Anna kira hidupnya akan hancur saat di bawa pergi oleh lelaki itu, awal pertemuan yang bisa di bilang tidak biasa, dan penuh drama.
Dia keras kepala, tidak suka dibantah, benci diabaikan dan setumpul hal buruk lainnya.
akankah hidup Anna baik-baik saja? atau malah sebaliknya. ikuti terus kisahnya dengan judul ~~ Mine
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park Zia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Hy all, i'am come back. Ada yang kangen? Ada nggak? Kalau nggak ada ya udahlah ya kan. Happy reading aja deh
"Kapan aku bisa pulang?" tanya Anna sambil mengunyah makanan di mulutnya. Matanya menatap kearah Alfariel yang juga sedang melihat kearahnya.
"Emm entahlah, keadaanmu masih belum sehat. Kita akan menunggu sampai keadaanmu lebih baik," jawab Alfariel tidak yakin. Dengan siagap tangan lelaki itu mengusap ujung bibir Anna yang kotor.
Anna menganguk-angukkan kepalanya pelan, matanya melihat kearah luar yang memperlihatkan keindahan kota jakarta. kota yang padat, terlihat kendaratan yang berlalu-lalang, tapi itu semua sama sekali tidak bisa menutupi keindahan kota ini.
Coba diingat sudah berapa lama Anna tidak menikmati keindahan kota kelahirannya ini, rasanya sudah sangat lama. Nanti, saat kondisinya sudah sedikit lebih baik. Dia akan meminta Alfariel untuk mengajaknya keliling jakarta. Yah sayangnya itu nanti, sekarang sangat tidak memungkinkan untuknya pergi. Apalagi dengan keadaannya yang sedang tidak sehat begini.
"Al," panggil Anna pelan, tangan gadis itu memainkan kuku jarinya gugup. Sesekali matanya menatap kearah Alfariel yang juga sedang menatapnya.
"Hmm, kenapa?" tanya Alfariel dengan menaikkan satu alisnya penasaran.
"Emm, aku sangat bosan disini. Bisakah kita keluar untuk jalan-jalan?" tanya Anna hati-hati, matanya menatap Alfariel penuh harap.
Alfariel tampak menimbang-nimbang, sebenarnya keadaan Anna tidak terlalu parah. Hanya saja dia masih sedikit khawatir, apalagi Anna terkadang suka pusing mendadak. Alfariel takut kondisi Anna menjadi lebih buruk.
"Pliss," mohon Anna dengan muka yang sangat berharap, tangannya yang tadi terlihat gugup. Kini terlihat sedang menyatukan didepan dada dan memohon dengan Alfariel.
"Baiklah, tapi hanya sebentar saja oke?" Alfariel mengsetujui keinginan Anna.
Alfariel mengambil kursi roda dan mengarahkannya pada Anna, gadis itu menatap Alfariel kesal, matanya melotot tidak suka.
"Aku bukan orang cacat Al, aku bisa jalan."
"Aku tau, duduklah."
"Tidak mau," tolak Anna kesal, ayolah kakinya sama sekali tidak bermasalah. Tapi Alfariel melakukannya seperti orang yang sekarat. Menyebalkan.
"Aku tau kakimu baik-baik saja, Baby. Tapi aku tidak mau kamu kenapa-kenapa, jadi ayo duduk." Alfariel tampak sabar menghadapi Anna, dia tau gadis ini tidak mau diperlakukan seperti ini. Tapi tetap saja, Alfariel masih khawatir dengan keadaan Anna.
"Tapi..."
"Duduk atau kita tidak jadi pergi." Alfariel memotong ucapan Anna, matanya terlihat dingin.
Anna menghela nafasnya kesal, walau kesal dia tetap juga duduk di kursi roda itu. Alfariel mendorong dan membawa Anna keluar, yang hal itu dengan segera dikawal oleh anak buahnya.
Sepanjang koridor rumah sakit, banyak pasang mata yang melihat kearah mereka. Tapi hal itu sama sekali tidak dihiraukan Alfariel, lelaki itu malah membawa Anna ke taman rumah sakit.
Disana ramai orang yang juga sedang jalan-jalan, mulai dari sendiri, berdua bersama pasangan atau saudara, sampai ada yang bersama para keluarga.
Anna sedikit iri saat melihat para pasien yang sedang bersama para keluarganya. Ada sedikit perasaan tidak suka di hatinya saat melihat keadaan itu, dia juga ingin diposisi mereka. Andai saja orang tuanya ada dan menginginkan dia. Pasti Anna akan menjadi orang yang sangat bahagia.
Senyum kecil terbit di bibir Anna saat melihat seorang wanita paruh baya yang menyuapi cowok muda, mungkin dia seumuran Anna. Walau awalnya malu dan tidak ingin, akhirnya cowok itu luluh juga dan menerima suapan dari wanita itu. Muka cowok itu memang sedikit kesal, tapi kalau dilihat dengan teliti. Cowok itu terlihat sangat senang saat wanita itu menyuapinya.
