Berharap bisa lari dari kenyataan yang ada, namun justru membuat Killa terjatuh ke dalam kejadian yang tidak pernah dia duga dan itu membuatnya sangat terpukul.
Hubungan yang tidak pernah dia ingat dengan seorang pria bule, membuat Killa memilih untuk pergi sejauh mungkin. Hingga Killa memilih kembali dengan membawa seorang anak laki-laki berusia lima tahun.
Killa pikir, setelah dirinya pergi lama meninggalkan negaranya, dia akan kembali dengan tenang dan memulai hidup baru bersama putranya. Akan tetapi, ternyata tidak segampang itu. Dia dipertemukan kembali dengan seorang pria yang wajahnya masih melekat di ingatan Killa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 33. Kepergok
Bab. 33
Seharian ini wajah Vano tampak lebih berseri di banding hari-hari sebelumnya. Tidak hanya bisa berjalan dengan Killa dan makan siang bersama wanita itu, Vano juga mendapati kenyataan yang begitu mengejutkan sekaligus membahagiakan di seumur hidupnya.
Vano tidak menyangka kalau selama ini ia memiliki seorang putra yang sangat pintar juga mandiri.
Terbukti di kala Vano ingin membantu Gara ke toilet, dengan tegas Gara menolaknya. Mengatakan jika dia bisa sendiri.
Ada rasa bangga yang baru Vano rasakan. Rasa bangga sebagaj seorang ayah yang melihat anaknya tumbuh menjadi anak yang mandiri. Vano juga tidak menyangka, jika Killa yang ia kenal dari adik iparnya itu merupakan seorang gadis yang lembut, tetapi dia berhasil mendidik Gara menjadi anak yang cerdas dan tidak mau merepotkan orang lain. Bahkan mamanya sendiri.
"Kapan bisa mengatakan yang sebenarnya pada Gara?" tanya Vano tiba-tiba di kala mereka tengah menunggu Gara balik dari toilet.
Dua orang dewasa itu tengah berdiri di sebelah bangunan. Menunggu putra mereka keluar dari toilet.
"Mengatakan apa?"
Bukannya tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Vano. Tetapi Killa belum siap untuk mengatakan pada Gara bahwa Vano merupakan Daddy yang selama ini dia tanyakan. Killa tidak tahu harus memulainya dari mana.
"Kalau aku ayahnya dia," balas Vano menatap serius ke arah Killa.
"Aku nggak tau."
"Nggak tau gimananya, Killa? Tinggal bilang ke Gara kalau ayahnya. Udah, beres," jelas Vano dengan suara yang rendah namun penuh tekanan.
"Nggak semudah itu, Om!" geram Killa.
Pria itu belum tahu sepintar apa putranya jika sudah membalikkan pertanyaan. Berawal dari rasa ingin tahunya yang masih sangat tinggi, pasti Gara juga akan menanyakan kenapa selama ini ayahnya nggak ada sama mereka. Belum nanti jika dihadapkan dengan kenyataan bahwa mereka tidak tinggal bersama setelah pengakuan, tentu saja akan menimbulkan pertanyaan baru yang akan Gara lontarkan.
Harus dengan kebohongan apa lagi Killa menutupi semuanya. Sedangkan tidak mungkin baginya menceritakan hal yang sebenarnya. Sudah jelas Gara akan merasa kecewa dan marah kepadanya. Kenapa dilahirkan dalam kondisi yang tidak sama seperti kondisi orang lain. Pertanyaan itu yang masih Killa takutkan.
"Kamu manggil aku apa barusan?" Vano memicingkan mata, menahan rasa geramnya pada Killa. Bisa-bisanya ia dipanggil dengan sebutan seperti itu.
"Om," dan dengan rasa tanpa bersalah sedikit pun, Killa mengulang panggilannya untuk Vano.
Mungkin, jika dilihat dari penampilan, memang wajah mereka terlihat seperti om dan keponakan. Di samping cara berpakaiam Killa, wajah Killa pun juga terlihat masih sangat muda. Ditunjang dengan postur tubuh Killa yang mungil. Sangat cocok sekali.
Sangking geramnya Vano terhadap sikap Killa, sekaligus gemas, Vano pun mendorong tubuh Killa ke belakang hingga terhimpit ke dinding lalu Vano kunci dengan cara menekan tangannya ke dinding di kedua sisi Killa. Sehingga wanita itu tidak bisa berkutik. Di tambah lagi Vano menggenggam tangan Killa.
"Apa yang kamu lakukan? Kita di tempat umum, Om--"
"Jangan pernah sebut aku dengan sebutan seperti itu, Kill." tekan Vano dengan nada rendah serta tatapan yang begitu dalam. "Kita hanya terpaut delapan tahun." Beritahu Vano. Wajah pria itu begitu dekat dengan posisi wajah Killa.
Sementara itu Killa berusaha menahan napasnya. Takut jika ia bergerak sedikit, maka bibir atau hidung mereka saling bersentuhan. Killa melirik ke arah sekitar, di mana ada beberapa orang yang sedang melihat ke arah mereka.
"Ya, kan bener, Om!" Killa bersikukuh tetap memanggil Vano dengan sebutan tersebut. "Lepasin, diliat orang. Malu," pinta Killa seraya berusaha melepas tangannya dari kuncian Vano.
Vano menghela napas. Sepertinya wanita ini tidak bisa dididik jika hanya dengan kata-kata saja. Harus Vano tertibkan dengan sebuah tindakan. Dan ketika Vano mendekatkan lagi wajahnya ke depan, berniat ingin membungkam mulut yang ternyata begitu pedas jika berucap. Tiba-tiba saja Gara berada di dekat mereka.
"Om mau ngapain Mommy?" pertanyaan itulah yang keluar dari mulut anak kecil itu dengan tatapan curiga ke arah Vano. "Kok wajahnya deket-deket banget ke Mommy?" Imbuhnya lagi dengan ekspresi yang masih sama.
Sedangkan Vano bingung mau menjawabnya bagaimana. Jika berkata jujur, malah takut salah dan kena omelan dari Killa.