Jasmine Elnora Brown, seorang pelukis yang menyukai hal sederhana dan tidak rumit harus menghadapi sebuah cinta unik dari seorang pria pendiam nan misterius, Edward Maleaki Lendsman. Semua berawal baik, tapi semakin jauh Jasmine melangkah dia akhirnya menyadari bahwa dia tidak hanya menghadapi satu sisi pribadi saja dalam diri Edward, tapi juga menghadapi sisi tergelap Edward yang begitu hitam. Sisi yang akan membuat dia berpikir dua kali untuk memperjuangankan Edward.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aresss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bath
Happy Reading
***
Jasmine POV
"Aku tidak mau.." ucapku.
"Kenapa?" ucap Edward seraya menaruh nampan di atas tempat tidur.
"Aku akan mandi di ruangan yang lain..."
Edward menarik napas kemudian menghembuskannya perlahan seraya memijit keningnya.
"Baiklah... Kau mandi saja di sini. Aku akan pergi ke ruangan lain."
Edward mengambil teko listrik dan menaruhnya di atas meja nakas.
"Minumlah teh ini untuk menghangatkan badanmu. Lalu.. Berendam atau lakukan hal semacamnya untuk membuatmu rileks..." ucap Edward dengan posisi membelakangiku.
Aku diam di sana hingga dia selesai melakukan kesibukannya. Dia menegakkan tubuhnya dan berdiri ke arahku.
"Aku berharap kemarahanmu surut setelah kau mandi, Jasmine..." dia berjalan melewatiku menuju pintu. Aku berdiri di sana hingga mendengar suara pintu terbuka dan tertutup.
Aku menghela napas, merasa menyesal. Aku segera berjalan menuju kamar mandi. Aku mengamati sekitar. Ini kedua kalinya aku mandi di tempat ini. Aku melepas semua pakaianku yang basah dan menaruhnya di dalam keranjang pakaian.
Aku melihat kamar mandi yang besar itu. Saat pertama kali mandi di sini, aku tidka tertarik menatap sekitar karena keadaan tubuhku yang sakit dan pegal. Sekarang aku memiliki kesempatan melihat furniture kamar mandi ini.
Sangat bersih dan mewah. Warna putih, hitam, dan abu-abu mendominasi tempat ini. Ada sebuah bathtub di sebelah kiriku dan di depanku sebuah shower. Ada cermin besar dan lebar. Lalu ada sebuah kaca buram pembatas yang memiliki pegangan.
Aku menarik pegangannya dan melihat ruang mandi lain yang memiliki Jacuzzi bulat. Aku berjalan masuk dan menatap gorden putih panjang di sana. Aku berjalan melewati jacuzzi meuju gorden itu. Aku menilik ke balik gorden dan terkesiap bahwa ada jendela kaca besar yang menampilkan lautan.
Aku masuk ke balik gorden dan melihat tetesan hujan yang besar di kaca. Lautan beriak dengan kuat dan kencang. Begita suram dan menakutkan. Aku menutupnya kembali dan berjalan keluar dari ruangan jacuzzi itu. Aku menjalakan air shower seraya melepas pakaian dalamku.
Aku memejamkan mata saat merasakan air hangat membasahi tubuhku. Itu membautku rileks. Aku menyuci rambutku lalu membasahi spons dengan air dan sabun. Aku menggosok badanku dan mencium wangi sabun Edward. Baun mint lembut begitu terasa di sana.
"Ah.." aku berteriak kecil ketika mendengar pintu yang terbuka. Aku terkejut bukan main lalu bersandar di dinding seraya menutupi tubuhku dengan tangan dan busa.
"Edward!" teriaku ketika melihat dia di sana, berdiri dengan handuk kimono. Dia menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kujelaskan. Antara tatapan malas, tajam, dan marah.
"Apa yang kau lakukan?!" teriakku lagi.
"Berendam.." jawabnya singkat seraya berjalan melewatiku menuju ruangan Jacuzzi.
Aku memutar mata jengkel, "Kupikir kau mandi di ruangan lain.."
"Yah. Aku mandi di ruangan lain dan berendam di sini..."
What the--?! Pria ini benar-benar-- Uh! Aku kehilangan kata-kataku.
