Joshua Adrian Waldgrave patah hati mengetahui calon istrinya mencintai pria lain dan jatuh terpuruk dalam kesedihan. Ia lebih memilih menghilang selamanya dari kehidupan wanita yang dicintainya dan menutup pintu hatinya untuk wanita lain. Setelah bertahun-tahun tidak mendengar kabarnya, mantan tunangannya meninggal, karena kecelakaan.
Sementara itu ditempat lain seorang gadis bisu dan memiliki cacat di wajahnya menyimpan dendam selama bertahun-tahun terhadap orang-orang yang telah menghancurkan kehidupan keluarganya. Jalinan takdir mempertemukannya dengan Joshua yang mengharuskan pria itu terikat kepadanya, karena janjinya kepada seseorang di masa lalu yang tidak dapat ia tolak. Janji yang mengharuskannya menjaga gadis itu seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernyataan cinta
Phillippa keluar ruangan dengan pandangan kosong. Tetes demi tetes air mata membasahi wajahnya. Kenapa penyakit ini memilih dirinya? Ia teringat perkataan dokter tadi.
"Leukimia akut. Kemungkinan Anda tidak bertahan sampai tahun depan. Untuk pengobatan harus dilakukan kemoterapi."
Kedua tangannya masih gemetar memegang hasil pemeriksaan kesehatannya. Ia menghapus air matanya dan ia berjalan pulang dengan tubuh lunglai. Di rumah Phillippa banyak melamun dan tidak menyentuh makanannya sama sekali. Rosalind yang melihatnya menjadi cemas. Apa lagi akhir-akhir ini keadaan Phillippa sangat pucat dan terlihat sakit.
"Apa nona baik-baik saja?"
"Aku...aku sebenarnya. Tidak baik-baik saja."
"Apa maksud nona?"
Phillippa menyerahkan surat hasil pemeriksaan dokter kepada Rosalind. Wanita tua itu tercekat sambil menutup mulutnya. Napasnya tertahan.
"Ini..."
Phillippa mengangguk.
"Pasti nona akan sembuh,"kata Rosalind, kemudian memeluk Phillippa.
"Jangan katakan hal ini kepada siapa pun termasuk Angelica. Aku tidak ingin membuatnya cemas."
"Baiklah. Nona."
Phillippa akhirnya menangis dalam pelukan Rosalind.
🎵🎵🎵
Hari konser pun tiba. Phillippa bertekad akan melakukan yang terbaik, karena ini mungkin saja untuk terakhir kalinya ia akan melakukan konser piano. Setetes air mata kembali terjatuh. Ia berada di ruang ganti di belakang panggung. Darah keluar lagi dari hidungnya. Rosalind yang menemaninya terlihat cemas.
"Aku akan baik-baik saja,"kata Phillippa berusaha untuk menenangkan Rosalind. Meskipun begitu Rosalind tetap merasa cemas. Beberapa menit lagi konser akan dimulai. Badannya mulai gemetar menaha rasa sakit di semua sendi-sendi tubuhnya. Ia beranjak dari kursi sudah saatnya ia menuju panggung.
Joshua duduk terpaku di kursinya. Ia begitu terpana melihat dan mendengar permainan piano Phillippa. Semua penonton terdiam dan menahan nafas. Tidak ada seorang pun tahu, Phillippa saat ini sedang menahan sakit di tubuhnya, tapi ia harus tetap bertahan sampai semuanya selesai. Tepuk tangan mulai membahana. Konser piano telah selesai. Phillippa berusaha memasang wajah senang kepada para penonton. Setelah ia berada di belakang panggung, Phillippa duduk di sofa sambil meringis kesakitan. Rosalind segera memberikan obat supaya Phillippa tidak merasa kesakitan lagi.
"Minumlah obat ini!"kata Rosalind.
Phillippa mengambil obat itu dengan tangan gemetar dan minum dibantu oleh Rosalind. Ia sudah merasa lebih baik setelah meminum obatnya. Ketukan pintu mengagetkan mereka. Angelica muncul di balik pintu sambil membawa bunga untuknya.
"Tadi permainan pianomu sangat bagus. Para penonton menyukainya. Kamu sangat hebat. Selamat untukmu!"
"Terima kasih Angelica."
"Kamu sangat pucat. Apa kamu baik-baik saja?"tanyanya cemas.
"Aku baik-baik saja. Aku hanya lelah saja."
"Setelah ini kamu harus beristirahat, karena seminggu terakhir ini kamu kurang istirahat."
Ketukan pintu terdengar lagi. Joshua datang dengan wajah tersenyum. Phillippa terkejut dengan kedatangannya. Ia langsung berdiri.
"Tuan Waldgrave."
"Aku datang ke sini ingin mengucapkan selamat untukmu. Tidak salah aku menyuruhmu untuk menggantikan Barbara. Kamu sudah melakukan yang terbaik, karena dirimu, konser untuk amal ini berjalan dengan sukses."
