Mala, jatuh cinta pada pria amnesia yang ditolong ayahnya. Mereka saling jatuh cinta dan menikah. Ketika ingatannya kembali, sang suami tidak pernah lagi pulang ke rumah Mala.
Penantian Mala berakhir dan dia memutuskan merantau ke kota. Dia bertemu dengan suaminya yang ternyata adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Bagaimana Mala akan bersikap dan kesalahpahaman apa yang membuat sang suami tidak pernah kembali?
Bagaimana si kecil Gala ketika tanpa sengaja bertemu sang ayah?
Dapatkah sang suami mendapatkan cinta Mala kembali, dan bersaing dengan pria-pria yang mengejar Mala?
Jawabannya ada disini, yuk baca selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eni pua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mala vs Bu Bella 2
Mata bu Bella melotot seakan mau keluar mendengar uang satu milyar yang diminta Mala. Demikian juga Mei dan pak Bagas yang sejak tadi ikut menguping pembicaraan mereka. Mei dan Bagas saling berpandangan dan tersenyum senang melihat Mala sangat berani menantang bu Bella.
"Wanita gila,apa kamu tahu berapa banyak uang satu milyar itu, pernah lihat?!" tanya bu Bella kesal.
"Saya memang tidak pernah tahu ataupun juga tidak pernah melihat uang satu milyar. Makanya karena ada kesempatan ini, saya ingin melihat seberapa banyak satu milyar itu. Lagipula anda terlalu merendahkan anak anda sendiri. Apakah Andra tidak sebanding dengan satu milyar yang saya minta?!" ejek Mala semakin berani.
"Kamu?! kamu ingin memeras saya?!" teriak Bu Bella.
"Terserah anda mau bilang apa. Lagipula apa anda tidak takut jika saya akan memberitahukan semua ini pada Andra?! Saya ingin tahu, apa reaksi Andra jika dia tahu bahwa ibunya menawarkan uang pada temanya untuk menjauhinya," kata Mala sambil tersenyum mengejek.
"Kamu berani mengancam saya?!" tanya bu Bella kesal.
"Sama sekali tidak, mana mungkin saya berani mengancam anda. Anda punya banyak uang dan saya hanya orang kampung yang miskin,"jawab Mala sinis.
"Cukup, tidak perlu banyak kata. Jauhi Andra atau hidup kamu akan banyak masalah," ancam Bu Bella.
"Banyak masalah atau tidak, itu bukan urusan anda. Jadi anda tidak perlu khawatir, khawatirkan saja hidup anda sendiri," kata Mala terus berusaha membuat Bu Bella menyerah.
Bu Bella sangat kesal karena ternyata Mala tidak semudah yang dia bayangkan.
"Nyonya, saya akan melakukan apa yang saya anggap benar. Saya dan Andra berteman baik, tidak melanggar norma dan etika masyarakat, jadi saya tidak akan menuruti keinginan anda. Terlebih meskipun saya menjauhi Andra, apakah Andra juga akan bersedia menjauhi saya?!" kata Mala sambil menghela nafas.
"Tentu saja dia akan menjauhi kamu. Dia anakku, dan dia akan menuruti keinginan ibunya. Yang penting jauhi dia," kata Bu Bella.
"Anda tidak ingin mengeluarkan uang satu milyar yang saya minta, tapi anda ingin saya tetap menjauhi anak anda. Anda memang pebisnis yang hebat, tanpa modal anda ingin hasil yang memuaskan," jawab Mala sinis.
"Kamu juga wanita yang keras kepala. Seharusnya, jadilah wanita yang penurut dan jangan terlalu banyak permintaan. Pakai minta uang satu milyar, memang aku gudang uang apa?!" kata Bu Bella ikut-ikutan sinis.
"Saya rasa saya sudah cukup meladeni anda, dan tidak ada yang harus dibicarakan lagi. Saya harus kembali bekerja, atau gaji saya akan dipotong oleh bos saya," kata Mala sambil berdiri dan membalikkan badan hendak pergi.
"Tunggu, kamu belum berjanji kepadaku bahwa kau akan menjauhi Andra!" teriak bu Bella.
Mala menghentikan langkahnya dan berbalik kembali. Mala menatap wajah cantik dihadapannya biarpun usianya sudah tidak muda lagi.
"Nyonya yang terhormat, anda tidak harus mengurusi diri saya, uruslah anak anda terlebih dahulu sebelum menyuruh saya menjauhinya. Bukankah sudah saya katakan, walaupun saya ingin menjauhinya, dia belum tentu ingin menjauhi saya. Jadi sekali lagi nyonya, anda salah datang pada saya, permisi."
