Cahya Kirana gadis berusia 17 tahun, yang hidup dipanti asuhan setelah kedua orang tuanya meninggal, dan hidup dalam derita dan dendam membara, karena kehancuran keluarganya, hidupnya pun berubah setelah berjumpa dengan Leon, seorang Presdir yang sombong, dibumbui intrik dan romantisme yang membuat hidupnya berliku, gimanakah akhir kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vibyza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 hukuman cahya
Malam semakin larut, dinginnya angin pun
semakin menusuk ke tulang hingga terasa ngilu. Semilir angin sepoi sepoi menampar wajah cantiknya.Hingga wangi bunga menguarkan keharuman yang menenangkan.
Di bangku taman inilah tempat ia melepas lelah dan berkeluh kesah.Ditemani bintang dan rembulan.
Disandarkan tubuhnya perlahan, mendongak ke langit menatap dan mengagumi ciptaan Sang Maha Kuasa.Perlahan diambilnya nafas dalam dalam lalu dikeluarkan perlahan.
Kini perasaannya lebih baik dari sebelumnya.
" Apa sikapku terlalu kasar padanya?"
Cahya bertanya dalam hatinya sendiri, mengingat tadi siang saat ia berada di kantor Leon. Dimana Shaheer juga ada disana.
" Nona Cahya, senang berjumpa denganmu?" Shaheer menjabat tangannya lembut, sambil tersenyum.
"Sama sama Tuan Shaheer, saya juga senang bertemu dengan Anda?"tersenyum manis dan duduk disamping Shaheer, diikuti oleh ketiga temannya.
" Oh ya Tuan, kenalkan ini sahabat saya, Intan, Tiara, dan Mutia!" Sambil menunjuk temannya satu persatu.
" Senang berkenalan dengan anda, nona nona!" Shaheer tersenyum dan menjabarkan tangannya dan dibalas oleh ketiganya secara bergantian.
" Nona Cahya, maukah anda menemani saya makan siang? Saya ingin sekali makan ditemani dengan wanita wanita cantik ini, boleh Tuan Leon?" Shaheer menatap Leon dengan tatapan berharap.
"Baiklah Tuan Shaheer, kita akan makan siang di Cafe n Resto India, mari!" senyumnya ramah.
" Ok, saya tunggu anda disana Tuan Leon, nona Cahya, Tiara, Mutia dan Intan!"
Berlalu setelah menjabat tangan semuanya sambil tersenyum penuh kemenangan.
Selepas Shaheer keluar ruangan, Bima masuk sambil menyerahkan berkas berkas yang harus ditanda tangani oleh Leon.
Ia memandang Cahya yang masih menatap dingin pada Leon.
" Bos, kamu pasti dalam masalah, liat singa betinamu sudah mengeluarkan hawa membunuh, pasti aku juga yang repot." Bima berkata dalam hati.
Suasana ruangan masih lengang, tak ada satu pun yang bersuara, mereka semua bisa merasakan hawa membunuh itu, hingga tak ada yang berani menggerakkan tubuh apa lagi bersuara, semua mematung ditempatnya semula.
Cahya berdiri dan melangkah menuju meja Leon, dilihatnya berkas yang dibawa Bima, lalu menatap Leon tajam, tiba tiba ia bersuara.
" Bima, buat kontrak kerja baru dengan Shaheer, aku membatalkan kontrak kerjasama dengannya, mulai sekarang aku tak akan menginjakkan kaki dikantor dan rumah Leon Hadiningrat, sebelum makan siang harus sudah selesai, nanti akan kuberikan padanya!"
Cahya meletakkan berkas itu dan melangkah pergi, namun tertahan oleh tangan Leon.
" Sayang, apa maksud kamu, tak mau ke kantor dan kerumah, trus kamu mau kemana?" Leon mencengkram kedua lengan Cahya.
" Kemanapun, asalkan jauh darimu!" Ucapnya sengit.
"Sayang, aku minta maaf, aku tadi hanya ingin bercanda denganmu, maaf ya sayang!" Leon menatap penuh rasa bersalah dan mengatupkan tangannya didada meminta maaf.
" He,,he,,!" Cahya tersenyum sinis,"Maaf,,," katanya terjeda sambil tersenyum sinis.
"Setelah aku jadi bahan tertawaan sekampus, dengan begitu mudahnya kau ucapkan maaf, dan lagi ngapain kamu dekat denganku, kamu bisa gila nanti, mulai sekarang jangan dekati
aku, dan jujur saja aku merasa jauh jauh lebih baik jika jauh darimu, Tuan Leon Hadiningrat yang terhormat!"
Cahya menekankan katanya, lalu melangkah keluar namun tangannya ditarik Leon hingga jatuh kepelukan Leon.
" Sayang, aku mohon maafkan aku, apa yang harus kulakukan untukmu agar memaafkanku, sayang,, aku tak bisa jauh darimu, aku mohon?"
Leon membenamkan wajahnya dipundak Cahya.
