Disebuah kerajaan bulan yang dihuni ribuan manusia Srigala. Disaat gerhana bulan merah, permaisuri Lira baru saja melahirkan seorang anak perempuan yang cantik namun tidak memiliki aura Srigala yang membuat sang Raja Argan harus membunuh anak kandungnya sendiri karena dianggap aib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 031 : Demam Kabut Hitam
Di dalam goa yang diselimuti kabut hitam pekat, seorang wanita duduk di atas batu besar yang dingin. Wajahnya yang dahulu cantik kini berubah pucat pasi; matanya memancarkan kilatan kebencian yang tak kunjung padam. Dialah Elara. Meski inti kekuatan Morgarth telah hancur, sisa-sisa sihir gelap justru menjadikannya semakin bengis dan berbahaya.
"Seraphina… tunggu pembalasanku. Akan kubuat kau membayar setiap luka yang kau berikan berlipat ganda," batin Elara. Tangannya terkepal erat, kuku menancap tajam ke telapak tangan. Sihir yang mengalir di nadinya kini bahkan lebih kuat dan kelam dari sebelumnya. Ia tersenyum licik, sepasang matanya bersinar merah menyala.
"Aku akan membuat rakyat Kerajaan Bulan Perak menderita. Hingga kelaparan, jatuh sakit, dan tak lagi percaya pada Ratu Lira maupun Seraphina," ucapnya lantang, dendamnya membara.
Elara pun mengulurkan tangan, memberikan bungkusan berisi bubuk hitam berasap kepada anak buahnya yang berdiri menunduk penuh ketakutan.
"Turunlah ke bawah, menuju sumber air andalan Kerajaan Bulan Perak. Taburkan ini ke dalamnya. Pastikan mereka meminumnya tanpa menaruh curiga."
"Siap, Ratu Elara!" jawab anak buahnya patuh, lalu segera menghilang ke dalam kegelapan.
Keesokan harinya, Kerajaan Bulan Perak gempar. Rakyat berlarian dilanda kepanikan. Tanpa peringatan, wabah baru melanda dengan amat cepat, Demam Kabut Hitam. Orang-orang tiba-tiba terserang: sesak napas yang luar biasa, kulit memerah lalu membiru, dan tak sedikit pun yang tewas seketika tanpa sempat diobati. Istana maupun desa dipenuhi tangis dan rintihan.
Seraphina berdiri di beranda istana, menatap ke bawah dengan dada yang terasa sesak. Tangannya mengepal erat. Ia tak bisa berdiam diri melihat rakyatnya menderita begini.
"Ibunda Ratu, izinkan aku pergi mencari tahu siapa pelakunya dan apa sebenarnya yang terjadi," ucap Seraphina dengan tegas namun penuh hormat.
"Pergilah, Nak. Restuku selalu bersamamu. Hati-hatilah," jawab Lira lembut namun penuh keyakinan.
Sebelum berangkat, Seraphina menyusuri jalanan desa, melihat langsung rakyatnya terbaring lemah. Hatinya perih, namun ia menelan kesedihan dan berjanji dalam hati untuk mengakhiri ini semua. Setelah mengambil sampel darah dari korban, ia bergegas menuju hutan larangan tempat tinggal Nazar.
Setelah berjalan setengah hari di tengah hutan yang lebat dan penuh misteri, Seraphina akhirnya tiba di goa tempat Nazar berada.
"Ada apa, Tuan Putri? Apa yang membawamu ke tempat yang jauh ini?" tanya Nazar saat melihat sosoknya muncul di mulut goa.
"Nazar, aku butuh bantuanmu. Bisakah kau mencari tahu siapa yang menyebarkan wabah mematikan di Kerajaan Bulan Perak?" tanya Seraphina mendesak.
Nazar mengangguk pelan. "Apakah kau membawa darah dari para korban? Itu satu-satunya cara untuk mengetahui jejak sihir pelakunya."
"Ini darah dari kaum Srigala Klan De Luna, dan ini darah rakyat Kerajaan Bulan Perak," jawab Seraphina sambil menyodorkan dua botol kecil.
Nazar menerima kedua sampel itu, lalu meletakkannya di atas batu datar dan mulai merapalkan mantra kuno yang bergema di seluruh ruangan goa. Asap berwarna ungu dan hitam perlalu muncul dari botol-botol itu, berputar perlahan membentuk bayangan.
Tak lama kemudian, Nazar membuka mata dan menatap Seraphina dengan serius. "Lapor, Tuan Putri. Pelakunya seorang wanita. Wajahnya samar, namun ia berada di dalam hutan larangan yang selalu diselimuti kabut hitam pekat."
"Aku akan pergi ke sana," ucap Seraphina mantap, hendak berbalik.
"Tunggu, Tuan Putri! Tempat itu berbahaya. Banyak yang pergi ke sana, tak satu pun kembali. Di sana berdiam penyihir sakti yang kekuatannya nyaris tak tertandingi," cegah Nazar cemas.
"Walaupun begitu, aku tetap harus pergi, Nazar. Demi rakyatku, demi Klan De Luna, dan demi kedamaian yang dirusaknya," jawab Seraphina dengan tekad yang tak tergoyahkan.
Nazar menghela napas panjang, lalu merogoh sebuah liontin perak yang memancarkan cahaya lembut dari dalam tasnya. "Ambillah ini, Liontin Pelindung Cahaya. Saat kau terdesak dan tak sanggup lagi melawan, gunakanlah, Ia akan melindungimu dari sihir hitam serta memberimu kekuatan tambahan."
"Terima kasih, Nazar. Kau selalu menolongku," ucap Seraphina tulus, menerima liontin itu dan memakainya di lehernya.
"Hati-hati di jalan, Tuan Putri. Semoga Dewi bulan selalu melindungimu," ucap Nazar sambil menatap punggung Seraphina yang perlahan menghilang menuju kedalaman hutan yang semakin gelap.