Mala melangkah pergi sambil tersenyum puas sudah membuat ibunya Andra kesal. Mala sengaja membuat Bu Bella marah karena dia tidak ingin menjadi wanita yang mudah digertak. Hidup di kota besar memang harus mengandalkan diri sendiri untuk bisa tetap bertahan hidup. Dengan tidak merendahkan diri dan martabat sebagai seorang wanita.
Kita harus bisa menghargai diri kita sendiri jika ingin orang lain menghargai kita. Jika kita ingin dihormati, maka hormatilah diri sendiri dulu maka orang lain juga dengan sendirinya akan menghormati kita.
Mei dan Bagas kaget melihat Mala bergegas masuk. Mereka bahkan saling bertabrakan karena takut ketahuan sedang menguping. Mereka pura-pura sedang sibuk membuat kopi.
"Mala, bagaimana? Bisa kau atasi?" tanya Mei.
"Bukankah kalian sudah dengar dan melihat, untuk apa bertanya lagi," jawab Mala sambil tersenyum.
Mei dan Bagas tersenyum malu dan saling berpandangan.
"Maaf Mala, kami tadi penasaran. Aku juga khawatir, jika be Bella itu berbuat sesuatu sama kamu kan nanti aku bisa bantu," kata Mei membenarkan perbuatannya.
"Benar Mala, kami akan siap siaga untuk kamu. Akan tetapi kamu hebat, kamu bisa bertahan dengan serangan Bu Bella. Apalagi satu milyar itu, aku sangat terharu melihatmu," kata Bagas.
"Benar Mala, bagaimana kamu terpikir untuk meminta satu milyar pada Bu Bella? Tentu saja dia pasti menolak. Uang satu milyar itu dapat berapa ribu kerupuk?!" tanya Mei bercanda.
"Mei, jangan bercanda. Mala sedang sedih, kamu malah begitu," kata Bagas sambil menunjuk pipi Mei membuat Mei malu.
"Aku tidak sedih, hanya heran saja. Hubungan aku dan Andra hanya sebatas teman. Siapa yang memprovokasi Bu Bella sehingga dia menganggap kami punya hubungan spesial. Jelas beliau marah bukan pada tempatnya," ucap Mala sambil menghela nafas berat.
"Kamu itu bodoh atau pura-pura bodoh. Semua orang bisa melihat dengan jelas, kalau Andra menyukaimu," kata Mei sambil menyenggol bahu Mala.
"Mei, Mala itu bukan kamu. Sok balas perhatian orang yang kamu kira menyukaimu," ejek Bagas.
"Bos, itu namanya menghargai perasaan orang. Dia baik, maka aku lebih baik, dia sayang, maka aku lebih sayang. Kalau dia jahat, aku lebih jahat 100 kali dari yang dia lakukan. Itu prinsip bos, dari Sononya," kata Mei sambil tersenyum pada bosnya.
"Prinsip apaan, itu namanya lebay. Pantesan mereka takut mendekati kamu, hahaha," kata Bagas tertawa lebar membuat Mei kesal.
"Mala, jangan dengarkan bos. Kalau Andra suka sama kamu dan kamu suka dia, berilah dia lampu hijau. Kalau tidak suka tinggalkan dia saja gampang kok," kata Mei sambil mendekati Mala yang agak galau.
"Aku sebenarnya tak yakin Andra menyukai aku. Dia juga tidak pernah bilang dan kami berteman dengan baik tanpa adanya kata cinta" jawab Mala.
"Menurutku, apa tidak sebaiknya kamu yakinkan dulu perasaan kamu padanya seperti apa. Cinta, hanya suka atau hanya berteman. Setelah itu baru bisa diputuskan langkah selanjutnya," kata Bagas.
" Tapi aku saat ini sedang tidak ingin tahu apapun tentang cinta atau perasaan lain. oh ya bos, hari ini aku izin pulang lebih awal dan besok aku minta cuti sehari," kata Mala.
"Memang ada acara apa?" tanya Mei.
"Anakku datang, dan sekarang tinggal dengan ayahnya. Besok aku ingin menemani dia pergi bermain," kata Mala.
"Pergi dengan mantan suamimu juga?" tanya Bara.
"Iya," jawab Mala sambil mengangguk pelan.
Bagas dan Mei saling berpandangan. Mereka menduga bahwa Mala masih belum bisa move on dari sang mantan.
andra : Sakitnya mencintai sepupu ku,,
saat nya bu shella dan pak reno bahagia...
cepet halalin y pak reno... 😘
tiga kali apa ngga cape mala,,😁😁