Selamat datang di kisah cinta rakyat jelata. Yang di tulis di pinggir kota. Tidak perlu mengkhayalkan yang serba wah. Karena ini hanya tulisan receh dari seorang rakyat jelata. Silahkan di baca dan nikmati! Barangkali nasib kita sama.
Alya Rahmawati (18 tahun) gadis manis, baik hati, dan rajin menabung. Demi cita-citanya yang mulia, dia bekerja sebagai petugas tiket di bus kota milik pemerintah kota Semarang.
Pertemuannya dengan seorang laki-laki bernama Gusti Agung Prasetyo (29 tahun) yaitu laki-laki mapan, salah satu Direktur utama di PT. Asia Maju Abadi membuat gadis itu ragu. Haruskah dia membuka kisah cinta baru atau bertahan terbelenggu dengan kisah masa lalunya bersama Mas Rudi (21 tahun) yang entah tiada ujung dan kejelasannya.
Akan aku buktikan kalau cintaku tidak pernah salah. Aku akan tetap menunggu~Alya Rahmawati
Jika ucapan adalah doa, maka setiap hari aku akan berucap, bahwa kamu adalah jodohku~Gusti Agung Prasetyo
Biarkan aku egois untuk memilikimu. Karena hanya aku yang berhak untuk itu~Rudi Setiawan
Bagaimana kisah mereka bergulir, jatuh bangun Alya mengejar cita-citanya, konflik internal didalam lingkungan kerja, dan perjuangan Gusti mendapatkan cinta Alya.
Mampukah Alya lepas dari belenggu kisah masa lalunya bersama mas Rudi???
.
.
.
.
❤️❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifa Mukherjee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31: Penumpang 81
"Mbak Alya aku padamu!"
Sudah dua bulan ini Alya di kejar-kejar oleh seorang penumpang laki-laki yang sangat ajaib. Dia adalah seorang kenek bis umum jurusan Semarang-Purwodadi. Bertubuh kurus, berkulit hitam dan berambut merah. Pokoknya tidak ada manis-manisnya. Lebih parahnya sepersekian detik laki-laki itu sering ngeces. Jadi, sebut saja namanya Wahyu ces.
Seperti sudah tahu jadwal kerja Alya, hampir setiap hari dia mengikuti Alya. Pokoknya hanya mau naik bis jika Alya petugasnya. Padahal dia naik bis juga tanpa tujuan. Belum lagi jika Alya mendapatkan jadwal jaga halte. Auto gesit dia menyusul dan tak lupa membawakan jajan atau minuman. Walaupun pada akhirnya tidak pernah Alya memakan atau meminum pemberiannya. Karena tidak enak jika menolak saat di beri, Alya selalu melimpahkan makanan tadi ke temannya yang mau menerima.
Dan pagi ini Wahyu ces juga mengikutinya. Walaupun merasa terganggu, tapi Alya tidak pernah berkata kasar atau menghardiknya. Alya selalu menahan diri bersabar. Dia juga masih bicara sopan pada Mas Wahyu ces. Dia tidak ingin menyakiti hatinya, takut kualat.
"Makan arum manis di pinggir jalan. Mbak yang manis, boleh dong kenalan. Hahaha..."
Tawanya pecah memamerkan deretan giginya yang kuning.
"Mas Wahyu pulang sana, apa ga kerja kog ngikutin aku terus."
"Mas Wahyu masih betah kog nemenin Mbak Alya." Lagi-lagi dia merayu dengan pantun gombal dua sajak hasil karyanya. "Minum jamu makan semangka, lihat kamu langsung suka."
"Buahahahha...." tawa Pak Bayu menggelegar mendengar pantun gombal ala Wahyu ces. Alya langsung memukul lengan sang driver yang masih mengemudi itu.
"Tapi kan aku ga minta di temenin."
"Kamu ga minta tapi aku ikhlas nemenin dek Alya sayang." Lihat iler nya mulai menetes. Ces...ces...ces...
Pengen mengumpat takut dosa, iyuhhhh...
Bis mereka memasuki Terminal Penggaron, kurang satu trip lagi Alya bisa pulang. Masih ada waktu istirahat sepuluh menit, menunggu giliran untuk jalan lagi.
