Aku ingin menjadi satu-satunya tempat pulang yang paling kau rindukan.
Untuk kita saling merawat dan membenahi kepingan hati yang hancur karena cinta masa lalu mu.
Aku adalah satu-satunya jiwa yang bahkan tidak memperdulikan tekanan batinku sendiri demi cinta yang telah ditakdirkan untukku.
Aku akan menaklukan hatimu, melepas lelah mu, mengukir tawamu, membuang duka mu.
Hingga kita bahagia.
Kisah ini mengisahkan pengorbanan seorang istri dalam meyakinkan hati suaminya. Berperang dengan masa lalunya. Dan menerima perjodohan yang telah di atur matang oleh kedua keluarga berketurunan Ningrat.
Sanggupkah seorang Roro Dwini Hadiningrat memperjuangkan cintanya...?
Mari, ikuti kisah ku.
Terima Kasih🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 : MENYINGKAP RAHASIA DWINI
Sepekan berlalu, semakin terasa sengsara hidup yang Bimo jalankan. Ia kembali pada rutinitas ala ala lagu Caca Handika
"Masak-masak sendiri, makan-makan sendiri,cuci baju sendiri, tidur pun sediri."
(Siapa suruh jomblo)
Bahkan Bimo mulai jengah dengan beberapa pertanyaan orang-orang di sekitarnya yang selalu bertanya keberadaan istri cantiknya tersebut.
"Wah... tumben pak komandan beli sayur sendiri istrinya kemana pa?" tanya beberapa orang yang berpapasan dengannya saat menenteng kantung belanjaan berisi sayuran.
"Ih.. balik masa jomblo deh kalo kayak gini." sarkasnya dalam hati.
"Mending jomblo jelas masih melajang, lah ini beristri tapi istri tidak ada di sisi, ternyata ngenes juga gais." Bimo bergumam sendiri sambil membersihkan sayur mayur yang ia beli.
Bimo pun mengambil ponselnya untuk memanggil Jovan.
"Jo... istrimu sudah lahiran kan...?" tanyanya langsung.
"Iya ndan, ada apa...?" tanya Jovan agak heran.
"Apakah dia sehat...?" tanya Bimo lagi.
"Sehat, ada apa...?" Jovan semakin penasaran.
"Dia bisa masak ga sih?"
"Kalau urusan masak ga usah di tanya, walau repot ia selalu menyempatkan untuk memasak, ada apa sih serius banget?"
"Mulai besok aku bayar makan sama istrimu ya, aku tidak cocok dengan masakan warung. Tapi kalau masakan istrimu aku suka dan pas dengan seleraku."
"Laah... istri pak Kokon mana? Mabok?" kelakar Jovan.
"Istriku sekarang tinggal di Surabaya Jo, dia bekerja di sana, jadi tidak bisa selalu bersamaku di sini, paling tiap akhir minggu dia atau aku yang ke sana." Jelas ini bohongnya Bimo.
"Yaah... kesepian lagi dong komandanku." Jawab Jovan setengah meledek.
"Ya... dia itu seorang Psikolog. Tidak mungkin bekerja di sebuah kecamatan seperti tempat kita bekerja ini. Dan sekarang aku juga sedang mengurus kepindahanku ke Surabaya supaya kami tidak tinggal terpisah seperti ini."
"Ya... pengantin baru mana kuat pisah-pisah tidur pak komandan." Lagi Jovan meledek Bimo.
"Makanya ini sedang saya usahakan, lelah juga di jalan. Ketemu udah cape aja, mau ijin terus ga bisa, malu lagi. Kan jadinya ga maksimal Jo."
"Nah... itu dia. Ntar ga jadi-jadi kecebongnya pa komandan."
"Hussh... kamu ini Jo kalau ngomong suka bener...!!!! hahaa...hahaha..." Bimo ikut terbahak.
"Pak Komandan... ga sekalian uruskan aku juga ikut pindah ke Surabaya. Rumah ayah ga ada yang nempatin di sana, aku juga khawatir ayah bosan jika tinggal bersama kami di Desa, kadang beliau juga bisa minta pulang untuk menjenguk rumah yang sejak dulu ia tempati bersama almarhum ibu."
"Satu-satu ya Jo, aku urus kepindahanku terlebih dahulu, nanti pasti aku bantu urus kepindahanmu. Ya setidaknya kamu bisa tugas belajar dulu dan jangan lupa untuk mengurus kepindahan istrimu, sebab ia kan Pegawai Negeri Sipil mungkin akan ribet juga urusan usul pindahnya." Terang Bimo.
"Baiklah... gampang istriku sudah lama mengabdi di desa, jadi kemungkinan untuk pindah apalagi aku pun bisa pindah, pasti akan mudah urusannya dengan alasan mengikuti suami. Entah dengan alasan pak komandan, pindah kok mengikuti istri...ha...ha...ha." Jovan menertawai keluh kesah Bimo.
"Jovan, kamu tampaknya senang sekali ya melihat aku sengsara?" Hardik Bimo tentu dengan nada bercanda.
"Ha...ha... ha... bercanda pa Kokom."
"Ingat mulai besok pagi, 3 kali sehari istrimu harus memasak untkku."
"Siap komandan, pokoknya beres." Jawab Jovan yang memang tidak pernah menolak perintah Bimo yang sudah seperti adiknya sendiri. Ya , adik ipar gagal.
