Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.
Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.
Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.
"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"
Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."
Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Mentari pagi mulai menghangatkan Kota Seoul ketika Giselle berdiri di depan cermin kamar. Ia mengenakan blouse putih dipadukan blazer krem dan rok span hitam. Riasannya tampak sempurna, menutupi sisa sembap akibat tangis semalam.
Namun setenang apa pun penampilannya, isi hatinya masih bergolak.
Ia menatap bayangannya sendiri selama beberapa detik. "Semua harus selesai hari ini," gumamnya pelan. Giselle meraih tas tangan bermerek miliknya, lalu melangkah keluar kamar. Saat melewati kamar Rebeca, ia membuka pintunya perlahan.
Putrinya masih terlelap di atas ranjang, memeluk guling dengan wajah yang begitu damai. Tatapan Giselle seketika melunak. Ia menghampiri ranjang, menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Rebeca. "Maafkan Mama..." bisiknya lirih. "Mama cuma ingin kamu tetap menyayangi Mama." Giselle mengecup pelan kening putrinya, lalu berjalan menuju meja nakas. Ia mengambil secarik kertas dan sebuah pulpen.
Dengan tulisan rapi, ia meninggalkan pesan.
"Beca sayang, Mama keluar sebentar ada urusan. Jangan khawatir, Mama akan segera pulang. Sarapan sudah Mama siapkan. Mama sayang kamu."
Memo itu diletakkan tepat ditindih dengan ponsel Rebeca agar mudah terlihat saat gadis itu bangun.
Sesaat kemudian, Giselle keluar dari apartemen.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil yang ditumpangi Giselle berhenti di depan sebuah kafe eksklusif yang menyediakan ruang-ruang VIP tertutup. Ia turun sambil menarik napas panjang. Semua langkah yang diambil hari ini terasa begitu berat.
Seorang pelayan mengantarnya menuju ruang VIP nomor lima, tempat seseorang telah menunggu.
"Silakan masuk."
Giselle mendorong pintu perlahan. Di dalam ruangan, Lee So Min sudah duduk santai di sofa sambil menikmati secangkir kopi. Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing atas terbuka. Senyum tipis langsung mengembang begitu melihat Giselle datang. "Akhirnya..." katanya sambil berdiri. "Kamu datang juga."
Tatapan Giselle tetap dingin. "Aku datang bukan untuk bernostalgia."
Lee terkekeh pelan. "Aku tahu." Ia menepuk sofa di sebelahnya. "Duduklah."
Giselle memilih duduk di sofa seberang Lee tanpa membalas senyum lelaki itu. Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Lee terus memandangi wajah wanita di depannya seolah sedang menikmati setiap perubahan yang terjadi selama bertahun-tahun. "Kamu masih secantik dulu," pujinya.
"Aku tidak datang untuk mendengar rayuanmu." Giselle membuka tasnya. Ia mengeluarkan sebuah amplop tebal lalu meletakkannya di atas meja. "Di dalamnya ada uang."
Lee melirik amplop itu sekilas, tetapi tidak menyentuhnya.
"Aku ingin kamu pergi dari hidupku. Terutama... jangan pernah mendekati Rebeca."
Suasana mendadak menjadi sunyi.
Lee menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Lalu?"
"Dan jangan pernah menceritakan apa pun tentang masa lalu kita." Tatapan Giselle berubah tajam. "Aku akan memberimu lebih banyak kalau memang itu yang kamu inginkan."
Lee tersenyum tipis. Namun senyum itu bukan senyum seseorang yang tergoda oleh uang. Melainkan senyum penuh arti yang justru membuat bulu kuduk Giselle meremang. "Bukannya aku tidak suka uang..." ucap Lee santai. "Aku sangat suka uang. Tapi..." Ia mendorong kembali amplop itu ke arah Giselle. "Kali ini, yang kuinginkan bukan hanya uangmu."
Kalimat itu membuat jantung Giselle berdegup lebih cepat. "Kau... apa maumu?"
Lee menatap lurus ke dalam mata Giselle. Senyumnya perlahan melebar. "Itu yang akan kita bicarakan sekarang."
"Apa?" tanya Giselle dengan nada tajam. "Jangan bertele-tele! Cepat katakan!" bentaknya.
Lee So Min tidak sedikit pun kehilangan senyum di wajahnya. Ia menyandarkan tubuh ke kursi sambil menatap Giselle lekat-lekat. "Aku cuma ingin kita kembali seperti dulu."
Rahang Giselle mengeras. "Itu tidak akan pernah terjadi."
"Kenapa?" Lee mengangkat sebelah alis. "Bukankah dulu kamu bilang hanya bersamaku kamu merasa dicintai?"
"Itu masa lalu."
"Tapi aku belum bisa melupakannya."
Giselle menggeleng pelan. "Aku sudah tidak punya perasaan apa pun padamu. Jadi berhenti bermimpi. Kau sendiri yang mengkhianati cintaku dengan meniduri pelayanku sendiri!"
Lee mengembuskan napas pelan. "Aku mengaku salah, Sayang. Dan aku sangat menyesal."
"Aku datang ke sini untuk membeli kebungkamanmu, bukan untuk mendengarkan omong kosong dan rayuanmu."