"Pak aku ketoilet dulu ya."
"Iya Al, santai aja."
"Ikut dong mbak Alya. Hehe..."
"Eh kamu pulang aja sana. Itu lho supir 'mu nyariin! Alya berbohong.
"Berangkat kuliah pagi-pagi, lihat Aliyah jadi tak ingin pergi."
Huh! sabar-sabar. Alya berjalan menuju toilet terminal yang ada di ujung pojok. Sedangkan si Wahyu ces setelah mengekor dia berbelok di sebuah warung. Alya berpapasan dengan Anisa di depan toilet. Teman seprofesi beda pool operasional itu menyapa Alya.
"Hai Al, enak ya kurang satu trip lagi bisa langsung cus pulang."
"Hehe...iya mbak."
"Itu si Wahyu ces ngikutin kamu?"
"Hehe...iya mbak. Ga mau pergi dia. Capek aku negur."
"Hahahaha...iyalah namanya juga penumpang 81. Susah kalau di tegur. Mau sampe mulut kita berbusa ya gitu terus."
"Apa itu 81 mbak?"
"Masak kamu ga tahu, itu kode yang dipakai saat informasi tidak jelas atau putus-putus. Berhubung mungkin dia kabel otaknya agak putus, jadilah penumpang 81. Hahaha... "
"Masuk juga sih." Alya manggut-manggut.
"Ah aku sampai lupa mau buang air."
"Hahaha...ya udah sana nanti malah beser di sini bahaya."
...***...
"Akhirnya selesai juga, Pak aku pulang dulu ya, makasih sudah di bantu."
"Oke, nanti yang ngaplus kamu siapa?"
"Kalau ga ada yang ijin, ya Nita pak."
"Lho Mbak Alya kog ga pamitan sama mas Wahyu?"
"Hehe....Permisi Mas pulang duluan ya." memaksakan tersenyum.
"Beli getuk di pasar Karang Ayu, hati terketuk bilang i love you." Ces...ces..ces... "Hati-hati ya Mbak Alya besok kita jumpa lagi."
Alya melenggang pergi. Tidak menjawab. Belum keluar dari dalam bis. Pak Bayu memanggil.
"Al, ini minum 'mu ketinggalan!"
Mati aku, ahh itu kan sengaja aku tinggal.
"Mbak Al, kamu sengaja 'kan menolak pemberianku?"
"Ha-h tidak kog, aku terima. Bentar aku ambil ya."
"Gitu dong mbak, Mas Wahyu senang jadinya. Oh ya sekalian Mas Wahyu balik ke Penggaron ya."
"Hiya-hiya sana pulang."
Minuman itu pun diambil dan di berikan kepada Mucikari. Tentu dengan sembunyi-sembunyi. Jangan sampai Wahyu ces tahu, bisa hujan iler kalau sampai ketahuan.
Saat Alya berjalan ke parkiran motor. Tiba-tiba Vita muncul. Setelah dua bulan dia resign, mereka memang belum pernah bertemu.
"Alya, aku mau ngomong bentar sama kamu."
"Mau ngomong apa?"
"Kita cari minum di warung aja gimana, biar enak ngobrolnya."
"Maaf tapi aku harus cepat pulang. Kamu mau ngomong apa?"
"Oh... sebenarnya aku hanya ingin mengobrol. Apa tidak bisa kita berteman seperti dulu lagi. Aku benar-benar menyesal, Al?" Vita menunduk.
Alya jadi tidak enak hati. Lagipula dia juga sudah memutuskan untuk melupakan kejadian itu.
"Sudah ta, aku juga sudah melupakan masalah yang lalu. Jadi biasa saja, ga usah sungkan kalau mau menghubungi 'ku?"
"Benarkah Al? Aku boleh menghubungi 'mu lagi?"
"Memang siapa yang melarang kamu menghubungi 'ku."
"Ga ada. Tapi kamu juga ga pernah mengirim pesan."
"Jaim dong, kalau harus memulai. Hahaha... Lagian kamu keluar juga ga pamitan sama aku. Teman macam apa itu." Mata Alya melirik sinis pada Vita.
