Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.
Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.
Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima ratus juta
Nadia baru saja kembali ke ruangannya setelah melakukan rontgen dan CT scan kepalanya. Hasilnya cukup membuat lega, karena memang tidak ditemukan hal-hal yang tidak diinginkan.
"Suster, apa saya sudah boleh pulang?"
"Dokter Bastian berpesan sama saya, katanya dek Nadia baru boleh pulang besok pagi."
Nadia yang merasa masih lemas pun, perlahan berbaring kembali dengan infus yang masih terpasang di pergelangan tangan kirinya.
"Suster, waktu saya tiba di rumah sakit kemarin sore, apa Suster mungkin menemukan hp saya?"
"Oh iya, ini hp dek Nadia." Suster itu mengambil handphone milik Nadia yang tergeletak begitu saja diatas meja di depan sofa. "Tapi, hp dek Nadia seperti ini." Memberikan hp itu pada Nadia.
Helaan napas panjang terdengar, Nadia menatap layar ponselnya yang retak parah. Ponsel itu juga mati total. Kemudian Nadia mencoba menyalakan ponsel itu. Percobaan pertama gagal, percobaan kedua ponselnya menyala tapi hanya sebentar.
"Suster, apa saya bisa minta tolong?"
"Tentu. Apa yang dek Nadia butuhkan?"
"Charger..."
Suster pun segera mengambil charger cadangan di dalam laci di samping ranjang Nadia. "Coba ini."
Nadia langsung menggunakan charger itu yang kebetulan cocok untuk ponselnya. Begitu tersambung dengan charger ponselnya langsung menyala dan bisa digunakan seperti biasa.
Begitu ponsel itu menyala, notifikasi panggilan tak terjawab belasan kali dari Laura dan dua kali dari Yuri. Ada beberapa pesan juga dari dua orang itu.
Laura: Beb, lo baik-baik aja kan? Kalau lo baca pesan ini, please kasih gue kabar.
Nadia pun langsung membalas pesan itu dengan susah payah karena layar depan ponsel yang retak.
Nadia: Gue baik-baik aja kok beb. Hp gue jatuh kemaren jadi mati total dan gue baru sempat benerin sekarang.
Tidak sampai lima detik Nadia sudah mendapat balasan dari Laura.
Laura: Syukur deh. Gue kira kenapa. Terus demam lo gimana? Jeni bilang lo demam.
Nadia: Udah enakan kok beb. Besok mungkin gue udah bisa kuliah.
Laura: ya udah, lo istirahat aja dulu. Gak usah kerja! Kalau uang lo menipis, bilang aja nanti gue transfer.
Nadia terharu membaca balasan pesan dari Laura.
Nadia: Makasih beb. Gue masih punya uang kok. Oh iya, gimana keadaan Tante?
Laura: Mama udah membaik. Kalau kondisi mama tetap stabil seperti sekarang, besok udah boleh pulang.
Nadia: Syukur deh. Salam ya sama Tante. Bilang, semoga cepat sembuh.
Laura: Iya, nanti gue bilang sama mama.
Setelah berbalas pesan dengan Laura, Nadia membuka pesan dari Yuri.
Yuri: Beb, gimana kondisi lo? Sorry gue gak bisa jenguk, tugas praktek banyak banget, mana gue juga harus bantu buat tugas Laura.
Nadia tersenyum membaca pesan itu, dia membayangkan seperti apa lelahnya Yuri karena harus membuat dua tugas sekaligus.
Nadia: Gue baik-baik aja kok beb. Semangat ya ngerjain tugasnya. Oh iya, nanti jangan lupa minta traktiran sama Laura.
Pesan itu terkirim, Yuri belum membacanya karena memang dia masih berada di lab.
Nadia terdiam beberapa saat menatap layar ponsel yang retak. Wajahnya terlihat murung. Dia murung bukan karena ponselnya retak parah, tapi karena satu sahabat lagi yang bahkan tidak ada notifikasi telpon atau pesan pun darinya.
"Jeni..." lirih Nadia pelan.
Jeni bahkan tidak membalas pesan kemaren.
Sementara Jeni saat ini sedang makan bersama Kevin.
"Sayang, setelah ini kita ke tempat Nadia ya."
"Iya, sayang."
"Aku merasa bersalah banget sama Nadia. Aku menghindari dia karena cemburu buta. Nadia pasti bingung."
Kevin meraih satu tangan Jeni untuk dia genggam. "Nadia pasti paham. Aku minta maaf ya sayang. Semua karena..."
"Gak sayang. Bukan kamu saja yang salah, aku juga."
...>~<...
Setelah hampir satu jam Nadia tertidur pulas karena pengaruh obat, kini dia bangun dalam keadaan yang jauh lebih segar.
"Selamat sore, Nadia!" Sapa Bastian yang datang membawa amplop coklat besar berisi hasil rontgen dan CT-SCAN lengkap dengan analisis dari dokter.
"Sore dokter."
"Bagaimana kondisi kamu sekarang?"
"Sekarang terasa lebih segar dokter."
"Bagus. Kalau kondisi kamu tetap stabil seperti ini, besok pagi sudah boleh pulang. Tapi, masih harus tetap kontrol sekalian membuka jahitan di kepala kamu." jelas Bastian.
