Kekasih yang sangat dicintainya juga meninggal dunia menjelang pernikahan. Dan ahirnya dijodohkan dengan sepupu kekasihnya.
Gimana kisah hidup dan percintaan sigadis cantik, mungil ini?
simak ceritanya aja langsung ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuhan berkata lain
Mama Marry dan Papah Johan semuanya langsung berlari menangis tersedu-sedu melihat anaknya terduduk di depan pintu masjid sembari memegangi dadanya yang sesak.
"Ayo kerumah sakit sekarang... naikkan kemobil cepat!!! ucap Sofi setengah berteriak.
"A**ku tidak peduli dengan pernikahan ini, aku hanya ingin kamu selamat, tolong bertahanlah untukku sayang, aku mohon...!"
Genggaman tangan Firman di telapak tangan Sofi semakin melemah dan tak lama kemudian terlepas. Sofi berteriak histeris.
Semua keluarga mulai menangis meraung-raung.
"Biar saya cek... saya dokter" ucap salah satu tamu undangan Firman.
Jantungnya melemah, apa dia terlalu meminum banyak obat-obatan?"
Tidak ada yang menjawab satupun pertanyaan dokter. Semua terpaku cemas.
"Nafasnya terhenti, denyut nadi hilang"ucap dokter itu sembari melakukan upaya pertolongan.
"Tidaaak !!! , anakku baik-baik saja" ucap Marry. Johan berusaha menenangkan dan memeluk sang istri.
"J**angan katakan itu, tidaak......mungkin...., kemarin kemarin dia terlihat baik baik saja"
"Jantungnya tidak berdetak lagi, saya berharap kalian bersabar"
"Dokter jangan bohong!!! Dari kemarin dia baik-baik saja!! Dokter bohong....." ucap Sofi sambil menangis.
"Sabar nona... calon suami anda memang sudah meninggal" ucap dokter.
"Innanillahi wainnailaihi raji'un...!" ucap para tamu undangan.
DEG !!!
Bagaikan ditusuk pedang! Bagaikan disambai petir.
"FIIIIRMAAAAAAAANNN!!!!!!
"Jangan tinggalin aku sendiri....aku mohon...
banguuuun Firmaaan....!! Banguuun !!" Yusuf menahan Sofi yang terus berontak. Lebih tepatnya tidak percaya ini terjadi
"huuu.... huuu...huuu... hikss.... hikss...!!
Sofi menangis sangat histeris.
"Dokter bohong kan?? haaa.... dokter bohong !!! Ayo sayang... banguuunn.... kita kan mau menikah, buka mata kamu sekarang!!"
Sekelebat bayangan wajah Firman menghampiri dirinya.
Kebaikan dan kasih sayang Firman mengantarkannya sampai saat ini. Karna firman, dia menjadi wanita kuat.
Cannda tawanya, peluknya yang hangat, senyuman yang selalu terukir saat pandangannya bertemu. Duduk berdua ditaman, dimobil, melayani pembeli dicafe dengan suka cita. Membantunya membuat tugas kuliah, memasak berdua, lari pagi bersama dan masih banyak lagi.
Memory kenangan berputar-putar dipikirannya sebelum semua menggelap dan terjerembab di lantai. Yusuf dengan sigap menggendong Sofi kedalam mobil.
Tidak ada wajah cantik lagi disana, wajah-wajah ceria kini berubah muram dan penuh jerit tangis keluarga dan sahabat. Bayu, Denny, Tante Winda, Sintia, Dewi. Semua sangat terpukul melihat mereka kehilangan laki-laki hebat itu.
Mama Marry juga tak tersadarkan diri, Papah Johan lemas lunglai dan tak percaya secepat ini anaknya pergi meninggalkannya.
Bayangan rengekan Firman kecil mengiang-ngiang seakan memutar kembali kenangan yang ada.
