Di awali dengan sebuah perjodohan seorang sahabat yang tidak lain adalah adik dari orang yang ku cintai, aku di pertemukan dengan Andra yang ternyata saudara kembar Andre, kakak Anita.
Akhirnya kami berdua menikah. Namun perasaanku masih memilih Andre. Tanpa sengaja aku terus membuat Andra yang mencintaiku sakit hati.Sedangkan Andre sebenarnya memiliki perasaan yang sama terhadapku, tapi ia mempunyai sebuah alasan yang menyebabkannya menyerahkanku pada saudara kembarnya.
Ketulusan Andra akhirnya mampu meluluhkan Aku, dan kami benar-benar hidup sebagai pasangan suami istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Asmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Surprise
4 Bulan kemudian...
"Nyonya, baru saja saya mendapat kabar dari tuan besar, Tuan Andra sudah sampai di bandara dan sekarang telah dalam perjalanan menuju rumah,"
Asisten rumah tangga kelyarga Wijaya memberiku kabar yang mengejutkan.
"Terimakasih infonya, tolong segera suruh Andre dan Anita turun, kami akan menyambut kedatangan mereka bersama-sama," Aku tersenyum lebar, tentu saja aku sangat bahagia. Pada akhirnya penantianku tidaklah sia-sia. Andra kembali.
Aku mengelus perutku yang mulai membesar. Usia kandunganku menginjak lima bulan. Dokter bilang Anakku berjenis kelamin laki-laki. Aku belum sempat memberitahu Andra karena dalam sebulan terakhir dia tidak menghubungiku sama sekali.
Mungkin inilah kejutan yang akan dia berikan untukku. Tidak memberi kabar dan tiba-tiba pulang. Dia sangat romantis. Aku naik sebentar ke kamar untuk merias diri. ku ingin tampak cantik saat Andra melihatku nanti. Benar-benar tidak sabar.
"Sila, benarkah hari ini kak Andra pulang dari Amerika? Aku akan menjitaknya nanti, dia terlalu lama meninggalkanmu sendiri." Anita tiba-tiba masuk ke dalam kamarku yang memang tidak terkunci.
"Dasar adik jahil! biar saja dia pergi lama, aku sudah tidak keberatan kok. Kalau dia tidak pergi, mana ada kesempatan untuk membantunya mengurus perusahaan," Kataku sambil memoles wajahku dengan bedak.
"Kamu memang kakak ipar yang keren, walaupun sedang hamil tapi tetap bekerja keras. Aku bangga padamu," Anita memelukku
"Anita, awas, jangan banyak bergerak. Nanti lipstikku belepotan, nih." Aku sedang memoles bibirku dengan lipstik kesukaan Andra. Sekarang penampilanku sempurna. Aku segera turun.
Aku menunggu di ruang tamu dengan perasaan tidak menentu. Kerinduan yang mendalam dan menyiksa ini akan segera terobati. Bagaimana wajah Andra setelah 4 bulan tidak bertemu? Rasa penasaran ini menderaku.
Beberapa saat kemudian dua buah mobil memasuki halaman keluarga wijaya. Ak, Anita dan Andre keluar pintu, menyambut kedatangan mereka. Mama dan papa keluar dari mobil, muka mereka datar bahkan sangat datar. Seperti tidak sedang gembira. Lalu seorang laki-laki tua, mungkin ini kakek Andra. Meskipun tampah mirip dengan papa mertua, tapi orang tua ini terlihat sangat arogan. Tatapannya tajam dan dingin. Berikutnya Andra, wajahnya tetap saja tampan seperti biasanya. Eh, masih ada lagi yang keluar? Seorang wanita muda seumuran denganku, beerjalan seiring dengan Andra. Siapa dia?
"Silamat datang ke rumah, kek, ma, pa," Kami menunduk memberi hormat.
"Siapa wanita hamil ini?" Dengan nada datar kakek menanyakan statusku di keluarga.
"Dia istri..." Kalimat Andre di potong oleh Andra.
"Istri Andre. Aku belum menceritakan kalau Andre sudah menikah," Andra membuang wajahnya. tidak berani menatap kami.
Pernyataan Andre seketika menghujam jantung dan hatiku. Kenapa dia tidak mengatakan yang sebenarnya tentang siapa aku di rumah ini. Kerinduan yang aku rasakan selama ini aku fikir sepertinya sia-sia. Tapi tidak, aku coba positif thinking saja. mungkin saat ini dia belum siap untuk mengatakannya.
"Lalu siapa wanita ini?!" Andre menunjuk wanita yang ada di samping Andra. Wanita itu memberi hormat kepada kami.
"Aku Sesilia, istri Andra. Kami menikah satu bulan yang lalu. Senang bertemu kalian, kakak ipar." Wanita itu tersenyum simpul.
Aku tidak bisa menerima ini. Andra telah menghianatiku. Melanggar janjinya sendiri. Apa yang dia katakan sebelum dia pergi, dia tak mengingatnya lagi. cukup menyakitkan untuk menghadapi kenyataan ini. Aku tidak sudi berbagi suami. Apapun alasannya. Jika memang wanita itu lebih menarik dariku, setidaknya ceraikan aku dulu sebelum menikahinya.
Aku memandangwajah mama dan papa. Mereka tidak menunjukkan ekspresi apapun. Hanya melintas melewati kami dan pergi ke kamar mereka. Siapa yang mampu menjelaskan semua yabg telah terjadi ini padaku?
