Rengganis Jeyang (28 Tahun) yang akrab disapa Ganis ditugaskan mengajar di Sekolah Menengah Pertama swasta favorit di Provinsi Jawa Tengah. Siapa sangka Ganis yang menjadi Guru BP di sekolah swasta tersebut membawanya kepada Ndaru Ayodia. Pria matang berusia 40 tahun, duda 3 anak yang salah satu anaknya adalah murid bandel di Sekolah tempat Ganis mengajar.
Ganis ingin bertemu dengan Ndaru untuk membicarakan masalah kenakalan Abimanyu di Sekolah. Namun kesibukan Ndaru sebagai Kandidat Gubernur Jawa Tengah membuatnya selalu menolak panggilan Ganis.
Hingga akhirnya Ndaru bersedia bertemu di sela-sela safari kampanye nya dan menimbulkan gosip jika Ganis adalah kekasih Ndaru. Elektabilitas Ndaru Dipertanyakan seiring memanasnya situasi menjelang pemilihan Gubernur.
Novel ini adalah hasil imajinasi saya sendiri. Jika ada kesamaan nama tempat itu hanya fiksi. Di novel ini tidak melulu membahas politik karena Ndaru seorang Gubernur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SheisUgly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WITH(OUT) LOVE !
...Aku udah sehat. Nggak pengen nyakitin aku lagi gitu???...
...Rengganis...
🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Teriakan ketiga anak kucing yang bermain di halaman depan rumah terdengar hingga dapur. Weekend ini Ndaru mewujudkan keinginan anak-anaknya untuk menghabiskan masa liburan semester kenaikan kelas di rumah lama mereka. Rumah yang terletak di pinggiran Kota Semarang. Rumah asri dengan halaman di penuhi hamparan rumput hijau. Ukurannya juga tidak terlalu besar dengan model minimalis berlantai dua.
Ganis tentu saja ingat, dia bukan pertama kali kesini. Dulu dia berkunjung kesini bersama Ibunya untuk membahas pernikahannya dengan Ndaru. Setelah menikah, mereka harus pindah ke Rumah Dinas Gubernur dan terpaksa mengosongkan rumah ini.
Nuansa warna biru telur asin mendominasi ruangan dalam rumah. Dinding rumah ini juga cenderung polos. Tidak ada foto, pernak pernik atau benda pajangan lain yang menempel. Hanya gambar kaligrafi yang di pajang di ruang keluarga.
Sebelumnya Ndaru berstatus duda, mungkin saja dia enggan mendekorasi ruangan. Rumah ini memang bersih namun kurang sentuhan wanita. Di teras depan juga terdapat beberapa pot berisi tanaman hias yang mulai mengering.
Jika ada waktu luang, Ganis ingin mengajak anak-anak untuk membersihkan halaman.
Pagi ini, Ndaru terlihat sibuk di dapur. Kompor menyala dengan api sedang. Teflon kecil dan teko untuk memasak air bertengger diatas kompor. Sepanjang pengetahuan Ganis selama menjadi istri Ndaru, baru kali ini dia melihat jika suaminya ini pandai memasak. Ndaru sudah lama hidup sendiri bahkan semenjak dia menjadi mahasiswa di luar negri. Lalu menjadi single parent dengan tiga anak yang masih kecil tentu itu tidak mudah.
Suara daging ham yang beradu dengan teflon panas terdengar. Ganis yang tadi ingin membantu suaminya memasak di tolak oleh Ndaru. Dengan dalih Ganis masih dalam masa penyembuhan, Ndaru ingin memasak untuk istri dan anak-anaknya. Lalu dengan pongahnya Ndaru pamer jika souffle dan roti lapis buatannya sangat enak.
Ganis hanya mencibir seraya membuka-buka ponselnya yang sudah beberapa hari ini tak di lihat. Beberapa chat grup dibaca kemudian dihapus. Rata-rata chat tersebut berisi obrolan tidak penting antar ibu-ibu istri pejabat di Partai yang sibuk open jastip di Korea. Open arisan dengan nominal tinggi atau membual tentang anak mereka yang kuliah di luar negeri atau berhasil masuk Akademi Militer.
Rengganis sedikit respect saat istri pejabat di partai itu mulai bercerita jika anak sulungnya berhasil masuk di Akademi Militer. Namun di ujung percakapan Ganis berdecak kesal membaca pesan terakhir dari ibu itu.
Gk sia-sia lho jeng aku kasih uang 500 juta.
Diselingi dengan emoticon tertawa terbahak-bahak.