"Hahaha...dasar ya Alya Rohali." Mereka berpelukan layaknya Teletubbies.
"Alya Rahmawati keles. Hehe..."
...***...
Besoknya Alya mendapat jadwal untuk jaga di halte Simpang Lima. Ajaib! Baru saja Alya datang, si Wahyu ces sudah muncul. Memamerkan giginya yang kuning menyilaukan mata. Dari kejauhan dia melempar senyuman pada pujaan hatinya. Alya sendiri sudah bergidik ngeri.
"Selamat pagi mbak Alya, ini mas Wahyu bawakan nasi ayam penyet Bu Umi kesukaan Mbak Alya. Komplit hlo sama camilan dan air mineral dingin."
Wah sudah tidak bisa di biarkan lagi. Aku harus tega menolaknya secara terang-terangan.
"Cie cie Alya, pagi-pagi sudah ada yang apel." Goda Ayub Khan rekan kerja Alya.
"Apaan sih mas Shahrukh Khan KW seribu. Jangan jadi kompor deh."
"Hahaha...ngeri ini fans garis kerasnya Alya."
"Berisik! Ini juga Mas Wahyu ngapain kesini pagi-pagi."
"Mbak Alya jangan galak-galak dong. Mas Wahyu kemarin kan udah janji mau nemenin lagi."
"Tahu ah , aku mau kerja jangan ganggu."
"Iya iya Mbak Alya, Mas Wahyu akan duduk di sana. Kalau harus memandang dari jauh mas Wahyu tetap rela."
Karena ini hari Sabtu, penumpang mulai ramai berdatangan. Datang dan pergi silih berganti. Alya lebih memilih cuek tidak memperdulikan Mas Wahyu ces. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, satu jam lagi Alya bisa pulang setelah aplusan shift 2 datang nanti.
Mas Wahyu ces masih setia menemani. Karena terlalu sibuk melayani pembelian tiket, Alya sampai tidak sempat sarapan. Dia hanya minum susu coklat yang di belikan mas Khan tadi.
"Mbak Alya kenapa nasinya masih utuh belum di makan? Mbak Alya mau makan yang lain mungkin? Apa burger atau pizza biar Mas Wahyu belikan."
"Tidak usah Mas, aku ga sempet makan. Lihat sendiri kan dari tadi penumpang rame."
"Kalau begitu sini tak bantu, biar kamu bisa makan." Wahyu sudah memegang mesin tiket Alya.
"Mas, aku bilang ga usah! Kalau begini kamu sama saja mengganggu pekerjaan 'ku!" Bentak Alya agak keras. Untung suara musik di halte cukup keras, jadi perdebatan mereka tidak menjadi perhatian penumpang yang lain.
Wahyu ces merasa kaget. Tidak biasanya Alya membentak begitu. Dia kembali duduk di bangku tunggu khusus penumpang.
Alya sudah memutuskan untuk menegur tegas fans gilanya itu, nanti setelah selesai bekerja.
Akhirnya selesai juga tugas Alya. Dia bersiap-siap untuk pulang.
"Mbak Alya, mau pulang ya. Mas Wahyu antar sampai Mangkang ya?"
"Tidak perlu Mas. Tapi aku ingin berbicara sebentar sama mas Wahyu. Kita keluar halte ya."
Mereka berdiri di belakang halte yang agak sepi, di bawah pohon asem yang rindang.
Hati Wahyu tiba-tiba deg-degan, apa Alya mau menerimanya?
Mengembalikan sekantong makanan dan minuman pemberian Mas Wahyu tadi pagi.
"Maaf sebelumnya Mas, aku tidak bisa menerima ini. Aku minta tolong juga, Mas Wahyu jangan ngejar-ngejar aku lagi. Aku ga bisa menerima kebaikan Mas Wahyu."
"Jalan-jalan ke kota Semarang, cinta 'ku takkan hilang walau kau melarang."
"Stop Mas! Ini terakhir kali aku ngomong baik-baik. Kalau Mas Wahyu masih bersikeras mengikuti 'ku, aku bersumpah akan membenci Mas Wahyu dan akan melaporkan Mas ke kantor."
