enak deh mas"
"Terus apa lagi?"
"Itu aja"
"Ya sudah tunggu ya sebentar lagi aku akan pulang" ujar Farel lalu menutup ponselnya.
Aliya melirik jam di dinding baru saja tiga jam lelaki itu pergi dan sekarang sudah mau pulang lagi,apa Farel tidak punya kerjaan seperti Dikta pikir Aliya secara mereka sama-sama CEO.
Farel dengan semangat ingin segera pulang rasanya tiga jam berjauhan dengan Aliya membuat dia merindukan istri sahabat nya itu, meskipun hanya bisa merawat Aliya saja sudah cukup bagi Farel dia tidak meminta lebih karena mencintai dalam diam sudah membuat nya bahagia asalkan Aliya juga bahagia.
"Maaf pak Farel,ada beberapa berkas yang harus bapak cek terlebih dahulu karena akan di kirimkan sore ini ke perusahaan cahaya baru" ujar Selin sang sekretaris
"Apa harus hari ini juga?" tanya Farel dan di jawab dengan anggukan oleh Selin,Farel melihat jam di pergelangan tangan nya memang belum jam makan siang tapi dia sudah berjanji akan membawa kan segera nasi Padang untuk Aliya,jika dia mengecek terlebih dahulu berkas nya otomatis akan pulang lebih lama.
"Begini saja saya ada keperluan penting saya cek saja berkasnya di apartemen kamu bisa jemput di apartemen saya pukul tiga nanti, bagaimana?" tanya Farel dan diangguki Selin cepat, jarang-jarang Farel mengizinkan Selin untuk datang ke apartemen nya,apa mungkin Farel ingin dekat dengan nya pikir Selin.
"Oke kalau begitu saya bawa dulu ya,kamu bisa datang nanti jam tiga"
"Iya pak" jawab Selin tersenyum manis
Farel mengambil berkasnya dan segera pergi.
"Aku harus dandan yang rapi nanti agar pak Farel terpesona melihat penampilan ku nanti siapa tau dia mau ngajak ngedate nonton drakor romantis di apartemen nya" gumam Selin yang sudah tidak sabar menunggu jam tiga nanti.