Ganis hanya bisa melongo. Dengan bangganya anaknya bisa lolos masuk Akademi Militer setelah membayar uang pelicin senilai 500 juta rupiah. Nilai fantastis untuk suatu kebanggaan dan kehormatan.
Tanpa tedeng aling-aling, ibu itu membeberkan fakta, jika anaknya itu tidak pandai berenang. Ganis tak habis pikir, ibu itu menunjukkan sisi lemah anaknya yang sebenarnya tidak punya kemampuan sebagai abdi negara. Membeli jabatan dengan harga 500 juta rupiah. Uang yang sangat besar menurut Rengganis namun tampak remeh dimata mereka.
Dengan mudahnya mereka membeli cita-cita dengan cara yang tidak jujur.
Diluar sana banyak yang punya kemampuan melebihi anak ibu itu, namun karena tak punya uang, mimpi mereka terhenti di tengah jalan. Digantikan dengan orang-orang yang memiliki uang padahal secara spesifikasi, mereka punya kemampuan untuk menjadi abdi negara. Ini mungkin sudah menjadi tradisi dari dulu, dimana uang berkuasa atas segalanya.
Ganis menghela nafas lalu menekan opsi delete chat di aplikasi ponselnya. Men-setting pada mode mute . Jika Ganis keluar dari grup sekarang, bisa dipastikan pada pertemuan yang akan datang Ibu-ibu itu kompak menyindirnya.
"Serius banget sih, baca chat dari siapa?" Ndaru menegur istrinya yang terlihat serius menatap layar ponsel.
Ganis mendongak " Oh, aku cuma ngapus chat grup Mas. Obrolan mereka enggak penting" Ganis meletakkan ponsel di meja dan menopang dagu. Melihat suaminya yang sibuk menyiapkan sarapan.
"Emang isi chat nya apa kalau aku boleh tau?" Tanya Ndaru masih sibuk dengan tangan kanan memegang gagang teflon.
"Itu loh Mas, Mas Ndaru kenal istrinya Pak Tubagus kan yang hobi bawa kipas kemana-mana?"
"Iya aku kenal, kenapa emangnya?
"Itu anak sulungnya Pak Tubagus, masuk Akmil"
Pandangan Ndaru menerawang, seperti mengingat - ingat.
"Oh anaknya Pak Tubagus yang namanya Indra. Ya bagus dong kalau Indra masuk Akmil. Kamu kok bisa sih bilang itu chat enggak penting? Emang kamu enggak kasih selamat?" Ndaru mencincang bawang putih dan terdengar geli di telinga istrinya.
"Ngapain aku kasih selamat sama orang yang enggak jujur " Jawab Ganis bernada datar, mengambil kotak berisi cornflakes dan menuangnya ke mangkuk.
"Enggak jujur?" Ndaru agaknya tertarik dengan cerita anak Pak Tubagus yang baru saja masuk Akademi Militer.
"Masuk Akmil tapi pakai uang pelicin 500 juta. Bukan karena Kemampuannya sendiri. Bu Tubagus juga cerita kalau anaknya enggak pandai berenang" Ganis yang sudah selesai menuang cornflakes ke mangkuk memasukkan kembali plastik makanan itu ke kotaknya.
"Aku kira jaman sekarang udah enggak ada uang pelicin"
"Mas Ndaru sebagai politikus kan lebih tahu masalah ginian" Ganis mencebik lalu menghidu aroma gurih daging panggang menguar menggugah selera.
Ndaru seketika membalikkan badan menghadap kompor kembali. Dia menghindar jika istrinya mulai menyinggung topik sensitif berbau politik. Ndaru selalu kalah telak atas istrinya yang selalu berdasarkan fakta.
"Mas, kalau Abimanyu udah Lulus SMA nanti Mas Ndaru pengen dia nglanjutin kemana?' Tanya Ganis seraya mencomot satu keping pringles dan memakannya.
Ndaru berdehem sebentar, memandang istrinya dengan sedikit senyuman meyakinkan.
"Aku pengen Abimanyu bisa kuliah di MIT makanya aku sering mengarahkan dia untuk belajar Bahasa Inggris"
Ganis menegakkan badan. "Emang di MIT ada jurusan seni?" Dahi Ganis mengkerut. Setahu dirinya, di MIT tidak ada jurusan seni apalagi seni lukis.
"Abimanyu enggak akan pernah belajar tentang seni, aku mau dia belajar tekonologi" Ndaru mengambil teflon yang telah dipakai untuk memanggang daging ham menuju wastafel pencucian piring.
