Dewangga tak menyangka di usianya yang menginjak 42 tahun, dia harus menikahi sahabat putrinya karena kesalahan pahaman. Pernikahan mereka pun harus dirahasiakan dari sang putri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Escendol94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31~
Riri duduk dengan gelisah. Sesekali ia melirik Dewangga, lalu menatap para pekerja di rumah itu.
Barusan Bi Inah memergoki mereka sedang berpelukan di dapur. Sungguh, Riri merasa malu sekaligus cemas.
Namun, genggaman tangan Dewangga sedikit menenangkan hatinya yang gelisah.
"Riri sekarang resmi menjadi istri saya," ujar Dewangga tegas sambil menatap satu per satu pekerja yang berdiri di hadapan mereka. Ada lima orang--dua laki-laki dan tiga perempuan.
"Belum ada yang mengetahui pernikahan saya dan Riri. Jadi, kalian cukup tahu dan jangan membicarakan apa pun. Saya sendiri yang akan memberitahu jika waktunya sudah tepat. Apa kalian mengerti?"
Semua orang mengangguk bersamaan.
"Kami mengerti, Tuan."
Mereka cukup tahu diri untuk tidak ikut campur dalam urusan majikan mereka.
Bi Inah tersenyum lembut. "Saya ucapkan selamat untuk Tuan dan Non Riri. Semoga pernikahan kalian langgeng, selalu bahagia, murah rezeki, dan segera mendapatkan momongan," ujarnya tulus.
"Terima kasih, Bi," ucap Riri malu-malu.
"Terima kasih, Bi." Dewangga mengangguk pelan.
Bi Inah sudah dianggap Dewangga seperti orang tua sendiri. Wanita itu telah lama bekerja di rumah ini, bahkan sejak Dewangga masih duduk di bangku SD.
Satu per satu para pekerja ikut mengucapkan selamat pada Dewangga dan Ririn. Mereka tampak senang melihat majikan mereka yang selama ini hidup hanya berdua dengan sang putri akhirnya menikah juga. Hanya saja mereka tak menyangka, jika sang Tuan yang sudah kepala empat itu akan menikahi sahabat putrinya sendiri dengan perbedaan usia yang sangat jauh.
Setelah semua pekerja keluar dari ruang kerja, Riri menghembuskan napas pelan.
"Sudah lega?" tanya Dewangga.
Riri mengangguk kecil. "Iya... tapi aku masih takut kalau Nura dan yang lain tahu tentang pernikahan kita."
Dewangga menggenggam tangan Riri semakin erat, seolah ingin menenangkan wanita itu. "Semua akan baik-baik saja. Kita hadapi bersama."
Riri tersenyum tipis. "Baiklah kalau begitu, aku balik ke kamar Nura dulu. Jam makan siang masih satu jam lagi. Aku mau tiduran bentar," katanya. Tubuhnya masih terasa lelah akibat perjalanan.
Dewangga membiarkan Riri keluar dari ruang kerjanya. Setelah pintu tertutup rapat, pria itu menghembuskan napas panjang sambil memijat pelipisnya.
Ia ingin sekali mengurung wanita itu di dalam kamar. Memeluk dan menghabiskan waktu bersama Riri seharian penuh tanpa gangguan siapa pun.
Namun, keinginan itu tampaknya masih sulit terwujud. Riri masih belum mau mempublish pernikahan mereka.
**
Jam makan siang tiba.
Di meja makan sudah tersaji beberapa menu makanan. Salah satunya sup ayam kesukaan Riri.
Riri melirik Dewangga sekilas, lalu diam-diam tersenyum tipis. Ia yakin lelaki itu yang meminta Bi Inah memasakkan menu tersebut.
Namun, senyum di bibirnya perlahan memudar saat melihat Sarah lebih dulu mengambilkan nasi untuk Dewangga.
Jika kemarin Riri masih memaklumi, kali ini dadanya terasa sesak melihat kedekatan itu.
"Biar aku ambil sendiri," ucap Dewangga menahan tangan Sarah saat hendak mengambilkan lauk untuknya.
Tatapan pria itu sempat mengarah pada Riri. Seolah sadar istrinya tengah cemburu, Dewangga justru tersenyum tipis.
Sementara Sarah nampak menyembunyikan rasa kecewanya. Dewangga kini bukan hanya menjaga jarak, tetapi juga mulai menolak dilayani saat makan.