Alfariel melihat kearah pandangan Anna, ternyata gadis itu sedang melihat seorang wanita yang tengah menyuapi Anaknya. Alfariel berlutut didepan kursi roda Anna, tangan lelaki itu mengengam tangan Anna erat.
"Kamu ingin makan?" tanya Alfariel lembut, tangannya mengelus-ngelus tangan Anna. Dan mata lelaki itu sama sekali tidak berpindah dari mata hitam Anna.
"Emm, aku ingin makan Es krim." Anna terlihat antusis saat menyebut makanan dingin itu.
"Kamu masih belum sehat, Baby. Tidak baik makan Es krim, yang lain saja." Tolak Alfariel pelan, dia tidak akan memgambil resiko dengan memberikan Anna memakan Es krim. Dia bisa mati mendadak kalau kondisi Anna nanti memburuk, jadi lebih baik dia menolaknya saja.
"Tapi aku ingin itu. Sedikit saja Al," ucap Anna dengan mata memohon, gadis itu mengelurakan jurusan mata anjingnya, membuat siapapun yang melihat mata memelas itu pasti akan menurutinya.
Tapi sepertinya itu akan sulit sekarang, apalagi Alfariel masih dalam mode peringatan seperti ini. Pasti dia tidak akan pernah mengizinkannya. Dan sudah pasti lelaki ini akan menolaknya.
"Tidak, Baby. Aku tidak bisa mengambil resiko, yang lain saya ya?" Bujuk Alfariel lembut.
"Hmm, baiklah. Aku ingin makan sosis saja," ucap Anna pasrah.
"Baiklah, jika kondisimu sudah lebih baik nanti. Kamu pasti bisa makan Es krim," ujar Alfariel pelan. Lalu lelaki itu melihat kearah Arga, memerintahkan bawahannya itu untuk membeli Es krim untuk Anna.
Alfariel akan menuruti apapun itu jika Anna ingin, tapi jika keinginan gadis itu akan mempengaruhi kondisi kesehatannya. Maka Alfariel akan melakukan semaksimal mungkin untuk mencegahnya.
Anna adalah hidup Alfariel, jika gadis itu sakit maka dia akan ikut sakit. Maka karena itu, Alfariel tidak akan mengambil resiko. Dia akan lebih suka mencegahnya dari pada mengobati. Jadi, apapun itu Alfariel akan semaksimal mungkin untuk melakukan segala cara agar kondisi Anna baik-baik saja.
*****
"Ha ha ha," tawa keras keluar dari lelaki dengan baju hitam itu, tangannya meremas kaleng soda hingga kaleng itu remuk tidak berbentuk. Membuat isinya berhamburan keluar membasahi tangan dan sedikit bajunya.
"Wah wah, aku tau dia hebat. Tapi tidak pernah tau kalau dia akan sehebat itu," ucap lelaki itu pelan. "Dia bahkan bisa menangkap salah satu bawahanku yang aku rasa cukup pintar bersembunyi," sambungnya lagi. "Hebat,"
"Lapor bos," ucap salah satu bawahannya dan berlutut didepan lelaki itu.
"Katakan,"
"Dua hari lagi mereka akan pulang ke Apertemen miliknya yang berada di pusat kota. Jika diperkirakan mereka akan tiba di Apertemen sekitar jam satu, apa yang harus kami lakukan?" tanya bawahannya itu.
"Emmm, jam satu." Lelaki itu menimbang-nimbang pelan. "Aku rasa biarkan dulu satu hari dia bahagia dengan gadisnya, setelah itu kita akan menculik gadis itu untuk menjadi pertukaran." Lelaki itu terlihat sangat puas saat mengatakan itu.
Kakinya melangkah kearah jendela kaca, melihat pemandangan malam hari di bangunan itu. Lampu-lampu dari banguan-bangunan pencakar langit terlihat sangat indah dari situ, tangannya mengentuk-ngentuk kaca tersebut pelan. Senyum miring terbit di bibirnya.
"Tanggal berapa besok?" tanya lelaki itu sambil melihat kearah bawahannya.
"Tanggal 17 bos," jawab salah satu bawahannya setelah melihat tanggal di ponselnya.
"Baik, kalian bisa pergi." Usirnya sambil memgibas-ibaskan tangannya ke udara. Memerintahkan bawahannya itu untuk pergi dari situ.
"Baik bos, kami permisi."
"Nikmatilah dulu waktumu, dan saat waktunya telah tiba. Maka kamu hanya akan bisa menagis meratapi nasibmu." Lelaki itu meminum cairan berwarna ungu itu pelan. Senyum miring terbit di bibirnya, yang lama-lama itu berubah menjadi tawa.
"Aku akan membalas semuanya," desisnya sinis.
Next to part 32