Ganis seketika berhenti memakan makanan ringan tersebut mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut suaminya. Dia tidak akan mengijinkan anak sulungnya untuk mempelajari tentang seni lukis. Dan akan memaksanya belajar di bidang teknologi. Jika benar itu yang Ndaru inginkan lalu bagaimana dengan cita-cita dan bakat yang dimiliki anak tirinya jika tidak di asah dengan baik.
Ganis ingat betapa dia sangat ingin pergi ke Galery milik Madamme Aimee yang ada di Duta Mall walaupun sebenarnya anak itu sedang malas pergi keluar rumah. Sorot mata teduhnya saat memandang satu persatu lukisan dengan penuh penghayatan seolah Abimanyu masuk ke dalam dunia paralel lukisan itu sendiri.
Ndaru sibuk mencuci piring Membelakangi Rengganis, sedangkan anak sulungnya yang ternyata mendengar percakapan ayah dan ibu tirinya ini hanya bisa terduduk lesu di kursi minibar di dekat ibunya. Raut wajah kecewa tampak nyata di tunjukkan oleh anaknya. Dari awal memang dia tidak yakin jika Ayahnya akan menyetujui bakat terpendamnya itu untuk di asah.
Ganis memang hanya ibu tiri yang tidak punya hak atas anak-anak Ndaru. Dia juga bukan ibu tiri yang siap merentangakan tangan untuk memeluk anak-anaknya setiap saat jika mereka sedang kalut. Namun Ganis tidak tahan untuk tidak mengelus pundak anaknya membuktikan jika kasih sayangnya sebagai ibu tiri tulus apa adanya.
Dalam diam antar keduanya, Ganis melirik anak tirinya dengan pandangan iba dan Abimanyu menunduk. Rasa takut yang di pendam kini menjadi kenyataan.
🌿🌿🌿🌿🌿
Anak-anak meminta izin untuk bermain di lapangan dekat rumah. Disana adalah areal bermain yang menyediakan wahana seperti ayunan, jungkat jungkit, prosotan dan permainan memanjat pohon. Abimanyu yang masih terguncang, memilih untuk berdiam diri di kamar. Ganis tidak bisa menjanjikan apapun untuk anak sulung Ndaru ini. Dia tidak bisa mengubah keputusan sang Ayah karena Abimanyu adalah anaknya. Ganis memang berjanji akan ikut andil dalam pengambilan keputusan tapi sekali lagi, Ganis sadar akan posisinya yang hanya ibu tiri.
Apalagi masih ada Amara, meskipun tak diketahui dimana rimbanya. Apa yang di bicarakan suaminya saat bertengkar dengan Harit kemarin, Ganis tidak paham karena tidak paham Bahasa Perancis. Namun Ganis bisa menarik kesimpulan bahwa mereka bertengkar karena Amara.
Ganis berjengit kaget ketika kelabang melintas di bawah pot yang dia angkat untuk dipindahkan ke pinggir dekat pagar. Kelabang, kumbang, kepik, kalajengking dan tarantula adalah hewan-hewan Creepy Crawlies kesukaan Nawang. Replika berbahan plastik dari setiap spesies hewan serangga menjijikkan itu menghiasi kamar Nawang di rumah dinas.
Ganis kembali mengangkat pot dengan hati-hati, namun karena blok paving sedikit berlumut dan licin terkena air hujan, Ganis hampir saja selip tapi dia bersyukur tidak terjatuh karena ada seseorang yang menahan bobot tubuhnya. Seseorang yang mengenakan parfum Elizabeth Arden aroma green tea dan tentu saja itu bukan parfum dari suaminya.
"Harit" Ganis berbisik saat tahu orang yang menahan bobot tubuhnya yang akan terjatuh adalah Harit. Lelaki playboy itu menyeringai lebar karena berhasil menyentuh tubuh wanita yang selalu di godanya.
Ganis yang tersadar dari wajah tampan Harit yang menghanyutkan mendadak menepis pertolongan Harit dan bisa menguasai keseimbangan.
"Kamu terpesona kan ama aku?" Harit Mengerling. Ganis tak tahan untuk tak memutar bola mata, meletakkan pot kembali ke paving dan langsung masuk ke rumah. Harit yang tak mempan dengan penolakan Ganis mengekor masuk ke rumah.
"Ngapain kamu kesini?" Ganis bersedekap dengan tidak ramah berdiri di dekat meja console. Gadis itu harus waspada jika Harit akan kurang ajar lagi padanya.
