[NOVEL FIKSI yg tidak masuk akal, Banyak mengandung kata umpatan, mohon bijak memilih cerita]
Fauziah, Gadis dengan kutukan pembawa sial yang bisa mencelakai orang dengan sentuhan dan merusak apapun di sekitarnya. Hati dan pikiran yang buruk mendorong kutukan itu untuk menguasai diri gadis itu. Ia juga dipaksa oleh orang tuanya untuk menikahi Tuan Raka, putra tunggal yang kaya raya.
Raka pun terpaksa menikahi Fauziah karena sang nenek yang sakit-sakitan mendesaknya menikah sebagai syarat untuk harta warisan. Walau dia tak menginginkan harta warisan itu, pernikahan tetap terjadi.
Sentuhan berbahaya milik Fauziah harus diatasi oleh Raka dengan cara merawatnya seperti bayi. Memandikan, menyuapinya makan dan menjaga pandangan istrinya itu.
Bagaimana kehidupan mereka?
Sanggupkah Raka menghadapi kesialan Fauziah?
Mampukah Fauziah menghilangkan kesialannya itu?
NOTICE!
MEMBACA BERARTI SETUJU UNTUK MENEKAN TOMBOL LIKE DI SETIAP BAB
DMKAPS : 1-111
SI KEMBAR : 112-TAMAT
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BellaBiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Lain
Aku menatap seorang pria paruh baya yang tengah sibuk dengan 10 ponsel di mejanya. Wajahnya terlihat lelah. Kantung mata itu tidak bisa membohongi rasa lelah yang ada di dalam tubuh pria itu.
Dia berdiri mengangkat telepon dari satu ponsel bergantian ke ponsel yang lain. Sedangkan yang lainnya ikut berdering. Ia terus menyambut panggilan demi panggilan dari rekan bisnisnya. Hingga akhirnya tak Satu pun ponsel itu yang berbunyi lagi. Tatapanku masih melekat padanya.
“Itu dia. Ayah mertuamu. Dia tak pernah menginginkan kehadiran anaknya, yang kini telah tumbuh menjadi pria dewasa dan menjadi suamimu.” Makhluk Kutukan itu mendekat ke arah Ayah mertuaku yang terduduk lemas di kursi kerjanya.
“Dia lelah,” ucapku.
“Memang ini yang dia inginkan. Bahkan, dia membuang anaknya demi pekerjaan yang tak kunjung membuatnya bahagia.”
“Tunggu sebentar, bukankah waktu pernikahanku dengan Tuan Raka. Ada 2 pria yang menjadi saksi dan 4 orang wanita menyaksikan pernikahan itu?”
“2 orang di antara mereka adalah orang tua dari Bima, kau pasti tahu itu. 2 orang wanita muda itu adalah saudari tiri Bima, dan 2 orang lainnya adalah adik Ibu Bima. Mertuamu bahkan tak mengetahui pernikahanmu dengan anaknya!”
“Apa maksudmu pernikahanku itu salah?”
“Silakan pikirkan sendiri jawabannya.”
Apa ini alasan Tuan Raka tak memberitahukan pernikahan ini kepada orang tuanya? Pantas saja aku tak mengenali ibu mertuaku saat pertama kali bertemu di toko kaca. “Apa ada hal lain yang dia sembunyikan dariku?”
“Mari kita lihat ibu mertuamu.” Makhluk itu memelukku. Tubuhku diselimuti bulunya yang tebal. Benar-benar nyaman dan hangat.
Aku ingin menangis. Belum sempat aku merasa bahagia bersama suamiku. Kenapa harus secepat ini? Kenapa aku harus pergi tanpa kata pamit atau semacamnya?
Air mataku sudah sampai pada kelopak mataku. Namun tertahan. Makhluk itu membuka tangannya. Aku melihat ibu mertuaku yang tengah duduk dan termenung di suatu ruangan rumah sakit.
Bunyi dari alat-alat rumah sakit. Membuat kepalaku terasa sakit. Jantungku ikut berdenyut setiap kali alat pendeteksi detak jantung itu berbunyi.
Ibu mertuaku menangis tanpa suara. Mungkin karena tangan kirinya yang masih terasa sakit.
“Itu dia ibu mertuamu. Dia membencimu. Kau dianggapnya sebagai wanita yang kurang ajar dan tak tahu tata krama,” ucap Makhluk itu.
Aku berjalan mendekatinya.
