NovelToon NovelToon
Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka

Status: tamat
Genre:Romantis / Romansa Modern / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Astirai

Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Di kamarnya, Renata tidak

bisa tidur setelah ngobrol dengan Erwin saat dinner. Ah... kenapa muncul lagi

masalah... Kembali hadir sesosok laki-laki yang menyatakan cintanya. Sementara

hatinya masih terpaut pada satu nama, yang juga menorehkan luka yang dalam

karena cinta. Kini dalam bayangannya ada tiga wajah laki-laki. Adhitya, Bram

dan Erwin. Tapi yang terlalu kuat membekas adalah bayangan wajah Adhitya.

Membayangkan wajah mantan

pacarnya, air mata Renata kembali menetes. Mas Adhit... kenapa kamu begitu

jahat....? Kenapa kamu membalas rasa cintaku yang tulus dengan pengkhianatan..?

Mengapa....????.

Mas Bram.... kamu baik,

cintamu tulus... tapi kenapa aku belum bisa membuka hatiku...??? Dan mas

Erwin... kenapa kamu juga hadir dengan memberikan rasa yang sama..????

Renata terisak lirih... Dia

membolak balikkan badannya di tempat tidur. Jiwanya kosong, hatinya benar-benar

letih. Sudah lewat tengah malam, tapi Renata tetap belum tidur juga. Pikirannya

melayang, entah kemana-mana.

Sementara di kamarnya,

Erwin sudah merasa lebih lega karena sudah mengungkapkan perasaannya pada Renata.

Dia tidak peduli, apakah saat ini Renata menerima atau tidak, tapi yang jelas

satu langkah sudah dia lewati. Dan dia akan tetap berusaha untuk

langkah-langkah selanjutnya. Memperjuangkan cinta Renata.

Pagi hari, Renata

terbangun dan melihat jam di ponselnya, sudah jam 7 lewat. Masih malas-malasan

dia untuk bangun dan mandi. Tapi tak lama tilpon di kamarnya berbunyi, dan

Renata mengangkatnya.

“Pagi... sudah bangun

Ren...?” Terdengar suara Erwin dari seberang.

“Pagi juga. Sudah mas...”Jawab

Renata dengan suara serak, dan Erwin heran.

“Kamu kenapa Ren.... suaramu..???”

“Nggak apa-apa kok...”

“Bener...? Tapi

suaramu...???” Tanya Erwin kekeh

“Bener mas... aku nggak papa

kok....” Renata bertahan

“Oke dech... aku tunggu

sarapan di bawah ya...” Kemudian Erwin menutup telponnya. Renata bangun dan menuju

kamar mandi. Dia belum beres-beres kopernya, toh pesawatnya masih nanti siang

dan pagi ini pekerjaan sudah selesai. Renata tinggal mempersiapkan kelengkapan

dokumen untuk pelaporan, dan itu bisa dikerjakan di kantor besok. Selesai mandi,

Renata mengenakan baju yang kasual. Celana jeans dengan blus kembang-kembang.

Wajahnya sedikit pucat dengan mata yang terlihat bekas menangis semalam. Renata

berusaha dengan memoles bedak tipis dan lipstik warna pink agar wajahnya

terlihat cerah, sedangkan untuk menutupi mata sembabnya, dia mengaplikasikan

eyeshadow tipis-tipis.

Sampai di restauran

lantai dasar, terlihat Erwin sudah duduk di pojok menikmati sarapannya

sendirian. Renata berjalan menghampiri meja Erwin.

“Pagi...” Renata menyapa

Erwin setelah sampai di depannya.

“Pagi... eh.. Ren.. ayo

sarapan..” Jawab Erwin.

Renata menarik kursi di

depan Erwin untuk duduk. Sejenak dia memandangi piring di depan Erwin.

“Ayo makan... kok malah

diem...”

Renata bangkit dari

kursinya untuk mengambil secangkir kopi, kemudian duduk kembali.

“Cuma minum kopi...?” Tanya

Erwin setelah melihat Renata hanya minum kopi dan tidak mengambil makanan.

“Lagi males makan.” Jawab

Renata pendek.

“Ren... kenapa

matamu...?” Tanya Erwin sambil memandangi wajah Renata.

“Emang kenapa mas...??”

Renata ganti bertanya.

“Kurang tidur atau

menangis semalem..?” Renata diam menundukkan kepalanya. Tak lama bunyi nada

panggil di ponsel yang ada di saku celananya.

Renata mengeluarkan ponsel

dan melihat nama Bram. Dia bangkit berdiri, memberi isyarat kepada Erwin untuk

menyingkir sebentar merima tilpon dari Bram, Erwin mengangkat satu tangannya.

“Pagi Ren... apa

kabar...? Sehat kan..???” Tanya Bram dari seberang.

 “Pagi juga mas. Iya sehat mas...”

 “Besok pulang pesawat jam berapa, biar aku

jemput.?”

