Soraya Foster seorang guru yang mencintai muridnya sendiri bernama Ryan Mattiew. Kisah mereka semakin rumit ketika Soraya tiba-tiba hamil anak Ryan.
Hal itu membuat Ryan dikirim oleh kedua orang tuanya ke luar negeri agar berpisah dari Soraya.
Lima tahun kemudian Ryan kembali, dia sudah melupakan masa lalunya dengan Soraya dan sudah memiliki tunangan.
Saat ia kembali ke negaranya di situlah Ryan bertemu kembali dengan Soraya guru yang dulu adalah cinta monyetnya, dan dia menyadari ada anak kecil yang tumbuh bersama Soraya.
Akankah Ryan bisa kembali mendapatkan hati Soraya dan anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi wu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 32 • Keputusan
Sora merangkai bunga pesanan pelanggan dengan tatapan kosong, meski raganya berada di dalam toko, tapi pikirannya berjalan entah ke mana. Hingga tanpa ia sadari duri mawar menusuk jari telunjuknya, hingga menguarkan titik darah dan mampu membuat Sora memekik kaget.
“Awh....”
“Hati-hati, Sora. Mawar begitu indah, tapi ia menyimpan duri tajam yang mampu menyakitimu kapan saja.”
Sora tidak menanggapi ucapan Regan dan kembali tenggelam dalam pikirannya, dia hanya menyeka titik dara itu dengan sebuah tisu yang ada di meja.
Melihat Sora yang tidak memedulikan dirinya membuat Regan kembali bungkam tidak mencoba membuka komunikasi lagi. Begitulah sifat Sora saat ini, dia berubah menjadi pribadi yang sangat amat pendiam semenjak ia dibuang saat hamil Nora lima tahun yang lalu.
***
Hari pertunangan antara Bella dan Ryan telah tiba. Pagi ini Sora berdiri di depan cermin, rasa bimbang menguasai hatinya. Apakah dia harus datang ke acara itu atau tidak. Jika dia datang mungkin saja dia bertemu dengan sebagian masa lalu yang kelam, yang membangkitkan rasa sakitnya. Namun, di sisi lain bila ia tak hadir, maka Bella akan bertepuk tangan atas kekalahannya.
Sora membasuh mukanya sekali, lalu kembali menatap cermin di depannya. Tak terasa air matanya kembali menetes, rasa sakit lima tahun yang lalu kini terasa lagi. Entah kutukan apa yang Tuhan berikan hingga ia hidup dalam keadaan dilematis seperti ini.
Ketukan pintu dan suara mungil dari sang buah hati membuat Sora tersadar, lalu cepat-cepat ia mengusap air mata yang sudah menguar dsn membasahi kedua pipinya.
“Ibu... Mengapa lama sekali? Aku lapar.” Suara lembut menyapa indera pendengaran Sora, dengan cepat ia menyahut agar sang putri tidak merasa khawatir.
“Tunggu, Nak. Ibu baru selesai mandi. Nora duduk dulu di ruang makan, oke!”
“Iya.”
Tak lama setelah Sora keluar, ia melihat lelaki yang tidak asing di matanya. Regan sudah ada di dapurnya menyiapkan sarapan untuk Nora, layaknya seorang ayah untuk putri kecilnya.
“Hei... Kapan kau datang?” Sapa Sore, masih mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.
“Baru saja, Nora yang membuka pintu untukku tadi. Ternyata dia sudah bisa menarik tuas gagang pintu. Kupikir belum sampai.”
“Ah... Jangan meremehkan aku, Paman. Aku sudah tinggi.” Suara nyaring mengomel tiada henti. Membuat Sora dan Regan tertawa cekikikan melihat tingkah menggemaskan dari gadis kecil itu.
Kala Sora tengah menikmati sarapannya, Regan mendekat ke arah Nora, wajahnya tampak begitu serius berbisik ke arah wanita itu.
“Kau mau datang?”
Sora mengangguk, seolah mengerti topik pembicaraan yang sedang Regan utarakan.
“Membawa Nora?” tanya pria itu lagi. Namun, kali ini jawaban Sora tampak lirih.
“Tidak. Aku tidak ingin Ryan kembali bertemu Nora. Apalagi kedua orang tuanya. Tidak.” Sora mempertegas ucapannya.
“Apa kau masih menyimpan rasa pada lelaki itu?” Pertanyaan Regan mengganggu nurani Sora, ia langsung menatap wajah pria di hadapannya ini dengan serius.
“Apa kau pikir aku bodoh? Mau jatuh cinta pada lelaki yang telah berkhianat untuk kedua kalinya?”
“Kupikir iya, tapi kalau jawaban itu benar dari hatimu. Aku bersyukur. Karena aku benar-benar serius padamu, Sora.”
Meski belum ada rasa sedikitpun, Sora patut menghargai perasaan Regan yang begitu tulus. Ia tidak mau membuat Regan kecewa. Karena dia tahu bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang paling ia harapkan.
“Kupikir kau harus membawa Nora, dan menunjukan jika kau baik-baik saja, dan kalian bisa hidup bahagia.”
Tentu saja usulan Regan dipertimbangkan kembali oleh Sora, dan wanita itu berpikir dua kali untuk mengajak Nora. Tapi apa yang dikatakan Regan benar adanya. Dan pasti ia akan menjaga Nora dan Sora.
“Baiklah, nanti kita bawa Nora. ”
Senyuman merekah keluar dari bibir Regan. Pria itu tampaknya sudah tidak sabar membawa calon istri dan anaknya untuk memerlihatkan pada dunia, jika dia adalah pria paling beruntung.
Semangat, ditunggu up selanjutnya...
Semoga happy end ya, /Drool/
jadi korban