"Maaf, perutku tiba-tiba terasa melilit. Aku akan mengajak suamiku ke kamar dulu," Aku mengikuti drama yang di ciptakan oleh Andra. Aku merangkul lengan Andre dan pergi meninggalkan mereka. Aku melihat dengan ekor mataku, Andra mengepalkan tangan.
Anita tidak berkata apa-apa. Dia berlari melewati aku dan Andre. Sepertinya sahabatku itu menangis kecewa dengan kenyataan yang terjadi saat ini sama sepertiku.
Tiba-tiba saja perutku sangat sakit. Aku merasakan sesuatu mengalir dari daerah pribadiku membasahi kaki. Darah. cairan itu darah. Aku menyandarkan tubuhku ke Andre, pandanganku kabur dan akhirnya gelap.
Saat terbangun, aku ada di rumah sakit. Andre dan Anita ada di sampingku. Mama dan papa juga di sana. Mereka tampak mengkhawatirkanku. Aku teringat kejadian yang baru saja terjadi. kuraba perutku yang sudah kembali rata.
"Mana bayiku?! mana bayiku? kenapa perutku rata. mana? ma,pa, kak, anita, tolong jawab, mana bayiku?" Aku memandangi mereka satu per satu. Tidak ada satupun dari mereka yang menjawab. Mama akhirnya menangis dalam pelukan papa.
"Maafkan kami, nak" ujar mama sambil masih terisak.
"Jadi di mana bayiku ma?" Aku mulai menangis, *** selimut yang menutupi tubuhku. Anita memelukku, dan gadis itu pun ikut menangis.
"Sila, Bayimu kehabisan suplay oksigen karena pendarahanmu yang hebat. Sejak kemarin kamu belum siuman. Bayimu tidak bisa di selamatkan. Ia meninggal." Andre buka suara. Jawabannya seperti petir disiang bolong. Aku histeris mendengarnya.
"Tidaaaakk! bayiku tidak mungkin meninggal! kalian semua bohong! aku benci kalian!" Aku meronta-ronta.
Mama mendekapku erat. Beliau menangis tersedu-sedu. Hatiku terluka berkali lipat sekarang. Aku tidak hanya kehilangan suami aku juga kehilangan anak.
"Maafkan mama, sayang. Mama nggak bisa menghalangi kakekmu menjodohkan Andra dengan Sesilia," Ujar mama parau. Aku tidak akan bisa menganggap orang kejam itu kakekku.
"Ini bukan salah mama, Andra yang paling bersalah. Dia sudah ingkar janji ma. Aku benci dia!" Aku meninggikan suaraku . Emosiku meledak. Awalnya ingin memberikan Andra kesempatan untuk menjelaskan semua ini, tapi setelah kehilangan bayiku, rasanya sulit untuk memaafkannya.
"Lalu, siapa yang harus aku salahkan selain dia? Lelaki lemah yang tidak bisa memperjuangkan kebebasannya sendiri. Setelah ini, aku mau pulang ke rumahku ma, aku mau pisah sama Andra!" Aku bicara serius. Aku mau mengakhiri hubunganku dengannya.
"Mama mohon, jangan tinggalkan Andra, Sila. Berikan Andra kesempatan untuk menyelesaikan semuanya. Mama tahu, Andra sangat mencintai kamu." Mama mertuaku memohon aku bersedia tetap tinggal.
"Aku sudah tidak percaya lagi dengannya, Ma. tidak terlihat sekalipun dia benar-benar mencintaiku." Aku tetap bersikap dingin.
"Baik, kalau kamu memang sudah tidak ingin bersama Andra, Tapi mama mohon, tetaplah tinggal di rumah mama." Aku tersentuh dengan sikap mama. Tidak ada pilihan selain untuk tetap tinggal sementara waktu. Tapi aku pastikan, aku akan membalas sakit hati dan rasa kecewaku pada Andra. Saat aku pulang nanti, itu adalah titik awal penderitaannya di mulai.
Beberapa jam berlalu...
Seseorang membuka pintu kamar rawatku. Suara sepatu perlaham mendekat. Bau parfum ini sangat familiar
"Sayang, maafkan aku, semua salahku sampai kita harus kehilangan seorang bayi," Suara Andra, aku tidak salah, ini benar-benar dia.
"Cukup. Tidak perlu mersa kehilangan Andra. Kamu sudah memilih jalanmu? Setelah kau tidak mengakuiku, kau tidak berhak mengakui bayi itu adalah anakmu. Dia hanya anakku, dan hanya aku yang paling berduka." Kataku, dengn nada datar. Sedikitpun aku tidak menoleh kearahnya.
"Sila, maafkan aku, aku mohon.Aku belum bisa jujur pada kakek tentang siapa dirimu sekarang," Andra menghiba padaku.
"Sampai kapan kami mengakuiku? Sampai aku mati menyusul bayiku? Aku tidak sudi memaafkanmu. kalau kau berfikir aku mau berbagi suami, ingat dulu janjimu sebelum pergi meninggalkanku. Lupakan tentang kita, anggap semuanya hanya sebuah kesalah pahaman. Sekarang keluar dari ruangan ini, keluaaar!!" Aku tidak ingin melihatnya lagi.
"Tapi,Sil.."
"Apa kau sudah tuli? keluaar sekarang juga!"
Aku menunjuk ke arah pintu. Andra pasrah dan meninggalkan ruang tempatku di rawat. Jika waktu boleh di putar, aku lebih memilih Andra tidak pernah kembali lagi. Sekarang aku benar-benar merasa sendiri. Maafkan bunda, nak. Bunda tidak bisa menjagamu dengan baik.
Kenapa ngurusin Andre.
Rasain dilecehkan Andre.
Salahmu sendiri Sila.