****
Lucas POV
Stupid Edward!!
Aku mematikan air shower setelah mandi. Sialan memang Edward!! Kenapa dia tidak melawan dan memaksa Jasmine untuk mandi bersama? Begitu naif... Jika kau berkelahi dengan pasanganmu maka selesaikan dengan sekks.
Aku melap tubuhku hingga kering. Kemudian membungkusnya ke dalam handuk kimono. Aku keluar dari kamar mandi di kamar tamu tersebut lalu pergi menuju kamarku. Aku tidak sanggup mengemis pada wanita, terutama Jasmine. Aku tidak pernah mengemis untuk wanita. Mereka yang mengemis padaku
Aku tidak akan mau bergabung ke kamar mandi dengan Jasmine lalu meminta maaf seperti yang dilakukan Edward. No. No. No. Lucas tidak pernah mengucpakan maaf. Hah... Jika Jasmine berharap aku mengatakannya maka aku sukarela memberi alih tubuh ini pada Edward.
Dasar wanita. Selalu sulit. Selalu menjengkelkan. Tempramen mereka. Sial... Mereka bukan makhluk yang simpel. Selalu membuat segalanya rumit. Dan tentunya penyedot uang yang paling hebat dan cepat.
Aku membuka pintu kamarku dan masuk ke dalam. Hah.. Melihat Edward mengalah pada Jasmine dan pergi ke ruangan lain untuk mandi benar-benar membuatku malu. Dasar lemah. Edward benar-beanr membuatku malu. Itu akan membuat Jasmine semena-mena kepada tubuh ini.
Dan itu berbanding terbalik dengan keinginanku untuk menundukkannya dalam tanganku. Sial. Ini benar-beanr membuatku marah dan muak. Aku mendengar bunyi shower dari kamar mandi dan menatap ke arah pintu itu. Dia pasti tengah mandi.
Telanjang...
Aku menggeram keras dan menahan hasratku untuk masuk ke sana. Aku membuka pintu closet-walk-in* dan berjalan masuk. Aku melepas handuk kimonoku kemudian memakai boxer hitam. Aku hendak mengambil kaos abu-abu dari sana kemudian mengurungkan niatku.
*Closet-walk-in = sebuah ruangan khusus pakaian\, sepatu\, aksesoris\, dan lainnya yang sejenis dan mempukan pengguna berjalan di sana*
Persetan denganmu Jasmine.
Aku memakai handuk kimonoku lagi kemudian berjalan ke luar. Aku menatap pintu kamar mandi dan segera berjalan ke sana. Ketika aku menginginkannya maka aku harus mendapatkannya. Bahkan jika aku harus melakukan paksaan. Aku bersumpah menyetubuhimu dengan paksa Jasmine.
Persetan jika itu membuat Edward dan Jasmine putus. Aku tidak peduli. Aku bisa mendapatkan Jasmine dengan caraku sendiri. Aku membuka pintu dan menatap Jasmine berdiri membelakangiku di bawah shower. Dengan cepat, dia membalikkan badan dan menatapku.
"Ahhh!" dia berteriak dan menatapku dengan tatapan marah. Dia menyudutkan tubuhnya di dinding seraya menutupi tubuhnya dengan tangan.
Tubuhnya dipenuhi busa dan itu benar-benar menggodaku. Aku menatapnya dari atas hingga ke bawah. Oh my.. Dia benar-benar cantik, tapi menyebalkan.
"Edward!!" protesnya dan dari situ, aku sadar dia masih marah. Bisa-bisanya... Berulang kali dikatakan bahwa Kimberly adalah teman. Yah, sejujurnya Edward yang berteman dengannya. Namun, tetapi saja Jasmine dibutakan oleh cemburu.
Aku memutar mataku. Marahlah dan aku tidak akan peduli.
"Apa yang kau lakukan?!" teriaknya lagi.
"Berendam.." jawabku singkat seraya berjalan melewatinya menuju ruangan jacuzzi. Ini rumahku, kamar mandiku dan aku punya hak di sini Jasmine. Aku masuk ke dalam ruangan tersebut lalu mendengar teriakan lain.
"Kupikir kau mandi di ruangan lain.." teriaknya
"Yah. Aku mandi di ruangan lain dan berendam di sini..."