Speachless, Mas Wahyu hanya mematung. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca. Remuk sudah hatinya tak tersisa. Ambyar berkeping-keping berserakan. Hanya iler nya yang terlihat kembali menetes. Ces...ces..ces...
Sebenarnya Alya tidak tega. Tapi kalau di biarkan semakin lama, tidak akan ada habisnya.
"Tapi Mbak Alya, Mas Wahyu benar-benar sayang hlo! Kalau mengagumi dari jauh masih boleh kan?" ucapnya mengiba.
"Tidak boleh!!!"
Tiba-tiba terdengar suara yang familiar di telinga Alya.
"Alya calon istri 'ku, jadi jangan harap kamu bisa mendapatkannya. Walau sebatas mengagumi juga tetap tidak boleh!"
Alya menoleh, betapa kagetnya dia ketika melihat Om jadi-jadiannya sudah berdiri gagah di belakangnya.
"Sia-pa kamu?"
"Aku tunangan Alya. Benarkan Al?" mengedipkan mata memberi kode. Bilang iya, aku sedang menyelamatkan 'mu dan ini tidak gratis.
"Ha-h, eh iya. Benar. Jadi Mas Wahyu mulai sekarang harus menjauhi 'ku." semakin tidak tega melihat air mata Mas Wahyu yang sudah menetes.
Hatinya sudah benar-benar remuk bubuk. Ditolak dan harus menerima kenyataan. Kalau tentu saja pria di depannya bukan tandingannya. Akhirnya Wahyu ces pergi meninggalkan mereka berdua. Tanpa sepatah kata. Mungkin pantun di atas adalah pantun terakhir yang dia ciptakan. Pray for Mas Wahyu ces. Penumpang 81 yang terpopuler di kalangan bis kota.
"Hahaha....sudah aku duga. Penggemarmu ada juga yang lebih hancur di bandingkan dengan Doni si biker Vespa rongsok."
"Tertawa saja terus sampai puas. Dasar ga punya rasa empati."
"Eh...kamu belum mengucapkan terimakasih hlo. Bagaimana pun aku sudah membantumu."
"Iya-iya, aku ucapkan terimakasih Om jin." Melipat kedua tangannya di depan Gusti.
"Heh...masih berani mengejek 'ku! Dasar bocil!"
"Om datang tiba-tiba. Sudah seperti makhluk halus saja bisa gentayangan sampai sini."
"Hah...bilang saja kamu senang melihat 'ku."
"Narsis! Udah aku mau pulang." Berbalik badan. Tapi tiba-tiba Gusti menyekal lengan Alya.
"Ayok pulang sama aku!"
"Tidak! Aku mau naik bis saja!"
"Jangan ngeyel Bocil! Atau aku akan menculik kamu!"
"Hih... sadis!"
"Lagi pula kamu belum pernah aku antar pulang naik Pajero kan?"
"Oke...ayok kita pulang!"
"Hahaha..."
Dasar Alya, tingkah 'mu membuat 'ku semakin gemas saja!
_
_
_
_
_
_
❤️❤️❤️
Minta komen dong temen-temen. Biar aku tahu isi hati kalean😁
Tapi makasih sudah mau mampir🙏❤️❤️❤️
Otore kayak e tetangga satu kecamatan..
Krn di bab atas Ada tempat namanya Tlogosari...
Nuruti ego mulu tuch bocah..
Gedeg juga
OH Tuhan, otak itu apkh fungsinya?????
Tolol
Jangan Berlindung Dari kata anak berbakti klo km sendiri g mo Berjuang... Lemah
Gusti jg msh mau2nya di gituin
Kyk ga Ada cewex lain saja, Berjuang sudah tp klo sepihak yo bego namanya
Berjuang itu mesti 2 belah pihak klo Cmn sepihak yo ajur jum..
Bkn tdk mgk Dia akan gitu kelak..
Ya meski sdh ketebak klo gusti yg Sama alya, Cmn klo head to head rudi VS alya, kmd alya milih rudi ya jatuhnya oon...
Beberapa tahun g ngasih kbr, trs di mna letak tanggung jawabnya? Cowox kyk gini Pantesnya buang ke laut...