Visual berada di Part 103.
Avelia Wrestlin, seorang gadis berusia 22 tahun yang merupakan putri tunggal keluarga kaya raya. Terlahir sebagai putri tunggal tidak membuatnya menjadi gadis manja yang hanya bisa memamerkan kekayaan orang tuanya. Namun Avelia tumbuh menjadi gadis cantik yang mandiri, dan juga cerdas.
Kehidupan Avelia berubah saat dia bertemu dengan seorang pria tampan, David Carlisle. Gadis itu mencintai dalam diam selama kurang lebih dua tahun, sampai pada akhirnya dia meminta kepada orang tuanya untuk dijodohkan dengan pujaan hatinya. Pernikahan pun terjadi.
Akankah pada akhirnya si pria berbalik hati dan mencintai gadis yang sudah sah menjadi istrinya, atau malah si gadis yang akan mundur dan merelakan suami yang dia cintai?
Diwarnai dengan kisah persahabatan empat serangkai yang ingin membantu menyelamatkan pernikahan Avelia.
Yuk cari tahu kisah David dan Ave.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desi Manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 31 - Wanita Setan
Apa yang tampak cantik di luar belum tentu cantik di dalam. Sama halnya dengan cinta, siapa yang tampak mencintai di luar belum tentu mencintai dengan tulus di dalam. Perkara hati manusia memang sulit untuk dipahami.
🌹 Happy Reading 🌹
Sore itu aktivitas di butik tampak lebih ramai dari biasanya. Mungkin karena sebentar lagi tahun baru tiba, orang-orang sibuk berburu pakaian yang akan mereka kenakan untuk acara atau pesta tahun baru mereka. Nami dan Stela yang biasanya bekerja di balik layar alias di back office, kali ini ikut membantu operasional butik dengan melayani para pelanggan yang membludak. Mereka sedikit kewalahan apalagi dengan ketidakhadiran Ave di butik.
“Mi, dress model ini ada size M nya tidak?” tanya Stela sambil menunjukkan gaun berwarna merah marun.
“Memangnya itu ukuran apa?” tanya Nami.
Stela mengecek tulisan kecil di leher gaun. “All size,” jawabnya sambil menyengir. Lalu Stela kembali mendekati pelanggan yang sedang dia layani.
Nami mendengus. Bukannya dicek dulu, kesalnya dalam hati. Namun dia kembali memasang senyum manisnya saat seorang pelanggan menghampirinya .
“Apa bahan kemeja ini enak dipakai?” tanya gadis itu dengan sedikit ketus.
“Ya, tentu Nona. Bahannya adalah satin lembut yang tidak akan membuat gerah saat dikenakan,” kata Nami menjelaskan.
“Dari mana kau tahu? Memangnya kau sudah pernah mengenakannya?”
“Saya memang belum pernah mengenakan kemeja yang sama persis, tapi saya tahu jenis bahan yang digunakan dan karakteristik bahannya, Nona.”
“Kalau belum pernah, kenapa kau begitu yakin?” tanya gadis itu mulai menyolot.
“Kebetulan saya adalah salah satu desainer yang bertanggung jawab di butik ini, Nona. Jadi saya cukup mengerti desain, bahan, dan juga kualitas produk kami.”
Nami masih tetap menjawab dengan tenang. Berusaha menjaga profesionalitas dalam dirinya dan menjaga emosinya agar tidak terpancing walaupun dia tahu kalau pelanggan yang sedang dia hadapi mulai menyolot.
“Oh.. Jadi kau seorang desainer?” Gadis itu membuka kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya. Lalu dia menelisik penampilan Nami.
“Tapi mengapa tampilanmu lusuh begitu? Bajumu juga tidak menarik sama sekali untuk dilihat. Mungkin bajuku jauh lebih mahal dari milikmu,” katanya dengan gaya angkuhnya.
Nami merasa direndahkan. Ingin rasanya dia memaki namun dia tidak ingin merusak citra butik. Dia memilih untuk meredam perasaan panas di dadanya.
“Hey, kau tuli ya?”
Nami menatap tepat di mata gadis itu karena akhirnya emosinya sudah mulai terpancing. Tunggu dulu... wajah ini terlihat familiar. Dia yang memang sudah kelelahan dari pagi dan merasa emosi dengan pelanggan di depannya jadi kehilangan fokus. Nami berpikir keras. Dia coba mengorek informasi di kepalanya.
Agatha! Dia ingat sekarang. Wanita yang belum pernah dia temui secara langsung tapi sudah berhasil membuatnya benci. Wanita yang fotonya hanya dia lihat melalui ponsel, tapi sudah berhasil membuatnya emosi. Dan kini wanita itu berdiri di hadapannya, merendahkannya, dan membangkitkan emosi dalam dirinya. Memang dasar wanita setan!
“Saya sudah menjelaskan apa yang perlu saya jelaskan tentang kemeja yang Nona tanyakan. Itu adalah hak Nona untuk percaya atau tidak dengan penjelasan saya. Dan sepertinya Nona harus meminta maaf karena sudah mengatakan hal-hal yang merendahkan saya.” Sekali lagi, Nami berusaha meredam emosinya yang sudah berada di ubun-ubun. Dia masih menjaga bicaranya agar tetap sopan padahal dari lubuk hatinya yang terdalam ingin sekali dia menampar bibir tajam itu dan mencabik wajah angkuh itu.
Agatha tertawa merendahkan. Dia menunjuk tepat di wajah Nami. “Kau baru saja menyuruhku untuk meminta maaf?”
Tawanya semakin menggelegar membuat orang-orang menatap ke arah mereka.
“Apa otakmu sudah tidak waras? Kenapa aku harus minta maaf padamu? Memang bagian mana yang salah dari ucapanku sebelumnya? Aku mengatakan apa yang kulihat!” katanya setengah berteriak sambil menatap Nami dengan sinis.