Papah Johan kerap memarahinya karna Firman kecil mempunyai nilai jelek. Papah Johan tidak pernah lupa untuk meluangkan waktu saat wekend untuk anak semata wayangnya disela-sela kesibukannya bekerja.
Firman kecil yang sering menangis karena permintaannya tidak segera dituruti, sering menemaninya main sepeda mengelilingi rumah hingga larut malam.
Kini.... semua sudah hilang. Yang tersisa hanyalah kenangan. Firman telah pergi dan tak mungkin kembali. Semua orang menangis mengharu biru.
Suasana benar-benar kacau. Hari ini bukanlah hari pernikahan melainkan hari kepergian Firman.
Asisten Bayu tak berhenti menangis melihat kepergian sahabat tercintanya. Ia seperti kehilangan tongkatnya. Firman mempunyai pengaruh besar pada Bayu selama ini, Firmanlah yang sedikit-sedikit mengubah kebiasaan buruknya. Karna itulah hidup Bayu terselamatkan. Bayu berusaha tetap tegar ditengah ketidak sanggupannya. Tidak ada yang bisa diandalkan selain dirinya. Beruntung ada Yusuf yang mengurus segala keperluan pemakaman.
* * *
Bibi Marwah membantu membersihkan sisa-sisa make up dan mengganti baju Sofi dengan telaten. Mengusap-usap tengkuk dan kening memakai minyak kayu put*h berulang-ulang.
Sedangkan Sofi benar-benar tidak mau membuka matanya. Dia pingsan selama benerapa jam. Setelah terbangun, Sofi belum mau berbicara dengan siapapun.
Yang sofi inginkan hanyalah menyusul Firman untuk pergi. Sudah berbagai cara dilakukan, tapi sofi tetap menutup mulutnya. Jika dia membuka mata, dia hanya memandang atap-atap langit kamar dan menangis. Kini sudah tiga hari keadaannya masih sama.
Dihotel
"Pah... kita benar-benar orang tua yang buruk. Anak sakit-sakitan kita ngga mengurusnya dengan baik. Sungguh orang tua yang memalukan. Kita pantas dihukum..!"
"Sudah berapa lama dia menyembunyikan itu semua dari kita ya mah. apa dia tidak memikirkan perasaan kita? Papa sangat rela meninggalkan semuanya, harta, pangkat, jabatan. Itu benar-benar tidak berguna sekarang" ucap Johan sangat menyesal.
"Panggil Bayu kesini pah.... pasti dia tau...banyak"
***
Asisten Bayu di panggil nyonya besar ke hotel tempat beliau menginap. Saat tiba di restoran lantai 1 hotel X, dada Bayu berdetak kencang. Bayu benar-benar takut salah bicara. Ini adalah hari penghakiman untuknya. Jika tidak lolos interogasi, Bayu harus terima angkat kaki dari pekerjaan yang sudah digelutinya bertahun-tahun.
"Pagi pak... "ucap Bayu gemetar.
"Pagi..., langsung saja to the point! Kenapa kamu tidak sampaikan itu pada kami padahal kamu mengetahui semuanya?" Sorot matanya sangat tajam. Sementara istrinya tidak bisa berkata-kata. Hanya airmata yang mengalir.
"Semuanya yang mana maksud Bapak?"
"Jangan basa-basi!! memangnya selama ini bayaranku kurang?"
"Mohon izinkan bicara pak... jangan potong kalau saya belum selesai" Pak Johan menganggukan kepala, menatap dengan serius ucapan Bayu.
"Firman yang menyuruhku untuk menyembunyikan hal ini, mulai dari penyakit hingga kisah cintanya. Firman mencintai Sofi sudah sangat lama Pak....mulai dari Sofi bekerja diCafe. Semua tertulis dibuku diarynya pak. Silahkan anda baca saja" Bayu menyodorkan diary kecil Firman yang biasa dibawa kemanapun.