"Aku senang bisa melakukannya. Ini pengalaman pertamaku melakukannya di depan orang banyak. Lagi pula mungkin saja aku tidak akan bisa melakukannya lagi."
"Apa maksudmu?"
"Ah tidak apa-apa."
"Ada yang ingin aku katakan kepadamu, tapi hanya berdua saja."
Rosalind dan Angelica langsung meninggalkan ruangan tanpa disuruh lagi.
"Apa yang ingin Anda bicarakan denganku?"
"Aku...aku."
Joshua menghembuskan napas panjang. Ia tidak menyangka akan sesulit ini untuk menyatakan cinta. Kata-kata yang telah disusunnya hilang entah kemana. Dulu ketika ia menyatakan cinta kepada Genevieve tidak sesusah seperti sekarang mungkin sebelumnya mereka sudah saling mengenal sejak lama, tapi dengan Phillippa ia belum begitu lama mengenalnya. Entahlah apa itu ada hubungannya atau tidak.
"Tuan Waldgrave, ada apa?"
Joshua tersentak." Aku mencintaimu, Phillippa."
Akhirnya kata-kata itu terucap juga dari mulutnya dan ia merasa lega sudah mengatakannya. Phillippa membeku ditempatnya tidak percaya apa yang sudah di dengarnya. Pria dihadapanya mencintainya. Itu seperti mimpi bagi Phillippa. Bagaimana mungkin pria seperti Joshua jatuh cinta kepadannya? Itu sangat tidak mungkin pikir Phillippa. Di luar sana masih banyak wanita cantik dengan wajah sempurna tidak seperti dirinya.
Ada perasaan takut, jika Joshua mempermainkan perasaannya seperti yang dilakukan Tristan dulu. Tapi Phillippa sangat senang Joshua mencintainya dan akan senang hati akan menerima cintanya, jika saja ia tidak sakit yang mungkin saja akan pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Air matanya mendesak keluar.
"Aku tidak bisa menerima perasaanmu."
Joshua terkejut dengan penolakan Phillippa."Tapi kenapa?"tanya Joshua tidak mengerti.
"Pokoknya aku tidak bisa. Aku tidak pantas untukmu."
"Kenapa kamu bilang seperti itu?"
"Karena aku tidak cantik. Wajahku cacat."
"Apa karena itu? Tapi bagiku kamu wanita yang cantik. Hatimu baik. Aku tidak peduli dengan cacat di wajahmu."
Joshua hendak menyentuh wajah Phillippa, tapi gadis itu langsung menghindar. Tatapan Joshua berubah menjadi sendu.
"Tidak pokoknya aku tidak bisa. Maafkan aku. Tolong keluarlah aku ingin sendirian!"
"Tapi..."
"Aku mohon pergilah!"
Joshua pergi dengan perasaan kecewa, sebelum pergi ia melihat sekilas Phillippa yang sedang memandanginya dengan wajah sedih. Ingin rasanya Joshua menariknya kedalam pelukan. Setelah pria itu pergi, Phillippa tidak bisa menahan air matanya lagi.
🎵🎵🎵
Sejak pernyataan cinta Joshua satu minggu yang lalu, baik Joshua atau pun Phillippa tidak pernah saling menghubungi. Tanpa diketahui oleh siapa pun Phillippa sedang melakukan perawatan penyakitnya. Ia sudah seminggu di rawat di rumah sakit. Angelica pun akhirnya tahu penyakit Phillippa, setelah melihat gadis itu selalu mengerang kesakitan. Phillippa pun tidak bisa menutupi penyakitnya lagi.
"Kenapa kamu merahasiakan semua ini kepadaku?"
"Maafkan aku. Aku tidak ingin membuatmu cemas."
Angelica menangis sambil memeluk Phillippa. "Kamu akan sembuh. Semuaya akan baik-baik saja."
Angelica melepaskan pelukannya. "Kita akan hadapi ini bersama-sama. Jangan menyerah terhadap penyakitmu, Philly."
Sekarang di sinilah Angelica selalu menemani Phillippa selama di rawat di rumah sakit. Dokter akhirnya mengizinkan Phillippa untuk pulang setelah keadaan gadis itu membaik. Ia perbolehkan untuk rawat jalan.
Sementara itu Joshua merasa gelisah di kantornya,bahkan ia belum mengerjakan pekerjaannya satu pun dan itu membuat Sandra menjadi kesal. Joshua sangat merindukan Phillippa sudah satu minggu tidak mendengar kabarnya. Setiap pesan yang ia kirim selalu tidak dijawabnya begitu pun juga dengan panggilan teleponnya selalu tidak dijawab.
Tidak ada pilihan lain, Joshua memutuskan untuk datang ke rumahnya. Ia tidak peduli, jika Philllippa nanti mengusirnya dari rumah. [ ]