Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Di kamarnya, Renata tidak
bisa tidur setelah ngobrol dengan Erwin saat dinner. Ah... kenapa muncul lagi
masalah... Kembali hadir sesosok laki-laki yang menyatakan cintanya. Sementara
hatinya masih terpaut pada satu nama, yang juga menorehkan luka yang dalam
karena cinta. Kini dalam bayangannya ada tiga wajah laki-laki. Adhitya, Bram
dan Erwin. Tapi yang terlalu kuat membekas adalah bayangan wajah Adhitya.
Membayangkan wajah mantan
pacarnya, air mata Renata kembali menetes. Mas Adhit... kenapa kamu begitu
jahat....? Kenapa kamu membalas rasa cintaku yang tulus dengan pengkhianatan..?
Mengapa....????.
Mas Bram.... kamu baik,
cintamu tulus... tapi kenapa aku belum bisa membuka hatiku...??? Dan mas
Erwin... kenapa kamu juga hadir dengan memberikan rasa yang sama..????
Renata terisak lirih... Dia
membolak balikkan badannya di tempat tidur. Jiwanya kosong, hatinya benar-benar
letih. Sudah lewat tengah malam, tapi Renata tetap belum tidur juga. Pikirannya
melayang, entah kemana-mana.
Sementara di kamarnya,
Erwin sudah merasa lebih lega karena sudah mengungkapkan perasaannya pada Renata.
Dia tidak peduli, apakah saat ini Renata menerima atau tidak, tapi yang jelas
satu langkah sudah dia lewati. Dan dia akan tetap berusaha untuk
langkah-langkah selanjutnya. Memperjuangkan cinta Renata.
Pagi hari, Renata
terbangun dan melihat jam di ponselnya, sudah jam 7 lewat. Masih malas-malasan
dia untuk bangun dan mandi. Tapi tak lama tilpon di kamarnya berbunyi, dan
Renata mengangkatnya.
“Pagi... sudah bangun
Ren...?” Terdengar suara Erwin dari seberang.
“Pagi juga. Sudah mas...”Jawab
Renata dengan suara serak, dan Erwin heran.
“Kamu kenapa Ren.... suaramu..???”
“Nggak apa-apa kok...”
“Bener...? Tapi
suaramu...???” Tanya Erwin kekeh
“Bener mas... aku nggak papa
kok....” Renata bertahan
“Oke dech... aku tunggu
sarapan di bawah ya...” Kemudian Erwin menutup telponnya. Renata bangun dan menuju
kamar mandi. Dia belum beres-beres kopernya, toh pesawatnya masih nanti siang
dan pagi ini pekerjaan sudah selesai. Renata tinggal mempersiapkan kelengkapan
dokumen untuk pelaporan, dan itu bisa dikerjakan di kantor besok. Selesai mandi,
Renata mengenakan baju yang kasual. Celana jeans dengan blus kembang-kembang.
Wajahnya sedikit pucat dengan mata yang terlihat bekas menangis semalam. Renata
berusaha dengan memoles bedak tipis dan lipstik warna pink agar wajahnya
terlihat cerah, sedangkan untuk menutupi mata sembabnya, dia mengaplikasikan
eyeshadow tipis-tipis.
Sampai di restauran
lantai dasar, terlihat Erwin sudah duduk di pojok menikmati sarapannya
sendirian. Renata berjalan menghampiri meja Erwin.
“Pagi...” Renata menyapa
Erwin setelah sampai di depannya.
“Pagi... eh.. Ren.. ayo
sarapan..” Jawab Erwin.
Renata menarik kursi di
depan Erwin untuk duduk. Sejenak dia memandangi piring di depan Erwin.
“Ayo makan... kok malah
diem...”
Renata bangkit dari
kursinya untuk mengambil secangkir kopi, kemudian duduk kembali.
“Cuma minum kopi...?” Tanya
Erwin setelah melihat Renata hanya minum kopi dan tidak mengambil makanan.
“Lagi males makan.” Jawab
Renata pendek.
“Ren... kenapa
matamu...?” Tanya Erwin sambil memandangi wajah Renata.
“Emang kenapa mas...??”
Renata ganti bertanya.
“Kurang tidur atau
menangis semalem..?” Renata diam menundukkan kepalanya. Tak lama bunyi nada
panggil di ponsel yang ada di saku celananya.