Aku menekan tombol untuk membuka gorden lalu mengisi Jacuzzi dengan air hangat. Aku menatap ke arah jendela buram sebagai pemisah kami. Aku bisa menatap bayangan tubuhnya di sana. Sialan, Jasmine.. Aku mengusap wajahku dengan gusar ketika tidak mendengar air shower di jalan lagi. Dia telah selesai mandi...
Kenapa.. Kenapa Jasmine seolah ingin memaksaku untuk mengemis padanya?! Kenapa?!
"Jasmine..." panggilku pada akhirnya.
Hening dan tidak ada sahutan di sana. Grrr.. Benar-benar menaikkan tempramenku.
"Jasmine.." panggilu sekali lagi.
"Yah.." jawabnya pelan dan aku segera berjalan ke arah pintu seraya membukanya.
"Ayo berendam..." ucapku dan menatap dia yang telah dililit oleh handuk.
"Aku sudah selesai mandi..."
"Mandi dan berendam adalah hal yang berbeda..."
Dia menggeleng kepala kecil, "Kau selalu mendebatkan segalanya.."
A-Apa? Apa-apaan? Dialah yang sangat mudah cemburu dan mendebatkan hal yang tak perlu.
"Aku ingin membicarakan sesuatu.."
"Apa?"
"Aku akan memberitahumu hanya jika kau bergabung denganku..." aku menyipitkan mata, "Aku berjanji tidak melakukan apa pun.." Itu. Itu adalah batas kata-kata manisku padanya.
"Memangnya kau akan melakukan apa? Kau menakutiku..."
Aku menelan ludah, begitu kesal dengan sikap jual mahalnya. Aku tau dia menginginkan ini juga.
"Kau bisa menggunakan pakaian atau semacamnya jika kau tidak suka..."
"Jangan bercanda. Aku akan pergi..."
Lihat? Dia benar-benar wanita yang sulit!!
"Okay... Aku akan mengajak Kimberly sebagai gantinya.."
Dia melotot padaku, "Kenapa kau membawa-bawa dia?"
Lihat? Betapa mudahnya dia terpancing.
"Kau membingungkanku, Edward. Emosi dan perubahaan suasana hatimu sangat cepat berubah..."
Ckckc.. Hanya jika kau tahu jika pria yang kau cintai itu memiliki alter ego. Aku menghela napas dan menghembuskannya perlahan. Jika bermain halus tidak mempan, satu-satunya jalan adalah dengan paksaan. Aku berjalan ke arahnya
Skenario aku mendorong dia ke dinding, memegang lengan tangan dan menahan tungkai kakiknya memenuhi kepalaku. Aku akan menyibakkan handuk itu dari tubuhnya lalu menyetubuhi dia tanpa ampun. Tanpa belas kasihan. Hingga dia tidak mampu berjalan selama seminggu lebih..
"A-ahk." aku menggeram kesakitan saat kepalaku di hantam oleh rasa sakit dari dalam. Aku berpegangan ke dinding dengan tangan kiriku, sedangkan tangan kananku memegang kepalaku yang tiba-tiba sakit.
"Sial." umpatku pelan. Edward memaksa untuk menguasai tubuh ini. Dia tersadar. Sialan.
"Edward..." aku menatap wajah khawatir Jasmine, "Ada apa?" dia memegang tanganku dengan khawatir.
Aku mengernyit dan mata menyipit... Perlahan aku tertarik secara paksa ke dalam lubang tak berdasar itu kembali dan detik itu Edward muncul mengambil alih tubuh ini. Persetan!!
"Aku baik-baik saja..." ucap Edward seraya tersenyum hangat pada Jasmine. Dia menegakkan kepalanya seraya menggeleng kecil, untuk menghilangan rasa sakit di kepalanya. Dia memaksa merebut tubuh ini demi Jasmine. Dia tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi pada Jasmine jika Lucas masih menguasai tubuh ini.
"Kau tidak baik-baik saja. Wajahmu begitu pucat, Edward!" teriakan Jasmine pada Edward membuat Edward tersenyum. Bukan teriakan karena pertengkaran, tapi teriakan karena khawatir.