Bimo ingin memanggil jasa tukang setrika di Desa itu, seperti yang biasa ia lakukan saat masih sendiri.Tetapi kali ini ia merasa malu, karena telah lama tidak menggunakan jasa tersebut.
Ia merasa masih malu mengakui jika kini tanpa istri yang mengurusnya di rumah, sehingga pelan pelan Bimo melakukan pekerjaaan yang biasa Dwini lakukan untuknya itu sendiri.
Yang sebenarnya pekerjaan itu juga bukan pekerjaan baru baginya, mereka sudah terlatih saat pendidikan. Bagaimana mengurus keperluan diri sendiri, hanya karena sudah terlanjur enak sempat memiliki istri yang mengurus semuanya walaupun hanya 3 bulan di nikmati, sehingga membuat Bimo agak kaku melakukannya sendiri.
Peluh Bimo menetes perih di pelupuk mata dari keningnya, terbayang wajah cantik istrinya. Yang seorang anak tunggal dan juga berada, putri seorang jendral, seorang lulusan S2, mau mengabdi dan meleburkan dirinya menjadi istri yang super sederhana tinggal di sebuah desa yang jauh dari keramaian dan hiruk pikuknya kota besar.
Sungguh wanita berhati berlian, mengapa semenit saja tidak pernah terpikirkan oleh seorang Bimo bahwa wanita itu, baru saja lepas dari sebuah istana, harus hidup, tinggal dan menetap bersamanya di desa. Demi seorang Bimo.
Muncul lagi rasa bersalahnya ada istrinya.
Sepekan 3 kali sehari Bimo selalu mengirim pesan teks pada istrinya, sepekan itu pula ponselnya tidak pernah menerima balasan dari sang istri.
Bimo hanya bisa mengusap kasar wajahnya, Ia pun berinisiatif memindahkan barang -barang istrinya ke kamarnya, agar kelak jika istrinya mau ia ajak sesekali ke desa ini, mereka sudah seperti suami istri pada umumnya.
"Sungguh pria kejam macam apa aku ini, sampai tega membiarkan istri tidur di kamar lain, jangan-jangan aku memang kelaianan jiwa." Sarkasnya sendiri.
Pelan tapi pasti semua barang milik Dwini sudah bepindah dari kamar sebelah ke kamar Bimo.
Dan saat memindahkan tadi, Bimo menemukan sebuah buku yang sepertinya berusia tidak baru. Namun, karena pekerjaan Bimo masih banyak ia tidak berminat untuk membukanya, karena merasa lebih penting meyelesaikan pekerjaannya.
Ketika malam telah menjelang, susana rumah tentu lah sangat sepi, hanya suara jangkrik dan temaram sinar bulan yang menyinari halaman depan rumah jabatan tersebut. Bahkan sinar bulan itu mengalahkan pijaran lampu taman di sepanjang komplek asrama polisi di sekitarnya.
Dengan di temani secangkir teh hangat, dan beberapa biskuit. Bimo tampak serius duduk dengan menumpuk kakinya di salah satu kaki yang lain, ia sibuk membaca buku harian milik Dwini.
Lembar demi lembar ia buka dan ia baca dengan seksama. Kadang ada senyum tersungging saat ia membaca isi catatan itu.
Tulisan anak SMA yang beranjak dewasa, namun Bimo tidak berhenti untuk terus membuka lembaran kertas bertulisan dengan berbagai warna tintah di sana. Kadang ada terselip fotonya saat masih pendidikan.
Bimo mengeryitkan dahinya, melihat ada nama seorang lelaki selain namanya dalam buku tersebut.
Ada degupan panas tiba-tiba meyesap di dadanya. Saat tau betapa pria itu banyak membantu dalam pembuatan skripsi bahkan tesisnya selama ia meraih gelar akademiknya.
Namun, rasa marah dan mungkin cemburu itu berangsur hilang. Saat lembar demi lembar di bagian belakang itu, membuat hatinya hancur berkeping-keping.
Bimo menyadari untuk pertama kalinya, bahwa ia telah menyia-yiakan wanita yang begitu amat besar mencintainya. Bahkan rela hidup tanpa bercinta dengan pria manapun, hanya demi dirinya seorang.
Bimo tidak mampu menahan gejolak di dadanya untuk tidak mengeluarkan air matanya. Untuk pertama kalinya, air mata Bimo jatuh menangisi seorang wanita yang telah berkorban untuk mencintainya. Ya, hanya untuknya seorang.
Bersambung...
...Kasih 2 kali up deh hari ini😘...
...Gimana Readerkuuh... kita lanjutkan kah siksaan untuk mas Bimo....
...Komen kalian sangat menentukan kemana cerita bermuara....
...Like kalian sangat berarti bagi author....
...Vote kalian... itu yang author harapkan...
...Salam sehat selalu💪💪🙏...
*semua kesalahan suami diperjelas salah dan dibuat dicap kesalahan fatal dan harus dapat balasan dulu
tapi kesalahan istri malah dibenarkan dan dianggap bukan kesalahan
ini lah contoh pemikiran munafik wanita yang dibawa kedalam karya novel
dsini dengan pria lain ketemuan, berintrkasi sebagai teman yang fakta sudah sangat keterlaluan dianggap hal biasa
emang susah kalau pemikiran wanita egois dibawa kedalam novel