Nadia mengangguk paham. "Baik dokter."
Tok tok!
Ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan tempat Nadia di rawat. Nadia mendongak heran kearah seorang wanita cantik berpenampilan rapi yang masuk ke ruangannya.
"Selamat sore, dokter Bastian." sapa perempuan itu ramah.
"Sore juga, Diana." jawab Bastian ramah.
Nadia menebak dari cara mereka saling menyapa dengan menyebut nama dan tersenyum senang, jelas dua orang itu saling mengenal. Apa dia pacarnya dokter kali ya! Pikir Nadia sambil tersenyum saat perempuan itu menoleh padanya.
"Halo Nadia." melangkah mendekat ke ranjang Nadia.
Nadia mengangguk pelan sambil tersenyum bingung karena wanita itu tau namanya.
"Bagaimana kondisi kamu sekarang?"
Nadia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menatap kearah suster dan Bastian secara bergantian. Dua orang itu hanya tersenyum pada Nadia.
"Em, sekarang saya sudah lebih baik." jawab Nadia ragu.
Wanita itu tersenyum, senyumnya indah dan hangat. Wanita itu tersenyum seakan dia sudah mengenal Nadia sejak lama.
"Oh iya, ini..." memeriksa hand bag merah tua miliknya. "Ini kartu nama saya." Memberikan pada Nadia.
Dengan ragu Nadia menerima kartu kecil berwarna hitam dengan tulisan berwarna kuning. Nadia membaca tulisan di kartu itu yang menyatakan Diana seorang sekretaris di perusahaan SENA Group.
"Nama saya Diana. Saya datang ke sini sengaja untuk bertemu Nadia." tuturnya ramah.
Nadia tentu bingung. Kenapa sekretaris perusahaan besar mencari aku?
Melihat wajah bingung Nadia, Diana langsung mengeluarkan selembar kertas putih dari dalam map tulang yang tadi dia tenteng. "Nadia bisa membaca ini sebentar."
Tangan Nadia saling menggenggam erat, rasanya berat untuk meraih kertas putih itu. Apa dia pemilik mobil yang aku tabrak?!
Diana masih memegang kertas itu yang terulur kearah Nadia. Diana pun masih tersenyum ramah pada Nadia.
Bastian sendiri diam saja, sesekali dia menghela napas. Ada sedikit raut khawatir di wajahnya.
Meski ragu, tangan gemetar itu menerima kertas putih yang penuh dengan tulisan bahkan ada tabelnya juga.
Perlahan Nadia membaca tulisan dalam kertas itu. Napasnya semakin terdengar berat, pupil matanya membesar meski sesekali terlihat gemetar.
"Aa... apa ini?"
Diana mendekat, menyentuh bahu Nadia dengan lembut. "Nadia, ini rincian pembayaran ganti rugi kecelakaan kemarin sore."
"Lima ratus juta?!" ucap Nadia ragu dengan suara serak gemetarnya.
Bastian dan suster yang ada di ruangan itu sontak melotot kearah Diana dan Nadia saat mendengar jumlah uang sebanyak itu.
"Maaf mbak, saya kemarin melamun dan tidak sengaja menabrak mobil mbak. Tapi, apa saya harus membayar sebanyak ini? Apa ini tidak salah perhitungan? Apa mobil mbak rusak separah itu?" tanya Nadia gemetar dan terbata bata.
Diana menghela napas pelan, tangannya perlahan meraih tangan Nadia yang gemetar memegang kertas. "Nadia, mobil yang kamu tabrak bukan mobil saya. Tapi, mobil pemilik SENA Group."
"Apa?!"
"Mobilnya mengalami kerusakan parah dan diperkirakan biaya perbaikannya hampir seratus jutaan. Kemudian, karena bos tidak mau berurusan dengan kepolisian, jadinya bos memberikan uang tutup mulut pada beberapa saksi termasuk uang ganti rugi pada semua korban. Bos juga membayarkan biaya perbaikan motor korban termasuk motor Nadia. Lalu bos juga yang membayarkan semua biaya pengobatan di rumah sakit untuk korban dan juga kamu Nadia."
Nadia tidak bisa berkata-kata mendengar penjelasan itu. Napasnya semakin sesak. Dia tidak menyangka kecelakaan itu menyebabkan dia harus berhutang ratusan juta.
Bastian pun ikut menghela napas panjang, dia merasa iba pada Nadia. Tapi, apa boleh buat, Bastian tidak bisa ikut campur dalam urusan ini.
"Saya... saya bukan orang kaya, mbak. Saya kuliah pun itu dari beasiswa. Bagaimana saya bisa ganti rugi sebanyak ini." ucap Nadia masih dengan suara gemetar karena menahan diri agar tidak menangis.
Diana merangkul bahu Nadia, memberikan pelukan untuk membuat Nadia merasa lebih tenang. "Maaf Nadia, saya hanya menjalankan tugas. Saya juga sudah bicara sama bos tentang biaya yang terlalu banyak, tapi... saya tidak bisa membantah beliau."
Ayah, ayah... Ayah jemput aku sekarang! Tidak ada gunanya lagi aku hidup. Jerit Nadia dalam hatinya dengan putus asa.
Bersambung...