Cahya hanya diam saja, Bima dan yang lainnya akan melangkah keluar namun ditahan oleh Cahya, pikir mereka ingin memberi kesempatan pada suami istri itu menyelesaikan masalahnya.
" Kalian tetap disini, tak ada yang boleh keluar dari ruangan ini, anggap saja kalian liat drama Korea secara live!" ucapnya datar.
" Lo enak say bilang gitu, kita kita yang jomblo ini ngenes tau nggak, jiwa jomblo kami merontak!" batin keempatnya yang saling bertukar pandangan.
Namun mereka tak mau membantah singa betina yang sudah mengeluarkan aumannya.
Bisa berbahaya untuk hidup mereka kedepannya, menurut dan diam solusi yang terbaik bagi mereka.
" Aku belum bisa memaafkanmu Le, tapi kutak akan membatalkan kontrak kerja dengan Shaheer, dan satu lagi, selama sebulan kau tak boleh menyentuhku, jika tidak aku akan benar benar jauh darimu, bisakah seperti itu, Tuan Leon!"
Cahya menekankan katanya.
" Sayang, jangan sebulan, seminggu aja ya?" Ucapnya memelas dan wajahnya ditekuk ke bawah, tapi masih memeluk Cahya.
Perlahan pelukannya dilepas cahya, dengan santainya ia duduk di kursi Leon sambil bersedekap dada.
"Terima atau kupergi!" Menatap dingin ke Leon.
" Baiklah, aku terima, tapi sekedar menggandeng tangan dan memeluk masih boleh kan, sayang!" Ucapnya memelas.
" Kan sudah jelas suamiku sayang, kalau kau tak boleh menyentuhku seujung jari pun tak boleh, kau paham sayang!"
Senyuman mengembang dibibir Cahya, berdiri dari kursi dan memegang krah baju Leon dan mendekatkan wajahnya, tangannya menyusuri kening, hidung, pipi, bibir Leon dan berhenti sebentar disana, memainkan jarinya lalu turun ke leher dan dada bidang suaminya, berakhir di perut sobek itu.
" Nikmati hari hari indahmu,sayang!"
Ucapnya lirih namun bisa didengar semuanya karena ruangan itu sunyi seumpama jarum jatuh pun bisa terdengar.
Dengan senyum liciknya Cahya melepas tangannya dari baju Leon, melangkah keluar dan berhenti di depan pintu tanpa menoleh kebelakang.
" Jadi makan siang atau tidak!" Ucapnya tegas.
Leon yang tadi masih mematung karena ulah istrinya pun terkesiap, mendengar suara Cahya yang tegas dan lantang, dengan gontai Leon mengikuti langkah istrinya.
" Sayang, kenapa kamu kejam banget sama aku, membuat junior bangun lalu menghempaskannya begitu saja, gimana nasib juniorku selama sebulan ini, nasib,,, nasib,,, punya istri singa betina galak!" bisik hati Leon.
Bima dan ketiga trio criwis hanya bisa menahan senyum mereka, melihat adegan drama Korea di depan matanya.
" Nona muda memang hebat, bisa nakluk kan singa ganas itu, liat kini ia mirip kerbau dicocok hidungnya, he,,, he,, he,,,!" bisik hati Bima.
" Sahabat kita emang best, bisa naklukkin Presdir sombong dan dingin itu, he,, he,,, liat ia seperti anak ayam yang mengikuti induknya!"
Tiara berbisik dan ketiganya pun terkekeh pelan.
Leon hanya melempar pandangan dingin pada ke empatnya. Sukses membuat mereka diam, dan hanya mengikuti langkah Cahya dan Leon yang masuk ke dalam lift .
Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, akhirnya mereka sampai di Cafe n Resto India, terlihat Shaheer telah duduk disana beserta asisten dan bodyguardnya.
"Selamat datang semua, silahkan duduk, saya sudah memesan makan siang kita, kalian tidak keberatan bukan!"
Shaheer tersenyum manis ke Cahya.
" Tentu tidak Tuan, justru kami sangat berterima kasih karena sudah menghemat waktu kami, bukan begitu sayang!"
Leon seolah menyadarkan Shaheer kalau Cahya adalah miliknya, tersenyum samar pada Shaheer.
" Ok, mari kita mulai makan siangnya, sambil membahas proyek kita!" Shaheer memulai makan siangnya.
Selama makan matanya tak lepas dari Cahya, Leon hanya bisa menahan marahnya dengan mengepalkan tangannya.
Sejam kemudian mereka telah selesai makan dan membahas masalah bisnis, saat akan pergi Shaheer memberikan bingkisan untuk Cahya.
" Nona, tolong terima ketulusan dariku sebagai tanda kerjasama kita, dan semoga kita jadi partner yang baik kedepannya!"
" Terima kasih Tuan Shaheer, tapi,,," Cahya menjeda kalimatnya, dan membuat Shaheer terkejut dan terdiam, "saya tidak bisa untuk tidak menolaknya, he,,, he,,!"
Cahya tersenyum melihat reaksi Shaheer sebelumnya, dan pria itupun tertawa mendengar kalimat terakhir Cahya.
" Nona, anda memang sesuatu!"