"Emangnya aku enggak boleh kesini nemuin pacar aku?" Dia menyinggingkan senyum termanisnya agar Ganis tergoda. Ganis tersenyum sinis. Sebanyak apapun sakarin yang terkandung dalam senyuman Harit tidak akan membuat Ganis goyah. Seganteng-gantengnya Harit, tetap saja dia pria yang tidak punya tata krama.
"Pacar?? Emang siapa yang mau jadi pacar kamu?" Ganis yang mengira pertemuan menyebalkannya bertajuk kencan pada saat itu adalah akhir dari semua gangguan Harit. Nyatanya pria itu masih bersikap sama.
"Kamu kan udah aku peluk tadi?"
"Itu kan hanya ketidak sengajaan. Kalau saya tahu itu kamu saya juga ogah kamu tolong !" Gania bersungut-sungut.
"Aku laper nih, pacar mau buatin aku makan enggak?" Tanyanya mode manja.
"Emang saya ibu kamu yang bisa buatin kamu Makanan? Kamu enggak bisa nyuruh-nyuruh saya seenaknya. Dan satu lagi jangan sebut saya pacar kamu karena saya sudah menikah !" Ganis masih tetap bersedekap. " Jadi jangan ganggu keluarga saya"
"Oh ya? Pernikahan macam apa yang cuma berkomitmen untuk hidup berdua tanpa cinta? Apa enaknya?"
"Kamu enggak akan pernah mengerti dengan apa yang saya dan Mas Ndaru inginkan. Kami bahagia dengan kehidupan pernikahan kami. Jadi saya harap kamu jangan ganggu saya lagi"
"Tapi semakin kamu menolak saya semakin saya menginginkan kamu !" Harit mendekat satu langkah dan membuat Ganis mundur dua langkah.
"Saya bukan tipe wanita yang kamu inginkan. Jadi buat apa kamu ngejar-ngejar saya !" Nafas Ganis memburu karena emosi yang meletup-letup dan tertahan di dada.
"Saya enggak peduli. Saya suka yang Ndaru suka"
"Saya tahu sekarang, kamu juga godain istrinya Mas Ndaru kan sampai mereka bercerai !" Ganis tersenyum sarkas. Dia memang sengaja memancing amarah Harit. Yang sesungguhnya Ganis sendiri tidak pernah tahu masa lalu diantara suami dan mantan istrinya.
Mimik wajah Harit berubah, kini dia berhenti tersenyum. Bibirnya terkatup tak mampu mengimbangi hinaan Ganis. Seperti pedang yang menghunus tepat di jantungnya.
"Mereka berbeda. Tak mungkin bisa bersama" Harit menunduk kemudian berjalan ke arah dapur. Membuka kabinet atas, mengambil beberapa bahan pangan kering. Pria itu kemudian berpindah membuka kulkas. Mengambil kornet kalengan dan beberapa protein lain.
Mata milik Ganis memandang kemana Harit berjalan. Gadis itu tertegun. Ndaru berpisah karena mereka berbeda? Bayangan Ganis tertuju pada artis-artis yang dengan mudahnya mengajukan cerai karena perbedaan prinsip. Mungkin mereka sama dengan artis itu? Memutuskan berpisah karena tak ada kecocokan lagi dan berbeda prinsip. Ganis tak bisa hanya menduga-duga.
Suara dari teras depan membuyarkan lamunan Rengganis. Anak-anak sudah pulang dari arena bermain. Bersamaan itu pula suaminya juga masuk ke rumah. Ndaru tadi berjanji akan ikut makan siang. Melihat adik sepupunya juga ada disana dan dan sedang memasak, wajah Ndaru pias.
Ganis yang menduga akan terjadi perdebatan sengit lagi segera membawa anak-anak untuk naik ke lantai dua dan menyuruh mereka mandi tanpa harus menyapa pamannya lebih dulu.
"Gue kan udah bilang ama lo. Jangan ganggu istri gue lagi !"
"Duh Bang, baru aja adek ganteng lo ini dateng. Ditanya kek kabarnya. Jangan langsung marah-marah enggak jelas" Harit tanpa rasa bersalah menanggapi kata tegas dari kakaknya dengan senyum manis.
"Ngapain lo kesini??"
Ganis yang baru selesai menyiapkan keperluan mandi anaknya turun ke bawah. Dia ingin melihat bagaimana suaminya itu mengatasi Harit.
"Gue cuma main-main. Gue juga kangen ama bini lo" Harit malah tertawa, seakan tak takut dengan Ndaru yang mungkin sebentar lagi akan memukulnya. Terlihat jika tangan Ndaru mengepal, rahangnya ketat dan matanya berkilat.
