"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Evelyn
Samantha berdiri mematung sejenak, setelah menutup pintu kamar Matthew. Samantha mengusap sudut matanya sekali lagi dan berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini semua demi kebahagiaan Matthew. Tepat saat ia melangkah melintasi koridor menuju lorong kamar tamu, langkah kakinya terhenti.
Evelyn berdiri di sana, bersandar pelan pada dinding marmer tak jauh dari pintu. Cewek itu sudah mengganti gaun maroon berdarahnya dengan gaun sutra putih gading yang simpel. Rambutnya yang terurai rapi tidak mampu menyembunyikan wajahnya yang pucat. Lingkaran merah di sekitar matanya memperjelas kalau Evelyn juga habis menangis.
Kedua pasang mata itu bertemu.
Atmosfer di lorong mendadak terasa mencekam. Evelyn bisa merasakan aura dingin diantara mereka. Ia hanya bisa menelan ludah, lalu melangkah mendekat dan membungkuk penuh hormat.
"Lady Samantha..." sapa Evelyn pelan, suaranya parau dan sedikit gemetar.
Samantha menatap Evelyn dari atas ke bawah tanpa ekspresi. Tatapan matanya tajam.
"Kamu mendengar semuanya dari luar?" tanya Samantha dingin, tanpa basa-basi.
Evelyn perlahan menegakkan tubuhnya. Ia mengangguk. "Sebagian kecil... aku tidak sengaja mendengarnya waktu akan kembali ke kamar Matthew."
Samantha tersenyum sinis, melipat kedua tangannya di dada. "Bagus kalau begitu. Jadi aku tidak perlu mengulanginya lagi di depanmu."
Samantha melangkah kian mendekati Evelyn.
"Keluarga Pendragon bukan tempat untuk bermain dongeng, Evelyn," bisik Samantha. "Awalnya aku membiarkan kakakku karena aku ingin melihat dia bahagia, bersamamu yang bukan siapa-siapa ini. Tapi, kakakku hampir mati semalam. Dia menahan belati itu untukmu. Apa kau pantas Evelyn??"
Evelyn menundukkan kepalanya. Setiap kata yang diucapkan Samantha terasa seperti pisau yang menusuk dadanya, tapi ia tahu Samantha benar.
"Aku tahu... aku sangat menyesal, Lady Samantha," sahut Evelyn tulus, jemarinya meremas kain gaun sutranya erat-erat. "Kalau saja aku lebih waspada, Matthew tidak perlu seperti ini."
"Aku tidak butuh penyesalanmu," potong Samantha tegas. "Dan aku juga tidak peduli seberapa besar rasa bersalah yang kamu tanggung sekarang. Yang ingin kutahu cuma satu, apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"
Evelyn mendongak. Air mata yang ditahannya sejak tadi akhirnya mengalir membasahi pipinya yang pucat. Namun kali ini, tidak ada nada kemarahan atau pembelaan dalam suaranya—hanya keputusasaan dan kepedihan yang mendalam.
"Aku akan pergi, Lady Samantha," jawab Evelyn serak, suaranya bergetar hebat. "Aku sadar keberadaanku di sini hanya membawa petaka. Matthew adalah seorang Grand Duke, penerus Pendragon... dan dia akan jauh lebih baik, jauh lebih aman, dan jauh lebih bahagia tanpa ada aku di hidupnya. Aku bukan bangsawan. Dan kau benar, ini bukanlah dongeng tapi hidup nyata. Aku akan pergi."
Samantha tersentak kecil. Ia tidak menyangka ucapan pasrah itu keluar langsung dari mulut Evelyn dengan begitu cepat.
"Kamu yakin dengan keputusanmu itu?" tanya Samantha. "Kamu tahu betapa gila kakakku mengejarmu, kan? Dan sekarang keinginanmu adalah pergi?"
"Justru karena itu aku harus pergi," bisik Evelyn seraya mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping tubuhnya. "Aku tidak bisa melihatnya berdarah lagi demi aku. Biarkan aku yang menanggung rasa sakit ini sendirian, asal Matthew tetap hidup dan selamat."
Samantha mematung sejenak. Amarah di dadanya mendadak tertahan oleh kata-kata Evelyn.