Padahal sebelumnya, meski bersikap dingin, pria itu masih membiarkan Sarah melayani di saat makan, bahkan membiarkan Sarah menyiapkan baju kerjanya.
Namun, sekarang semua sudah berbeda. Dewangga semakin menjauh darinya.
Di sisi lain, Dirga yang duduk di depan Riri diam-diam terus mencuri pandang pada wanita itu.
Hatinya masih terasa ngilu setiap mengingat penolakan Riri. Penyesalan selalu datang dan membuat dadanya sesak.
Dirga kerap berandai-andai. Seandainya ia menyadari perasaannya lebih cepat, mungkin sekarang Riri sudah menjadi miliknya.
Sejak tadi, nyaris setiap gerakan Riri tak luput dari perhatiannya. Bahkan hal-hal kecil yang dilakukan wanita itu selalu berhasil menarik fokusnya.
"Om, kasihan itu nasi dianggurin," celetuk Nura tiba-tiba.
Dirga refleks berdehem pelan. Ia segera mengaduk makanannya lalu mulai makan dengan cepat.
Nura terkekeh sambil menyenggol lengan Riri. "Om Dirga dari tadi lihatin kamu," bisiknya. "Kayaknya belum bisa move on, deh."
"Nura, jangan bahas itu lagi," balas Riri ikut berbisik juga, takut ada yang mendengar.
Nura langsung mengangguk sambil menggerakkan tangganya di depan bibir, seolah mengunci rapat.
Riri hanya menggeleng pelan. Padahal Nura sudah berjanji tidak akan membahas Dirga lagi, tetapi wanita itu tetap saja mengungkitnya.
Riri melirik sekilas ke arah Dewangga. Wajah pria itu tampak masam. Ia tahu suaminya sedang cemburu.
Selesai makan, Riri tampak gelisah. Bibirnya beberapa kali terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi kembali urung. Padahal tadi ia menolak ajakan Nura untuk menginap. Sekarang justru ia kebingungan bagaimana cara memberitahu kalau dirinya berubah pikiran.
"Ri, nanti pulangnya biar dianter Om Dirga aja, ya?" ujar Nura santai.
"Nura, aku..." ucapan Riri menggantung di tenggorokan. Ia melirik Dewangga sekilas, berharap pria itu mau membantunya menjelaskan. Namun, Dewangga malah sibuk mengobrol dengan Sarah seolah tidak menyadari tatapan memohon darinya.
Riri menghembuskan napas pelan. Akhirnya ia mengangguk. Ia berdiri dari duduknya, lalu pamit pada Dewangga.
"Om, aku pulang dulu, ya. Makasih untuk semuanya." Ia menunduk sopan.
Setelah itu, Riri menatap Sarah. "Tante, aku pamit pulang, ya."
Sarah tersenyum lembut sambil mengangguk pelan. "Hati-hati di jalan," ucapnya.
Sementara itu, Dewangga hanya menatap Riri dengan sorot mata tajam yang sulit diartikan.
Mendapat tatapan seperti itu, Riri langsung salah tingkah. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, menghindari mata Dewangga yang seolah tak lepas darinya.
"Nura, aku pulang dulu, ya."
Tanpa menunggu balasan, Riri segera melangkah menjauh dari meja makan. Ia memilih menunggu di ruang tamu sambil berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Beberapa saat kemudian, Dirga muncul dengan senyum menawan seperti biasa. Riri membalas senyum itu dengan sopan.
"Sudah siap?" tanya Dirga.
Riri mengangguk pelan, lalu berdiri dari duduknya. Ia mengikuti Dirga yang berjalan lebih dulu.
Sesampainya di luar rumah, mereka berjalan menuju mobil. Dirga dengan sigap membukakan pintu untuk Riri.
"Makasih, Om." Riri tersenyum sopan.
Dirga membalas senyum itu sebelum menutup pintu setelah Riri duduk dengan nyaman di dalam mobil.
Kemudian ia memutari mobil menuju kursi kemudi. Tak lama setelah masuk, mesin mobil menyala dan kendaraan itu perlahan meninggalkan halaman rumah.
Dari jendela kamarnya, Dewangga memperhatikan mobil Dirga yang semakin menjauh. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya tak lepas dari kendaraan yang membawa Riri pergi.
"Aku sudah bilang jangan pergi dengannya, Sayang," gumamnya pelan.
Senyum tipis terukir di bibirnya, tetapi sorot matanya justru menunjukkan hal sebaliknya.
"Kau benar-benar harus mempertanggungjawabkan ini nanti."
*,*