Edward tersenyum hangat lalu mengelus wajah Jasmine, "I'm okay, Jasmine... Maafkan aku. Pergilah berpakaian. Aku sudah membeli beberapa set pakaian.." Edward memutar tubuh menuju jacuzzi
"Edward..." ucap Jasmine seraya menahan tangannya.
"Aku akan berendam.."
"Aku ikut..."
Edward menoleh padanya, "Tak perlu, Jasmine. Aku hanya bercanda ketika mengatakannya tadi."
"Aku ikut. Tunggu aku di sana. Aku akan membawakanmu teh jika kau memaksakan dirimu untuk berendam.."
Edward menarik napas, "Okay, Jasmine.. Okay.."
Edward tahu bahwa dia tidak akan mampu melawan keras kepalanya Jasmine.
****
Jasmine POV
Aku memeriksa kamar Edward dan mencari pakaian yang dia katakan. Aku berjalan menuju lemari berwarna hitam yang menyatu dengan dinding sehingga jika aku tidak melihatnya dengan seksama, aku tidak akan menyadari ada lemari di sana.
Aku membuka kedua pintu lemari tersebut dan menatap banyak pakaian di sana. Semua pakaian wanita. A-apaan ini? Aku perlu penjelasan untuk ini juga. Aku buru-buru mencari pakaian dalam karena mendengar lengkingan dari teko listrik. Aku memakai semacam pakaian dalam sport hitam agar aku nampak sopan.
Itu tidak menunjukkan belahan dadaku dan juga tidak menunjukkan bokongku. Benar-benar menutupi dengan sempurna. Aku berjalan menuju meja nakas, tempat berada teko teh listrik yang sedang memanaskan air. Aku membuka kotak kayu satu dan melihat ada teh celup di sana. Aku mendekatkan hidungku ke teh tersebut.
"Teh jasmine.." bisikku. Aku suka teh, terutama teh ini. Secara namanya saja sudah teh jasmine. Itu memberi koneksi tersendiri bagiku. Aku mengambil dua teh dan menaruhnya masing-masing ke dalam mug. Aku membuka kotak kayu satu lagi dan melihat gula balok.
Aku menuangkan air panas ke dalam mug lalu membawanya di atas nampan bersama gula balok. Aku berjalan perlahan menuju kamar mandi. Aku tidak mendengar suara apa-apa pun. Aku mendorong pintu kaca pembatas dan melihat Edward dengan posisi setengah berbaring di dalam jacuzzi. Dia menoleh ke arahku.
"Jasmine.." ucapnya dan hendak berdiri, tapi aku menggeleng kecil.
"Kau duduk saja..."
Aku bersyukur bukan main saat menatap dia mengenakan boxernya. Walaupun itu ketat, setidaknya menutupi hal yang perlu ditutupi tersebut. Aku menaruh nampan tersebut di pinggiran jacuzzi.
"Bergabunglah.." ajak Edward dan aku mengiyakannya. Aku perlahan masuk ke dalam jacuzzi tersebut. Aku bersandar pada dindingnya dan air hangat itu memenuhiku hingga dada. Nyaman. Benar-benar nyaman.
"Terima kasih atas teh jasminenya, Jasmine.." aku terkekeh kecil mendengarnya.
Aku dan dia menikmati teh itu dalam diam seraya menikmati pemandangan menakjubkan di luar. Aku benar-beanr merasa hidupku naik hingga level tertinggi. Aku yang dulu hidup dalam kekurangan mampu menikmati pemandangan riakan ombak lautan dalam jacuzzi mewah.
"Tidak semua yang tampak menakutkan itu tidak layak dinikmati.." ucapku seraya menaruh mugku yang tersisa setengah.
"Kau benar..."
Aku menarik napas kemudian menoleh pada Edward.
"Kau punya penyakit atau semacamnya?" tanyaku
"No. Tentu saja tidak. Aku pria matang nan sehat..." ucapnya dengan nada bercanda.
"Aku serius..."
Senyum Edward perlahan hilang kemudian dia menaruh mugnya di pinggir jacuzzi. Oh yah ampun.. Apa dia benar-benar memiliki kompilkasi penyakit?! Sial, aku tidak suka aura-aura seperti ini. Dia tersenyum padaku. Yah.. Yah.. Senyum itu selalu kulihat dalam serial payah televisi.