"Jadi itu keputusannya?" tanya Samantha, suaranya pelan namun berat.
"Dan kamu pikir kalau kamu pergi, dia bakal baik-baik saja?" sela Samantha cepat. Ia menatap lurus ke dalam mata Evelyn. "Kamu tidak tahu seberapa gilanya Matthew cuma buat melindungi kamu. Kalau kamu menghilang sekarang, Matthew tidak akan makin aman, Evelyn. Dia justru bakal makin nekat dan merusak dirinya sendiri buat mencari kamu."
Evelyn tertegun, jemarinya meremas kain gaun sutranya semakin erat.
Samantha menarik napas panjang, menghembuskannya pelan seraya membuang muka sejenak.
"Jujur, sampai detik ini aku masih belum bisa sepenuhnya menerimamu," aku Samantha dengan jujur dan tegas. "Bagiku, keberadaanmu semalam hampir mencabut nyawa penerus utama keluarga ini."
Samantha beralih menatap Evelyn lagi, kali ini dengan intonasi yang lebih tajam namun sarat dorongan.
"Tapi kalau kamu memang merasa bersalah dan merasa belum pantas berdiri di sisinya... buktikan. Jangan lari seperti penakut," lanjut Samantha. "Belajarlah. Berdirilah di sampingnya sampai tidak ada satu pun orang di kekaisaran ini—termasuk aku—yang berani mempertanyakan posisimu."
Evelyn membeku di tempatnya. Kata-kata Samantha tidak menghakiminya, melainkan seperti tamparan keras yang menyadarkannya dari rasa cemas yang membutakan.
Sebelum Evelyn sempat membalas, dari dalam kamar utama tiba-tiba terdengar suara dentangan barang jatuh yang cukup keras—diikuti erangan tertahan dari suara bariton yang sangat mereka kenal.
PRANG!
Evelyn dan Samantha seketika saling pandang dengan panik.
Tanpa membuang waktu lagi, Samantha langsung mendorong pintu kamar utama hingga terbuka lebar, diikuti Evelyn yang berlari cepat di belakangnya.
Di dalam kamar, Matthew ternyata sudah berada di tepi ranjang. Pria itu berusaha bangkit, namun fisiknya yang masih terkena efek racun Black Widow's Tears membuatnya terhuyung hingga menabrak meja kecil di samping tempat tidur. Vas bunga kristal pecah berantakan di lantai marmer.
Napas Matthew memburu kaku, peluh dingin membasahi dahinya yang pucat pasi, dan perban tebal di bahu belakangnya kembali menampakkan rembesan noda darah segar.
"Matthew!" jerit Evelyn panik.
Evelyn langsung berlari dan berlutut di lantai marmer, menahan tubuh tegap Matthew yang lemas agar tidak tersungkur menghantam pecahan kristal.
"Eve...?" bisik Matthew serak. Mata keemasannya yang redup dan dipenuhi efek demam tinggi perlahan fokus menatap wajah Evelyn. Tangannya yang gemetar langsung terangkat, mencengkeram erat pergelangan tangan Evelyn—seolah takut gadis itu akan menghilang jika ia melepaskannya. "Jangan... pergi..."
Evelyn melingkarkan kedua lengannya ke bahu Matthew yang tidak terluka, memeluk pria itu rapat-rapat seraya menahan tangisannya. Niat di dalam dirinya sangat kuat. Ia harus pergi setelah Matthew bisa berdiri sendiri tanpa bantuan. Ia harus melepaskannya.
"Aku tidak akan ke mana-mana, Matthew," bisik Evelyn. "Aku di sini. Aku akan tetap di sisimu."
Untuk saat ini, aku akan disini Matthew. Untuk saat ini.
Matthew menghembuskan napas lega yang amat berat. Tubuhnya yang lemas akhirnya bersandar sepenuhnya pada dekapan Evelyn, membiarkan kehangatan gadis menenangkannya.
Di dekat pintu, Samantha mengawasi pemandangan itu seraya menggelengkan kepala dan menyunggingkan senyum tipis. Ia menarik napas panjang, lalu melangkah keluar kamar dan menutup pintu dengan pelan—memberi ruang bagi dua orang yang takdirnya tak lagi bisa dipisahkan itu.