“Kumohon bangunlah!” gumamnya sambil sesenggukan. Ia memegangi tangan wanita yang terbaring di hadapannya. “Kau bahkan belum mengucapkan kata maaf padaku.”
Siapa wanita yang dia tangisi?
Aku berjalan mendekati wanita yang berbaring itu. Air mataku menetes. Wa—wanita itu. Aku?!
Ibu mertuaku menangisi aku? Semuanya sudah terlambat sekarang. Untuk mengucapkan maaf pun kalian semua tak kan mampu mendengarnya.
“Apa kau menangisi dia? Kau merasa tersentuh karena dia menangisimu?” Makhluk itu menarikku menjauh dari sana. “Dia bermuka dua. Dia tidak benar-benar sedih karena kau sekarat saat ini!”
“Apa aku akan terbangun kembali?” tanyaku sambil terus menangis.
“Kau? Semua jawabannya ada padamu. Kau harus pandai memilih.” Dia kembali memelukku. “Mari kita lihat suamimu.”
Kami mengikuti Tuan Raka yang tengah berjalan cepat menuju ruangan yang tadi kami masuki. Ia membuka pintunya. Menatap wujudku yang terbaring dengan berbagai jenis alat bantu di tubuhku.
Mata Tuan Raka sembab. Air matanya menetes. Kupeluki dia, walau hanya ada udara dan angin yang aku rasakan. Aku bisa merasakan bahwa dia benar-benar sedih.
“Bangunlah! Belum banyak waktu yang kita lalui. Kau hanya memberikan 9 hari terbaik. Kau belum memberi kebahagiaan di setiap hariku. Bangunlah!” Dia terus menangis sambil memegangi tangan kananku yang juga dilekatkan alat di ujung jariku. Aku menangis melihatnya. Aku tak bisa menahannya.
Ayah dan Ibuku datang membawa makanan ke sini. Tuan Raka tak menghiraukan mereka yang datang. Dia terus menangis menaruh tanganku di pipinya. Bisa kurasakan dingin air matanya.
Aku ingin terbangun! Aku ingin menghapus air matanya. Dia mengatakan akan menyelamatkanku jika aku tenggelam. Dia mengatakan bahwa dia mencintaiku. Sekarang, dia menangisi aku.
Aku juga mencintainya. Mengapa harus selambat ini untuk menyadari perasaanku?! Aku membenci diriku sendiri. Kesialan inilah yang membuat kehidupanku sehancur ini.
Aku akan memilih untuk tidak mengenalnya. Daripada aku harus meninggalkannya dengan air mata seperti ini.
“Tuan Raka. Makanlah,” ucap Ibuku. “Fauziah juga tidak akan suka melihat kau seperti itu.”
Iya, ibu benar! Aku benci air matamu.
“Makanlah Tuan. Kami akan menjaganya!” Ayah. Pria tua itu. Juga ikut menangis melihat aku yang sudah terbaring tak berdaya. Apa harus menyakiti diriku sendiri agar mereka semua menyayangi aku?
Apa aku harus mati terlebih dahulu agar mereka menyadari bahwa aku juga butuh rasa sayang?
“Kapan aku bisa kembali?” tanyaku.
“Apa kau akan kembali bersama mereka yang penuh dusta?! Lihat suamimu itu. Bisa-bisanya dia masih tetap hidup setelah kejadian itu.”
“Me—mereka menyayangi aku.” Seketika tangisanku pecah. Di hadapan mereka semua. Tak ada yang mendengarnya.
Wujudku pun ikut mengeluarkan air mata. Tuan Raka melihatnya. Ia menghapus air mataku. “Jangan menangis,” ucapnya membuat tangisanku semakin menjadi.
“Kau kuat, bangunlah!” lanjutnya.
Iya, aku kuat. Aku akan bangun! Belum sempat aku mengatakan perasaanku.
Ayah juga ikut menangis mendengarnya.
Ayah, maafkan aku. Aku selalu menyusahkanmu. Aku selalu membantah semua ucapanmu. Aku tak pernah menjadi anak yang baik untukmu.
Aku tak bisa menahan diriku. Aku terus menangis melihat mereka semua.
“Aaah, sudahlah. Jangan tangisi mereka. Mereka hanya berpura-pura. Karena kau sedang lemah saat ini!” Makhluk itu terus menghasutku.
Aku tahu. Mereka tidak berpura-pura. Aku bisa merasakannya. Air mata itu begitu tulus.