Renata mengeluarkan ponsel
dan melihat nama Bram. Dia bangkit berdiri, memberi isyarat kepada Erwin untuk
menyingkir sebentar merima tilpon dari Bram, Erwin mengangkat satu tangannya.
“Pagi Ren... apa
kabar...? Sehat kan..???” Tanya Bram dari seberang.
“Pagi juga mas. Iya sehat mas...”
“Besok pulang pesawat jam berapa, biar aku
jemput.?”
“Pulang hari ini mas, pesawat jam satu., kerjaan
udah kelar..”
“Waaahhh...kalau hari ini
gak bisa jemput Ren. Maaf..., aku ada meeting. Jadwalnya sampai malem” Kata Bram
dengan nada menyesal.
“Nggak papa mas, aku bisa
naik taxi kok..”
“Aku suruh sopir jemput
ya...”
“Nggak usah mas.... makasih.
Aku biasa pulang sendiri, gak papa...”
“Bukan karena ada Erwin
yang mau nganter kan...???” Tanya Bram pelan dengan nada cemburu. Renata kaget
dengan pertanyaan Bram.
“Mas... apa
maksudnya...???”
“Ah.... sudahlah..., lupakan. Bercanda... Sory
ya nggak bisa jemput. Sabtu sore aku ke rumah ya...”
Renata diam, tidak
menjawab omongan Bram.
“Ren..... kamu masih di
situ...???”
“Eeehhh.... iya
mas...kenapa...?”
“Tuuhhh.... kan... Sabtu
sore aku ke rumah ya...aku mau ngajak kesuatu tempat.”
“Kemana....??”
“Tunggu aja hari Sabtu.
Oke ya... ati-ati di jalan. See you...”
Bram memutus pembicaraan,
dan Renata kembali ke meja makan. Terlihat Erwin sudah menyelesaikan
sarapannya, dan sedang minum kopi.
Renata duduk dan
melanjutkan minum kopinya.
“Kenapa nggak makan
Ren..?” Tanya Erwin
“Nanti saja..”
“Kamu belum menjawab
pertanyaanku tadi...”
“Yang mana...?” Tanya
Renata sambil mengerutkan keningnya. Mata Erwin menatap lekat ke wajah Renata.
Renata gugup mendapat tatapan Erwin seperti itu.
“Matamu terihat sembab
Ren...”
“Eeemmm... aku tadi
keramas mas, kemasukan shampo dan aku gosok-gosok jadi merah...” Jawab Renata
berbohong. Dia tidak mau Erwin punya pikiran macam-macam.
“Oke dech... kalau kamu nggak
mau cerita. Ayo sarapan dulu, perutmu kosong. Aku gak mau kamu sakit pulang
dari sini.”
Akhirnya Renata berdiri
untuk mengambil sarapan. Dia hanya mengambil dua potong roti dan sepiring buah
potong..
“Ren kamu tidak mau jalan-jalan
dulu sebelum ke bandara...?” Tanya Erwin
“Jalan-jalan ke mana...?”
“Yaa.... beli oleh-oleh
mungkin buat temen-temen di kantor...”
“Nanti aja pas ke bandara
mampir sebentar kalau boleh, biar nggak bolak balik..”
“Boleh juga. Kalau begitu
kita jalan agak cepat aja nanti, biar gak buru-buru”
“Jam berapa kita check
out mas?”
“Gimana kalau jam 10an?
Kecepetan nggak..?”
“Boleh jam segitu. Biar
saya kasih tau temen-temen yang lain”
Setelah menyelesaikan
sarapannya, Renata minta ijin kembali ke kamarnya untuk beres-beres koper.
Setelah menempuh
penerbangan kurang lebih satu setengah jam mereka tiba di bandara Soekarno
Hatta. Bram dijemput oleh sopir, sedangkan Renata berrencana naik taksi.
“Ren... kamu bareng saya...”
Kata Erwin sambil jalan menuju tempat parkir mobil, dimana sopir sudah menunggu
di depan pintu.
“Nggak usah mas, saya naik
taksi saja.”
“Aku nggak mau kamu
menolak Ren...” Kata Erwin serius. Akhirnya Renata menurut, karena memang tidak
ada alasan untuk menolak. Toh rumah mereka satu arah juga. Koper Renata dan
Erwin sudah berpindah ke tangan sopir. Merekapun berjalan ke arah gedung
parkir.
*****
Ayooo..... terus semangat beri komen, like, vote.... yang up juga tetap semangat lho....😍😍😍
next