"Baiklah. Kalau begitu..." Lee merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah flashdisk berwarna hitam, lalu meletakkannya di atas meja.
Tatapan Giselle langsung tertuju pada benda kecil itu. "Itu apa?" tanyanya curiga.
Lee memutar flashdisk itu dengan ujung jarinya. "Isinya... video dan foto-foto kita."
Wajah Giselle seketika pucat. "Apa?"
Lee mengangguk. "Foto-foto saat kita masih bersama. Juga beberapa video yang mungkin... akan sangat menarik kalau dilihat orang lain."
"Nggak mungkin..." bisik Giselle dengan napas memburu. "Bukankah semuanya sudah kamu hapus?"
Lee terkekeh pelan. "Aku memang menghapus salinannya dari ponsel. Tapi aku menyimpan cadangan."
"Kamu..." Mata Giselle membelalak penuh kemarahan. "Kamu sengaja menjebakku?"
"Bukan menjebak." Lee mengangkat bahu santai. "Aku hanya berjaga-jaga." Tanpa pikir panjang, Giselle berusaha meraih flashdisk itu. Namun Lee lebih cepat menarik tangannya. "Jangan terburu-buru."
"Serahkan padaku!"
"Tidak." Tatapan Lee berubah dingin.
"Kalau kamu tetap menolakku..." Ia mengangkat flashdisk itu di depan wajah Giselle. "Maka Rebeca akan mengetahui semuanya."
Jantung Giselle serasa berhenti berdetak. "Jangan pernah menyeret putriku ke dalam masalah ini!"
"Aku sebenarnya tidak ingin melakukannya."
"Kalau begitu, buang benda itu!"
Lee menggeleng pelan. "Keputusan ada di tanganmu. Kembali padaku!"
"Aku tidak akan kembali padamu!"
"Kalau begitu..." Lee memasukkan kembali flashdisk itu ke dalam saku celananya. "Bersiaplah menerima konsekuensinya."
Tatapan Giselle bergetar hebat. "Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?"
Lee mencondongkan tubuhnya ke depan hingga suara mereka nyaris tak terdengar oleh siapa pun di luar ruangan. "Sederhana. Kembalilah menjadi wanita yang dulu. Menjadi kekasihku. Dan jangan pernah menjauh lagi dariku."
Giselle mengepalkan kedua tangannya begitu erat hingga kuku-kukunya hampir melukai telapak. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa benar-benar terpojok.
Di hadapannya duduk seorang pria yang pernah menjadi selingkuhannya. Dan kini, pria itu berubah menjadi mimpi buruk yang mengancam menghancurkan hubungan terakhir yang masih ingin ia pertahankan, kasih sayang Rebeca.
Giselle menunduk. Jemarinya saling meremas begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ruangan VIP itu kembali diselimuti keheningan yang menyesakkan.
"Putuskan sekarang, Sayang," ucap Lee dengan nada penuh tekanan. "Aku tidak suka menunggu."
Giselle memejamkan mata rapat-rapat. Bayangan wajah Rebeca terus berputar di benaknya.
Kalau rahasia itu terbongkar...
Kalau putrinya tahu semua yang pernah terjadi...
Napas Giselle bergetar.
Beberapa detik kemudian, ia membuka matanya perlahan. "Baiklah," jawabnya lirih.
Senyum lebar langsung menghiasi wajah Lee. "Itu baru Giselle yang kukenal." Tanpa meminta izin, Lee bangkit dari kursinya dan memeluk Giselle.
Tubuh Giselle menegang seketika. Nalurinya ingin mendorong pria itu menjauh.
Namun sebelum sempat bergerak, Lee berbisik pelan di dekat telinganya. "Jangan macam-macam... kalau kamu tidak mau Rebeca tahu semua yang pernah kita lakukan."
Ancaman itu membuat tubuh Giselle membeku. Tangannya yang semula terangkat perlahan jatuh kembali ke samping tubuh. Ia memejamkan mata, menahan rasa jijik dan marah yang berkecamuk di dalam dada, sementara Lee masih mempertahankan pelukan itu beberapa saat, seolah menikmati kemenangan yang baru saja diraihnya. Dan tanpa permisi, Lee meraup bibir Giselle, menyesapnya dengan penuh kerinduan.
Ketika ciuman itu terlepas, Giselle segera memalingkan wajah. Sorot matanya dipenuhi kebencian. "Ingat satu hal, Lee," ucapnya dengan suara bergetar. "Jangan pernah berpikir aku melakukan ini karena masih mencintaimu."
Lee hanya tersenyum tipis. "Apa pun alasannya, yang penting sekarang... kamu sudah kembali berada di sisiku."
Giselle mengepalkan tangan di balik tas yang dibawanya. Di dalam hati, ia berjanji pada dirinya sendiri. "Ini hanya sementara. Cepat atau lambat, aku akan menemukan cara merebut flashdisk itu... dan mengakhiri semua ancamanmu untuk selamanya."
gimana kl tahu mama kebanggaanmu itu gk lbh dr jalang kelakuannya+ lo dah jd korban taruhan jg berbagi cinta selingkuhan mamamu...🤫🙉