NovelToon NovelToon
Bukan Salah Jodoh

Bukan Salah Jodoh

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:500.4k
Nilai: 4.7
Nama Author: Yulia Nofika

Ardan Putra Anjaya seorang dosen lulusan khairo di Universitas Trisakti Bangsa. Penerus satu-satunya keluarga Anjaya. Demi bakti pada orang tua Ardan menerima perjodohan dengan wanita pilihan sang Bunda.

Zahwa Andana Srinata salah satu mahasiswa tempat Ardan mengajar. Memiliki paras yang cantik dan budi pekerti yang baik membuat Marwa menjadi idola kampus, tak ada lelaki yang tak tertarik dengannya. Namun prinsip warna tetap teguh tiada kata pacaran sebelum menikah sesuai ajaran orang tuanya.

Akankah pernikahan Ardan dan Zahwa berakhir bahagia? jika disaat benih cinta mulai muncul kedatangan orang masa lalu yang tak lain adalah kakak dari Zahwa datang untuk menagih janji Ardan untuk menikahinya? apakah yang akan dilakukan Ardan mempertahankan pernikahannya atau justru meninggalkan Zahwa demi sang kakak istrinya???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulia Nofika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan Maaf

Cukup lama Marwa berdiri di ambang pintu, menyaksikan dua insan yang tengah berpelukan melepas kesedihan dan kerinduan yang tersimpan. Hati kecilnya sedikit teriris menyaksikan itu semua, tapi sekarang dia harus bisa menerima semuanya. Ardan bukanlah jodoh yang Allah kirim untuknya, maka dari itu dia harus meyakinkan hati untuk menerima semua ini.

Setelah sedikit merasakan kelegaan di hatinya, Marwa melangkah perlahan mendekati Zahwa dan Ardan yang masih setia saling merengkuh satu sama lain.

"Assalamualaikum" ucap Marwa sedikit bergetar.

"Waalaikumsalam" jawab Zahwa dan Ardan bersamaan dengan mengarahkan pendangan ke arah sumber suara.

Sesaat tak ada satupun yang terucap dari ketiganya, mereka sibuk dengan fikiran masing. Zahwa sendiri hanya menatap sendu kakaknya yang berdiri gelisah tepat dihadapannya, bedahalnya dengan Ardan yang menatap Marwa dengan tatapan kurang bersahabatnya.

"Kakak datang sendiri?" tanya Zahwa setelah cukup lama terdiam.

"Iya, mama dan papa tadi masih di jalan" jawab Marwa dengan senyuman kaku yang diberikan kepada adik semata wayangnya itu.

Keheningan kembali tercipta saat tak ada lagi kata dan percakapan yan terjadi, rasa hampa menyeliputi seakan mereka hanyalah orang asing tak saling mengenal.

Marwa menarik nafasnya berat, dia membenci situasi seperti ini. Ingin rasanya sekarang juga untuk memeluk adiknya itu, meluapkan kerinduan serta penyesalan atas semua perlakuannya selama namun lidahnya terasa kaku untuk memulai semuanya.

Zahwa selalu memperhatikan gerak gerik kakaknya, dia yakin ada sesuatu yang ingin disampaikan Marwa tapi tak sanggup untuk mengucapkannya.

"Mas bisa tinggalkan aku sama kak Marwa dulu?" pinta Zahwa pada Ardan.

"Tapi.."

"Mas sebentar saja, ada yang ingin aku bicarakan sama kak Marwa?" potong Zahwa dengan nada memohonnya.

Ardan terdiam sesaat, memperhatikan dua saudara itu secara bergantian. Dia merasa takut jika Marwa akan melakukan sesuatu pada Zahwa, tapi dia juga tidak sanggup jika harus menolak keinginan istrinya itu.

"Baiklah mas akan keluar, mas akan memantau dari luar. Mas gak akan biarin satu orangpun kembali menyakiti kamu, siapapun itu mas tidak peduli" jawab Ardan dengan mata menatap tajam kearah Marwa...

Marwa hanya menundukkan kepalanya menyadari jika perkataan Ardan sedang menyindir dirinya.

"Aku akan baik-baik saja mas, kamu gak usah khawatir ya" jawab Zahwa.

"Ya sudah mas keluar dulu"

Ardan bangkit dari tempat duduknya berjalan menuju pintu, namun sebelum sampai dipintu kembali Ardan memutar arah menatap Marwa.

"Saya harap kamu tidak melakukan kebodohan yang bisa mencelakai istri saya lagi, karena jika itu terjadi saya akan membuat kamu menyesal seumur hidupmu" peringat Ardan sebelum kemudian benar-benar keluar dari kamar inap Zahwa.

"Loh nak kamu kok keluar?" tanya Linda saat melihat menantunya keluar dari ruang rawat anaknya.

"Ma, Pa" Ardan lansung menyalami mertuanya. "Zahwa ingin berbicara berdua dengan Marwa, karena itulah Zahwa meminta Ardan keluar" sambungnya.