 “Pulang hari ini mas, pesawat jam satu., kerjaan

udah kelar..”

“Waaahhh...kalau hari ini

gak bisa jemput Ren. Maaf..., aku ada meeting. Jadwalnya sampai malem” Kata Bram

dengan nada menyesal.

“Nggak papa mas, aku bisa

naik taxi kok..”

“Aku suruh sopir jemput

ya...”

“Nggak usah mas.... makasih.

Aku biasa pulang sendiri, gak papa...”

“Bukan karena ada Erwin

yang mau nganter kan...???” Tanya Bram pelan dengan nada cemburu. Renata kaget

dengan pertanyaan Bram.

“Mas... apa

maksudnya...???”

 “Ah.... sudahlah..., lupakan. Bercanda... Sory

ya nggak bisa jemput. Sabtu sore aku ke rumah ya...”

Renata diam, tidak

menjawab omongan Bram.

“Ren..... kamu masih di

situ...???”

“Eeehhh.... iya

mas...kenapa...?”

“Tuuhhh.... kan... Sabtu

sore aku ke rumah ya...aku mau ngajak kesuatu tempat.”

“Kemana....??”

“Tunggu aja hari Sabtu.

Oke ya... ati-ati di jalan. See you...”

Bram memutus pembicaraan,

dan Renata kembali ke meja makan. Terlihat Erwin sudah menyelesaikan

sarapannya, dan sedang minum kopi.

Renata duduk dan

melanjutkan minum kopinya.

“Kenapa nggak makan

Ren..?” Tanya Erwin

“Nanti saja..”

“Kamu belum menjawab

pertanyaanku tadi...”

“Yang mana...?” Tanya

Renata sambil mengerutkan keningnya. Mata Erwin menatap lekat ke wajah Renata.

Renata gugup mendapat tatapan Erwin seperti itu.

“Matamu terihat sembab

Ren...”

“Eeemmm... aku tadi

keramas mas, kemasukan shampo dan aku gosok-gosok jadi merah...” Jawab Renata

berbohong. Dia tidak mau Erwin punya pikiran macam-macam.

“Oke dech... kalau kamu nggak

mau cerita. Ayo sarapan dulu, perutmu kosong. Aku gak mau kamu sakit pulang

dari sini.”

Akhirnya Renata berdiri

untuk mengambil sarapan. Dia hanya mengambil dua potong roti dan sepiring buah

potong..

“Ren kamu tidak mau jalan-jalan

dulu sebelum ke bandara...?” Tanya Erwin

“Jalan-jalan ke mana...?”

“Yaa.... beli oleh-oleh

mungkin buat temen-temen di kantor...”

“Nanti aja pas ke bandara

mampir sebentar kalau boleh, biar nggak bolak balik..”

“Boleh juga. Kalau begitu

kita jalan agak cepat aja nanti, biar gak buru-buru”

“Jam berapa kita check

out mas?”

“Gimana kalau jam 10an?

Kecepetan nggak..?”

“Boleh jam segitu. Biar

saya kasih tau temen-temen yang lain”

Setelah menyelesaikan

sarapannya, Renata minta ijin kembali ke kamarnya untuk beres-beres koper.

Setelah menempuh

penerbangan kurang lebih satu setengah jam mereka tiba di bandara Soekarno

Hatta. Bram dijemput oleh sopir, sedangkan Renata berrencana naik taksi.

“Ren... kamu bareng saya...”

Kata Erwin sambil jalan menuju tempat parkir mobil, dimana sopir sudah menunggu

di depan pintu.

“Nggak usah mas, saya naik

taksi saja.”

“Aku nggak mau kamu

menolak Ren...” Kata Erwin serius. Akhirnya Renata menurut, karena memang tidak

ada alasan untuk menolak. Toh rumah mereka satu arah juga. Koper Renata dan

Erwin sudah berpindah ke tangan sopir. Merekapun berjalan ke arah gedung

parkir.

*****

Ayooo..... terus semangat beri komen, like, vote.... yang up juga tetap semangat lho....😍😍😍

1
Amarantha Chitoz
makasihhhh
Amarantha Chitoz
lanjutin....
Amarantha Chitoz
sasa bisa aza....
Amarantha Chitoz
selamat
Amarantha Chitoz
smoga lancar
Amarantha Chitoz
lanjuttt
Amarantha Chitoz
hati2
next
Amarantha Chitoz
siippp next
Amarantha Chitoz
positif
Amarantha Chitoz
hamil....????
Amarantha Chitoz
jangan2 hamil ya, mudah2an
Amarantha Chitoz
sedih kannnn
Amarantha Chitoz
next yaaaaaa
Amarantha Chitoz
up.....
Amarantha Chitoz
ribet
Amarantha Chitoz
sembuh ya...
Amarantha Chitoz
stop lebay
Amarantha Chitoz
siiiipppp.. lanjut
Amarantha Chitoz
next lah
Amarantha Chitoz
ayo mulai pelan2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!