"Gue kan udah bilang ama lo jangan dekat-dekat ama bini gue !"
Ganis hanya mendengarkan pembicaraan mereka dari tangga. Berdiri mematung disana.
"Gimana ya Bang. Yang ini sensasinya beda enggak kayak bini lo yang dulu."
"Cukup Harit kamu udah melanggar privasi keluarga saya !" Kembali Ndaru menuding adiknya.
"Emang lo enggak ngerasa ya Bang. Apa lo pura-pura bego. Kali ini lo udah bener milih dia jadi bini lo. Jadi tunggu apalagi? Buruan dah lo ambil. Daripada entar keduluan gue" Harit menyeriangai. Dengan santainya dia merebus pasta kemudian menggeprek bawang putih di atas cutting board.
"Setelah kamu selesai makan kamu bisa pulang !" Nada bicara Ganis cenderung datar tanpa memandang wajah Harit.
Giliran Ndaru diam tak bersuara melirik istrinya yang juga menahan emosi atas ulah Harit.
"Lo pikirin deh kata-kata gue Bang. Gue udah berpengalaman dalam hal menyenangkan wanita. Gue pasti bisa nyenengin bini lo kalau lo enggak mau sama dia !" Harit berkata enteng seakan pembicaraan ini hal yang lumrah di dengar. Ok, Ganis akan maklum jika dia berbicara seperti ini saat di Paris. Tapi ini Semarang dimana norma kesopanan di junjung tinggi. Apalagi Ganis adalah istri Gubernur. Tindakan Harit sudah bisa di katakan pelecehan seksual.
"Ganis bukan wanita sembarangan seperti cewek-cewek lo diluaran sana. Jaga biacara lo ya. Jangan bikin kesabaran gue abis !!"
Ganis memjiat pelipisnya yang pening mendadak. Entah dengan cara apalagi dia melawan Harit. " Kamu boleh pergi sekarang atau saya panggil polisi,!" Ganis mengancam seraya memejamkan mata.
"Aku enggak takut ama polisi. Gue udah berkali-kali Bang urusan sama polisi. Gue sering ketangkep polisi gara-gara mabok saat nyetir." Harit mematikan kompor lalu meniriskan pasta.
Ganis yang merasa pembicaraan ini hanya akan membuang waktu dan membuat kepalanya semakin pusing segera memasuki kamar di susul suaminya.
Ndaru segera memeluk istrinya yang terguncang karena pelecehan verbal yang di terimanya. Ndaru kecup pucuk kepala sang istri dan mengelusnya. Pria itu merasakan jika kemeja bagian dadanya basah oleh air mata istrinya.
"Mas Ndaru boleh ambil Sekarang. Aku udah kasih izin dan aku udah enggak peduli lagi Mas. Aku enggak mau terus-terusan di ganggu Harit !" Ganis masih terisak.
"Apa dengan itu akan membantu?" Ndaru melepas pelukan, kedua tangannya menangkup pipi istrinya yang basah oleh air mata.
"Apa Mas Ndaru enggak bisa nglakuin itu sama aku karena bayang-bayang masa lalu?"
"Aku tahu kamu enggak cinta sama aku, bagaimana bisa aku melakukannya tanpa cinta?" Ndaru menatap lekat sang istri. Laki-laki itu masih ragu atas permintaan istrinya yang diliputi emosi karena ulah adik sepupunya.
"Ada atau enggak ada cinta apa itu penting?" Suara Ganis tertahan di antara isakannya. Baru kali ini Ganis berderai air mata dihadapan suaminya. Ndaru memeluknya lagi untuk menenangkannya.
"Akan sulit jika tanpa cinta. Apalagi kamu lagi emosi"
🌿🌿🌿🌿🌿
Maaf jika part ini sangat sangat enggak jelas. Maaf maaf jangan di vote kalau jelek. Beneran.
Good night n see you.
maafin aku Harit, kamu ganteng2 nyebelin.
ga ingat apa pwngalaman suami dia dan mantan mantunyaa duluuu, dan skrng mamak pengen ganis punya lakian model Yudha jugaa
ckckckxck
baru kenal udh main tangan ajaa...
masa 3 tahun pacaran bs ga terdeteksi sihh
knp jg sy baru koment ya, padahal baca kisah ini bertahun² lalu🤭
kisah seperti ini sy sukaaaaa banget. ttg keluarga, karir, tp konflikx ga berat