"Kalau untuk penyakitnya Firman tidak menceritakan apapun kepada saya. Tapi, saya mencari tau sendiri. Saya berhasil menemukan kertas diagnosa dari rumah sakit dan saya berhasil membuka mulut sang dokter" ucap Bayu lagi.
"Apa benar Firman penah transplantasi jantung?" tanya Bayu
"Iya saat anak-anak dia mengalami kardiomiopati dan dicangkok, itu keturunan dari Ibu"ucap Johan dengan raut yang melow. Beliau sudah sedikit lebih waras.
"Ya sudah Pak... itu jawabannya. Kalau untuk penyebab meninggalnya anak Bapak dan ibu itu sudah takdir. Bagaimanapun ceritanya saat-saat terakhir itu qadarullah. Saya harap bapak dan ibu bersabar. Saya turut berduka cita. Bukan hanya Bapak yang kehilangan. Tentu kami semua juga demikian Pak...! Apalagi saya" jawab Bayu berkaca-kaca.
"Terimakasih penjelasannya Bayu..." ucap Mama Marry sambil menyeka sisa-sisa air matanya. "Firman memang selalu terlihat baik-baik saja. Dia tidak pernah mengeluh apapun pada kami. Kami jadi tidak terlalu memperhatikan. Dan kami memang terpisah seperti ini. Dulu...Papahnya trauma dengan kejadian kecelakaan beruntun. Firman tetap dengan pendiriannya. Untuk tetap tinggal disini." ucap mama marry
"Iya Bu...! Saya mengerti. Memang dia orang yang hebat. Saya sangat menyayanginya Pak... Bu..." jawab Bayu.
"Ada lagi yang ingin Bapak tanyakan?" tanya Bayu lagi.
"Bagaimana dengan usahanya, cafenya? tanya Johan.
"Semua baik-baik saja, tidak ada masalah Pak, saya kendalikan dengan baik."
"Kamu yang akan mengurusnya mulai sekarang Bay....!!" ucap Johan. Bayu mendengarkan dengan cermat.
"Tolong gantikan peran Firman. Saya hanya mengontrol dari rumah. Kami memutuskan akan menetap disini, masalah gaji saya akan naikkan berkali-kali lipat" ucap Johan yakin.
"Hah? benarkah Pak...! kalau begitu saya mau minta izin cuti untuk menikah"ucap Bayu kegirangan. ia akan menepati janjinya menikahi Puput. Karena Bayu naik sudah naik jabatan.
"Menikahlah! Teman kamu yang lain bisa mengurusnya saat kamu cuti" ucap Johan.
"Anggap kami orang tua kamu Bayu...jangan sungkan, kamu sudah ibu anggap anak kami sendiri....Ibu tidak mau kamu keluar dan mencari pekerjaan lain, tidak rela. Tolong kamu jadi bagian dari keluarga kami"ucap Mama Marry.
"Iya Bayu.... Firman telah meninggalkan kami disisa umur kita. Mungkin sekarang saya dan istri saya masih sehat.Tapi nanti kita ngga ada yang tau" ucap Johan melembut.
"Seandainya Firman masih ada, saya akan sangat berterimakasih Pak...Bu...
saya sangat bersyukur. Saya akan berusaha tetap mendampingi Bapak dan ibu, seperti yang Firman lakukan. Sebagai bentuk rasa terimakasih. Tapi.... bagaimana dengan Sofi pak?"
"Sofi tetap jadi anak kami, untuk lain-lain yang ditinggalkan Firman untuk Sofi biar nanti saya bicarakan langsung setelah Sofi sudah lebih baik. Dia depresi berat, tidak mau berbicara dari waktu Firman meninggal. Bibinya mengabari kami keadaanya lebih menyedihkan" ucap Marry sambil menyeka airmatanya.
Beruntung mereka mempunyai kepercayaan sebaik Bayu. Bayu bekerja bukan menggunakan tenaga saja. Tapi Bayu memang tidak menganggap Firman orang lain. Bukan antara karyawan dan majikan.
TO BE CONTINUED
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu