Ketika jatuh cinta, tidak ada yang bisa memberi alasan pasti. Hanya merasakan dan tidak bisa menghentikan.
Cinta Henry pada Cynthia, gadis biasa yang melamar menjadi sekretarisnya.
Benarkah itu cinta pada pandangan pertama.
Dua orang yang berbeda latar belakang. Henry Elfred seorang CEO perusahaan British Oil & Gas, keturunan Inggris dan Jawa, berasal dari keluarga kaya raya yang penuh intrik kotor dan drama, sedangkan Cynthia hanya gadis biasa dan sederhana.
Cinta mereka terhalangi karena Henry hanya bisa menikahi seorang puteri pengusaha untuk memperluas wilayah kekuasaan perusahaannya di Indonesia. Begitu banyak rintangan untuk bersama dengan wanita yang dicintainya.
Bisakah Henry menyakinkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adine Indriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 A Reason To Live
Cynthia! Cynthia! Cynthia!
Tubuh Henry berguncang, tiba-tiba mengalami syok.
“Dokter … suster … tolong, suamiku!” teriak Fransisca keluar dari ICU. Henry mengalami penurunan kondisi.
Dokter dan beberapa perawat langsung menangani Henry saat itu juga.
“Tekanan darah menurun, irama jantung lemah dan suhu tubuh menurun drastis, Dok” ucap perawat itu memberikan laporan.
“Hipotermia, syok kardiogenik!”
“Kenapa dengan suamiku!” Fransisca mulai histeris. Seorang perawat membawanya keluar ruangan selagi dokter menangani serius.
“Berikan resusitasi jantung dan paru untuk memompa dan berikan Dopamine 50 mcg.” Sambung dokter itu.
“Baik Dok!”
Setelah 20 menit kondisi Henry kembali normal. Untuk sementara Henry tidak boleh dikunjungi siapapun, hanya boleh melihatnya dari jendela.
Keesokan harinya, matanya terbuka tidak bisa melihat sekelilingnya yang membuatnya panik, kebingungan. Bahkan ruangan yang penuh alat-alat menyala, mengeluarkan suara aneh dan selang-selang yang menancap pada tubuhnya tidak bisa di dengarnya hanya merasakan sakit dan pusing. Hembusan napas yang kembali terhirup ke rongga hidung miliknya, membuatnya merasa seperti berada dalam peti mati, hanya saja belum mati.
Tiba-tiba, seorang perawat masuk dan melihat Henry yang mulai sadar. Perawat itu berlari keluar untuk memanggil dokter.
“Di mana aku? Kenapa sangat gelap dan sunyi?”
“Astaga! Dokter, pasien sudah sadar!” sambung perawat itu berteriak.
Beberapa dokter yang menangani pembedahan, anestesi dan syaraf memeriksa kondisi Henry. Alat pernapasan dilepas dari wajahnya, hanya tinggal selang infus yang masih menusuk pergelangan tangannya.
Memeriksa kornea matanya dengan kilatan lampu senter, tidak merespon dan suara jentikan jari di telinganya juga tidak merespon, bahkan peluit yang dibunyikan seorang perawat tidak di dengarnya. Henry mengalami kebutaan dan tuli. Prediksi awal dokter benar-benar terjadi.
Dokter menjelaskan jika saat ini Henry mengalami buta dan tuli, entah kondisi ini hanya sementara atau selamanya hanya waktu yang bisa menjawab. Dokter menyarankan agar dirinya tinggal sementara bersama orang-orang yang dikenalnya. Bersama keluarganya bukan orang asing agar pemulihannya lebih cepat.
“Tapi Dok, Henry biasa tinggal sendiri, hanya bersama Yonglex yang sering menemaninya,”
“Bagaimana dengan istri dan keluarganya?”
“Mereka baru menikah dan baru saja berkenalan … entahlah!”
Yuminten memberitahukan Fransisca kondisi Henry yang tidak bisa melihat dan mendengar. Rasanya seperti dunia kiamat, baru saja menikah sudah mengalami cobaan yang begitu berat.
“Apa kamu sanggup untuk mengurus Henry dan di mana kalian akan tinggal?”
“Aku sudah membeli rumah untuk kami tinggali setelah menikah, aku akan menerimanya seperti ikrar dan janji pernikahan yang kuucapkan.”
“Tapi Fransisca, dokter menyarankan agar dirinya tinggal ditempat yang tidak asing dan bersama dengan orang-orang yang dikenalnya.”
“Tapi aku istrinya, aku istrinya! ….” Fransisca berlari menjauh dari Yuminten dengan tangisannya yang pecah.
“Fransisca … Fransisca!” teriak Yuminten memanggilnya.
***
Henry bangun dari ranjang pesakitan, ingin keluar namun ditahan oleh perawat dan keluarga. Semua yang bisa disentuhnya akan dilempar keluar. Henry merasa tidak berdaya dalam kondisi tidak melihat apalagi tidak bisa mendengar. Henry hanya berteriak ingin pergi dari sana, ingin pulang. Fransisca melihat keadaan suaminya yang memburuk pasca operasi semakin berduka. Fransisca merasa jika Henry begitu asing dan tidak mengenalinya.
Dirinya menangis dan mulai berteriak histeris melihat amukan Henry di dalam sana.
“Hentikan! … hentikan! … aku sudah tidak tahan lagi!” Fransisca berlari keluar, rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya. Yonglex mengejarnya hingga ke atas gedung. Mengkhawatirkan dirinya yang hilang akal lalu putus asa. Berada di paling atas gedung yang sepi dan terbuka.
“Aaaaaaaaaaaa … kenapa Henry tidak mati saja, itu lebih baik untuknya!” ucap Fransisca frustrasi.
“Nyonya, ayo kembali di sini tidak aman!” ucap Yonglex tersengal-sengal mengatur napasnya.
“Kenapa? Apa ada yang peduli dengan perasaanku saat ini? Hah ….” Bentak Fransisca histeris memarahi Yonglex.
“Aku tahu Nyonya sangat mencintainya, jika Nyonya tidak peduli, tidak akan merasa putus asa seperti ini,” ucap Yonglex.
“Benarkah? Lalu apa yang harus kulakukan, aku tidak berguna di sini ... suamiku tidak mengenaliku.” Erangan tangisannya semakin menjadi-jadi.
“Nyonya, bersabarlah sebentar lagi … Tuan Henry memerlukan anda di sini.”
Sembari menyodorkan tangannya dari tepian tembok itu. Fransisca hanya termangu melihat sikap Yonglex yang aneh. Yonglex mulai merangkak mendekati Fransisca agar bisa meraih tangannya.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Ah … aku takut ketinggian, Nyonya. Jadi cepatlah raih tanganku ini,” perintah Yonglex.
Wajah yang tadinya berduka seketika tersenyum aneh melihat Yonglex yang merangkak sembari menyodorkan tangannya.
“Hmm … dari mana Henry bisa menjadikanmu tangan kanannya jika ketinggian saja kamu takut!” sindir Fransisca angkuh sambil lalu.
“Ah … baiklah, sekarang aku harus merangkak mundur.” Sembari mundur ke belakang pelan-pelan tanpa melihat ke depan yang langsung terlihat awan dan ujung pepohonan. Tempat yang paling tinggi di gedung rumah sakit ini.
Ketika Yonglex berlari mengejar Fransisca, dirinya terkejut karena dikagetkan oleh penampakannya yang tiba-tiba di balik sudut.
“Stop!” ucap Fransisca menghentikan Yonglex.
“Astaga … ada apa, Nyonya?”
“Saya mau tanya satu hal dan harus kamu jawab!” sembari memberikan tatapan mematikan.
Perasaanku enggak enak.
Yonglex mengangguk ragu.
“Siapa Cynthia?” tanyanya singkat.
“Apa?” Yonglex terbata.
“Henry selalu menyebutnya ketika Koma? Alam bawah sadarnya selalu mengingatnya! … cepat Jawab!” sentak Fransisca.
“Sa-saya tidak tahu, Nyonya!”
“Bohong! Kamu pasti tahu. Jangan bermain-main denganku, aku akan bunuh diri sekarang juga!” melangkah ke tempat tadi.
“Jangan Nyonya … Cynthia adalah seseorang yang sangat penting untuknya,” balas Yonglex.
“Apa kamu bilang?” Fransisca terlihat murka.
Yonglex hanya menunduk, perasaannya merasa bersalah karena sudah mengatakan yang sebenarnya. Tetapi, itu dilakukannya agar Fransisca tidak melakukan sesuatu perbuatan yang nekat, untuk menyakiti dirinya sendiri.
Sekembalinya mereka keruangan, Henry masih mengamuk dan beberapa penjaga mulai berdatangan untuk mengekangnya agar dokter bisa memberinya obat penenang. Henry berteriak ingin keluar dari sana, hanya ingin pulang. Semua orang kewalahan, termasuk seluruh keluarga yang berhamburan keluar selagi beberapa orang mencoba membuatnya tenang.
“Aku hanya ingin pulang! Antarkan aku pulang!” sembari memberikan perlawanan pada semua orang yang mendekatinya.
“Henry!” teriak Fransisca tiba-tiba.
Henry tidak bisa melihat dan mendengar. Semua orang menjadi histeris karena Fransisca nekat mendekatinya yang sedang tidak terkendali. Tiba-tiba Fransisca berlari memeluk Henry dengan erat membuat Henry terkejut.
“Cynthia … apa ini kamu? Aku sangat merindukanmu!” ucap Henry berbisik sembari membalas pelukan itu.
“Aku tidak bisa melihatmu dan mendengar suaramu, tapi aku bisa merasakanmu ….” Sambungnya dalam keputusasaan.
Baiklah Henry, jika Cynthia yang selalu ada dalam pikiranmu, aku akan menjadi Cynthia untukmu. Anggaplah aku Cynthia-mu.
Semua family terharu pelukan itu berhasil membuat Henry tenang dan kembali berbaring di tempat tidur. Henry selalu menggenggam tangannya tidak mau melepaskannya. Baginya, Fransisca adalah Cynthia yang bisa membuatnya lebih tenang menghadapi kebutaan dan ketuliannya.
***
Pencet Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )
boom balik karya ku
the thunder's love
🥰🥰
ditunggu lagi Kaka salam dari basecamp