Keadaan ketika pemeran utama pria akan mengakui bahwa dia menderita penyakit akut pada kekasihnya yang tak lain pemeran utama wanita.. Dan kemudian pemeran utama pria mati dan tamat. Sialan! Aku tidak mau kisah cintaku berakhir seperti itu.
Dia menarik napas dan tubuhku bergetar. Kemudian Edward menyergit.
"Kau okay, Jasmine?"
"Yah. Yah. Aku okay..."
""Kau kelihatan tegang dan--"
"Jujurlah padaku dan katakan sesungguhnya.." potongku dengan nada dramatis sialanku. Hah. Itu keluar begitu saja!!
Edward mentapku bingung, "Tentang apa?"
"Hal yang ingin kau katakan..."
"Apa?"
Aku mendengus lalu memukul air tersebut.
"Lupakan.."
"Ada apa?" ucap Edward seraya menarik dirinya semakin dekat denganku.
"Apa kau benar-benar tidak sakit atau semacamnya?"
"Yah. Tentu... Kepalaku tiba-tiba sakit dan itu hanya sebentar. Kupikir semua orang pernah merasakannya..."
Dia benar.
"Jadi, apa yang ingin kau katakan padaku?"
"Apa?"
"Sebelumnya kau bersikukuh mengajakku berendam di sini karena kau ingin mengatakan sesuatu..."
"Aku hanya mengucapkannya asal agar kau bergabung denganku di sini.."
Aku menyipitkan mata, ada yang aneh dengan pria ini. Gestur wajah, mimik, hingga cara bicara pun berubah. Dai berubah-ubah.
"Kenapa kau melihatku begitu?"
Terkadang dia begitu percaya diri, arogant, dan terkesan pemaksa. Kini...
"Nothing..." ucapku seraya menggelengkan kepala, "Apa Kimberly masih berada di sini?" tanyaku.
"Kemarilah.." ajaknya dan mau tak mau aku mendekatkan diriku pada Edward. Aku bersandar di bahunya dan tangan Edward melingkar di sekitar tubuhku.
Dia mengecup pucuk kepalaku, "Ukurannya pas denganmu..."
"Ah.. Pakaian dalam ini. Kenapa begitu banyak pakaian wanita di lemari itu?"
"Untukmu.." dia mengelus lenganku lembut.
Aku menjauhkan badanku, "Kenapa?"
"Aku hanya ingin memberi hadiah..."
"Apa itu pakaian Kimberly?"
Dia memutar mata.
"Bisakah kau berhenti membahas Kimberly? Itu pakaian yang baru dan aku membelinya karena aku menebak jika kau akan sering menginap di sini.."
"Aku bisa membawa pakaianku kemari.."
"Sudah terlanjur ku beli..." dia mengecup bibirku sekilas, "Bisakah kita berhenti membahas Kimberly? Kita selalu berdebat tentangnya dan aku tidak suka..."
"Kau melihat dia terus saat kita sedang bicara tadi..."
Dia menyergitkan dahinya seolah mengingat.
"Saat sebelum dia terjatuh..."
"Itu karena dia menunggangi kudaku, Pegasus. Dia bukanlah kuda yang ramah dan tentu membuatku was-was. Aku hanya sudah menduganya dia akan terjatuh..."
"Namun kau menggendongnya dan mengalihkan tatapanmu dariku..."
Dia menghela napas, "Itu karena aku terpaksa menggendong Kim di depanmu dan merasa bersalah padamu. Hanya itu. Tidak lebih..."
"Namun,--"
Edward segera menempelkan bibirnya padaku dan aku hendak mendorongnya, tapi dia menahan kepalaku dengan tangannya.
"Berhentilah bertanya-tanya tentang Kimberly.." ucapnya dengan napas berat seraya meremas dadaku. Aku melenguh dan menyergit penuh kenikmatan.
"Okay?" tanya Edward.
"Okay.."
***
MrsFox
DENGAN BERAT HATI AUTHOR KATAKAN, CHAPTER SUDAH DIREVISI. THANK YOU.
sukaaa bgt semua tulisan miss Foxxy ini
❤️❤️❤️
dan kasihan juga Edward..
terimakasih thor cerita mu luar biasa