Stela menghampiri Nami, lalu menariknya sedikit menjauh dari pelanggan itu. Berbisik tepat di telinga sahabatnya.
“Ada apa ini? Mengapa pelanggan itu sampai berteriak?”
“Perhatikan wajahnya, dia itu Agatha. Bukan hanya Ave saja yang dia usik, kini dia mencari gara-gara denganku. Dia baru saja merendahkanku dengan mengejek penampilanku,” balas Nami berbisik di telinga Stela.
Mata Stela membelalak kaget ketika mendapati Agatha yang berdiri tak jauh darinya dan Nami. Agatha menatap tajam ke arah mereka. Stela mengalihkan pandangannya. Bukan karena takut kepada gadis itu, tapi dia takut emosinya juga jadi ikut meledak.
“Ada banyak pelanggan, kita tidak mungkin menghabisinya di sini. Biar aku yang urus dia. Kau cobalah untuk tenang,” bisik Stela pada akhirnya. Dia lalu berjalan menghampiri Agatha dan berdiri tepat di hadapannya.
“Apa kalian berbisik untuk membicarakanku? Kalian mengejekku?”
Gadis itu kembali bertanya dengan sedikit berteriak. Kali ini wajah Stela yang menjadi sasaran jari telunjuk Agatha.
Stela tersenyum tipis. Kontrol dirinya semakin goyah melihat kelakuan Agatha. “Bukankah malah Nona yang mengejek penampilan rekan kerjaku?”
“Kalian ini aneh sekali. Memangnya apa yang salah dari ucapanku? Aku hanya bertanya kenapa penampilannya lusuh dan bajunya tidak menarik sama sekali untuk ukuran seorang desainer. Bajuku jauh lebih mahal dari bajunya. Aku hanya mengatakan fakta,” katanya membela diri.
Orang-orang mulai ramai berbisik. Mereka yang mendengar perdebatan pegawai butik dengan seorang pelanggan menerka-nerka siapa yang salah dan siapa yang benar.
“Sesuatu yang baru Nona sebut sebagai fakta tanpa Nona sadari telah merendahkan rekan saya. Rekan saya mungkin kelihatan sedikit lusuh karena kami sibuk dari pagi untuk melayani pelanggan yang datang silih berganti. Kami belum sempat untuk makan siang, apalagi untuk membenarkan make up dan penampilan kami. Kami mohon maaf jika penampilan kami membuat para pelanggan menjadi tidak nyaman.”
Stela menunduk sopan kepada para pelanggan yang tengah menonton mereka. Para pelanggan lainnya memberikan gestur yang mengisyaratkan kalau mereka tidak masalah dengan penampilan para pegawai butik.
“Namun tidak seharusnya Nona merendahkan seseorang hanya karena penampilan luarnya. Apa yang tampak cantik di luar belum tentu cantik di dalam. Apa yang tampak sempurna di luar belum tentu sempurna di dalam. Bisa saja yang tampak cantik dan sempurna malah busuk di dalam,” kata Stela tenang namun menusuk bagi siapa pun yang merasa. Bertujuan untuk menyindir Agatha namun sayangnya dia bahkan tidak merasa tersindir sedikit pun.
“Jadi, minta maaflah kepada rekan saya, Nona,” timpalnya.
“Kalian berdua sama saja, tidak waras.” Agatha menghempaskan tangannya.
Dia buru-buru keluar dari butik saat didengarnya beberapa orang mencibirnya. Beberapa orang juga tampak menunjukkan pandangan tidak suka ke arahnya. Dia menyesal datang ke butik Ave. Niat awalnya adalah ingin mencari tahu seperti apa butik Ave dan membuat sedikit keributan di sana agar para pelanggan kabur. Pada akhirnya malah dia yang disalahkan dan dicibir. Sialan, pikirnya.
Stela dan Nami menunduk dalam sambil mengucapkan permintaan maaf atas keributan yang terjadi. Bukannya merasa jengkel kepada pihak butik, para pelanggan justru memuji keberanian Stela dan Nami untuk melawan pelanggan yang menurut mereka gila juga berani menuntut permintaan maaf.
“Tidak apa-apa, Nak. Kami malah senang kalian berani melawan pelanggan belagu dan menuntut permintaan maaf darinya. Jangan merasa bersalah. Itu bukan salah kalian. Harusnya dia yang minta maaf. Tapi dia malah pergi seolah tak berdosa. Memang benar yang kau katakan tadi, tidak semua yang tampak cantik di luar juga cantik di dalam. Dia tampilannya saja yang cantik, tapi sayangnya attitutenya kurang,” ujar wanita paruh baya menenangkan.
Nami dan Stela tersenyum sungkan. Permintaan maaf Agatha memang tidak didapat Nami, namun dia merasa sedikit lega karena para pelanggan tidak kabur ataupun menyalahkan pihak butik. Mereka tetap melanjutkan kegiatan belanja seakan tadi tidak terjadi apa-apa.
“APA?” tanya Angel sambil menggebrak dashboard mobilnya. Darahnya langsung naik begitu mendengar si wanita setan tadi mencari masalah dengan sahabatnya yang lain.
“Gila. Setan betina itu harus dihentikan. Keangkuhannya harus dibuang ke dasar jurang terdalam. Kalian doakan ya agar aku mendapatkan bukti secepatnya.” Angel meremas tangannya kuat. Bagaimana pun caranya dia harus segera mendapatkan bukti. Bukti apa pun yang bisa menghancurkan Agatha sampai tak bersisa.
--- TBC ---
sayangku itu lebay aja kedengaranny thor🤣🤣🤣🤣🤣😎😎😎❤️❤️❤️