"Kamu tidak usah khawatir, mama yakin Marwa tidak akan melakukan hal buruk pada istrimu nak. Mama orang tua mereka, mama tahu seberapa besar kasih sayang diantara mereka. Jadi jangan khawatir seperti ini" ucap Linda saat meliahat gelagat kekhawatiran dari wajah menantunya itu.

****

Di dalam kamar rawat masih belum ada yang memulai pembicaraan antara Zahwa maupun Marwa. Marwa sendiri masih bingung bagaimana memulai semuanya, sedangkan Zahwa masih terus memperhatiakan setiap gerak gerik sang kakak yang terlihat gelisah.

"Maaf" satu kata yang berhasil terucap dari Marwa setelah cukup lama bungkam.

"Maafkan kakak atas semuanya" tambahnya dengan nada bergetar, dadanya terasa sesak seakan menghambat setiap kata yang ingin terucap.

Zahwa hanya terdiam, membiarkan Marwa lebih dulu menyelesaikan semua perkataannya.

"Sekali lagi maafkan kakak, kakak sadar kakak salah, tidak seharunya kakak berbuat seperti itu sama kamu. Tidak seharusnya pula selama ini kakak berburuk sangka dan cemburu dengan kasih sayang mama dan papa sama kamu. Mereka sama-sama menyayangi kita meski dengan cara yang berbeda tapi bodohnya kakak malah menganggap mereka lebih menyayangi kamu"

" Dan masalah Ardan suami kamu, kakak juga minta maaf tidak seharusnya kakak berharap lagi dari dia setelah dia menjelaskan kebenarannya, tapi lagi-lagi kebodohan membuat kakak melupakan segalanya. Yang kakak inginkan hanya semua yang kakak harapkan harus terjadi, padahal semua itu sudah diatur sama Allah. Sekarang kakak sedah mengiklaskan segalanya, kakak hanya ingin kita seperto dulu lagi, tolong maafkan kakak. Kakak sayang sama kamu"

Air mata tak mampu terbendung oleh Zahwa, melihat kesedihan dan air mata yang memenuhi wajah kakaknya. Dari pancaran matanya Zahwa bisa melihat begitu besar penyesalan yang dirasakan kakaknya. Zahwa tidak sedikitpun membenci ataupun marah pada Marwa karena dia menyadari jika semua yang dilakukan Marwa karena cintanya kepada Ardan meski dia tahu kalau itu salah.

"Kak" Zahwa mengangkat dagu sang kakak yang tadi sempat tertunduk. Dihapusnya air mata yang masih membasahi wajah Marwa.

"Kakak taukan kalau aku sangat menyayangi kakak?" tanya Zahwa yang hanya dibalas anggukan oleh Marwa.

"Aku sama sekali tidak pernah marah pada kakak, aku sangat menyayangi kakak. Tanpa kakak minta maafpu aku sudah memaafkan kakak, karena aku tau dibalik emosi dan kemarahan kakak padaku disana tersimpan kasih sayang kakak yang begitu besar padaku"

"Kakak tidak hanya kakak bagiku, tapi sudah seperti orang tua, dari kecil kakak selalu menjaga dan melindungiku dan aku yakin selamanya akan seperti itu. Jadi sekarang jangan ungkit masalag itu lagi, lupakan semuanya dan sekarang buka lembaran baru aku dan kakak yang akan selalu saling menyayangi" tutur Zahwa dengan senyuman menghiyasi wajah pucatnya.

Marea lansung berhambur memeluk Zahwa, dia begitu bahagia setelah mendapat maaf dari Zahwa sekarang hati menjadi lebih lega. Dia tidak menyangka adik yang selama ini selalu manja ternyata memiliki hati yang luar biasa.

.

.

.

.

1
Amara Agustina
kog gak ada lanjutannya kak..jadi ngegantung ceritanya
Eliani Elly
lanjutk lagi
Eliani Elly
next
Eliani Elly
next lagi
Eliani Elly
lanjut
Eliani Elly
next
Eliani Elly
lanjut
Eliani Elly
next
Eliani Elly
lanjut
Eliani Elly
next
teti kurniawati
mampir ya di novel aku "Cinta berakhir di lampu merah. "
Eliani Elly
Masih banyak typo nya thor
Ningsih✨🌹
d tnggu kak up ny kak
Sri Suwarsih
mulai baca seperti nya menarik
langsung saja aku kasih vote
Abdul Rahim
Lanjut thor, makin seru nih !
Fadil Alfarizi
lanjut donk cerita ny,,,
Neti Jalia
10 like untukmu🤗🙏
*hujan dibalik punggung
*suamiku ceo ganas
Eva Susanti
😴😴😴😴😴😴😴 yaman nya
Dian Pramita
iya bener.. kakaknya gada akhlak sekaleeeeee🤦🤦🤦
Dian Pramita
kebahagiaan sdikit ke ganggu dgn kmbali nya kk Zahwa dr Kairo... konflik dimulai 🙄🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!